
Setelah melakukan perawatan kuku, Ara mengajak keduanya keruangan walk in closet, di sana terdapat puluhan dress berbagai warna dan model serta beberapa ukuran layaknya seperti berada di dalam sebuah butik, serta puluhan sepatu, high heels, tas aksesoris lainnya dengan berbagai bentuk, warna maupun ukuran di sini.
“Kalian bisa memilih pakaian yang ingin kalian pakai. Sepanjang lemari ini terdapat pak*aian da*lam dan di sebelah sini adalah pakaian piama dan di sebelah sini pakaian untuk mela*curkan diri mu kurasa, kalian bisa memilih sendiri.” Ucap Ana kesal dengan ucapannya sendiri namun tetap memberitahukan di mana letak pakaian-pakaian kepada kedua wanita itu agar bisa mengambil keperluannya masing-masing.
“Apa kau baik-baiksaja Ana?” Tanya Maya.
“Tentu saja aku tidak baik-baik saja jika kau tahu, kalau kau akan melakukan sesuatu yang harus tampak sempurna dan indah di mata para ba*jingan itu, namun sebenarnya kalian sangat merasa jijik pada diri kalian sendiri karena tidak bisa berbua apa-apa.” Ucap Ana kesal hingga tanpa sadar gadis itu meneteskan air matanya.
“Ma’afkan aku, aku akan membuat mereka semua membayarnya, dan kau akan baik-baik saja Ana. Kau gadis yang kuat.” Ucap Alice sambil merangkul Ana kedalam pelukkannya dan mencoba menenangkan gadis itu. Maya yang mendengar itu juga merasa kesal dan mengepalkan kedua tangannya. Kemudian Maya hanya bisa mengusap pundak Ana untuk menenangkannya.
Setelah melakukan perawatan mandiri selama seharian penuh dan berbicara, akhirnya petang pun tiba.
Alice mengenakan pakaian dress dalam berwarna biru tua tanpa lengan setengah paha dan dengan brokat tangan panjang transparan hingga lutut. Warna dan motif dres yang terkesan sopan, tetap memancarkan keindahan pada tubuh Alice.
Maya mengenakan dress panjang hitam yang pas badan dengan sebelah bahu terbuka dan belahan rok hingga setengah paha. Sedangkan Ana mengenakan dress berwana merah muda bermodel A line panjang selutut dengan dekorasi bunga di bagian depan.
Brakkk
__ADS_1
Pintu besar bagian depan itu terbuka dengan sebuah gebrakan yang menggelegar. Seorang pria muncul dengan sebuah senjata laras panjang di tangannya.
“Kalian bertiga di panggil kedepan.” Ucap pria itu ketus.
“Aku akan ke toilet dahulu. Aku juga lupa membawa dompet” Ucap Alice cepat.
“Aku juga belum mengambil tas.” Ucap Ana dan Maya.
“Cepatlah kalau begitu.” Ucap pria itu kepada ketiganya dengan ketus.
Alice dan kedua orang yang lainnya segera pergi dari sana dan masuk ke ruang walk in closet untuk mengambil tas maupun clutch namun Alice segera pergi ke toilet dan masuk ke sebuah bilik yang sebelumnya dia gunakan.
“Terima kasih.” Ucap Alice dan menekan kalung yang ada di lehernya, kembali mengaktifkan mode rekam pada kalungnya itu.
Mereka bertiga berjalan bersama menuju ruang kamar dan keluar melalui pintu yang terbuka lebar itu. Depalan pria berjaga di setiap sisi sambil memegang senjata laras panjang di tangannya, mereka memberikan jalan untuk ketiga gadis itu. Di bagian lantai atas juga masih terlihat beberapa pria dengan senjata yang sama menjaga dari atas untuk memantau situasi dari atau maupun agar para wanita itu merasa terintimidasi.
Mereka di giring masuk kesebuah mobil berwarna putih panjang yang akan mengantarkan mereka ke suatu tempat. Di dalam mobil sudah ada dua pria bersenjata laras panjang di bagian kursi penumpang. Di depan dan belakang mobil yang mereka naiki, terdapat dua mobil berwarna hitam di depan dan dua mobil berwarna putih di bagian belakang mobil mereka. Alice melihat para penjaga yang menggiringnya tadi masuk ke dalam empat mobil itu, di dalam mobil terdapat paling banyak 4 orang, dua orang di kursi pengemudi dua orang di kursi penumpang yang membawa senjata laras panjang. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, hingga satu jam kemudian mereka berhenti di sebuah tempat bernama Hotel Cemara. Rombongan mobil mereka segera memasuki basement hotel dan memarkirkan mobil tak jauh dari lift.
__ADS_1
Para penjaga keluar dari mobil dan berdiri disisi mobil hingga pintu menuju lift, mereka memberikan ruang untuk masuknya ketiga gadis itu. Dua pria bersenjata yang satu mobil dengan mereka menggiring mereka keluar dari mobil dan memasuki lift. Salah satu penjaga itu menekan tombol lift ke lantai 20.
Saat pintu lift terbuka di sana ada Banyu yang sedang menunggu ketiga gadis itu.
“Ikuti aku.” Ucap Banyu dan di ikuti oleh ketiga gadis itu, serta kedua penjaga yang bersenjata laras panjang. Mereka berjalan melewati beberapa kamar kemudian berhenti di depan sebuah kamar.
“040 kau masuk kesini.” Ucap Banyu di depan pintu kamar berNo 2028. Maya lalu bergerak masuk ke dalam ruangan kamar itu.
“Kalian cepat ikuti aku lagi.” Ucapnya kepada kedua gadis di belakangnya itu.
“Kenapa harus banyak sekali penjaga yang ikut dan disini tidak ada orang yang berlalu lalang? Bukankah akan aneh jika terekam cctv.” Tanya Alice penasaran.
“Sepertinya kau sangat penasaran Nona, baiklah aku akan berbaik hati memberitahumu… Tenang saja kami sudah bekerja sama dengan pemilik hotel ini sejak setahun yang lalu, nanti kau pasti akan bertemu dengannya. Karena pemilik hotel ini adalah pelanggan pertamamu nanti, jadi kau harus baik-baik melayaninya nanti. Selain itu jika kau berencana kabur meminta pertolongan kepada orang lain, jangan harap kau bisa kabur. Karena di lantai ini semuanya tidak akan ada pengunjung lainnya, jadi tidak akan ada yang bisa membantumu selain aku. Untuk penjagaan di bawah di perketat, itu untuk menghindari jika bertemu dengan para mafia yang memperebutkan wilayah. Di sini merupakan daerah yang belum di kuasai oleh salah satu dari geng itu, jadi keamananlah yang harus di lakukan untuk menghindari jika ada bentrokkan yang terjadi.” Jelas Banyu dan berhenti tepat di depan kamar berNo 2020.
“Kau masuklah No. 020 cepat sana dan ingat layani dia dengan baik.” Ucapnya lagi dan melihat Ana memasuki kamar itu dengan enggan.
“Ayo cepat kau sudah di tunggu.” Ucapnya kepada Alice dan para penjaga itu berjalan mengikuti mereka hingga tiba di depan pintu kamar berNo 2022.
__ADS_1
“Kau 038, Monic kan.. cepatlah kau masuk, ingat layani dia dengan sangat baik. Dan kau akan baik-baik saja.” Ucap Banyu dan melihat Alice melangkahkan kakinya memasuki pintu kamar hotel itu.
Bersambung....