
Amanda mendapatkan balasan pesan dari Alice, wanita itu segera masuk menemui Sisila yang sedang duduk di ruang keluarga bersama dengan Lidia.
"Sil.. Jadikah kau menemani ku belanja?" Tanya Amanda saat dia telah tiba di depan wanita itu.
"Ah.." Sisil mengerutkan dahinya tanda tidak mengerti. Pasalnya Amanda sebelumnya tidak ada janjian untuk berbelanja atau semacamnya dengannya.
"Bukankah kau bilang ingin menemani ku berbelanja untuk sedikit menghilangkan penat mu? Bagaimana kau mau?" Tanya Amanda lagi yang mana membuat Sisil ingat mungkin maksudnya Amanda adalah untuk bertemu dengan Alice.
"Ahh aku mau.. Bu bolehkah aku menitipkan putraku dahulu di sini?" Tanya Sisil kepada Lidia.
"Tentu Nak.. Pergilah bersenang-senang.. Kalian tidak perlu khawatir ibu akan menyuruh supir untuk menjemput sekolah ketiga cucu ibu." Ucap Lidia menenangkan kedua wanita itu.
"Terima kasih ibu.. Maaf merepotkan mu." Ucap Amanda dan Sisilia secara bersamaan.
"Tidak masalah Nak.. Yasudah sana kalian pergi.. Ini sudah siang." Ucap Lidia menyururuh mereka untuk segera berangkat.
***
Alice turun dari taksi online yang dia pesan dan segera masuk ke dalam mall itu. Beberapa kali gadis itu juga berpikir ulang apakah baik-baik saja untuk menemui kedua menantu keluarga Hadi Jaya, meski itu hanya menantu bukankah masih tetap termasuk keluarga dari Hadi Jaya.
"Huft.. Bisakah aku memberikan penjelasan nanti mengenai bubungan ku dengan Anton dan alasannya? Haish sepertinya keputusan ku terlalu terburu-buru." Ucap Alice yang sedikit ragu saat akan memasuki restoran tempat pertemuan mereka.
Gadis itu berhenti tepat di depan pintu restoran dan hendak berbalik arah, namun saat berbalik ternyata kedua menantu dari keluarga Hadi Jaya tiba di depannya.
"Al.. Kenapa diam di sana? Kamu baik-baik saja?" Tanya Amanda saat melihat Alice yang ternyata malah ingin berbalik arah.
"Hemm ya.. Aku baik-baik saja kak." Ucap Alice cepat meski jadi sedikit kaku.
"Ayo masuk Al.. Kau tahu aku sudah sangat lapar." Ucap Sisilia dan dengan cepat merangkul lengan Alice dan membawanya masuk ke dalam restoran.
"Al.. Kau jadi tambah kurus apakah kau sedang diet?" Tanya Sisil saat dia merangkul Alice. Gadis itu memang tampak sedikit kurus dari saat terakhir mereka bertemu.
"Ah.. Tidak kak.. Hanya sebelumnya sedikit sibuk dan telat makan saja." Ucapnya cepat.
__ADS_1
"Ish.. Jangan seperti itu, bukankah kau tahu kecantikan seorang gadis itu di dapatkan dari makanan yang mereka makan. Jika kau sangat sibuk siapkan saja buah untuk mengganjal perut mu. Jika ingin dietpun, pilihlah diet yang sehat." Saran Sisil.
"Baik kak." Ucapnya.
Mereka masuk kedalam sebuah ruangan private. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah meja bundar dengan enam meja yang melingkarinya. Amanda duduh di salah satu kursi begitu juga dengan Alice dan Sisilia.
Ruangan yang di dominasi dengan warna merah pada dinding dan karpet serta warna merah pada serbet maupun taplak meja menjadi kontras dengan cahaya berwarna kuning yang terpancar dari kedua lampu dinding yang ada di ruangan itu.
Amanda mengambil buku menu dan memilih beberapa makanan begitu juga dengan Alice dan Sisilia. Setelah mencatat beberapa pesanan, pelayan segera pergi meninggalkan mereka untuk menyiapkan makananya.
Kemudian tidak berapa lama menu makannan mereka tiba dan mereka mulai makan sambil bercerita meski tidak pernah membahas sesikitpun alasan mengenai pembatalan pernikahan ataupun masalah keluarga besar Hadi Jaya.
'Astaga.. Aku sudah hampir berburuk sangka mengira kedua menantu Hadi Jaya akan menanyakan mengenai masalah ku dengan Anton. Atau bahkan memarahi ku. Ternyata semuanya jauh dari perkiraan ku. Mereka tetep mengganggap ku seperti sebelumnya. Hangat dan perhatian kepada ku. Aku yang terlalu berburuk sangka terhadap mereka.' Batin Alice.
