
Tiga jam dalam perjalanan itu membawanya ke kantor pusat. Kini mereka telah sampai di depan gedung yang kokoh dan tinggi menjulang itu.
“Al kau tidak apa-apa?” Tanya Roy dan Galih bersamaan saat Alice baru saja memasuki ruang pertemuan itu, sedangkan Juna hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua sahabatnya itu.
“Ya aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir.” Jawab Alice cepat, karena tidak ingin membuat ketiga orang itu lebih khawatir.
“Aku dengar saat penyergapan di hotel bantuan datang terlambat sedangkan kedua gank mafia itu malah bekerja sama. Aku sangat khawatir dengan keadaan mu di dalam sana Al.” Ucap Juna khawatir.
“Ya, dan aku melihat pria itu mencondongkan pistolnya hendak membunuh mu. Namun siapa ketiga pria itu yang menolong mu?” Tanya Galih bingung saat dia melihat rekaman video yang ada pada kalung Alice.
“Mereka anak buah ‘K’.” Ucap Alice membuat keempat orang yang berada di ruangan itu makin bingung.
“Bagaimana mungkin mereka menolong mu? Apakah ada sesuatu hal yang tertinggal yang belum kita ketahui?” Tanya Roy bingung.
“Tidak.. Mungkin ini hanya untuk perebutan lahan kekuasaan antar gank saja, tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kita. Aku berharap demikian.” Ucap Alice menjelaskan kepada ketiga orang itu. Sedangkan Maya hanya diam mendengarkan saja.
‘Aku sungguh berharap demikian, aku tidak menginginkan hutang budi apapun atau terlibat masalah apapun dengannya.’ Batin Alice khawatir.
“Maya terima kasih atas kerja kerasmu, kau boleh pergi untuk membersihkan diri mu.” Ucap Juna yang mempersilahkan Maya pergi karena saat ini dress yang di gunakannya compang camping dan banyak berlumuran darah.
“Baik Pak. Saya permisi.” Ucapnya dan segera pergi dari sana meninggalkan keempat orang itu.
“Apakah hanya itu saja Alice?” Tanya Roy penasaran dengan hal yang sudah terjadi.
‘Tentu saja aku juga tidak tahu apa yang terjadi, aku malah bingung dengan perkataan yang di ucapkan pria itu ‘meminta izin untuk mendekati wanita yang di incar bosnya.’ Memangnya mereka pikir mereka siapa seenaknya mencap ku sebagai wanita incaran bos mereka. Aku dan K tidak memiliki hubungan apapun. Kita sudah menyelesaikan urusan kita saat di pulau itu. Sungguh lelaki yang tidak menepati janjinya.’ Batin Alice kesal.
“Tentu saja tidak ada. Aku malah penasaran kenapa bos besar itu menginginkan nyawaku.” Ucap Alice berbohong dan mencoba mengalihkan perhatian ketiga pria di depannya itu dengan kenyataan percobaan pembunuhan yang di lakukan Banyu.
“Aku akan menyelidiki itu lebih lanjut.” Ucap Galih cepat dan segera kembali ke bangku kerjanya di depan computer dan layar lebar di depannya berkutat dengan kode-kode dan angka-angka di depannya untuk mencari tahu kebenarannya.
“Aku akan menghubungi kapten yang melakukan penyergapan itu.” Ucap Juna cepat dan pergi dari ruangan itu untuk pelakukan panggilan telpon.
“Al kau sungguh tidak apa-apa?” Tanya Roy lagi.
“Aku tidak apa-apa kak, kau tidak perlu khawatir.” Ucap Alice.
__ADS_1
“Baiklah aku akan meninggalkan mu dulu, untuk pergi menghubungi CIA dan FBI untuk kelanjutan perkembangan penangkapan ini dan untuk bertukar informasi untuk menemukan dalang di balik semua kekacauan ini.” Ucap Roy sambil mengelus puncak rambut Alice dan pergi meninggalkan gadis itu berdua dengan Galih di ruang kerjanya.
“Aku akan pergi ke ruangan ku.” Ucap Alice pada Galih dan meninggalkan pria itu yang sedang fokus dengan laporan yang dia kerjakan di depan layar lebarnya itu.
Alice berjalan menuju ruangannya dan memasuki ruangannya, gadis itu mengambil baju dan perlengkapan mandi dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan merilekskan tubuhnya.
