
“Baiklah aku mengakuinya aku bukan orang baik, puas kau.” Kesal Bima sambil menerima pistol itu dari tangan Bintang.
“Cepat kita pergi dari sini. Sebelum mereka bisa mendapatkan kita.” Ucap Bintang dan segera beranjak dari ruangan itu menuju tempat para gadis di tawan.
Mereka melewati pintu belakang yang ada di balik lemari di ruangan itu menuju tempat para gadis di tawan, dengan membukanya menggunkan kunci darurat.
“Aku baru tahu ada ruangan seperti ini.” Tanya Bima.
“Ini ruangan khusus untuk langsung menuju kamar para gadis itu, ini mempersingkat waktu pelarian kita dalam keadaan darurat.” Ucap Bintang.
“Hai para gadis, apakah kalian merindukan kami?” Tanya Bintang yang tiba-tiba muncul dari dalam lemari gudang tempat penyimpanan sapu dan alat-alat lainnya yang tepat berada di sudut ruangan kamar para gadis itu.
“Bintang apa yang kau lakukan di sana.” Tanya Jessy bingung dengan kedatangan Bintang yang tiba-tiba dan muncul dari tempat yang tak terduga. Para gadis lainnya juga spontan berdiri kaget serta bingung dengan kedatangan mereka yang tiba-tiba dari ruangan yang tak terduga itu.
“Bukan urusan mu. Bima ambil 01 sampai 010, cepat kita tidak punya banyak waktu.” Bentak Bintang.
“Cepat kau 01 Jessy,02,03,04,sampai 010 ikut aku atau timah panas ini akan berada di dalam tubuh kalian.” Ucap Bima dengan mencondongkan senjata itu ke arah para gadis yang masih bingung.
“Cepat!!! Apa kalian pikir ini adalah mainan. Mau mencoba menembus kulit mulus kalian dulu baru mau menurut?” kesal Bintang dengan berteriak dan membentak.
“Baa.. baikk..” Ucap para gadis yang namanya di sebut segera memisahkan diri dengan gadis lainnya.
“Cepat jalan, lambat sekali kalian seperti siput.” Ucap Bintang sambil mendorong seorang gadis yang nampaknya dia masih ragu-ragu memisahkan diri dengan gadis yang lainnya, hingga gadis itu akan tersungkur dan di tangkap oleh Jessy.
“Bintang, kau bisa bicara baik-baik bukan.” Kesal Jessy dengan sikap Bintang yang sudah kelewatan.
“Jangan sok jadi pahlawan kesiangan kau Jes, cepat lakukan semua perintahku atau kau benar-benar berpikir aku akan mengasihani mu dan tidak berani menembuskan timah panas itu ke dalam tubuh mu hah! Cepat bergerak menuju pintu itu!” Bentak Bintang kepada para gadis dan juga Bima untuk menuju sebuah pintu lain di ruangan itu.
__ADS_1
“Cepat!!” Bentak Bintang.
Mereka masuk ke sebuah ruangan pantry dan masuk menyusuri ruangan dapur itu dengan Bintang sebagai petunjuk jalan dan Bima berada di belakang para gadis itu, mencoba menodongkan senjatanya jika saja mereka para gadis itu enggan untuk berjalan atau mencoba untuk melarikan diri.
“Cepat masuk ke sini.” Ucap Bintang membuka lemari penyimpanan perkakas di dalam ruang dapur itu dan di sana terdapat sebuah pintu tersembunyi di balik sehelai kain berwarna hitam. Dan membawa sebuah senter yang tergantung di dalam terowongan itu.
“Cepat masuk.” Ucap Bintang dan dia dengan tenang masuk ke dalam terowongan itu dengan cahaya senter yang menuntunnya. Para wanita sedikit takut dengan kegelapan itu dan beberapa ada yang tersandung akibat mereka tidak bisa melihat jalan dengan baik.
“Cepat jalan, ikuti Bintang. Meski kaki kalian terkilir atau patah sekalipun, kalian tetap harus mengikutinya. Maka dari itu, berhati hatilah melukai diri kalian sendiri.” Ucap Bima ketus di belakang mereka.