"Al setelah ini, apa rencana mu?" Tanya Amanda menghentikan lamunan Alice yang hampir menyelesaikan makanannya.
"Sepertinya tidak ada kak." Ucap Alice yang sudah jauh lebih rileks dan kembali seperti biasanya.
"Bagaimana Al? Mau ikut ya? Aku masih merindukan mu." Ucap Sisilia setelah wanita itu menaruh serbet di atas meja.
"Tentu kak." Ucapnya menyetujui permintaan Amanda dan Sisilia.
Setelah mereka makan, mereka pergi ke toko tas dan melihat beberapa aksesoris lainnya. Bahkan mereka juga pergi ke toko baju dan sepatu dan menjajal hampir semua barang keluaran terbaru di masing-masing toko.
Tidak terasa berjam-jam sudah berlalu hingga salah satu dari mereka menerima panggilan dari ponselnya.
📞"Halo sayang apakah kau masih di luar? Perlu aku jemput?" Tanya suara Alious dari sebrang telepon.
📞"Tidak perlu.. Aku dan Sisil akan pulang langsung ke rumah utama." Ucap Amanda cepat dan tidak berapa lama memutuskan panggilan teleponnya.
"Astaga sudah mau jam5 ternyata." Ucapnya heran saat melihat jam yang ada di ponselnya.
"Al.. Mau kami antarkan ke tempat mu?" Tanya Amanda menawarkan bantuannya.
__ADS_1
"Ahh tidak perlu kak.. Aku bisa sendiri." Ucap Alice sopan.
"Baiklah kalau begitu. Lain kali kita bermain bersama lagi ya.. Ingat sampai kapanpun kau tetap Alice adik kami. Jika ada apa-apa hubungi aku." Ucap Amanda memperingati dan Sisilia pun mengangguk setuju.
"Iya kak." Ucap Alice cerah.
"Baiklah kami pulang dahulu." Lambai Amanda dan Sisilia saat hendak pergi dari sana. Namun belum sempat mereka beranjak, Alice dengan cepat memeluk kedua wanita itu erat.
"Terima kasih kak sudah menemani ku seharian ini. Aku sangat bahagia sungguh.. Aku sangat bahagia." Ucap Alice, matanya mulai berkaca-kaca gadis itu membenamkan wajahnya di kedua bahu wanita itu.
"Astaga adik kecil ku manis sekali." Ucap Sisilia yang sedikit tersentuh karena Alice sudah mau terbuka lagi dengan mereka.
"Kami ada untuk mu." Ucap Amanda dan Sisilia mengangguk setuju. Mereka berdua megusap dan mengelus rambut atau punggung Alice menenangkan dan menguatkan gadis itu.
Bagaimanapun Amanda dan Sisilia tahu bahwa di balik masalah membatalkan pernikahan ini tidak sesederhana kelihatannya. Mereka lebih memilih untuk berada di sisi Alice dan menguatkan gadis itu apapun pilihannya nanti mereka tetap menganggap Alice adalah adik kecil mereka.
"Hubungi kami jika kau hanya ingin makan es cream atau hanya sekedar memaki orang." Ucap Sisilia.
"Hehehe baiklah kak.. Aku akan melakukannya. Kakak siap-siap saja jika aku mengganggu waktu kemesraan kalian dengam suami kalian masing-masing." Ucap Alice menggoda mereka dan melepaskan pelukan pada keduanya.
"Aihh anak kecil memang bisa kamu mengganggu kami.." Ucap Amanda dan mengusap kepala Alice.
"Baiklah lain kali ajak juga dong keponakan ku.. Aku merindukan mereka." Ucap Alice ceria.
"Tentu.. Kami akan membawanya di lain kesempatan. Jaga kesehatan mu dan jangan sampai telat makan. Tubuh mu tidak enak di peluk." Celetuk Sisil.
"He'em.. Aku akan makan yang banyak." Ucap Alice senang.
Sejak pertama kali pertemuannya dengan Amanda maupun Sisilia, mereka bertiga merasa sangat cocok sehingga dengan mudahnya sangat dekat dan merasakan kasih sayang keluarga yang tulus dan ikatan persaudaraan yang kuat.
Awalnya Alice takut dengan adanya masalah dirinya dengan Anton akan membuat ikatannya bersama kedua wanita itu terputus, namun tampaknya kedua wanita itu enggan ikut campur dalam masalah Alice maupun Anton dan memilih tetap setia di samping Alice dan bersikap netral. Alice bersyukur untuk itu.
Bersambung....
__ADS_1