
Maya ingin mengecek keadaan Juna, sebenarnya gadis itu ingin memberikan pria itu vitamin untuk membuatnya segar saat bangun dari tidurnya nanti.
Namun saat Maya membuka pintu kamar itu, di sana tampak Juna yang sedang tertidur dengan posisi miring dan memeluk salah satu guling miliknya.
Maya memasuk kedalam kamar itu dan menekan tombol on pada remot Ac yang berada di samping pintu bersebelahan dengan saklar lampu. Maya juga mematikan lampu utama kamar itu dan berjalan mendekati Juna yang tertidur.
Maya menyelimuti tubuh Juna hingga batas pinggang pria itu dan kemudian menyalakan lampu tidur diatas meja nakas disamping tempat tidur. Lalu wanita itu pergi meninggalkan pria yang tengah tidur nyenyak di dalam kamarnya sendirian.
Ada perasaan hangat di hati Maya saat mengetahui pria itu langsung datang ketempatnya saat pria itu sudah sampai di kota itu. Namun kembali perasaan tidak nyaman di hatinya.
'Aku akan pergi dari kota ini setelah misi ku selesai. Aku tidak bisa menetap selamanya di kota ini. Ini bukan kehidupan ku yang sesungguhnya. Aku hanya dalam penyamaran kali ini yang kebetulan bertemu dengan orang-orang hebat namun sangat baik.' Batin Maya.
"Haih.. Misi pengamaran di dalam penyamaran kali ini benar-benar berat." Gumam Maya dan memilih menyalakan televisi untuk membuatnya sedikit menghilangkan pikiran-pikiran yang mengganggunya.
Saat siang hari wanita itu menyiapkan makan siang untuk mereka, namun saat di bangunkan sepertinya Juna sangat kelelahan dan enggan untuk bangun dan Maya membiarkan pria itu untuk tidur kembali dan Maya makan siang sendirian di temani oleh siaran televisi yang memang di setela dengan volume sedang agar tidak mengganggu tidur Juna.
Ada perasaan hangat saat dia mengetahui ada pria itu tertidur disana.
"Sepertinya nanti aku akan merasakan kehilangan.." Gumam Maya pelan.
Saat menyadari dirinya pasti akan merindukan kehadiran pria itu nantinya.
"Kehilangan apa?" Tiba-tiba Juna keluar dari kamar itu dan sudah berdiri di belakang Maya yang dengan melamun di depan televisi dan bergumam sesuatu itu.
"Ahh.. Astaga mengagetkan saja.. Kau sudah bangun? Mau makan siang?" Tanya Maya sambil mengelus dadanya karena kaget dengan kemunculan pria itu di belakangnya.
"Kau belum menjawab ku.. Kehilangan apa?" Tanya Juna lagi tidak ingin mengalihkan pembicaraan.
"Tidak ada.. Aku hanya sedang menonton televisi, aku takut ketinggalan acaranya." Jawab Maya cepat.
"Aku akan menyiapkan makas siang mu." Ujar Maya lagi dan hendak berdiri dari duduknya disofa.
"Tidak perlu.. Aku tidak lapar.. Nanti saja sekalian makan malam. Lagi pula ini terlalu sore untuk di bilang makan siang." Ucap Juna santai dan duduk di sofa.
"Emhh kalau begitu aku akan merapihkan kamar." Ujar Maya lagi kendak bangkit meninggalkan pria itu.
"Di sini saja. Aku merindukan mu selama aku berada di sana. Dan sekarang kau ada di depan ku tapi aku malah meninggalkan mu tidur. Biarkan aku bersama mu lebih lama, jangan kemana-mana." Juna merebahkan kepalanya di atas paha Maya sebagai bantalan kepalanya dan menghadap televisi.
"..." Maya tidak merespon apapun namun dirinya diam saat Juna menjadikan pahanya bantal untuk pria itu.
"Benarkah kau bilang kau takut ketingalan acara bukan kehilangan sesuatu?" Selidik Juna lagi namun matanya menatao lurus kearah televisi yang menampilkan acara masak memasak.
