JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Misi gagal


__ADS_3

"Apa rencana mu hari ini?" Tanya Galih di sela-sela suapan makan siangnya.


"Aku akan pergi mengunjungi Pure Bar berharap dia ada di sana." Jelas Alice dan beranjak mengambil air putih untuknya minum.


"Jika begitu kau harus pergi dengan kita, Aku dan Galih akan mengikuti mu." Ucap Juna menanggapi pembicaraan kedua orang itu.


"Hemm okey.. Aku ke kamar mempersiapkan diri dahulu." Ucap Alice dan masuk menuju kamarnya.


Alice memilih membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih nyaman. Gadis itu mengambil sebuah jeans biru dengan kaus hitam longgar menjadi pilihannya.


Tidak lupa Alice juga memasukkan pistol lipstik dan pulpen biusnya di dalam dompet. Alice sedikit ragu saat akan melepaskan cincin dari Anton dan akan menggantinya dengan cincin gps dan rekaman dari RJP. Dia memutar-mutar cincin yang melingkari jari manisnya dan akhirnya memutuskan tidak melepaskannya. Gadis itu jadi memilih menggunakan Anting bermata satu dari RJP yang merupakan pemancar GPS dan juga perekam video dan audio.


Alice keluar dari kamarnya dan di ruang tamu sudah ada Galih dan Juna yang sudah siap.


"Ingat kita tidak boleh memiliki kontak apapun dengan mafia sekitar ataupun kontak senjata dengan mereka. Kita hanya akan mengambil informasi." Peringat Juna lagi sebelum mereka beranjak pergi keluar dari kamar hotel itu.


"Baik." Ucap Galih dan Alice bersamaan.


Galih, Juna dan Alice keluar bersamaan dan memasuki lift menuju lantai dasar. Di depan lobby sudah ada dua mobil yang terparkir di sana.


Alice mengambil kunci di tangan Juna dan mengemudikan sendiri mobil sedan berwarna merah. Sedangkan Galih dan Juna masuk ke dalam mobil SUV yang tepat berada di belakang mobil yang di kendarai Alice.


Alice membelah jalanan kota X di senja hari yang tampak ramai, gadis itu sedikit kurang yakin apakah dia bisa bertemu dengan Bahar di snaa. Namun jika dia tidak mencobanya bagaimana dia tahu hasilnya.


Alice tiba lebih dahulu di depan Pure Bar dan memberikan kuncinya untuk di parkir oleh petugas valet. Galih dan Juna tiba setelahnya dan melakukan hal yang sama dengan Alice dan mengikuti gadis itu dari belakang meski tidak terlalu dekat.


Alice mendekati meja bartender dan duduk di kursi tinggi di depan sana.

__ADS_1


"Mocktail.." Ucap Alice kepada bartender itu.


Bartender mengangguk dan menyiapkan minuman untuk Alice dengan ceoat dan gerakan-gerakan yang memukau.


"Silahkan.." Ucap bartender itu dan menyodorkan gelas cantik dengan air yang berwarna indah di dalamnya.


"Terima kasih." Ucao Alice dan menggeser sebuah kartu ke pada pria itu.


"Sepertinya kamu irang baru." Tanya pria itu dan menyerahkan kembali kartu Alice yang sudah di geseknya.


"Tidak juga.. Namun memang saya jarang kemari." Ucap Alice santai dan berpura-pura menyesap minumannya.


Ruangan bar itu cukup luas dan sudah mulai di padati beberapa pengunjung yang berjoget di lantai dansa dan ada yang duduk di meja-meja yang tersedia di sana. Padahal ini belum terlalu malam dan mereka sudah hampir memenuhi ruangan ini.


"Ahh begitukah.. Lalu sepertinya anda sendang mencari seseorang. Siapa yang anda cari siapa tahu saya bisa membantu anda." Ucap bartender itu ramah saat melihat Alice celingukan seperti mencari seseorang.


