
Galih masih setia menemani Alice di depan kamar oprasi.
"Istirahatlah dahulu di kamar rawat.. Kau pasti butuh istirahat juga." Bujuk Galih namun Alice masih tidak bergeming dan masih memilih diam menunggu kedua orang itu selesai.
Tiga jam sudah berlalu seseorang tiba-tiba keluar dari ruang oprasi.
"Keluarga pasien Maya.." Ucap seseorang dengan baju oprasi berwarna hijau tua.
"Saya dok." Ucap Alice dan kemudian bangkit dari duduknya mendekati dokter itu.
"Oprasinya sudah berjalan lancar.. Ketiga proyektil di tangan dan kakinya sudah kami keluarkan.. Saat ini pasien akan di bawa ke ruang perwatan untuk mengobservasinya." Ucap pria itu menjelaskan kondisi Maya.
"Baik dok terima kasih." Ucap Alice penuh syukur.
Tidak lama brankar dengan tubuh Maya di atasnya keluar dari pintu ruang oprasi.
"Gal.. Tolong temani Maya.." Ucap Gadis itu saat melihat brankar melewatinya. Dia sedikit bingung haruskah dia pergi ke ruang perawatan Maya atau menunggu Anton di depan ruang oprasi.
"Baiklah aku akan ke sana." Ucap Galih tanpa banyak protes dan segera pergi mengikuti brankar milik Maya menuju ruang kamarnya.
Alice kembali duduk di kursi stainles di sebrang pintu ruang oprasi, matanya tidak henti-hentinya memandang pintu besar di depannya.
"Mengapa dia masih belum juga keluar.." Ucapnya semakin khawatir.
***
Di dalam ruang oprasi Anton..
Tiga jam sudah berlalu untuk melakukan tindakan pengangkatan proyektil di bagian dada Anton. Semua dokter dan perawat melakukan pekerjaannya dengan teliti dan bekerja dengan maksimal.
Tet tet tet.
"Dok.. Tanda-tanda vital pasien melemah." Teriak seorang dokter anestesi.
__ADS_1
"Apa.. Berikan injeksi." Ucap doker bedah memberikan perintah memberikan obat untuk menguatkan detak jantung pasien.
"Dok! Pasien mengalami henti jantung (cardiac arrest)!" Teriak dokter anesteai lagi.
Dan dengan cepat ruang oprasi itu sedikit ricuh dengan berbagai tindakan resusitasi kardiopulmoner untuk mengembalikan detak jantung milik pasiennya.
***
Satu jam kemudian tiba-tiba seorang pria dengan baju hijau tua keluar dari ruang oprasi. Pria itu melepaskan cap berwarna hijau dan menyimpannya di saku baju oprasinya. Wajah pria tua itu tampak sedikit lelah.
"Dok.. " Ucap Alice mendekati dokter itu gadis itu sedikit ragu-ragu dan takut untuk mengetahui kondisi Anton saat ini.
"Keluarga dokter Anton.. Saya dokter Rozak dokter yang menangani oprasinya." Ucap dokter itu dengan masih mencoba untuk tenang. Alice menggangguk dengan cepat namun guratan ke khawatiran menyeruak di dalam dadanya. Entah mengapa dia memiliki firasat yang tidak baik mengenai hal ini.
"Peluru proyektilnya sudah di keluarkan dari tubuh pasien. Untunglah letak peluru 3cm lebih di bawah jantung, jika tidak itu akan mengenai jantung dan akan langsung berakibat fatal. Sebelumnya saat di meja oprasi berlangsung, satu jam sebelumnya kami sedikit mengalami kesulitaan saat pasien tiba-tiba mengalami henti jantung." Jelas dokter itu memberikan jeda.
"Apa? Anton!" Ucap Alice dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang bergetar. Air matanya kini mengaliri pipinya kembali.
"Untunglah pasien masih merespon atas tindakan resusitasi dan oprasi bisa di selesaikan dengan baik. Untuk saat ini pasien akan di masukkan ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan selanjutnya dan mengobservasi perkembangannya." Ucap dokter itu.
"Tapi.." Ucap dokter itu sedikit ragu.
"Saya mohon dok.." Ucap Alice dengan pandangan mengiba.
