JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Jebakkan


__ADS_3

Alice membaca kembali pesan yang ada di ponselnya. Alice memainkan cincin yang tersemat di jari manisnya dan berpikir dengan cermat.


"Huft.. Baiklah.." Ucapnya teguh dan menghembuskan nafas beratnya.


Dirinya sudah bertekad akan pergi menemui Belinda. Gadis itu bangkit dari kasurnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Membilas wajahnya dan bersiap untuk pergi.


Alice keluar dari kamarnya dan kemudian berdiri di depan kamar dan mengetuk pintu kamar di samping kamarnya.


Tok tok tok.


Ketukan ketiga di pintu membuat pintu itu terbuka.


Ceklek.. Kriettt..


Tiba-tiba sosok pria dengan rambut yang sedikit berantakan wajah bantal yang tampak baru bangun tidur dan kaus putih yang sedikit kusut menempel di tubuhnya.


"Alice.. Apa yang terjadi? Kau tidak apa-apa?" Roy yang membuka pintu dan langsung menghampiri memeriksa tubuh gadis di depannya itu. Dan beberapa detik kemudian muncul Galih dan Juna di belakang Roy dengan penampilan yang tidak jauh berbeda dari Roy.


"Aku tidak apa-apa. Bisakah kita bicara sebentar? Ada yang harus aku katakan dengan kalian." Kata Alice cepat.


"Tentu maskuklah." Ucap Roy dan membuka pintu kamar mereka. Galih dan Juna menyingkir dan memberi ruang agar Alice bisa masuk kedalam kamar.


Ya.. Roy, Galih dan Juna sepakat menggunakan satu kamar untuk mereka bertiga untuk memudahkan jika terjadi sesuatu dan bisa langsung mengingatkan jika terlalu nyenyak tertidur.


Alice duduk di sofa yang ada di dalam kamar begitu juga dengan Roy, Galih dan Juna.

__ADS_1


"Ada apa Al?" Tanya Galih mulai penasaran gadis itu sudah rapih di pagi buta seperti ini.


"Sebenarnya aku kemari karena panggilan telepon dari Belinda sebelumnya. Dia mengetahui aku pergi ke pemakaman keluarga dan menangis di atas pusara ibu ku. Namun yang membuat ku langsung bergegas untuk menemuinya, dia bilang bahwa di dalam makam itu tidak ada jasad ibu ku. Aku sudah mencoba mengkonfirmasi kepada paman Imanuel, namun sepertinya beliau juga tidak tahu menahu mengenai masalah ini. Aku ingin memastikannya langsung dengan Belinda dan segera pergi ke mansion namun kalian lihat sendiri, aku malah terjebak dan hampir terpatuk oleh ular berbisa yang mematikan." Jawab Alice dan menjelaskan semuanya dengan rinci.


"Kini ada sebuah pesan yang masuk ke ponsel ku tadi, aku khawatir ini adalah jebakan lainnya, namun bagaimanapun juga aku harus memastikannya langsung dengan wanita itu bukan. Aku tidak mungkin langsung membongkar makam ibu ku. Bagaimana jika dia menjadi tidak tenang karena ini, jika dia memang berada di sana. Atau bagaimana jika dia memang tidak berada di sana." Ujar Alice lagi sambil menyerahkan ponselnya kepada Roy, kini kerapuhan tampak jelas di wajah gadis itu.


"Astaga liciknya wanita tua itu." Kata Galih geram mendengar penjelasan Alice dan setelah membaca isi pesan diponsel Alice.


"Kami tahu kekhawatiran mu. Baiklah kita bersiap sekarang. Kita akan pergi kesana bersama." Ujar Roy memberi perintah.


"Baik." Ucap Galih dan Juna kompak.


Galih, dan Roy pergi bergiliran kedalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya untuk menghilangkan rasa kantuknya. Sedangkan Juna menghubungi anak buahnya untuk bersiap mengikuti jejak mobil mereka nantinya yang terpasang di GPS.