Gadis itu mulai mengingat kembali ucapan Banyu yang berkata bos besar yang menginginkan nyawanya, dan dia mulai mengingat lagi bahwa yang mengetahui dan berhubungan langsung dengan bos besar hanyalah Bintang.
Alice langsung tersadar dan duduk tegak di dalam bathtubnya dan segera membilas dirinya dan mengenakan pakaiannya yang berupa kaus biru langit longgar bertangan pendek dan celana jeans panjang berwarna putih. Lalu gadis itu segera pergi dari ruangannya dan menuju ruangan Juna.
Tok tok tok.. Alice mengetukan di pintu ruangan Juna.
“Masuk.” Ucap suara dari dalam.
“Al.. ada apa, kau terlihat tergesa-gesa.” Ucap Juna bingung.
“Di mana Bintang berada?” Tanya Alice langsung tanpa basa-basi kepada Juna.
“Maksudmu gadis yang menculikmu itu?” Tanya Juna memastikan.
“Ceritanya panjang Al, memangnya ada apa?” Tanya juna bingung.
“Kita bisa mengetahuinya langsung dari gadis itu mengenai siapa bos besar dan malah tujuannya ingin membunuhku, kita bisa mengorek informasi dari gadis itu kak, di mana gadis itu sekarang?” Tanya alice lagi dengan tergesa-gesa.
“Hemm,, sepertinya akan sulit untuk mengetahui kebenarannya jika begitu Al.” Ucap Juna lagi.
“Apa yang terjadi kak?” Tanya Alice.
Flashback On
Satu jam sebelum penyergapan di gudang tua itu.
“Bagaimana ketiga gadis itu sudah di antarkan dengan aman?” Tanya Bintang.
“Ya, mereka sudah di tangan para pelanggan.” Ucap Bima senang.
__ADS_1
“Sungguh aku tidak mengerti dengan bos besar, mengapa harus membinasakan seorang gadis yang lemah, bahkan gadis itu bisa menghasilkan bermiliaran hanya dengan satu malam kunjungan saja. Sungguh sangat di sayangkan jika tidak bisa di gunakan.” Ucap Bima menyesalkan keputusan bos besar itu.
“Aku juga tidak mengerti, biasanya dia sangat menikmati aliran dana yang di dapatkan jika hasilnya sangat berlimpah.” Ucap Bintang.
“Bintang, aku sungguh penasaran siapakah bos besar itu.” Ucap Bima mulai mengorek informasi dari Bintang.
“Jangan mencoba-coba mengorek informasi apapun jika kau tidak menginginkan nyawamu melayang Bima. Di sini banyak mata dan telinga, aku khawatir jika kau mendengarnya kau bahkan tidak akan sanggup bernafas bahkan untuk satu menit saja.” Ucap Bintang dan menertawakan pria itu yang pucat pasi akibat perkataannya itu.
Bima dan Bintang kembali menyelesaikan jawal untuk para gadis itu dan tak lama kemudian..
Dorr
Dorr
Dorr
“Suara apa itu.” Ucap Bintang dan Bima bersamaan.
Brakkk
“Bos, di luar ada penyerangan, mereka mulai memasuki bagian dalam, para penjaga di luar dan di dalam mulai membantu keluar untuk menyelesaikan mereka. Namun para penyerang itu sangat banyak, kita membutuhkan bantuan.” Jelas seorang pria yang melaporkan kejadian yang terjadi di luar kepada mereka.
“Bagaimana mungkin, penjaga di sini juga banyak, cepat minta bantuan dari para mafia itu.” Ucap Bima cepat kepada anak buahnya.
“Baik Bos.” Ucapnya dan segera pergi dari sana.
“Lalu bagaimana dengan para gadis?” Tanya Bima bingung.
“Ayo kita giring mereka ke belakang dan bawa mobil van dan bawa beberapa wanita yang bisa menghasilkan banyak keuntungan buat kita, kau bawa senjata ini dan todong dengan pistol ini jika mereka menolak.” Ucap Bintang kejam.
“kau benar-benar seorang psycho Bintang.” Ucap bima.
“Terima kasih atas pujiannya. Kau juga seorang bajing*an ingat itu.” Ucap Bintang ketus mengingatkan kembali status Bima.
Bersambung....
__ADS_1