JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Jalan buntu


__ADS_3

“Astaga ini seperti jalan buntu. Kita tidak tahu harus pergi kearah mana sekarang.” Ucap Galih kesal.


“Aku akan menyelidikinya lagi bagaimanapun bos besar menginginkan nyawaku, pasti lambat laun dia akan mencoba mendekati ku untuk  mencoba melenyapkanku lagi.” Ucap Alice yang sudah frustasi dengan tidak adanya bukti untuk mengungkap keberadaan bos besar itu.


“Tapi itu bukannya akan lebih berbahaya untuk mu Al. Kita bahkan tidak tahu siapa musuh kita kali ini. Bahkan kenapa dia mengincarmu saja kita tidak tahu alasannya. Kau bagaikan ada di atas panggung dengan sorotan cahaya yang dapat dengan mudah menemukan mu kapan saja, sedangkan dia bagaikan ada di belakang panggung di setiap sisi gelap yang tidak akan di ketahui keberadaannya. Kita tidak bisa membaca pergerakkannya atau trik yang akan dia pakai jika kita tidak bisa mengetahui siapa musuh kita kali ini Al.” Ucap Galih mulai khawatir dengan kenyataan yang akan terjadi.


“Yang di ucapkan Galih benar Al, kali ini kau tidak bisa bersikap tenang dan hanya melihat apa yang akan terjadi nantinya Al.” Ucap Roy juga mulai khawatir.


“Ayolah kak, kita selalu memiliki musuh di luar jangkauan kita, bahkan tak jarang kita memiliki musuh dalam selimut. Kalian tidak perlu terlalu khawatir, aku bisa menyelesikan semuanya dengan baik, aku juga akan berhati-hati dan tidak akan membiarkan mereka menangkapku begitu saja. Yang ada kita yang akan menangkap dan membeberkan ke busukan mereka ke public. Percayalah pada ku kak.” Ucap Alice meyakinkan ketiga pria itu yang sedang mengkhawatirkannya itu.


“Baiklah, tapi tetap untuk berjaga-jaga selalu bawa senjata dan GPS di tubuhmu ini adalah perintah.” Perintah Roy tegas.


“Siap Pak.” Ucapnya Alice kemudian.


“Astaga anak ini masih bisa bercanda di saat seperti ini, sungguh malah menambah frustasi ku saja.” Keluh Juna yang sedari tadi hanya diam saja.


“Kau meragukan kemampuan duel ku sensei?” Ucap Alice asal untuk mencairkan suasana tegang itu.


“Ya ya kau hebat, aku tidak meragukan itu tentu saja.” Ucap Juna akhirnya.


“Wahahaha.. haha.. haha..”


Mereka semua yang berada di dalam ruangan itu menertawakan Juna, pasalnya Juna pernah beberapa kali kalah saat latihan tanding dengan Alice, sehingga pria itu tidak ingin melakukan tanding lagi dengan Alice, karena bisa saja malah mempermalukan dirinya di hadapan anak buahnya yang lain.

__ADS_1


“Bolehkah aku pulang kak? Masalah sudah selesaikan?” Ucap Alice saat mereka telah berhenti tertawa.


“Ya kau boleh pulang Al, kau pasti lelah. Istirahatlah. Jika ada kabar terbaru kami akan menghubungimu.” Ucap Roy.


“Baiklah kak aku pulang dahulu, malam kak.” Ucap Alice.


“Tunggu biar aku mengantarmu.” Ucap Galih cepat saat Alice akan membuka pintu untuk pergi keluar.


“Tidak perlu, masih ada taksi. Kau kerjakan saja tugasmu, aku yakin kau banyak kerjaan.” Ucap Alice menolak dan segera pergi dari sana.


“Apakah terjadi sesuatu?” Tanya Roy bingung dengan situasi yang kaku itu.


“Sepertinya Alice menjauhi mu bukan Gal.” Tanya Juna.


“Astaga, ada juga yang berani mengabaikan mu Gal. hahaha.” Cela Juna sambil tertawa.


“Apakah kau senang bung jika aku menderita.” Ucap Galih kesal.


“Tunggu dulu, apa maksud kalian. Aku tidak mengerti.” Tanya Roy bingung dengan pembicaraan kedua sahabatnya itu.