"Ehem.. Memang apa lagi." Jawab Maya sekenanya agar dia tidak ketahuan berbohong.
"Aku tidak akan kemana-mana dan jau juga tidak akan kemana-mana." Ucap Juna dengan nada serius namun masih menghadap televisi.
Maya tersenyum mendengar pernyataan itu.
'Bagaimana aku bisa berada terus di dalam lingkaran mu, kau bahkan tidak tahu siapa aku sebenarnya. Setelah misi ku selesai aku akan kembali dimana tempat ku berada.' Batin Maya.
"Kau tidak mendengar ku." Kini Juna bangkit dari tidurannya di paha Maya dan menghadap kearah wanita itu.
Pria itu menatap wajah Maya dengan penuh tanya, "Apa yang kau pikirkan saat ini?" Tanya Juna.
Maya menatap wajah Juna sebentar lalu mengalihkan pandangannya kepada televisi, "Apakah aku harus memasak menu itu untuk makan malam." Ujarnya asal dan enggan mengatakan apapun kepada pria itu. Dan kembali melihat acara masak iga bakar.
__ADS_1
"Maya! Aku sedang bicara serius dan kau malah membicarakan acara itu?" Juna yang jengkel kini memegang pipi Maya agar menghadap kembali kearahnya.
Juna juga langsung mengecup bibir wanita itu karena kesal dan jengkel akibat diabaikan. Lambat laut kecupan itu betubah menjadi ciuman yang menuntut. Maya yang hanyut sesaat dalam permainan Juna, hanya membiarkan Juna melakukan keinginan pria itu.
Hingga saat Maya tersadar dan membalas ciuman Juna, ciuman itu berubah menjadi ciuman panas, pagutan dan sesaapan serta lilitan membuat Maya terbuai. Hingga saat tangan Juna masuk menyentuh punggungnya tanpa penghalang, Maya tersadar dan langsung mendorong tubuh Juna pelan.
'Apa yang sudah aku lakukan! Jangan bermain api dengan orang yang terhubung dalam misi mu.' Batin Maya kembali mengingatkan dirinya sendiri.
"Aku akan menyiapkan makan malam." Ucap Maya dan dengan cepat wanita itu bangkit dari sofa dan menuju pantry.
Juna yang merasa kehilangan saat dia di dorong begitu saja membuatnya berfikir apakah wanita itu memang menolak dirinya atau ada sesuatu hal yang lain. Pria itu tidak ingin dia terlalu memaksakan dan terkesan terburu-buru. Namun di sisi lainnya dia merasa takut jika Maya tiba-tiba menghilang begitu saja dari hadapannya.
"Huft.. Aku harus segera mencaritahu kebenarannya mengenai wanita itu. Aku takut tiba-tiba dia akan menghilang tanpa jejak." Juna menghembuskan nafasnya kasar.
Juna bergegas kearah pantry dan melihat Maya yang sedikit termenung di depan wastafel yang airnya menyala. Dengan sigap Juna mendekati tubuh Maya dan memeluk wanita itu dari belakang. Juna juga mematikan air keran yang menyala dan mengalirkan air membasuh sayuran-sayuran itu.
Maya terperanjat saat tangan kekar itu berada di antara tubuhnya dan memluknya dengan erat.
"Apa yang kau pikirkan. Sudah ku katakan bukan, aku akan selalu ada di sini tidak kemana-mana, begitu juga dengan mu yang tidak akan kemana-mana." Juna membisikkan kata-kata itu lagi tepat di belakang telinga Maya dan kemudian mengecup bahu wanita itu dari belakang.
"Bisa menyingkir, aku akan memasak dan kau menghalangi ku." Ucap Maya sedikit ketus untuk menenangkan hatinya yang terlalu berdebar.
"Kau tidak perlu memasak, bukankah kau tahu aku yang akan membuat makan malam untuk kita." Ujar Anton tenang dan malah tidak melepaskan pelukan dari belakang pada tubuh Maya.
