
"Kau tahu wanita yang mengenakan topeng hitam dengan gaun hitam itu adalah sasaran mu kali ini. Selesaikan segera tanpa basa-basi dan lakukan dengan bersih." Ucap Fiktor dengan nada datar dan sedikit menggoyangkan wine di gelas miliknya kemudian menyeruputnya.
"Ku serahkan semuanya kepada mu." Ucap Fiktor dan meninggalkan Bahar sendirian di atas sana memperhatikan kemesraan dua sejoli itu.
"Apa?? dia....." Ucap Bahar mencengkram pinggiran pembatas tangga saat melihat Anton melepaskan topengnya dan mencium bibir kecil seorang gadis yang merupakan targetnya.
"Meskipun kau berubah menjadi debu, aku pastikan aku akan mengenali mu berengs**ek!!" Ucap Bahar dan mencengkram pembatas tangga hingga buku-buku jarinya memutih.
"Ohh jadi dia adalah gadis mu.. baiklah.. tadinya aku akan mengakhiri gadis itu dengan cepat sehingga dia tidak merasakan kesakitan.. namun setelah tahu dia adalah milik mu, aku jadi ingin memainkannya untuk menghancurkan mu!!" Ucap Bahar penuh emosi.
Bahar melihat Anton pergi meninggalkan Alice sendirian dan pergi entah kemana.
Acara pestapun di mulai kemudian.. Fiktor yang merupakan tuan rumah membuka sambutannya dengan beberapa patah kata dan kemudian dia mengumumkan bahwa pesta telah di mulai.
Ceklekk... lampu di ruangan itu tiba-tiba padam dan seseorang tiba-tiba membekap mulut dan hidung Alice dari belakang dan menyeret wanita itu keluar dari kerumunan itu dari arah samping. Dan tidak lama lampu sorot menyoroti champagne tower dan Fiktor berada di depannya dan mulai menuangkan champagne sedikit demi sedikit dari gelas paling atas hingga memenuhi gelas hingga gelas yang berada di deretan paling bawah. Dan setelah itu lampu kembali menyala terang benderang.
Anton yang kembali melihat sekeliling tidak menemukan sosok kekasihnya itu.
"Sial!!!" Umpat pria itu kesal, karena dia malah kecolongan beberapa detik dan kekasihnya sudah menghilang dari pandangannya.
"Paul.. liat apa yang terjadi." Ucap Anton pada earpeace yang di gunakannya.
"Baik tuan.." Ucap Paul dan memeriksa rekaman cctv sebelumnya.
"Tuan.. seseorang membekap nona Alice dan membawanya pergi lewat jalan samping." Jelas Paul sambil melihat hasil rekaman cctv yang menunjukkan pria itu langsung membawa Alice keluar dari hotel lewat pintu samping.
"Arghh.. sial!! cepat cari tahu di mana lokasinya!!" Ucap Anton kesal dan keluar dari acara pesta itu.
"Baik Tuan." Ucap Paul dan Alex mendekati Anton saat pria itu hendak keluar dari pintu samping.
__ADS_1
"Maaf Tuan saya lalai." Ucap Alex sambil menunduk dalam karena penyesalannya.
"Sial!! brengsek!!" Umpat Anton lagi karena ternyata pria itu sudah keluar menjauh dari hotel ini.
"Paul.. cari lewat aksesoris yang aku berikan!! aku melihat dia menggunakan antingnya!! pantau di mana dia sekarang!!" Ucap Anton lagi dan bergegas menuruni lift dan menuju mobilnya yang di kemudikan oleh Alex. Paul duduk di kursi belakang menggunakan laptopnya.
"300 meter ke arah selatan ." Ucap Paul memberikan arahan mengenai keberadaan Alice.
"Sekarang lurus.." Ucap Paul lagi. Dan mobil mereka mengikuti arahan dari Paul.
"Tuan! di mobil itu!" Ucap Paul saat melihat mobil pick up berwarna hitam dengan beberapa barang yang di tutupi terpal.
"Hentikan mobil itu, cegat mobilnya!" Perintah Anton kepada Alex. Alex mengencangkan laju mobilnya kemudian memberhentikan mobilnya telat di depan mobil pick up itu sehingga mobil itu tidak bisa melewati jalannya.
