JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Kenyataan pahit


__ADS_3

Sedangkan di sisi lain, di waktu yang sama.


Tok tok tok ketukan di luar pintu kamar Anton.


"Masuk.." Ucap Anton mempersilahkan orang itu masuk.


"Nak.." Ucap Pak Aldo saat pria itu sudah masuk ke dalam ruang kamar yang di tempati oleh Anton.


"Paman Aldo.. kau sudah kembali? duduklah paman.. Bagaimana dengan hasil penyelidikan mu?" Tanya Anton mulai antusias mengenai hasil dari penyelidikannya pak Aldo itu dan mereka berdua mulai duduk di sofa yang ada di ruang kamar itu.


"Sesuai dugaan mu.. Kecelakaan keluarga Baskoro itu telah di atur oleh seseorang. Mobil yang mereka tumpangi remnya blong. Meski tidak akan terjadi tabrakan oleh dua mobil, mobil itu pasti akan mengalami kecelakaan jatuh ke dalam laut atau bahkan tabrakan dengan separator jalan." Jelas pak Aldo.


"Hemm lalu apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Anton lagi saat melihat pak Aldo sepertinya enggan untuk melanjutkan penjelasan mengenai penyelidikannya itu.


"Beberapa pihak mencoba menutupi kenyataan mengenai kecelakaan itu dan menyatakan bahwa keluarga Baskoro mereka mengalamu kecelakaan mobil tunggal." Ucap Pak Aldo namun terdiam lagi.


"Lalu??" Tanya Anton mulai sedikit tidak sabar mengenai apa yang akan di ucapkan pak Aldo lagi.


'Mengapa paman Aldo selalu menceritakan sepatah demi sepatah kata, tidak seperti biasanya yang langsung pada intinya dan malah berbelit-belit.' Batin Anton heran.


"Paman.. berikan informasi yang paman dapatkan itu dengan jelas agar aku dapat mengerti situasinya." Ucap Anton lagi melihat Pak Aldo sedikit diam.


"Kecelakaan yang terjadi adalah kecelakaan tabrakan dua mobil, bukan tabrakan tunggal. Satu mobil sport dan satu mobil yang di naiki oleh keluarga Baskoro." Ucap Aldo dan menjelaskan dengan tegas.


"Lalu jika ternyata ini bukan kecelakaan tunggal, lalu dengan siapa mereka bertabrakan?" Tanya Anton bingung karena tidak ada informasi pemilik dari kendaraan lain itu.


"Mereka bertabrakan dengan mobil ferrari berwarna merah dengan plat 13055.." Ucap pak Aldo datar.


"Bukankah itu.. plat mobil milik paman ku?" Mata anton terbelalak, Anton bingung, entah mengapa jantungnya jadi berdegup dengan kencang dan hatinya mulai gelisah.


"Benar Tuan.. mobil itu atas nama paman anda. Bagus Hadi Jaya." Ucap pak Aldo dan kembali terdiam.

__ADS_1


"Tunggu jangan bilang kecelakaan mobil itu, kecelakan mobil paman Bagus dan mobil orang tua Alice?" Tanya Anton masih syok dengan kenyataan itu.


"Bukan tuan.. pada tanggal itu Tuan Bagus bersama dengan saya sedang menangani bentrok sesama Mafia di kota S." Ucap Aldo sedikit murung.


"Apa? tunggu.. lalu.. jangan bilang. Saat bentrokan di kota S itu menganai kekuasaan lahan, Seingat aku, aku meminjam salah satu mobil milik paman saat akan pergi ke kota X, dan aku malah mengalami kecelakaan.. Tunggu tidak .. tidak mungkin..jadi.. jadi.." Ucap Anton dengan terbata-bata tapi tidak meneruskan kalimatnya.


"Benar tuan.. mobil yang menabrak keluarga Baskoro adalah milik paman anda yaitu ferrari merahnya. Namun mobil itu anda sendiri yang mengemudikannya." Ucap Aldo dengan berat hati.


Mendengar penjelasan hal itu, Anton bagaikan mendengar petir di siang bolong. Matanya membelalak dan tangannya gemetar. Ini adalah hal yang terburuk yang tidak pernah dia bayangkan. Setidaknya dia masih bisa mencoba menjelaskannya kepada Alice mengenai hal itu jika itu perbuatan pamannya. Namun apa ini? jika dia adalah penyebab kecelakaan itu, perengggut kebahagiaan gadis itu dia harus bagaimana? apa yang harus dia lakukan?.


Tanpa mereka sadari Alice sudah berdiri di ambang pintu dengan memegang handle pintu yang sudah terbuka setengah, dengan tangan yang gemetar, Alice menutupi mulutnya sendiri. Matanya membelalak nanar memandangi kearah Anton dengan air mata yang sudah membasahi di kedua pipinya.


