JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Kunjungan Pertama2


__ADS_3

“Selamat malam Tuan Muda, anda tampak jauh lebih kurus sekarang.” Ucap pelayan tua itu menyambut hangat kedatangan mereka.


“Malam Bu Lisa, mungkin karena aku merindukan masakan Bu Lisa.” Guraunya kepada wanita tua itu.


“Anda selalu saja bisa membuat wanita tua ini senang Tuan Muda.” Jawab wanita tua yang di panggil Lisa itu.


“Ah ya Alice perkenalkan ini Bu Lisa, dia mantan kepala pelayan disini, beliau juga yang menjadi pengasuhku dahulu ketika aku masih kecil.” Ucap Anton dan memperkenalkannya kepada Alice.


“Senang berkenalan dengan Anda Bu Lisa, saya Alice.” Ucap Alice dan mengulurkan tangannya kepada wanita tua itu.


“Anda terlalu sungkan Nona Alice. Saya yang senang Anda bisa mendampingi Tuan munda malam ini, anda sangat cantik dan sopan.” Ucap wanita tua itu dan menjabat uluran tangan Alice.


“Semua keluarga sudah berkumpul di meja makan Tuan, mari Non Alice.” Ucap wanita tua itu dan menuntun mereka menuju ruang makan.


Mereka menyusuri mansion itu dan memasuki sebuah ruang makan yang besar dan luas. Di tengah-tengah ruangan itu terdapat meja makan yang panjang dan luas dengan beberapa kursi makan, beberapa tempat duduk sudah di tempat oleh mereka. Di ujung meja ada pria tua yang sepertinya merupakan ayah dari Anton, di samping kirinya kursi kosong, sedangkan di samping kanannya ada Alious dan Amanda. Di samping kursi kosong itu ada seorang pria dan wanita muda, sepertinya itu kakak kedua Anton dan istrinya.


Alice dan Anton berdiri tak jauh dari pintu masuk ruang makan itu.


“Masuklah nak, silahkan bergabung. Tidak perlu sungkan.” Ucap pria tua yang duduk di ujung meja. Dia merupakan pria berusia 65an namun wajah dan postur tubuhnya tetap masih terlihat kegagahan dan ketampanan yang masih tersisa di dalam dirinya. Belum sempat Alice dan Anton bergerak, seorang wanita tua berumur 50an datang masuk dari arah yang berbeda.


Wanita itu mengenakan dress panjang selutut berwarna merah, wanita itu sangat cantik meski usianya sudah tidak muda lagi. Namun dengan pakaian dan dandanannya wanita itu tampak jauh lebih muda. Wanita itu masuk dari arah dapur membawa sendiri mangkuk sup yang merupakan kesukaan anak bungsunya itu, dan menghampiri meja makan untuk meletakkannya. Namun belum sampai dia kearah meja, wanita tua itu melihat kehadiran putra bungsunya itu.


“Ahh kalian sudah datang, ibu membuatkan sup kesukaan mu Anton.” Ucap wanita itu melihat kearah anak bungsunya.


Dan kemudian wanita itu mengalihkan pandangannya menuju kearah gadis yang berdiri di samping anaknya itu. Wanita tua itu kaget dengan kehadiran gadis di samping anaknya itu. Dia membelalakan matanya dan tanpa dia sadari, dia melepaskan mangkuk pirex yang berisi sup itu.


Prang…… Sup panas itu berhamburan bersamaan dengan pecahan mangkuk itu.

__ADS_1


“Ibu… kau tidak apa-apa?” Semua orang yang tadinya sedang duduk di kursi bangkit dan mendekati sang ibu. Tak terkecuali Anton dan Alice pun dengan cepat menghampirinya.


“Sayang kau tidak apa-apa?” Tanya sang suami khawatir.


“Aku tidak apa-apa, mungkin hanya kelelahan. Kalian lanjutkan saja, aku akan ke kamar dahulu merapihkan diri” Ucap wanita tua itu menenangkan seluruh anggota keluarganya. Dan segera pergi dari sana di ikuti oleh seorang pelayan wanita.


“Aku akan menemani ibu dan melihat apakah ada cipratan kuah panas itu melukai ibu. Kak temani Alice.” Ucap Anton kepada Amanda dan pergi meninggalkan ruangan itu.


“Baiklah kita duduk kembali.” Ucap Pria tua itu.


Semua yang ada di ruangan sana kembali ke tempat duduk masing-masing. Alice di dampingi Amanda menuju kursinya. Di samping Amanda.


