
Alice merapihkan beberapa pakaiannya dan kemudian bergegas mengganti pakaian pasiennya menjadi pakaian kebangsaannya yaitu kaus berlengan pendek dan celana jeans. Laristha juga berada di sana untuk membantu gadis itu merapihkan barangnya.
"Kak Maya.. Ehemm kak Laristha.. Terima kasih untuk beberapa hari ini.. Saat ini aku akan pergi ke kota X, Kakak tidak perlu khawatir aku akan baik-baik saja disana.." Ucap Alice mengatakan kata perpisahan kepada wanita itu.
"Ohh aku sudah tahu.. Kau pasti akan pergi kesana.. Aku akan ikut dengan mu.. Bahkan aku juga sudah memesan tiket kesana untuk kita.. Nih.." Ucap Laristha santai sampai memperlihatkan dua tiket penerbangan yang sudah di booking bahkan sudah check in online di ponselnya.
"Wow.." Alice melebarkan bola matanya tidak percaya Laristha sudah menyelesaikan semuanya.
"Ya sudah yuk berangkat ke bandara.." Ucap Laristha dan menarik koper kecil milik Alice.
Karena semua prosedur sudah di lalui secara online, mereka langsung masuk kedalam gate keberangkatan dan sudah menunggu di ruang tunggu keberangkatan. Tidak berapa lama pesawat mereka sudah siap untuk take off dan terbang ke Negara X.
"Mengapa melamun?" Tanya Laristha saat melihat Alice hanya memandangi pemandangan awan putih yang ada di luar jendela.
"Tidak ada kak.. Hanya menikmati pemandangan yang indah dari atas ini.." Ucapnya sambil memandangi ribuan gumpalan awan berwarna putih yang di lewati bagaikan gumpalan-gumpalan permen kapas di langit yang berwarna biru cerah itu.
"Hmm.. Pemandangan yang sangat indah.." Puji Laristha sambil ikut melihat kearah luar jendela pesawat terbang itu.
"Kau terlihat cemas Al.. Apa yang terjadi?" Tanya Laristha saat melihat Alice sudah tidak memandagi luar jendela dan kini hanya menatap layar ponselnya yang berwarta hitam.
"Entahlah kak.. Aku sudah kehilangan bebebrapa orang penting selama hidup ku ini.. Aku hanya.. Aku hanya sedikit khawatir dan takut jika terjadi sesuatu di sana." Ucapnya sambil menyalakan ponselnya yang kini menampilkan foto pernikahannya dengan Anton.
"Hemm kau hanya terlalu banyak berfikir.. Mereka pasti bisa menyelesaikan masalah itu.. Kau tahu dia The K.. Dia tidak mungkin tidak bisa menyelesaikannya."
"Ya.. Kau benar aku terlalu berpikir berlebihan.. Terima kasih Kak.." Ujar Alice dan kemudian menghembuskan nafasnya panjangnya dan mencoba untuk tenang.
Setelah mereka mendarat di kota X, Alice mencoba menghubungi Anton namun ponsel pria itu sibuk.
"Mengapa dia tidak mengangkat teleponnya.. Tidak seperti biasanya.." Ucap Alice dan membuatnya tambah khawatir.
__ADS_1
"Aku akan mencoba menghubungi Juna." Ujar Laristha cepat dan mengambil ponselnya dan menghubungi nomor pria itu. Namun hasilnya sama panggilan itu tidak di responnya.
"Mungkin mereka sibuk.." Ucap Laristha akhirnya.
"Aku tahu harus menghubungi siapa.." Ucap Alice lagi dan kemudian melihat daftar kontak di ponselnya.
Beberapa saat kemudian panggilannya terhubung dengan seseorang.
"Haloo Gal.. Bisa kau beritahu di mana titik lokasi Juna sekarang?" Tanya Alice to the point saat panggilan itu sedang tersambung.
"Juna sedang dalam misi.. Apa maksud mu dengan meminta lokasi Juna sekarang? Jangan bilang kau berada di kota X sekarang?" Galih yang menduga-duga itu terkejut dengan pemikirannya sendiri.