"Nona.." Ucap Pak Aldo yang tidak sengaja melihat ke arah pintu dan melihat Alice sudah berdiri di sana.


Anton yang menyadari ucapan pak Aldo memalingkan wajahnya dan melihat kearah yang pak Aldo lihat. Anton melihat Alice berada di sana dengan tangan yang gemetar dan air mata yang sudah membasahi kedua pipi gadis cantiknya itu. Ini buruk.. ini sangat buruk..


"Alice.. ini.. ini.." Ucap Anton terbata-bata sambil berdiri dari duduknya mencoba mendekati Alice.


"Jadi apakah benar kau yang telag membunuh kedua orang tua ku?" Tanya wanita itu langsung tanpa basa-basi dan langsung masuk ke ruang kamar itu dengan berjalan perlahan terseret-seret, bagaikan kakinya telah terjerat oleh beban yang sangat besar dan berat.


"Jadi apakah ini permainan mu? kau dengan sengaja ingin menertawakan ku dengan cara menolong ku padahal kau yang telah membunuh kedua orang tua ku!" Ucap Alice lagi dengan amarahnya yang membara.


"Tidak.. bukan seperti itu.. ini.. ini.." Ucap Anton terbata-bata.


"Lalu seperti apa maksud mu? jadi selama ini kau selalu berpura-pura mencintai ku, karena kau hanya ingin menyakiti ku. Menyakiti keluarga ku." Ucap Alice dengan air mata yang kembali mengaliri pipinya.


"Tidak Alice.. sungguh aku baru mengetahuinya juga." Ucap Anton dan mencoba meraih tangan Alice.


"JANGAN MENYENTUH KU DENGAN TANGAN KOTOR MU ITU!!." Ucap Alice dan menepiskan tangan Anton kasar.


"Alice dengarkan aku.. aku tidak tahu hal ini.. sungguh aku tidak tahu semua ini." Ucap Anton yang juga jadi kalut.

__ADS_1


"Hah? Apakah saking mudahnya bagimu membunuh orang lain, kau sendiri bahkan tidak tahu itu?" Ucap Alice sarkas.


"Alice tidak seperti itu.. sungguh Alice.." Ucap Anton sudah sangat frustasi dengan informasi yang baru di dapatnya mengenai kenyataan pahit ini.


"Hentikan omong kosong mu! aku tidak ingin bertemu atau melihat mu lagi! Jika sampai aku melihat mu, akan ku pastikan kau menderita!" Ucap gadis itu dengan tatapan penuh kebencian yang langsung mengarah kepada netra Anton.


Alice kemudian pergi dari rumah itu dan menuju halaman rumah itu. Gadia itu berlari sangat kencang.


"Alice.. Alice..Tidak sayang.. Alice.. Jangan begini, aku sungguh tidak tahu." Teriak Anton masih terdengar sayup-sayup dari kejauhan.


Alice tidak menghiraukan suara Anton yang menjerit meneriakkan namanya. Gadis itu terus berlari dan hendak menyebrangi jalan raya, namun gadis itu tidak memperhatikan situasi di jalan raya itu. Sebuah mobil akan menabrak tubuh gadis itu.


"Arghh.." Teriak Alice kaget.


Brughhh... seseorang tiba-tiba menarik mundur tubuh Alice, sehingga tubuh Alice menabrak dada bidang pria itu.


Ckitttt.... Rem mobil terdengar nyaring ketika menghentikannya dengan mendadak.


"Apakah kau ingin mati!!" Teriak seorang pria membuka kaca mobilnya yang sedang mengemudikan mobilnya itu.


"Maaf.." Teriak pria yang menarik tubuh Alice.


Pria yang mengendarai mobil itu menutup kacanya dan mengemudikan kembali mobilnya.


"Bodoh!! apa yang kau lakukan? apakah kau sudah bosan hidup?" Tanya suara pria yang membantu Alice itu dengan emosi.


"Galih.. Galih.. Galihh.. hikss.. hikss.. hikss.." Ucap Alice tidak bisa berkata-kata yang lain selain menangis dan menyuarakan nama pria itu. Yaa pria yang menolong Alice yang hampir saja tertabrak itu adalah Galih.


"Apa yang terjadi Alice? mengapa kau sangat kacau begini?" Ucap pria itu masih memeluk tubuh Alice yang bergetar dan mencoba menenangkan gadis itu.


Tubuh Alice lambat laun tidak bergetar dan malah gadis itu tidak bersuara. Galih mencoba melihat raut wajah gadis itu, ternyata gadis itu melemah dan tidak bersuara karena pingsan.

__ADS_1


"Alice.. Alice.. Alice.. kau kenapa?" Ucap Galih bingung dan menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya dan berlari menghampiri mobilnya.


Bersambung....


__ADS_2