
Alice masuk kedalam ruangan rapat, beberapa Direktur dan Manajer divisi masing-masing berdiri dan menundukkan kepalanya hormat kepada Alice. Alice membalasnya singkat dan mempersilahkan mereka semua untuk duduk kembali di kursi mereka masing-masing.
"Saya akan langsung saja. Saya adalah Adeliana Fransisca Baskoro yang saat ini menjabat sebagai Direktur Utama, saya harap kerja sama dari kalian semua. Saya akan langsung katakan saja kepada semuanya, jika ada yang tidak mematuhi perintah saya ataupun mencoba membodohi saya, saya akan langsung memecatnya secara tidak hormat dan langsung memberikannya tanpa pesangon. Bukankah kalian sudah mendengarnya sebelumnya dari sekertaris Monic? Maka dari itu tolong kerja samanya. Saya akan merombak seluruh sistem sebelumnya." Ucap Alice tegas.
"Baiklah kita mulai dari divisi keuangan." Ucap Alice cepat dan mempersilahkan bagian keuangan menjelaskan seluruhnya secara singkat dan jelas.
Alice yang membaca data di tangannya mengangkat sudut bibirnya dan kemudian memotong pria yang tampak sedikit tua dengan perut yang menggembung itu.
"Bukankah anda Pak Kunjoro? Anda sudah memegang bagian divisi keuangan selama 10tahun. Sepertinya semakin lama anda menjabat, kualitas anda semakin menurun." Potong Alice kejam dan sinis.
"Nona Alice, meskipun anda adalah seorang Direktur Utama, tapi ucapan anda sangat tidak baik terhadap orang yang sudah lama bekerja dan mengabdi di perusahaan ini." Ucap Kunjoro dengan emosi.
"Benarkah itu? Haruskah saya meminta maaf kepada tikus yang sudah kenyang menggerogoti lumbung padi yang selama ini memberinya makan?" Ucap Alice tajam dan sinis.
Kunjoro yang mendengar itu sedikit terkejut dan membelalakan matanya, namun dengan secepat kilat dia bisa merubah ekspresinya dan kembali berbiara.
"Sembarangan ucapan mu! Aku adalah orang lama, yang selalu setia kepada perusahaan!" Bantah Kunjoro keras.
"Benarkah begitu? Namun dari data yang tertera dan data yang sesungguhnya sangat jauh berbeda. Bukankah anda seharusnya menjelaskannya! Ahh atau lebih tepatnya anda harus menjelaskannya langsung di kantor polisi." Ucap Alice cepat dan langsung membuat Kunjoro pucat dan ketakutan setengah mati.
"Divisi hukum jangan lupa untuk mencatat ini, data dan informasinya kalian bisa menghubungi saya." Ucap Alice tegas.
"No nona.. Nona Adel maafkan saya, saya khilaf mohon maafkan saya, saya akan mengganti biaya-biaya itu tapi tolong jangan bawa saya ke meja hijau." Ucap Kunjoro sambil terbata-bata dan berkeringat dingin.
"Bukankah saya sudah bilang sebelumnya. Saya tidak ingin ada orang yang mencoba membodohi saya. Divisi hukum apakah kalian bisa melakukannya?" Tanya Alice lagi dengan tegas.
"Baik Bu." Jawab perwakilan dari divisi hukum.
__ADS_1
"Biarkan pak Kunjoro membereskan barang-baranya dan temani dia, jangan biarkan dia menghilangkan barang bukti." Ucap Alice tegas dan tiba-tiba masuk dua orang petugas berbaju hitam dan mengantarkan pak Kunjoro keluar dari ruangan itu.
"Nona Adel.. Nona Ade.. Tolong beri saya satu kesempatan lagi.." Ucap Kunjoro di sela-sela memohonnya sambil di giring keluar dari ruangan itu.
Blam! Pintu tertutup kembali dan ruangan menjadi hening seketika. Mereka semua menundukkan kepalanya dan sedikit merasa tegang terhadap anak baru yang ternyata jauh lebih tegas dan kejam.
"Ahh keheningan ini jauh lebih baik.." Ucap Alice dingin dan kemudian menatap kepada para kepala direksi lainnya.
"Baiklah kita lanjutkan bagaimana dengan divisi pemasaran?" Ucap Alice dan mempersilahkan kepala Manajer pemasaran.
Rapat berakhir setelah 4jam lamanya di ruang rapat. Di hari pertama Alice memimpin perusahaan, gadis itu sudah mempecat 6orang yang sudah merugikan perusahaan dan memberikan sangsi tegas pemotongan gaji selama dua bulan pada tiga orang yang melakukan pelanggaran ringan.