"Ya.. Jadi cepat kirimkan lokasi mereka! Aku akan ke kantor RJP pusat di kota X dan toking persiapkan mobil untuk ku." Ucap Alie cepat dan segera mematikan ponselnya.
"Ayo kak kita naik taksi.. Kita akan mengambil mobil di kantor pusat di kota X.." Ucap Alice cepat dan mendapatkan anggukan dari Laristha.
Sedangkan di sisi lain..
"Baik pak!" Jawab era piece di telinganya Juna.
Mobil putih milik Juna melaju cepat mencoba mengejar mobil hitam yang di dalamnya ada Jhon Markus.
"Pria tua itu benar-benar berencana kabur!" Rutuk Juna.
Beberapa mobil di belakang Juna juga menyusul mobil hitam itu bahkan mobil itu saling meninggikan kecepatan untuk mendahuluinya.
"Regu 2 ambil kiri! Pepet mobil hitam itu sekarang!" Perintah Juna di earpice miliknya.
"Baik Pak!" Mobil yang tadinya tepat berada di belakang Juna kini melaju dengan kecepatan lebih tinggi mencoba untuk mendahului mobil Juna dan bergerak kearah kiri dan mensejajarkan mobilnya dengan mobil hitam milik Jhon.
__ADS_1
Juna yang juga mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi juga mendekati mobil hitam itu dari arah sebelah kanan dan mensejajarkan mobilnya.
"Himpit sekarang!" Perintah Juna.
Brak! Dan saat itu juga mobil milik Jhon berada di antara mobil milik Juna dan juga milik anggotanya.
Mobil milik Jhon sedikit oleng dan mencoba melepaskan himpitan dari kedua mobil di sampingnya.
"Viki! Cepat injak pedal rem nya biarkan kedua mobil yang menghimpit terlempar!" Perintah Jhon yang duduk di dalam mobil hitam itu mengeluarkan perintah.
Dengan patuh Viki menginjak pedal remnya dan seketika kedua mobil yang memepetnya kehilangan kedali dan dengan cepat saling bersenggolan. Mobil yang di kendarai Juna menyenggol mobil anggotanya sendiri dan kemudian membanting setir kearah kanan untuk menghindari tabrakan hebat dengan mobil anggotanya dan akhirnya menabrakkan diri ke sebuah pembatas dan masuk kedalam rawa yang berada di tepi jalan.
Brak! Dug! Bluk! Terdengar suara sesuatu benda yang saling bertabrakan dengan cukup kencang dan tidak lama kemudian terdengar suara ledakan yang kencang.
Booooom!
Setelah bunyi ledakan itu tampaklah sebuah kepulan asap hitam dan api yang tinggi membumbung ke udara.
"Pak! Pak! Jawab saya Pak Juna!" Ucap kepala tim Regu 2 yang sebelumnya mobilnya bersenggolan dengan Juna.
Mobilnya sendiri menabrak sebuah pohon di ladang kosong dan untungnya mobilnya bisa menghindari kecelakaan yang fatal.
Kepala regu tim 2 seera menghubungi anggota regu lainnya.
"Saya kehilangan kontak dengan pak Juna di kilometer 189 di sebuah rawa! Mobilnya menghindari tabrakan fatal dengan mobil regu 2 dan memilih menabrak pembatas jalan menuju ke rawa dan sepertinya terguling dan meledak di tempat! Segera panggilan ambulan dan pemadam kebakaran! Mobil yang saya kendarai rusak dan tidak bisa mengejar target! Tim 4 segera mengikuti target dengan cepat!" Ucap kepala tim regu 2 melaporkan situasi kepada anggota tim regu yang lain.
Mereka terhubung di ear piece yang berhubungan dengan seluruh anggota tim yang terlibat. Pria itu berjalan gontai menuju tepi jalan di mana dari kejauhan terlihat kepulan asap yang semakin menghitam.
"Aku berharap anda baik-baik saja Pak.." Ucap pria itu menggenggam bahunya yang mengeluarkan darah dan kepalanya yang juga mengeluarkan banyak darah dan lambat laut berjalan menyebrangi jalan raya itu dan berdiri di tepi rawa di mana tampak mobil Juna yang sedang di lahap api.
__ADS_1
Bersambung....