"Baiklah ikut saya." Ucap dokter Rozak dan kemudian tidak lama muncul brankar yang membawa tubuh Anton keluar dari ruang kamar oprasi.
Beberapa alat masih terpasang di tubuh pria itu.. Wajahnya tampak pucat dan bibir sedikit membiru. Alice yang melihat itu mengikuti brankar Anton di temani lelehan air mata yang tak lepas dari wajah gadis itu.
Saat memindahkan tubuh Anton ke ruang ICU gadis itu melihat dari kaca yang tinggi yang langsung mengarah ke pria yang di cintainya itu. Beberapa perawat sibuk memindahkan tubuh Anton ke atas kasur dan kembali memasang beberapa alat yang ada di sana.
"Kapan dia bisa sadar dok?" Tanya Alice dengan suara bergetar dan terdengar pelan.
"Kita saat ini hanya bisa memantaunya nona, berdoalah agar dia bisa segera sadar dan tidak memiliki komplikasi lain." Ucap dokter itu menguatkan.
__ADS_1
"Saya ingin menemuinya dok." Ucap Alice seperti bisikan.
"Tentu.. Pakailah baju di sebalah sana, nanti akan ada perawat yang membantu anda." Ucap dokter Rozak ramah.
"Terima kasih dok.." Ucap Alice namun matanya tidak lepas dari memandangi Anton dari balik kaca.
"Saya permisi dahulu.. Jika ada apa-apa anda bisa memanggil perawat." Ucap dokter Rozak dan pergi meninggalkan Alice sendirian.
Alice dengan langkah gontai berjalan ke tempat yang di tunjukkan oleh dokter Rozak tadi dan melihat seorang perawat di sana.
"Saya sudah mendapatkan izin dari dokter Rozak untuk menemui dokter Anton." Ucap Alice lemah dengan suara masih bergetar.
"Baik nona.. Saya akan membantu memasangkan ini." Ucap perawat itu dan memakaikan baju steril ruang ICU kepada Alice.
"Terima kasih.." Ucap Alice saat selesai di bantu dan perawat itu mengangguk.
Alice berjalan menuju pintu kamar rawat yang memiliki kaca di pintunya. Alice membuka pintu itu dan berjalan masuk. Beberapa perawat yang sudah selesai melakukan tugasnya sedikit memberi hormat kepada Alice. Bagaimanapun sebelumnya mereka sudah tahu bahwa Alice akan menikah dengan dokter Anton dan pembatalan pernikahan belum tersebar luas di area rumah sakit.
Beberapa perawat itu keluar dari kamar Anton dan menuju ruang keperawatan.
"Kasian nona Alice.. Dia pasti sangat terpukul melihat dokter Anton terluka." Ucap salah satu perawat.
"Berdoalah agar dokter Anton segera sadar." Ucap salah seorang perawat menimpali dan di aminkan oleh perawat lainnya. Dan kemudian mereka semua pergi untuk berkeliling memberikan perawatan pagi kepada pasien lainnya.
Alice berdiri di samping ranjang Anton pria itu tampak damai di dalam tidurnya. Alice mendekati ranjangnya dan menggenggam jari jemari pria itu dengan lembut.
"Kenapa kau melakukan itu lagi? Bukankah kau sudah berjanji tidak akan menggunakan tubuh mu untuk melindungi ku? Kau kembali mengingkari janji mu.." Ucap Alice pelan dengan suara bergetar. Air matanya kini membanjiri lagi di kedua pipinya.
"Cepatlah bangun.. Aku tidak akan memaafkan mu jika kau tidak segera bangun.. Kau masih harus menjelaskan banyak hal pada ku." Ucap Alice dan kembali menangis lagi.
Alice merasakan sakit, berat dan dadanya terasa sesak seperti di timpa oleh bongkahan batu besar di atasnya. Ingin rasanya berteriak atau bahkan melepaskan jantung dan hatinya agar rasa menyakitkan ini menghilang dari dalam tubuhnya. Bagaimana tidak merasa sakit yang hebat saat melihat pria yang berjuang hidup dan mati untuknya. Pria yang biasanya tampan dan gagah di pandangan matanya kini tampak lemah dan pucat tidak berdaya.
"Bangunlah segera.. Aku menunggu mu.." Ucap gadis itu dan mengecup tangan Anton yang berada di dalam genggamannya.
__ADS_1
Bersambung....