"Ayo.." Ucap Roy, saat mereka bertiga sudah siap dan segera bergegas keluar dari mansion dan masuk kedalam mobil mereka.


Perjalanan menuju Hampton akan memakan waktu 45menit. Mereka mengendarai dengan kecepatan cukup tinggi karena mereka mengejar waktu dan juga jalanan saat ini sangat sepi sehingga mengizinkan mereka untuk berkendara dengan kecepatan tinggi seperti itu.


Saat mereka memasuki kawasan jembatan layang, tiba-tiba terdengan desisian pelan dari dalam mobil yang tepat di bawah bangku jok mereka, tidak lama muncul asap putih dari bagian bawah kursi belakang dan di bawah kedua kursi bagian depan.


Seketika asap putih menyelimuti mereka, dengan refleks Galih membuat pelan laju mobil mereka saat asap itu sudah mulai menyelimuti dirinya dan mengganggu pandangannya.


"Arghh ada apa dengan asap putih ini?" Ucap Galih yang bingung begitu juga dengan Juna dan Roy.


"Dari mana asap ini berasal?" Kata Juna yang tidak kalah bingung dan terkejut.

__ADS_1


"Ini bom asap!" Teriak Alice yang baru menyadari bahan yang terkandung dalam asap itu. Alice memiliki hidung yang sensitif sehingga gadis itu secepat kilat menutup mulut dan kedua hidungnya. Begitu juga dengan Galih, Roy dan juga Juna yang refleks saat mendengar pemberitahuan dari Alice.


Dengan cepat Galih mengerem mobilnya dan menghentikan laju mobilnya dengan satu tangan yang masih menutupi hidung dan mulutnya. Dengan cepat mereka membuka kaca mobil untuk menghilangkan kepulan asap yang mengganggu mereka. Suara decitan antara ban dan aspal membuat telinga sakit saat Galih mengerem san menghentikan mobil dengan sempurna.


Mereka dengan refleks membuka pintu mobil dan keluar dari mobil dengan cepat. Namun sayangnya mereka sudah menghirup gas itu sebelumya dan membuat mereka perlahan lemas dan meluruh ke jalan aspal yang tidak jauh dari tempat mobil mereka berhenti.


Tampak dari kejauhan dua buah mobil berhenti di belakang mereka dan beberapa pria itu mengenakan masker anti gas beracun di wajah mereka.


"Tidak! Kita di jebak! Alice pergi segera dari sini!" Ucap Roy yang kini memahami situasi mereka. Namun dirinya tidak memiliki banyak tenaga karena sudah menghirup gas beracun yang membuatnya melemas dan pandangan matanyanya membuatnya buram.


"Uhuk! Alice pergilah! Biar kami yang menghadang mereka!" Ucap Galih dan Juna bersamaan namun keduanya juga sudah terkontaminasi oleh gas beracun itu. Dan seketika meluruh di aspal itu.


Delapan orang menghampiri mereka berempat yang sedang membungkuk di jalan aspal yang dingin itu.


"Sudah jangan keras kepala! Tidur saja sana!" Ucap suara yang sedikit asing akibat masker itu. Pria itu menekan bahu Roy dan membuatnya agar tergeletak di tanah tanpa perlawanan. Namun wajahnya masih mendongak saat melihat kedua pria yang menarik Alice dan membopong gadis itu menjauhi mereka.


Begitu juga situasi Galih dan Juna. Kedua pria itu sudah tergeletak di sana dengan wajah yang mendongak ke arah Alice.


"Tidurlah boy! Masih bagus kita tidak menghabisi kalian!" Ucap salah satu pria menggunakan masker dan menepuk-nepuk pipi Galih kasar.


"Maaf aku menyusahkan kalian." Gumam Alice namun masih bisa di dengar oleh ketiga kesatrianya.


"Alice.." Gumam Galih, Juna dan Roy secara bersamaan.


Mereka bertiga tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa memandangi gadis itu dibawa dari hadapan mereka dan dimasukkan kedalam mobil yang membawanya entah kemana. Seketika itu juga pandangan mereka menggelap dan mereka tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2