
"Baiklah aku mengerti.." Ucap Alice berubah menjadi gadis penurut. Anton yang melihat itu menggulum senyumnya dan membawa tubuh gadis itu kedalam baththub mereka berlama-lama menghabiskan waktu bercengkrama di dalam sana. Saat mereka selesai, semua barang sudah disiapkan dan mereka siap menuju bandara kota X.
"Sayang kamu sudah memberikan undangan elektronik untuk rekan-rekan kerja mu?" Tanya Anton mengingatkan kembali kepada istrinya Alice.
Alice menepuk keningnya pelan, "Astaga! Aku lupa.. Aku akan mengirimkan kepada mereka sekarang." Ucap Alice dan segera mengambil ponselnya dari tas tangannya dan segera mengirimkan undangan digital kepada rekan kerja terdekatnya dan beberapa orang yang dianggapnya keluarga terdekatnya.
Alice dan Anton masuk ke dalam pesawat dan melakukan penerbangan udara selama tiga jam dari negara X menuju negara A.
***
Sedangkan di sisi lain, Juna yang memgambil cuti untuk pergi ke tiga kota yang merupakan tujuan Maya dalam data penerbangan terakhirnya. Pertama Juna pergi mencari ke kota C yang merupakan kota tempat lahir maupun tempat tinggal Maya sebelum wanita itu pindah ke kota A dan bekerja di RJP sesuai data yang didapat dari surat lamaran kerja wanita itu.
Juna sudah berada di depan sebuah rumah bercat kuning sederhana dengan pohon mangga di depannya. Rumah itu tidak terbilang besar ataupun kecil namun tampak hangat dan nyaman, ya rumah itu adalah alamat tempat tinggal Maya di kota C.
"Permisi.. Permisi.." Kata Juna sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah itu.
"..." Tidak ada sahutan dari arah dalam rumah.
"Permisi.." Ujar Juna lagi sambil mengetuk pintu beberapa kali lagi namun hasilnya masih sama. Tidak ada siapapun yang menjawab dari bagian dalam rumah.
"Ehh ada apa ya mas? Rumah ini sekarang kosong mas. Pemilik rumah ini baru saja pindah mas.." Ujar seorang ibu-ibu yang lewat sana memberitahukan mengenai kondisi rumah kosong itu.
"Ahh begitu.. Tapi maaf bu.. Saya mau memastikan lagi apakah benar pemilik rumah ini bernama Maya Ayundiya." Tanya Juna lagi ingin memastikan apakah benar rumah ini benar milik Maya.
"Benar mas ini memang rumahnya neng Maya.. Mas mau beli rumah ini ya?" Tanya ibu itu lagi.
"Apa? Mengapa rumahnya mau di jual bu? Ibu tahu sesuatu?" Selidik Juna.
"Ahh itu.. Katanya dia mau beli apartemen deket kantornya saja biar tidak memakan waktu bolak balik katanya. Mas ini mau beli rumah ini? Kalu begitu akan saya antarkan ke pak RT, pak RT yang menangani jual beli rumah ini." Jawab ibu itu lagi.
"Tidak bu.. Bukan seperti itu, saya teman kerjanya sebelumnya. Saya sedang mencarinya. Kalau boleh tau Maya sekarang kerjanya dimana ya bu?" Tanya Juna lagi.
Pria itu seperti mendapatkan angin segar saat mengetahui wanita itu ternyata pulang ke kampung halamannya.
"Ahh itu klw ga salah dia kerja di PT. Jiwa.. Jiwa apa ya? Pokoknya kalau gak salah dia kerja di tempat lamanya." Ucap Ibu itu lagi sambil mengingat-ingat nama tempat kerja Maya namun ibu itu tidak bisa mengingat juga nama perusahaannya.
__ADS_1
"Maksud ibu PT. Jiwa Raga?" Tebak Juna lagi.
"Nah iya kayaknya itu.. Dulu saya pernah di kasih souvenir gelas dari tempat kerjanya neng Maya. Dan namanya memang ada jiwa jiwanya gitu." Jelas sang ibu itu heboh saat dia bisa mengingat nama perusahaan itu seperti dia baru saja memenangkan hadiah undian.
"Ahh begitu, kalau boleh saya tau sejak kapan Maya pindah ya bu?" Tanya Juna untuk memastikannya lagi.
