
“Wah sepertinya kau banyak tahu bocah. Siapa kau sebenarnya? Ahhh ya.. aku hampir lupa, kau adalah wanita yang di incar ‘bos besar’.” Ucap pria itu lagi.
“Apa maksud mu? Apa bos besar mengincarku karena aku menghancurkan salah satu usahanya itu?” Tanya Alice lagi.
“Hahaha dasar wanita bodoh.. mana mungkin hal sepele seperti itu harus mencari mu sampai ke mana-mana. Asal kau tahu saja, sudah puluhan orang dengan wajah yang mirip dengan dirimu di hancurkan oleh ketua ku atas perintah ‘Bos Besar’ jadi tidak ada hubungannya dengan apa yang kau ucapkan itu.” jelas pria itu lagi.
“Lalu apa hubungannya dengan wajah ku dan mengapa mengincar ku?” Tanya Alice mulai tidak mengerti alasan semua ini.
“Wah wah wah sepertinya kau sudah sangat nyaman ya duduk di sana.” Ucap Diana saat gadis itu tiba-tiba muncul lagi di disana dan membatalkan ucapan pria itu lagi.
“Sekarang waktunya kita bermain-main.” Ucap Diana dan mengambil sebilah pisau lipat di saku celana jeansnya.
Diana mendekati kursi Alice dan menjambak rambut gadis itu. Alice hanya mendonggakkan wajahnya menghadap Diana, gadis itu mengernyit merasakan sakit di kulit kepalanya yang di jambak oleh wanita itu. Wanita itu mendekatkan wajahnya lagi ke wajah Alice, kemudian mendekatkan sebuah pis*au lip*at kecil kearah wajah Alice dan sedikit menggo*res wajah gadis itu. Wajah Alice seketika mengeluarkan da*rah dan gadis itu hanya memejamkan matanya dan menggertakkan giginya merasakan sakit di wajahnya.
“Wahh bagus.. pis*au ini ternyata sangat tajam ya. kau lumayan berani juga tidak mengeluarkan suara apapun.” Ucap wanita itu tersenyum melihat wajah Alice yang mengeluarkan da*rah.
“Namun itu belum selesai. Aku ingin menulis sesuatu di wajahmu.” Ucap Diana lagi dan mencoba mendekati wajah gadis itu dengan pis*aunya lagi. Namun belum sampai pisau itu mendekati wajah Alice lagi, suara tembakan terdengar nyaring.
Dorrr
“Ahhhh..” Diana menjerit saat tangannya terkena serempetan dari timah panas itu.
“Penyusup…” Ucap Roxi langsung sigap mengambil pis*tol di sakunya, dan membidik pistolnya ke depan untuk melihat siapa yang telah menembakkan timah panas itu. Diana yang takut kemudian berlari ke pojok belakang pintu itu.
Dor dor dor dor beberapa tembakan lain pun menyusul di luar ruangan itu, tiba-tiba seseorang muncul menerobos pintu itu. Membuat semua orang yang berada di dalam ruangan sana terkejut.
“Siapa kau?” Tanya Roxi masih dengan mencondongkan pistolnya. Orang itu hanya diam saja dan akan mendekati kearah kursi Alice.
“Anton..” Ucap Alice dan Diana bersamaan.
“Berani kau melangkah sekali lagi aku akan menembak mu.” Ancam Roxi kepada pria itu.
__ADS_1
Namun Anton hanya diam saja dan tetap melanjutkan jalannya menuju Alice yang sedang terikat di kursi tanpa ragu.
“Anton.. hentikan itu.. pergi dari sini. Disini berbahaya.” Ucap Alice menghkawatirkan kekasihnya itu.
“Anton. Berhenti. Sedang apa kau disini.” Ucap Diana.
Roxi membidikkan pistolnya kearah pria itu yang mencoba mendekati Alice dan kemudian menekan pelatuk pistol di tangannya itu.
Dorr
Dorr
“Arghhh…” Teriak Roxi saat tangannya terkena timah panas dari sniper yang entah dari mana memantau mereka. Tembakkannya kalah cepat dengan tembakan sang sniper. Sehingga tembakkannya meleset entah kemana dan pistolnya pun terlepas dari genggaman tangan Roxi.
Diana yang melihat kejadian itu hanya bengong dan kemudian menutup matanya di posisinya karena takut mendapatkan peluru nyasar ke arahnya.
Roxi memeganggi tangannya yang terluka yang mengeluarkan banyak da*rah segar namun dia tetap menunduk dan mengambil pistolnya yang terjatuh di bawah kakinya dengan cepat, kemudian bangkit berdiri. Anton yang sedang mendekati Alice dan membukakan ikatan tali pada lengan gadis itu.