Alice, Galih, Juna, Roy dan Imanuel berjalan menuju pintu keluar ruangan itu. Semua orang yang berada di dalam ruang rapat tampak menghela nafas lega, saat melihat rombongan Alice sudah pergi meninggalkan ruangan.
"Alice bisakah kita berbicara berdua?" Ucap Imanuel saat Alice akan memasuki ruangan kantornya.
Alice masuk ke dalam ruangan kantornya diikuti dokter Imanuel, sedangkan Galih memilih menunggu di ruangan Monic sambil menjaga Alice, sedangan Juna dan Roy memilih pergi menemui anak buahnya yang di tempatkan di perusahaan BBC.
"Paman tampak serius.. Ada masalah apa paman?" Tanya Alice saat melihat raut wajah Imanuel sedikit tegang.
"Alice maaf mungkin aku terdengar ikut campur. Tapi percayalah aku hanya mengkhawatirkan mu. Saat aku mengetahui hasil test dari darah mu aku tidak sengaja melihat hasil test dari HCG mu yang tinggi. Apakah kau benar sedang hamil? atau hal yang lain?" Tanya dokter Imanuel memastikan lagi kepada Alice.
"Benar paman saat ini aku sedang hamil 8minggu." Jawab Alice jujur sambil tersenyum hangat.
"Alice.. Tahukah apa yang sedang kau lakukan bisa membuat kau dan calon bayi mu dalam bahaya? Kau menurunkan Fiktor dan menendang semua kaki tangan Fiktor, cepat atau lambat mereka pasti akan menyerang langsung kepada mu." Ucap dokter Imanuel yang kini tampak lebih khawatir.
"Paman tidak perlu cemas. Bukankah jika ingin mencabut rumput liar harus sampai ke akarnya agar tidak bisa tumbuh lagi. Paman tenang saja, semuanya sudah aku rencanakan sedemikian rupa sehingga aku tidak akan melakukan kesalahan yang membuat aku celaka paman. Paman tenang saja." Ucap Alice menenangkan dokter tua itu.
__ADS_1
"Haihh.. Baiklah kalau begitu.. Ingat kau jangan mengambil resiko besar yang dapat membahayakan nyawa mu. Apalagi sekarang ada nyawa lain yang sedang berkembang di dalam tubuh mu." Ucap dokter Imanuel kembali mengingatkan Alice.
"Baik paman.. Tentu saja." Ucap Alice sambil kembali tersenyum hangat.
"Baiklah kalau begitu, ini sudah sore.. Aku pulang duluan, ada sesuatu hal yang mesti aku kerjakan." Ucap Imanuel lagi dan kemudian pergi meninggalkan ruangan Alice.
Setelah kepergian Imanuel tiba-tiba ponsel Alice berdering seseorang dengan nomer tidak di ketahui menghubunginya. Alice mengerutkan keningnya heran namun gadis itu tetap menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu di telinganya.
📞"Halo keponakan tersayang ku.. Sepertinya hari ini kau merasa sudah sangat berkuasa ya? Kau berani mencampakkan beberapa orang yang sudah lama bekerja di sana. Kau benar-benar hebat." Puji suara wanita dengan nada sinis di ujung telepon.
📞"Belinda.. Langsung saja, apa mau mu?" Tanya Alice langsung pada intinya. Gadis itu sudah cukup lelah dengan pekerjaannya seharian ini, jika di tambah harus basa-basi dengan wanita tua itu sepertinya dia tidak akan sanggup.
📞"Heh baiklah jika itu mau mu. Cepat mengundurkan dari perusahaan bisakah kau?" Ucap Belinda sinis.
📞"Tante Belinda.. Bukankah anda sudah tahu, jika perusahaan ini adalah milik keluarga Baskoro? mengapa aku harus memberikannya kepada keluarga Stary." Jawab Alice dengan nada sedikit mengejek.
📞"Dasar kau sama persis seperti ibu mu yang tidak tahu diri!" Maki suara di ujung telepon itu.
📞"Jaga ucapan anda tante Belinda." Ucap Alice geram mendengar ibunya di hina seperti itu. Namun Alice masih mencoba sabar menghadapi wanita tua itu.
📞"Hehh aku dengar kau datang ke pemakaman Baskoro.. Tahukah kau, kau tampak menyedihkan memeluk dan menangis di atas kuburan kosong!" Ucap Belinda dengan nada mengejek dan kemudian tertawa bahagia.
📞"Apa maksud tante?" Tanya Alice cepat, yang bingung dengan ucapan Belinda. Makam kosong? Bukankah yang dia peluk tadi pagi adalah makam ibunya? Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?
Berbagai pertanyaan bersemayam di relung hati Alice, namun Belinda tidak menjawab pertanyaan gadis itu. Belinda hanya tertawa terbahak-bahak.
Bersambung....
__ADS_1