JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Revenge5


__ADS_3

Alice masuk ke dalam kamar hotel itu. Di dalam sana gadis itu melihat sepatu pantofel hitam dan kaus kaki berwarna senada yang tergeletak tak beraturan sepanjang lorong jalan akan masuk menuju ruangan kamar itu. Kemudian gadis itu melihat sebuah jas yang di sampirkan ke sebuah sofa dan sebuah tas persegi panjang berwarna hitam tergeletak di atas meja.


Alice melihat sekeliling ruangan itu, ruangan itu sangat luas dan mewah, pemandangan indah juga tersuguhkan dari balik kaca jendela yang terbuka lebar tanpa gorden yang menutupinya itu, memperlihatkan keindahan pemandangan kota itu dari atas sana. Di sudut ruangan kamar itu terdapat sebuah meja bar dengan berbagai minuma keras di sudut lemarinya dan di sana pula berdiri seorang pria mengenakan baju kemeja panjang polos berwarna biru dengan lengan di gulung hingga siku, kancing bangian dada di buka setengah sehingga memperlihatkan dada yang berbulu leb*at berwarna putih dan perut yang buncit.


Pria itu tersenyum miring saat matanya bersitatap dengan mata milik Alice dan melebarkan senyumannya saat melihat tubuh Alice dari atas hingga ke bawah kemudian pria itu menjil*ati bibirnya sendiri.


“Kau benar-benar sangat mempesona jika di lihat langsung Monic.” Ucap pria tua itu. Usianya sekitar awal 60an dengan rambut yang memutih dan jenggot serta kumis yang juga memutih.


“Kau tidak perlu khawatir, aku masih sangat bisa untuk membuatmu bahagia. Malah mungkin nanti jika kau bisa membuatku puas, aku akan meminta mu langsung kepada Bima untuk menjadikan mu hanya milik ku seorang.” Ucap pria tua itu berjalan memutari Alice.


“Ayo, jangan buang-buang waktu. Aku sudah memimpikanmu sepanjang malam kemarin, sekarang aku akan merealisasikannya untuk membuatmu meneriakkan namaku.” Ucap pria tua itu dan mendekati Alice serta menyentuh punggung dan bahu Alice kemudian tangan pria tua itu turun hingga ke tangan Alice yang berada di sisi tubuhnya, dan saat pria tua itu akan mencoba mencium tengkuk gadis itu dari belakang.


“Baiklah aku juga tidak ingin membuang-buang waktu lagi.” Ucapnya dan dengan cepat gadis itu menepis tangan pria tua itu dan mengambil hanan gun dari dalam dressnya. Kemudian mengarahkan tangannya ke belakang kepalanya sendiri untuk menancapkannya langsung pada tengkuk pria tua itu, saat bibir pria tua itu sedikit bersentuhan dengan tengkuk milik Alice.


“Urghhh.. Apa yang kau lakukan.” Ucap pria tua itu saat merasakan tengkuknya mendapatkan sedikit sengatan dan tak lama pria tua itu kehilangan kesadarannya.


“Kau yang akan bersenang-senang di dalam hotel berjeruji besi nanti Pak tua.” Ucap Alice ketus dan mencoba menjelajahi ruangan mencari dasi dan mengikat kedua lengan pria tua itu kebelakang tubuhnya, kemudian mengambil dua tali kain pada gorden untuk menutup mulut pria itu dan mengikat kedua kaki pria itu.


Setelah menyelesaikan urusannya dengan mengikat pria itu, Alice merogoh pada jas yang tergeletak di atas sofa dan mencoba mencari passcard dan ponsel disana.


Alice menemukan ponsel dan segera menelpon Galih.


“Satu 'Clear', aku akan menyelamatkan gadis itu, kalian bereskan bawah.” Ucap Alice saat sambungan telpon itu terhubung.


“Oke, dalam pembersihan.” Ucap Galih, dan Alice segera menutup sambungan telpon itu. Kemudian melanjutkan merogoh kantung yang lainnya.

__ADS_1


“Gotcha.. ketemu.. Kau pemilik hotel ini, pasti kau membawa akses pass card untuk seluruh ruang kamar bukan. Aku sungguh beruntung.” Ucap Alice dan segera pergi keluar ruangan kamar itu dan mencoba masuk ke kamar 2020 dimana Ana berada.


Brakk


“Siapa yang menggangguku.” Ucap pria di dalam ruangan itu kesal.