"Baiklah dapur ini ku serahkan pada mu. Aku akan lanjut menonton." Ucap Maya hendak meninggalkan Juna dengan melepaskan ikatan tangan pria itu di depan tubuhnya.
Juna masih tidak ingin melepaskan pelukannya dan malah mengeratkan pelukan itu dan kembali menciumi leher dan pundak Maya pelan dan penuh kelembutan. Namun tiba-tiba tubuh Maya tegang dan mulai panik.
"Lepas! Lepaskan aku!" Maya mulai panik dan menarik-narik tangan Juna dengan keras.
"Tidak! Lepaskan aku! Jangan sentuh aku! Tidak! Lepaskan aku! Aku tidak mau!" Teriakan histeris dan meronta-ronta membuat Juna heran dan dengan cepat melepaskan pelukannya pada wanita itu.
Juna membalikkan tubuh Maya kehadapannya dan melihat wanita itu memejamkan matanya rapat sambil meronta-ronta dan berteriak histeris.
Juna yang tidak mengerti memegang kedua bahu Maya dan mengguncangnya pelan.
"Maya! Buka mata mu! Ini aku Juna! Maya! Maya!" Ucap Juna sambil mencoba membuat Maya membuka matanya dan sadar bahwa dirinyalah yang berada di hadapan wanita itu.
"Lepaskan aku! Aku tidak mau!" Teriakan dan rontaan masih di lakukan Maya sambil menutup matanya.
Juna segera memeluk tubuh itu dan mengelus rambutnya pelan dan berbisik di telinga wanita itu, "Ini aku Juna, pria menyebalkan yang yang mencintaimu. Tidak ada siapa-siapa disini. Kau sudah aman bersama ku.. Maafkan aku.. Maafkan aku.." Hanya bisikan-bisikan Juna yang lambat laun membuat Maya tenang dan tidak histeris lagi.
Cakaran, Jambakan dan pukulan yang membabi buta dari Maya membuat beberapa ruam merah di tubuh Juna. Namun pria itu masih dengan sabarnya memeluk Maya dan mengelus rambut wanita itu agar tenang dan bangun tersadar.
Saat Maya sudah tidak berontak lagi, Juna dengan perlahan melepaskan pelukannya dan memegang wajah Maya dengan kedua tangannya.
"Bukalah mata mu perlahan. Semua sudah baik-baik saja." Ucap Juna lembut dan usapan di kedua pipi wanita itu dan lambat laun mata Maya tampak bergetar dan tidak lama terbuka menampilkan mata bulat hitamnya.
Namun tidak lama Maya terbelalak saat melihat dengan jelas di depannya adalah Juna pria yang dia sukai dan dengan cepat wanita itu menepiskan kedua tangan pria itu yang berada di kedua pipinya dan hendak pergi dari ruang pantry itu.
Maya berlari masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintunya dari dalam. Wanita itu membalikkan tubuhnya dan berlari menghambur keatas tempat tidur dan menangis disana.
"Bodoh! Mengapa aku mengingat kejadian itu lagi saat aku bersamanya! Apa yang akan dia pikirkan tentang ku! Sialan!" Gerutu wanita itu kesal dengan wajah yang di benamkan kedalam bantal.
Selang waktu berlalu, terdengar ketukan di luar pintu kamar Maya.
__ADS_1
Tok tok tok
"Maya buka pintunya, ini sudah malam dan waktunya makan." Ucap suara Juna dari arah luar pintu kamarnya.
"..." Tidak ada sahutan dari dalam kamar, Juna kembali mengetuk pintu Maya dan memanggil wanita itu. Namun hasilnya masih sama.
Tok tok tok
"Maya jika kau tidak membuka pintunya sekarang, jangan salahkan aku mendobrak pintu ini." Ucap Juna akhirnya sudah tidak sabar dengan keheningan dari dalam kamar wanita itu.
"..." Masih tidak ada sahutan dari dalam. Juna akhirnya menghembuskan nafasnya kasar. Pria itu khawatir jika terjadi sesuatu kepada wanita itu di dalam kamar dan Juna memutuskan akan mendobrak pintu kamar itu meski mungkin wanita itu akan membencinya.
