
"Sakit.. Rasanya sangat tidak nyaman.." Jawab Naira masih dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.
"Aihh.. Apa yang terjadi sebenarnya ini.. Ayoo sini aku bawa kau ke dokter yang ada di RJP dulu.. Kamu diam dan tahan sebenatar ya." Kata Galih dan segera menggendong Naira ala bridal style dan segera membawa keluar tubuh itu menuju pintu keluar di ruangannya.
Galih dengan sedikit berlari segera masuk kedalam lifft menuju lantai yang berada di bawah lantai yang merupakan klinik RJP. Pria itu membuka pintu ruangan dokter dengan satu tangan yang masih memeluk tubuh kesakitan Naira dan dengan cepat membawa masuk tubuh itu.
"Dok..." Ucap Galih saat sudah membaringkan tubuh Naira namun belum melihat dokter di ruangan sana.
"Haishh.. Kemana dokter jaganya.." Kata pria itu masih dengan wajah cemas karena melihat kondisi Naira.
"Dok! Dok!" Teriak Galih sedikit lebih keras sambil menyusuri seluruh ruangan yang ada di sana.
"Wow wow wow.. Ada apa? Apa yang terjadi? Mengapa kau teriak-teriak di sini?" Ucap seorang pria yang mengenakan sneli berwarna putih yang berdiri tepat di belakang tubuh Galih.
"Dokter Arjun tolong bantu dia.. Dia merasa kesakitan.. Dan aku tidak tahu karena apa." Ucap Galih tampak kalut dan khawatir. Galih menarik dokter Arjun ke ranjang di mana Naira berada. Gadis itu sedikit meringkuk kesakitan.
"Tunggu aku periksa sebentar.. Kau tenanglah sedikit, atau kau bisa keluar agar kau tidak mengganggu ku memeriksanya.." Ucap Arjun tegas saat melihat Galih yang kalut dan khawatir saat Galih mondar mandir dan menggerutu sesuatu yang tidak bisa di dengar oleh Arjun tepat di belakang punggungnya.
"Baik aku akan diam dan tenang.." Ucap Galih dan menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.. Sejenak pria itu menjadi tenang dan memperhatikan dokter Arjun memberikan perawatan.
"Oke.. Sudah selesai.." Ucap dokter Arjun dan menenangkan Galih.
"Bagaimana dok apa yang terjadi?" Tanya Galih heran.
"Dia mengalami GERD (gastroesophageal reflux disease) atau yang biasa di kenal sebagai asam lambungnya yang meningkat.. Aku sudah memberinya obat.. Untuk pengobatan jangka panjang selanjutnya yang terbaik adalah dengan pola gaya hidup sehat." Jelas dokter Arjun.
"Baiklah dok aku akan menyampaikannya nanti kepadanya.. Terima kasih atas bantuan mu dok.." Ucap Galih dan berterima kasih kepada kepala dokter RJP itu.
__ADS_1
"Tentu tidak masalah.. Itu adalah pekerjaan ku.. Tapi yang membuat ku penasaran, siapa dia? Mengapa kau begitu khawatir kepadanya? Kau tahu, tadi kau tampak sangat kalut dan kusut." Tanya dokter Arjun yang sedikit penasaran.
"Uhuk.. Emhh aku hanya khawatir saja saat dia tiba-tiba sakit di depan ku.. Padahal sebelumnya dia tampak baik-baik saja." Jawab Galih cepat tanpa mau menjelaskaan lebih detail karena dirinya sendiri juga tidak tahu. Yang dia tahu adalah dia tidak ingin gadis itu merasakan sakit dan menderita.
"Baiklah aku tidak akan bertanya lagi urusan kalian anak muda.. Kau bisa menemaninya di sini.. Aku serahkan klinik kepada mu sementara aku mau makan malam.. Dokter jaga shift malam belum tiba.. Jadi jangan berbuat macam-macam.. Hahahah.." Ujar dokter Arjun sambil menggoda Galih.
"Dokter Arjun! Itu tidak seperti apa yang kau bayangkan." Sanggah Galih cepat.