"Keluar kalian!" Ucap Anton kesal. Di lihatnya hanya dua orang pria yang duduk di bangku depan. Lalu Anton berlari menuju arah bak terbuka itu dan membuka terpalnya. Di sana terlihat beberapa tumpukan yang di tutupi terpal lainnya.
Anton membuka terpal yang menutupi sesuatu dan di sana hanya ada beberapa barang-barang dan tidak ada Alice. Namun saat dia akan turun, dia melihat sesuatu yang berkilau, Anton mengambil itu. Dan ternyata itu adalah sepasang anting milik Alice.
"Ohh sial!!!" Kesal Anton lagi.
"Kita telah di tipu!! Paul selidiki di mana kalung dan cincinnya." Ucap Anton lagi dengan emosi yang memuncak.
"Hei!! kalian sudah mengacak-acak barang ku dan pergi begitu saja!" Kesal pria pemilik mobil itu.
"Maaf pak, kami sedang mencari orang hilang. Ini sebagai tanda maaf kami." Ucap Alex dan menyodorkan beberapa lembar uang kepada pria itu.
"Huh!! untunglah kalian tahu diri. Ya sudah.. aku akan melupakan aku sudah pernah bertemu dengan kalian." Ucap pria itu dan membetulkan barang dan terpalnya kembali dan segera pergi meninggalkan tempat itu. Khawatir uangnya akan di minta lagi oleh sebab apapun.
"Tuan aksesoris yang lainnya tidak nona Alice gunakan. Semuanya ada di dalam kamar tempat mereka tinggal." Ucap Paul menyesal.
__ADS_1
"Arghhh!!! apa yang harus aku lakukan sekarang!!" Kesal Anton yang sudah hilang akal akibat kekasihnya tidak bisa di lacak keberadaannya.
"Saya akan melacaknya melalui cctv lalu lintas Tuan." Ucap Paul berinisiatif. Meski akan memakan waktu yang jauh lebih lama, mereka tidak ada pilihan lain ketimbang tidak melakukan apapun sama sekali.
"Argghhh sial!!!" Kesal Anton sambil memegang kepalanya kesal.
"Tuan lebih baik kita menunggu di tempat kita dan melacaknya.. Tuan juga harus tenang agar kita bisa segera menemukan Nona." Ucap Alex menenangkan.
Akhirnya Antonpun mau masuk kembali ke dalam mobil dan kemudian mereka menuju hotel tempat mereka menginap.
"Saya akan menghubungi mata-mata kita di RJP dan mencari tahu apakah mereka sudah menemukan nona Alice." Ucap Alex berinisiatif saat mereka sudah samapai di kamar hotel Anton.
"Haloo.. bagaimana situasi di sana? apa nona Alice sudah bisa di lacak keberadaannya?" Tanya Alex kepada Maya.
"Kami di sini masih melacak keberadaannya, sepertinya dia benar-benar sangat lihai dan mengetahui beberapa alat pelacak dan membuangnya. Kami menemukan beberapa alat yang di letakkan di mobil lain dan kami kehilangan jejaknya." Ucap Maya yang mulai khawatir.
"Baiklah. Kabari jika ada perkembangan." Ucap Alex.
"Baik." Ucap Maya singkat dan menutup panggilan teleponnya.
"Alice.. aku berharap kau baik-baik saja sayang.. maafkan atas kecerobohan ku yang membuat mu menghilang dari jangkauan ku." Ucap Anton menyesali perbuatannya meninggalkan Alice sendirian untuk memantaunya sedikit agak jauh. Namun penculik itu malah memanfaatkan hal itu untuk membawa Alice pergi dan membawanya entah kemana.
***
Sedangkan di sisi lain..
"Hemm.. untunglah Fiktor memberikan ku kesempatan untuk memulai aksi ku, dan bahkan dia memberikan akses melarikan diri yang sangat strategis sehingga aku bisa cepat keluar dari dalam hotel itu. Ternyata banyak sekali orang-orang bersenjata yang mengawasi situasi itu. Untunglah Fiktor membantu ku." Ucap Bahar dan tersenyum sinis melihat pantulan dari spion tengah mobil yang memperlihatkan gadis yang dia culik tergeletak tak sadarkan diri di jok belakang penumpang.
Bersambung....
__ADS_1