"Emhh kayaknya baru beberapa hari deh mas.. Ehh mas ganteng ini tanya-tanya terus mas. Mas dari kepolisian ya? Atau penjahat yang mau jahatin neng Maya?" Selidik ibu heboh itu tajam seperti wartawan.
"Tidak bu.. Saya rekan kerjanya di perusahaan yang sebelumnya seperti yang sudah saya katakan di awal. Saya datang ke sini ingin menemuinya untuk mengantarkan beberapa berkas miliknya yang tertinggal." Bohong Juna agar ibu di depannya ini tidak menggosipkan hal buruk mengenai Maya meski wanita itu sudah tidak tinggal lagi di kawasan daerah ini.
"Ahh begitu.. Kirain neng Maya lagi terjerat kasus apa gitu sampe di cariin orang.. Ya sudah kalau gitu mas saya mau masak dulu.. Gara-gara mas ganteng saya jadi lupa kan mau beli garam deh.. Gimana coba kalau sayur asam tanpa garam kan kurang sedap." Gerutu ibu itu heboh sambil berlalu dari hadapan Juna karena tidak mendapatkan bahan gosip yang panas.
"Terima kasih banyak bu untuk infonya." Ucap Juna tetap sopan sebelun ibu itu benar-benar menghilang dari pandangannya.
Juna yang sudah tidak sabar bertemu dengan Maya segera memesan taksi online dan pergi menuju tempat perusahaan gadis itu. Satu jam kemudian Juna sudah sampai di depan gedung PT. Jiwa Raga tempat Maya bekerja.
Juna sebenarnya sedikit ragu, jika Maya akan menolak kedatangannya atau bahkan tidak mau melihatnya sama sekali meski dia tidak tahu apa kesalahannya. Namun pria itu memberanikan dirinya masuk kedalam perusahaan Jiwa Raga dan berjalan menuju meja resepsionis.
"Permisi mbak.. Maaf saya mau bertanya di sini ada karyawan bernama Maya Ayundiya." Tanya Juna sopan.
"Saya Juna dari perusahaan tempat Maya bekerja sebelumnya. Ada beberapa berkas penting miliknya yang tertinggal di perusahaan. Saya ingin menyerahkannya kepada Maya secara langsung. Bisa bantu saya untuk menemuinya?" Pinta Juna dengan wajah meyakinkan.
"Emhh itu.." Ucap Resepsionist itu tampak ragu-ragu.
"Ada apa?" Tanya teman resepsionis yang lain yang ada di samping wanita itu.
"Kak, Bapak ini mau bertemu Bu Maya Ayundita katanya ada berkas penting yang tertinggal di tempat kerja sebelumnya. Tapi belum membuat janji." Ucap resepsionis itu menjelaskan situasinya.
"Ahh Bu Maya yang baru kembali itu ya.. Ya sudah tidak apa-apa, Bu Maya memang baru beberapa hari kembali lagi kesini. Mungkin memang masih ada beberapa berkas yang tertinggal, tidak apa-apa izinkan saja dan beritahukan saja pada Bu Maya." Sahut rekan kerjanya itu.
"Baiklah Kak.." Ucap wanita itu dan mencoba menghubungi seseorang dari telepon di depannya dan kemudian kembali memberitahukan situasi kepada orang di sebrang teleponnya itu. Tidak lama kemudian resepsionis itu menutup gagang teleponnya ketempat semula.
"Bapak silahkan menunggu sebentar di ruang tunggu. Bu Maya bersedia menemui bapak dan akan segera turun." Ucap sang resepsionis dan menunjukan ruang tunggu itu kepada Juna.
Juna menunggu di dalam sebuah ruangan kaca dan duduk disebuah sofa dengan perasaan khawatir. Khawatir jika Maya jadi tidak ingin menemuinya. Namun dia benar-benar berharap wanita itu mau menemuinya meski hanya sebentar. Dan harapannya pun terkabul saat seorang wanita dengan perawakan tubuh seperti Maya yang terlihat dari arah belakang dengan rambut pendek sebahunya.
__ADS_1
"Bu Maya, Tuan yang menanti Ibu ada di dalam ruang tunggu." Ucap resepsionis itu memberitahu Maya.
"Ohh ya.. Terimakasih Cici." Ucap wanita itu sopan dan kemudian berbalik menuju ruang tunggu kaca itu.