"Saya mencari kenalan saya beberapa waktu lalu.. Dia pria yang ramah dan dewasa, dia selalu menggunakan baju kemeja hitam dengan rambut cepaknya dan selalu duduk di pojok sana." Jelas Alice karena gadis itu tahu mereka pasti tidak mengetahui nama Bahar jika menanyakan nama itu.


"Ahh mungkin iya.. Saya lupa dengan namanya." Ucap Alice sedikit kikuk untuk menunjukkan bahwa dia sepertinya lupa.


"Hemm jika bemar dia sayang sekali.. Beberapa hari ini dia memang belum datang. Padahal biasanya dia hampir setiap hari datang ke sini menghabiskan waktu." Jelas bartender itu.


"Ahh begitu kah.. Sayang sekali." Ucap Alice dengan wajah sedikit kecewa. Bagaimanapun tujuannya datang kesini adalah untuk menemui pria itu.


"Kau tidak perlu khwatir masih banyak orang di sana yang hisa menemani mu." Ucap bartender itu mencoba menghibur Alice.


"Ahh tidak.. Aku merasa pria itu cocok untuk di ajak berbincang aku tidka tertarik dengan yang lainnya." Ucap Alice dengan wajah yang di sendu-sendukan.

__ADS_1


"Hemm bagaimana jika saat aku melihatnya aku akan menghubungi mu." Ucap pria itu memberikan solusi.


"Ahh benarkah?" Alice kembali riang saat mendengarkan solusi dari pria itu.


"Tentu saja.. Masukkan kontak mu ke dalam ponsel ku, nanti aku akan menghubungi mu jika bertemu dengannya." Ucap bartender itu sambil menggeser ponselnya ke depan Alice.


"Oke terima kasih.. Ini kontak ku." Ucap Alice dan menyerahkan ponsel pria itu kembali.


"Amelia P.." Ucap barender itu membaca kobtak yang di simpan oleh Alice.


"Ya.. Itu nama ku, jika dia ada tolong hubungi aku dan katakan aku ingin berbincang dengannya." Ucap Alice lagi.


"Okey tentu.. Nama ku Putra." Ucap pria itu dan menghubungi Alice menggunakan ponselnya. Alice menerima notifikasi panggilan tidak terjawab di ponselnya dan menyimpan nomer itu dengan kontak Putra.


"Baillah sepertinya aku akan pulang sekarang.. Terima kasih Putra, aku pasti akan berkunjung kembali." Ucap gadis itu dan meninggalkan meja bar itu.


Setelah Alice keluar, Galih dan Juna pun ikut keluar mengikuti Alice dari belakang. Kedua pria itu juga masih mengikuti Alice saat mobil Alice dengan perlahan keluar dari pelataran parkiran bar itu.


Misi mereka kali ini gagal, orang yang mereka cari tidak ada di tempat. Tapi mereka memiliki koneksi yang akan memberitahunya jika pria itu datang kembali. Selain itu beberapa tim mereka juga masih mencari keberadaan Bahar di sekitar kota X.


"Huft.. Sepertinya kita masih harus menunggu." Ucap Alice dan mendudukan pantatnya di sofa ruang tamu itu.


"Ya.. Tim kita juga masih mencari tahu keberadaan pria itu, kita hanya bisa menunggu kabar dari mereka." Ucap Juna yang tiba dari arah belakang Alice dan di ikuti oleh Galih juga.


"Istitahatlah.. Besok kita atur kembali langkah apa yang akan kita ambil untuk besok." Ucap Juna dan di angguki oleh Galih dan Alice.


Alice beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamarnya. Begitupula dengan Galih dan Juna yang masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.

__ADS_1


Alice mengambil piyamanya dan segera menggantinya, lalu gadis itu naik ke atas kasur dan merebahkan tubuh lelahnya menyambut mimpinya.


Bersambung....


__ADS_2