"Memang apa yang sedang aku pikirkan? Aku tidak memikirkan apapun.. Hahahha.." Dokter Arjun kembali menggoda Galih dan pergi meninggalkan kedua anak muda itu sendiri di ruangan klinik.
"Haishh.. Pria tua itu menyebalkan seperti Roy dan juga Juna.." Gerutu Galih dan kemudian pria itu memilih duduk di samping tempat tidur Naira yang sedang tertidur, gadis itu sudah tampak sedikit merona di kedua pipinya dibandingkan saat tadi gadis itu tampak sedikit pucat.
Beberapa saat kemudian Naira terbangun dan merasa tubuhnya jauh lebih baik.. Gadis itu bangkit dan mencoba untuk duduk.
"Kau sudah bangun?" Tanya Galih saat melihat gerakan gadis itu.
"Ahh aku tahu.. Maaf merepotkan mu.. Mengapa kau masih ada di sini? Kau tidak pulang?" Kata Naira kembali menanyakan sesuatu kepada pria di depannya itu.
"Kau jadi cerewet jika sudah sembuh.." Kata itu yang keluar dari bibir Galih namun kemudian laki-laki itu melanjutkan ucapannya.
"Aku di sini bukan untuk menunggui mu.. Aku di suruh menjaga ruang klinik ini karena dokter jaga shift malamnya belum tiba.." Lanjut Galih datar sambil melirik kearah lain selain wajah gadis di depannya itu.
"Ahh oohh baiklah.." Hanya itu yang keluar dari mulut Naira.
"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Galih yang kini berani menatap wajah gadis cantik di depannya itu.
"Sudah baikkan.. Sepertinya ini sudah malam.. Aku akan pulang.. Terima kasih karena telah menjaga ku.." Ucap Naira.
__ADS_1
Juna hendak menyangkal ucapan gadis di depannya itu, namun Naira kembali berbicara.
"Meski apapun alasan kau ada di sini, aku tetap akan mengucapkan terima kasih.." Lanjut Naira cepat.
"Hmm ya sudah.. Ahh ya dokter yang menangani mu bilang jika kau tidak ingin mengalami hal seperti ini lagi, lebih baik kau melakukan pola hidup yang lebih sehat.. Jangan telat makan lagi.." Ucap Galih mengingatkan gadis itu.
"Ya.. Terima kasih.. Aku pulang.." Ucap Naira dan berjalan hendak keluar dari ruangan klinik itu, sebelumnya gadis itu melihat tasnya yang berada di atas nakas di samping kasur tempatnya berbaring dan memakainya di bahunya.
"Sekali lagi terima kasih.." Ucap Naira lagi untuk terakhir kalinya dan gadis itu keluar dari ruang klinik itu.
Entah mengapa kepergian gadis itu sedikit membuat Galih tidak tega, akhirnya pria itu menyusul Naira dan berjalan berdampingan dengan gadis itu.
"Kau bawa mobil sendiri?" Tanya Galih yang sudah berjalan di samping Naira.
"Ahh.. Ya.." Ucap Naira kaget saat tiba-tiba pria itu berjalan di sampingnya dan bertanya kepadanya.
"Mana kunci mobil mu?" Tanya Galih lagi sambil mengulurkan tangannya.
"Ahh tidak perlu.. Aku bisa pulang sendiri." Tolak Naira, namun tangan Galih masih terulur masih setia menunggu hal yang dia minta tadi.
Naira menghembuskan nafasnya panjang dan dengan menurut mengambil kunci mobilnya berada di dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Galih.
"Aku akan mengantar mu.. Aku tidak ingin kau pingsan di jalan.. Jangan terlalu banyak berfikir aku melakukannya karena kau berada di tempat ku.. Aku tidak ingin membuat Juna atau kedua orang tua mu khawatir." Jelas Galih panjang lebar agar Naira tidak salah paham kepadanya.
"Aku tidak berfikiran apapun.. Kau jangan khawatir." Kata Naira cepat yang membuat Galih seperti terpukul kemudian.
"Ya sudah ayoo.. Ini sudah malam.." Pinta Naira dan berjalan di depan lebih dulu meninggalkan Galih yang sedikit tertegun.
__ADS_1
Bersambung....