“Astaga si jenius dalam bekerja namun bodoh dalam perasaan ini mengingatkan ku akan Alice. Pantas saja mereka berdua lengket bagai perangko, mereka berdua memang satu frekwensi.” Keluh Juna dengan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya berpura-pura frustasi.


“Aku sungguh tidak paham broo.. ada yang bisa jelaskan sesuatu di sini?” Tanya Roy lagi masih bingung dengan hal yang terjadi. Namun Galih mengabaikan ucapan Roy dan memilih berjalan duduk di kursi kerjanya dan berkutat dengan layar lebar di depannya itu. Sedangkan Juna memilih merebahkan dirinya di sofa, memejamkan matanya dan menutupnya dengan lengannya. Mengabaikan pertanyaan yang Roy tanyakan. Karena bagaimana pun saat ini sudah menunjukkan pukul 02.00 AM dan mereka kelelahan.

__ADS_1


“Astaga.. hei.. apakah kalian mengabaikan ku? Aku bos kalian loh.” Ucap Roy kesal seperti bocah kecil yang di acuhkan. Namun kedua rekannya sekaligus sahabatnya itu tidak bergeming sama sekali.


“Astaga kalian ini..” Keluhnya lagi dan akhirnya dia juga memutuskan melakukan hal yang sama dengan Juna, merebahkan dirinya di sofa panjang dan mulai memejamkan matanya dengan bantalan tangannya sendiri dan tangan yang satunya lagi di gunakan untuk menutupi matanya yang terpejam.


Galih yang melihat ke arah para sahabatnya yang sudah terlelap, memutuskan menyudahi pekerjaannya agar tidak mengganggu tidur kedua sahabatnya itu. Pria itu kemudian bersandar ke sandaran kursinya, melebarkan kedua kakinya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya kasar karena frustasi.


“Aku tahu kau menghindari ku setelah menghilangnya kau dari kapal pesiar itu. Dan aku tahu jelas alasan kau menghindariku. Aku tidak mempermasalahkan apapun itu, aku hanya ingin bersama mu dan ingin lebih dekat dengan mu. Tak bisa kah kau memberikan ku kesempatan itu Al.” Ucapnya monoton kepada dirinya sendiri.


“Bagaimanapun aku pastikan akan bicara langsung padamu dan kau harus mendengarkan ku.” Ucap Galih serius akan perkataannya.


Sedangkan di sisi lain, Alice baru saja mengganti pakaiannya dengan piama setelah beberapa saat sampai di rumahnya. Gadis itu menghampiri nakas dan duduk di kursi di depan meja riasnya, kemudian gadis itu membuka laci, mengeluarkan ponselnya dan mencoba mengaktifkan ponselnya itu.


Beberapa notifikasi langsung masuk ke dalam ponselnya. Sepuluh panggilan tak terjawab dan dua puluhan pesan teks dari orang yang sama. Gadis itu tersenyum melihat notifikasi itu yang tak lain adalah dari kekasihnya Anton. Gadis itu mencoba membaca semua pesan-pesan itu yang tak lain adalah menanyakan kabar, mengingatkan untuk makan dan beristirahat, dan kemudian pesan-pesan menanyakan mengapa ponselnya tidak bisa di hubungi dan pria itu khawatir akan dirinya yang tidak bisa di hubungi. Setelah membaca pesan dari pria itu, tak lama panggilan masuk ke dalam ponselnya. Gadis itu terkejut sekaligus senang dengan yang di lakukan pria itu.


“Halo..” Ucap Alice setelah menganggat panggilan dari kekasihnya itu.


“Astaga Alice sayang, aku sangat khawatir. Aku mencoba menghubungimu namun ponselmu tidak aktif, bahkan pesan-pesanku sebelumnya tidak di baca. Kau sedang di mana sayang? Kau baik-baik saja bukan?” Rentetan pertanyaan keluar sesaat setelah mendengar suara dari gadis itu.


“Pelan-pelan.. pertanyaan satu-satu biar aku bisa menjawabnya.” Ucap gadis itu sambil menggulum senyumannya.


“Ahh benar juga, kau pasti bingung menjawabnya. Baiklah aku akan bertanya. Apakah kau baik-baik saja sayang?” Tanya pria itu akhirnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2