Saat masuk ke dalam ruangan kaca itu, wanita itu membulatkan matanya saat melihat sosok seseorang pria di depannya itu, begitu juga dengan Juna yang membelalakan matanya tidak menyangka dengan sosok wanita yang ada di depannya.
"Maaf anda mencari saya? Tapi saya yakin, saya tidak pernah bertemu dengan anda. Dan saya tidak mengenal anda tuan." Ucap wanita itu heran.
"Tunggu.. Kau Maya Ayundiya?" Tanya Juna memastikannya lagi.
"Ya saya yang bernama Maya Ayundiya." Jawab wanita itu sopan.
"Emhh apakah di sini mungkin ada nama Maya Ayundiya yang lain? Maaf maksud saya mungkin dengan Maya yang lainnya?" Tanya Juna lagi.
"Di sini nama Maya Ayundiya hanya ada satu tuan, dan itu adalah saya saja." Jelas wanita itu lagi mulai sedikit kesal.
Juna terdiam dan sedikit heran. Pasalnya memang perawakan mereka berdua hampir sama dan memiliki rambut pendek sebahu yang sama. Namun mengapa wajahnya bisa sangat berbeda.
"Maaf saya mencari Maya yang sebelumnya bekerja di sini kemudian keluar selama 8 bulan yang lalu, dan bekerja di perusahaan RJP di kota A lalu dia kembali bekerja di perusahaan ini beberapa hari yang lalu. Bisakah saya bertemu dengan Maya yang itu." Ucap Juna lagi masih dengan kukuhnya.
"Pak.. Saya yang bernama Maya Ayundiya dan benar sebelumnya saya memang keluar dari perusahaan ini 8 bulan yang lalu.. Dan saat ini saya kembali ke perusahaan ini. Namun saat saya tidak bekerja di perusahaan ini, saya tidak bekerja di perusahaan RJP di kota A. Tapi saya bekerja di kota D yang tidak jauh dari kota C." Jelas wanita itu lagi geram. Mendengar seorang pria yang menyatakan dirinya pergi ke pusat kota A dan bekerja di sana.
"Kalau begitu bisa bantu saya dengan resume ini? Mungkin anda tahu sesuatu mengenai karyawan ini." Tanya Juna lagi tidak habis akal dan menyodorkan handphonenya yang menunjukkan sebuah berkas lamaran kerja Maya dengan biodata lengkapnya saat di perusahaan RJP.
Wanita yang bernama Maya yang ada di depan Juna segera mengambil ponsel Juna dan melihat beberapa berkas yang ada di ponsel itu, "Tunggu.. Ini memang milik saya.. Maksud saya, ini semua data memang milik saya, namun saya tidak pernah bekerja di perusahaan yang anda sebutkan atau bahkan saya tidak pernah menaruh lamaran saya di perusahaan itu. Bahkan saya tidak mengenali foto wanita yang ada di dalam pas foto ini." Jelas Maya lagi heran dan kini dengan sedikit emosi saat mengetahui seseorang telah menggunakan identitasnya.
"Maaf kalau bisa saya tahu ada apa dengan semua ini ya? Ini benar-benar data pribadi saya. Dan mengapa bisa di pergunakan seperti ini." Ujar wanita itu kebingungan dan kesal.
"Tunggu jika begitu mungkinkah seseorang memalsukan berkas saya dan menggunakannya dengan cara yang tidak baik. Ini tidak bisa dibiarkan saya harus melaporkannya...bla.. bla..bla.." Wanita itu berbicara panjang lebar di hadapan Juna, namun dipendengaran Juna wanita itu seperti sebuah radio kusut yang dia bahkan tidak bisa mengerti sama sekali wanita itu berbicara menggunakan bahasa apa. Juna hanya termenung dan bingung dengan kenyataan yang baru saja dia terima.
Jika ini bukanlah data diri dari Maya, jadi siapa wanita yang selama ini bekerja di RJP selama 8 bulan ini. Lalu bagaimana caranya dia menemukan wanita itu lagi, bahkan jika namanya saja Juna tidak tahu.
Juna melangkah keluar dari ruangan itu dengan pandangan kosongnya. Pria itu benar-benar bingung dan tidak habis pikir. Nama yang selalu dia ucapkan dan rindukan bukanlah milik wanita itu.
"Lalu siapa yang aku rindukan.. Siapa wanita yang aku cintai itu.." Gumam Juna sambil berjalan keluar menjauh dari perusahaan itu.
__ADS_1
Bersambung....