Terowongan itu sangat gelap dan lembab, beberapa genangan air yang terinjak oleh beberapa gadis menimbulkan bau dan suara cipratan yang menjijikan, belum lagi terdengar suara-suara mencicit dan sesuatu yang berlarian di bawah sana dan tidak sengaja menyenggol kaki seorang gadis.
“Ahhh..” Ucap seorang gadis yang merasa ada sesuatu yang menyenggol kakinya dengan gerakan yang cepat. Binatang pengerat itu kaget dengan kedatangan pengunjung yang tak terduga sehingga menyenggol salah satu kaki gadis itu.
“Ahh..” Ucap gadis lainnya yang merasa ada sebuah sarang laba-laba yang menyentuh dahi dan wajahnya. Gadis itu menepiskan sarang laba-laba yang menyentuh wajahnya dan terus saja membersihkan wajahnya dengan usapan-usapan kasar di wajahnya.
Flap flap flap plok sesuatu terbang dan menempel pada dada seorang gadis lainnya.
“Ahhh kecowaaa..” Ucap nya jijik dan menepis serangga bersayap itu ke sembarang arah dan serangga itu terbang dan menempel kepada lengan temannya yang berada di sebelahnya.
“Ahhh.. ihhh menjijikan.. aku ingin segera pergi dari sini.” Keluh seorang gadis yang menepis-nepiskan tangannya jijik dari sentuhannya dengan serangga tadi.
“Diam kalian, cepat jalan!” Ucap Bima kesal yang sedari tadi mendengar segala keluhan para gadis itu dari belakang sana.
Semua gadis itu langsung diam dan meneruskan jalannya meski dengan wajah yang enggan dan ketakutan. Hingga mereka mendapati cahaya di ujung jalan, dan membuat para gadis itu berjalan dengan cepat untuk cepat berada di ujung jalan itu. Mereka keluar dari terowongan itu, langsung di suguhkan dengan pemandangan beberapa kendaraan mobil yang terparkir disana.
“Cepat masuk ke sana.” Ucap Bintang dan membuka pintu penumpang pada sebuah mobil van berwarna hitam.
__ADS_1
“Jangan mencoba untuk kabur, kecepatan lari kalian dengan kecepatan timah ini menuju tubuh kalian masih kalah jauh.” Ucap Bima mengingatkan saat dia melihat beberapa gadis itu mencoba untuk melirik kendaraan yang lain dan sudut untuk besembunyi melarikan diri.
Para gadis itu kembali tersadar dengan kenyataan dan mulai memasuki mobil van itu satu per satu.
“Kau duduk di belakang saja, awasi para gadis itu. Biar aku yang mengemudi.” Ucap Bintang menyuruh Bima untuk duduk di belakang. Mereka berbicara di samping mobil van yang terbuka itu.
Saat bima mencondongkan tubuhnya untuk memasuki mobil van itu, tiba-tiba terdengar suara berisik.
“Berhenti di sana, angkat tangan kalian.” Ucap suara tak jauh dari sana. Beberapa laser infra merah penembak jitu sudah bersemayam di bagian tubuh Bima dan Bintang.
“Kalian sudah terkepung. Angkat tangan kalian dan letakkan senjata kalian.” Perintah suara itu.
“Jangan coba-coba untuk melarikan diri.” Lanjutnya lagi.
Bima berbalik ke depan dan meletakkan senjata itu di lantai kemudian menegakkakan tubuhnya dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi serta menendang senjata api itu jauh dari jangkauannya.
Begitu juga dengan Bintang, gadis itu juga melakukan hal yang sama, dia melepaskan kunci mobil yang ada di tangannya dan menendangnya jauh kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Di lain sisi gudang yang jauh dari jangkauan para petugas, seorang pria duduk di atas motornya dan menghubungi seseorang.
“Halo bos, Bintang tidak membun*uh gadis itu. Dan saat ini dia tertangkap oleh kepolisian.” Ucap pria di atas motornya itu sambil memperhatikan keadaan di hadapannya itu.
“Apa? Darar wanita jal*ang yang bodoh, berani-beraninya dia tidak mendengarkanku. Kau selesaikan dia sekarang sebelum dia tangkap.” Perintah suara itu.
“Baik Bos Besar.” Ucap suara itu dan mematikan ponselnya.
Bersambung....
__ADS_1