Dengan sedikit menjauh Juna memberikan ancang-ancang dan dengan cepat menubruk pintu itu dengan keras. Dengan dobrakkan kedua, pintu itu sudah terbuka.
Juna dengan cepat masuk kedalam kamar itu dan melihat ruangan kamar itu gelap, Maya tidak menyalakan lampu utama maupun lampu tidur. Gadis itu tampak tidur miring membelakanginya.
Juna mendekat kedekat kasur dan bersimpuh di samping ranjang itu.
"Aku tahu kau tidak tidur. Ini sudah malam dan kau belum makan. Makanlah sedikit meskipun kau tidak lapar." Ujar Juna dengan suara lembut.
"..." Tidak ada jawaban di sana namun Juna yakin Maya tidak mungkin tidur dengan suara berisik tadi.
Juna menghembuskan nafasnya kasar, "Maafkan perbuatan ku yang membuat mu tidak nyaman. Aku tidak akan melakukan hal apapun yang membuat diri mu tidak nyaman." Ujar Juna lagi sambil menyandarkan keningnya di bahu gadis itu.
"Maukah kau memaafkan ku.." Ucap Juna lagi namun keheningan masih menyelimuti mereka.
Juna menyalakan lampu tidur di samping tempat tidur.
"Tidak.. Matikan itu.." Ucap Maya pelan.
"Kenapa? Ini sudah malam di luar sudah gelap. Jika kau tidak menyalakan lampu kau tidak bisa melihat apapun." Ucap Juna lembut.
"Tidak ada yang perlu kau lihat.." Ucap Maya lagi.
"Maya.." Juna membantu gadis itu duduk di ranjangnya. Maya menurut dan duduk di ranjang dan menyandarkan punggungnya di sandaran kasur.
"Maafkan atas kelakuan ku tadi. Aku berjanji tidak akan melakukan hal apapun tanpa persetujuan dari mu. Jadi maukah kau memaafkan ku dan makan malam untuk menebus kesalahan ku?" Tanya Juna lagi sambil menggenggam tangan wanita itu.
'Aku hasus mencaritahu segera ada apa di balik semua ini. Maya terlalu Histeris, pasti ada sebuah cerita di balik itu semua. Dan dengan bodohnya aku malah membuatnya merasa tidak nyaman.' Batin Juna dan merasa dirinya bersalah.
"Aku tidak lapar." Jawab Maya singkat.
"Maya kau tahu aku mencintaimu bukan.. Kau tahu keseriusan ku. Aku tahu mungkin aku terlalu cepat melakukan hal yang ku mau tanpa mempertimbangkan bagaimana perasaan mu. Tapi aku benar-benar tulus kepada mu. Bisakah memaafkan ku?" Ucap Juna lagi sambil menggenggam tangan Maya.
Maya hanya melihat wajah pria itu dari remang-remang lampu tidur. Meski tidak terlalu jelas namun ada kejujuran dari dalam mata lelaki itu.
"Aku memaafkan mu." Jawab Maya akhirnya.
Dengan cepat Juna mendekatkan tangan Maya yang ada di dalam genggamnya dan menciumnya lembut.
"Aku akan menjaga mu.." Ucap Juna lagi dan mencium tangan Maya bertubi-tubi.
Maya hanya melihat tingkah konyol pria di depannya itu. Hatinya sudah terlanjur beku. Masalalunya datang menghantuinya lagi, dia tidak mungkin bisa hidup seperti tidak ada apapun yang terjadi setelah pria di depannya mengetahui hal kelamnya tadi.
Dia akan meminta mundur dari misi ini.. Semoga Tuannya akan menyetujuinya dan membebaskan dia dari misinya kali ini. Dia sudah tidak bisa berada dalam lingkungan ini, ini terlalu banyak mempengaruhi kehidupan pribadinya dan ini membuat dadanya sesak.
__ADS_1
Bersambung....