“Tenang aku di sini sayang.” Ucap pria itu.
Roxi yang mendapatkan pistolnya kembali membidikkan pistolnya itu kearah Alice namun belum sempat dia menekan pelatuk pistol itu, suara tembakan terdengar lagi.
Dorrr
Dorrr
“Arghhh…” Jerit Roxi. Terdengar dua suara tembakkan yang mengakibatkan dua timah panas itu bersarang di kedua pahanya yang membuatnya langsung duduk bersimpuh dan kemudian tergeletak di lantai.
Tanpa mereka sadari, pis*tol yang di pengang Roxi terlempar di hadapan Diana. Wanita itu yang di butakan oleh bencinya kepada Alice dan melihat Anton yang begitu sangat perduli kepada gadis itu mengambil pis*tol itu dan langsung mengarahkanya kepada Alice.
Meski wanita itu tidak pernah belajar menem*bak ataupun belajar membidik target, dia hanya mengikuti instingnya untung mengarahkan pis*tol itu kearah Alice dan menekan pelatuk pis*tol itu. Anton yang meihat gerakan Diana langsung memasang badannya untuk melindungi tubuh Alice.
__ADS_1
Dorr suara tembakkan dari pistol yang Diana pegang memekakkan telinga di ruangan itu.
“Ahh…” Suara rintihan pelan Anton. Pistol itu memuntahkankan timah panasnya yang menembus langsung tubuh bagian samping pria itu dari belakang.
“Kau terluka? Kenapa kau melindungi ku.” Ucap Alice saat tersadar bahwa pria itu terluka untuk melindungi dirinya.
“Aku tidak apa-apa Alice.. tenanglah..” Ucap Anton menenangkan kekasihnya.
Sniper yang melihat hal itu langsung mengarahkan bidikkannya kepada Diana dan menembak gadis itu.
Dorr
“Arghhhh…” Satu tembakkan dari sniper tepat mengenai bahu Diana dan membuat pistol itu terlempar jauh ke sudut ruangan. Semua kejadian itu terjadi begitu cepat.
“Maaf Tuan saya lengah.” Ucap suara di earpiece Anton.
“Segera keluar dari sana. Mereka akan segera tiba.” Ucap salah satu orang dari earpiece itu. Anton mematikan komunikasinya dengan anak buahnya itu.
“Tunggu sebentar di sini. Tim bala bantuan akan segera datang. Duduk saja dahulu.” Ucap gadis itu mengira para penembak itu berasal dari RJP. Dan menyuruh Anton duduk di kursinya kemudian membantu menekan sisi perut pria itu.
“Astaga mengapa mereka belum masuk.” Ucap Alice dengan gelisah.
“Tenang sayang, aku tidak apa-apa.” Ucap Anton menenangkan kembali kekasihnya sambil menekan sisi perutnya yang tertembak.
Alice yang melihat sekeliling ruangan melihat Roxi dan Diana yang sudah tergeletak pingsan karena tembakkan itu, dan melihat Namira yang masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius. Gadis itu megambil keputusan untuk melepaskan ikatan tangan dari Namira dahulu kemudian membuka kedua anting yang dia gunakan dan meletakkannya ke dalam saku gadis itu. Kemudian gadis itu berlari keluar ruangan itu dan melihat seorang pria sudah tergeletak di lantai. Alice menggeledah kedua saku celana pria itu kemudian menemukan sebuah kunci mobil di dalam salah satu sakunya. Alice mengeluarkan kunci mobil itu kemudian segera berlari masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Anton.
“Ayoo.. aku akan membawa mu pergi dari sini.” Ucap Alice dan membantu memapah Anton untuk keluar dari ruangan itu menuju mobil yang terparkir di depan gubuk itu. Alice membantu memasukkan Anton perlahan ke dalam mobil di bangku depan penumpang. Kemudian gadis itu berlari menuju sisi pengemudi dan dengan cepat gadis itu menyalakan mobilnya dan mengetikan pencarian rumah sakit terdekat pada layar di mobil itu. Setelah menemukan lokasinya, Alice langsung pergi meninggalkan gubuk itu dengan kecepatan lumayan tinggi meski di jalan yang berbatu yang membuat mobil itu bergoyang-goyang dan tidak berapa lama dia berpapasan dengan beberapa mobil hitam.
Alice mengabaikannya dan terus melaju menuju jalan raya dan bergegas menuju rumah sakit terdekat.
Bersambung....
__ADS_1