“Kau pasti syok Nak dengan kejadian tadi. Mungkin dia kelelahan karena baru saja sampai tadi siang. Dia yang bersikeras mengatur semuanya dan lupa untuk beristirahat untuk menyambut kedatangan mu Nak.” Ucap Pria tua itu mencairkan suasana.


“Maaf saya jadi merepotkan semuanya.” Ucap Alice tidak enak.


“Benar, bahkan kami khawatir apakah ini akan sesuai dengan seleramu, namun Anton bilang kau memakan segalanya. Dasar bocah itu tidak membantu sama sekali.” Ucap Amanda kesal.


“Anton benar.. saya tidak pemilih terhadap makanan.” Ucap Alice membela Anton.


“Astaga ternyata kau ada di kubunya.” Ucap wanita yang duduk di sebrang Alice.


Hahahaha… dan mereka semua tertawa dengan yang di ucapan oleh wanita itu, Alice hanya bingung apa yang sedang di tertawakan oleh mereka.


“Sudah-sudah,, Kalian membuat Alice bingung.. Anton si bungsu ini memang selalu saja di goda oleh kedua kakaknya, apalagi semenjak kakak-kakaknya memiliki keluarga sendiri, mereka selalu mendukung jika sudah menggoda Anton. Mereka selalu berselisih masalah-masalah sepele. Biasanya yang selalu membantunya bicara di kubu Anton adalah Bu Lisa, sekarang sepertinya sudah ada Alice yang akan membantunya.” Ucap Bram sambil tersenyum.


“Baiklah biar saya perkenalkan keluarga besar kami. Saya adalah Bram Hadi Jaya, saya adalah Ayah dari Antonius. Dia adalah purta bungsu saya. Dan yang duduk di sebelah kiri tangan saya adalah Alious Hadi Jaya putra sulung saya, dan istrinya yang duduk di samping mu adalah Amanda Loise, yang duduk di sebelah kanan tangan saya adalah Axel Hadi Jaya merupakan putra kedua saya, dan yang duduk di sampingnya adalah istrinya, Sisilia Pratiwi. Istri saya bernama Lidia Handoko, ibu dari para kesatria ini.” Ucapnya sambil sedikit tertawa untuk mencairkan suasana.

__ADS_1


“Saya Alice Anatasya.. Senang berkenalan dengan Anda semua.” Ucap Alice kikuk.


***


Di sisi ruangan lain di dalam mansion itu..


Setelah selesai mengganti pakaiannya, seorang pelayan keluar untuk menggambilkan kotak obat.


“Ibu aku akan memeriksa lukamu.” Ucap Anton memasuki kamar ibunya, bersama seorang pelayan yang akan masuk ke dalam kamar itu membawa sebuah kotak p3k di tangannya.


Lidia ibu Anton duduk di sofa yang berada di dalam kamar itu. Anton duduk di lantai dan melihat kaki ibunya itu.


“Kau pergilah keluar.” Ucap Lidia menyuruh pelayan itu meninggalkan mereka berdua.


“Anton, apakah itu kekasih mu?” Tanya Lidia saat pelayan itu sudah keluar dari kamarnya.


“Iya Bu.. namanya Alice Anatasya.” Jawab Anton sambil memberikan obat oles untuk luka bakar pada kaki ibunya itu.


“Apakah kau yakin? Atau tidak bisakah kau pikirkan lebih dahulu? Bukankah kau banyak memiliki rekan kerja wanita di rumah sakit. Tidak adakah salah satu dari mereka yang menarik perhatian mu Nak.” Tanya Lidia khawatir.


“Apa maksud Ibu? Sebelumnya di telpon ibu tidak masalah dengan status Alice yang adalah seorang anak panti asuhan bukan. Bahkan status pendidikannya pun ibu tidak mempermasalahkannya. Bahkan ibu sampai rela mempersiapkan perjamuan untuk malam ini padahal ibu baru saja sampai dari negara X. Apa yang terjadi Bu? Ada apa?” Tanya Anton curiga.


“Tidak ada Nak.. maksud ibu, mungkin ini hanya rasa ketertarikan sesaat. Bukan untuk di bawa ke hubungan yang lebih serius kan Nak?” Tanya Lidia gugup.


“Aku serius dengan Alice bu. Anton akan menikahi Alice segera setelah gadis itu menyetujuinya.” Ucap Anton tegas.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2