Terlihat seorang pria sedang duduk di sofa dengan bertel*anjang da*da di sampingnya terlihat Ana sedang menuangkannya minuman dengan tangan pria itu berada di atas paha Ana, sedikit banyak gadis itu pasti telah di leceh*kan oleh pria breng*sek itu. Saat Ana melihat Alice, gadis itu langsung berlari menghampiri Alice dan berdiri di belakang punggung Alice.


“Entah mengapa aku yakin kau pasti akan menolongku.” Bisik Ana dari belakang tubuh Alice.


“Hei kau wanita jal*ang, apa yang mau kau lakukan? Aku sudah membay*armu dan kau belum mel*ayani ku. Kau harus kemari dan selesaikan tugasmu.” Ucapnya kesal kepada Ana.


“Biar aku yang menyelesaikan tugasnya.” Ucap Alice dan mendekati pria tua itu.


Alice mendekati pria tua itu menguurkan tangan kirinya dan meletakkannya di bahu pria itu, kemudian dengan cepat Alice menancapkan hanan gun di leher pria tua itu dengan tangan kanannya.


“Ugh,, apa yang kau lakukan kepadaku dasar kalian wanita jal*ang.” Ucap pria itu dan tak lama pria tua itu kehilangan kesadarannya.


“Monic bagaimana kau bisa melakukan itu, ahh selain itu ayo cepat kita harus membantu Angel.” Ucap Ana teringat bahwa Angel belum di selamatkan. Namun Alice dengan santainya malah mengambil dasi dan dua buah tali kain yang ada pada gorden. Gadis itu mengikatkan kedua tangan pria itu di belakang tubuhnya dan mengikat kaki pria itu kemudian mengikat mulut pria tua itu juga.


“Kita tidak perlu mengkhawatirkan Angel, yang ada pria yang di dalam kamar itu harus khawatir dengan apa yang akan di lakukan Angel.” Ucap Alice santai dan bergerak meninggalkan ruangan kamar itu bersama Ana yang membuntutinya.


Saat menyusuri koridor akan menuju tempat Angel, terlihat pintu ruangan Angel terbuka kemudian muncul Angel dari dalam sana.


“Kau baik-baik saja Angel?” Tanya Ana khawatir.

__ADS_1


“Haha kau harusnya mengkhawatirkan pria tua itu. Untung saja aku tidak membuatnya menjadi kasim.” Canda Angel.


“Ayo kita pergi dari sini.” Ucap Alice.


Belum sempat mereka beranjak dari sana, mereka di kepung oleh empat orang berjas hitam. Keempat orang itu langsung bergerak mendekati ketiga gadis itu. Alice melihat keempat orang itu tidak memiliki senjata di tangan mereka maka dengan cepat Alice memutuskan menghampiri mereka.


Alice menyerang kedua penjaga itu dengan menggunakan tendangan agar menyingkirkan para penjahat itu dari  jangkauan Ana, Maya juga melakukan hal yang sama untuk menjauhkan para penjaga itu dari arena bertarung mereka.


Alice memberikan beberapa pukulan telak, Alice menggunakan Krav maga yang merupakan sebuah seni bela diri militer dengan menggunakan tangan kosong yang di kembangkan di Israel.


Berbagai pukulan dan tendangan di arahkan oleh Alice dan Maya kepada para penjaga itu, tidak membutuhkan waktu lama keempat orang itu bisa di lumpuhkan oleh Alice dan Maya. Keempat orang itu tergeletak di lantai tidak sadarkan diri.


“Ayo kita pergi dari sini.” Ucap Alice kepada kedua gadis itu.


Namun saat mereka akan meninggalkan tempat itu, terdengar sebuah tembakan ke udara dari arah belakang mereka.


“Wah wah wah, aku tidak menyangka kalian bisa sehebat itu. Jika tahu begitu aku akan menyuruh penjaga yang bersenjata yang berjaga di depan pintu kamar.” Ucap Banyu kesal.


“Tadinya aku tidak mengerti kenapa bos besar menginginkan nyawa mu Monic, namun sepertinya saat ini aku dapat memahami keinginan bos besar itu. Kau gadis yang berbahaya yang harus segera di leny*apkan. Sayangnya aku baru menyadarinya sekarang. Maka agar aku tidak melakukan kesalahan yang lainnya, aku harus segera meleny*apkanmu sekarang. Terlamabat tidak masalah bukan dari pada tidak sama sekali.” Ucap pria itu sambil mencondongkan arah pistol kepada Alice.


“Selamat tinggal cantik.” Tutup Banyu sambil tersenyum licik.


Dorrrr...


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2