JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Suara kehidupan


__ADS_3

Alice berjalan masuk ke ruang perawatan Anton. Pria itu masih tertidur dengan berbagai alat pada tubuhnya. Alice mendekati tubuh pria yang biasanya gagah yang kini menjadi sedikit kurus dan pucat. Hampir satu minggu pria itu tidak membuka matanya.


Alice menggenggam tangan pria itu dan membuka ponselnya dengan tangannya yang lain. Alice membuka video yang dia rekam sebelumnya dan kemudian memainkannya. Alice meletakkan ponselnya tepat berada di dada Anton.


Dug dug dug dug. Suara degupan dengan irama cepat terdengar di seisi ruangan itu.


"Kau dengar itu Anton.. Itu adalah suara kehidupan malaikat kecil yang kini berada di dalam rahim ku.. Tidak inginkah kau melihatnya langsung rekaman ini, atau tidak inginkah kau menemani ku untuk menjalani masa-masa ini. Bangun dari ilusi mu dan temani aku untuk menjaganya. Aku benar-benar membutuhkan mu." Ucap Alice dengan air mata yang sudah berkumpul di pelupuk matanya.


Tet tet tet tet.. Detak jantung di monitor Anton berdetak lebih cepat, jari-jari tangan Anton yang Alice genggam terasa bergerak di telapak tangannya.


Dengan cepat Alice melepaskan genggaman tangannya dan melihat jari telunjuk tangan Anton memang bergerak meski tidak begitu kuat. Alice dengan cepat menekan tombol memanggil dokter dan perawat.


Alice masih memperhatikan perubahan di tubuh Anton, yang kini melihat pergerakan kelopak mata Anton yang mulai bergetar. Kemudian tidak lama mata itu terbuka dengan perlahan-lahan. Alice yang melihat itu membekap mulutnya dengan kedua tangannya tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Buliran air mata membasahi pipinya bertepatan dengan datangnya dokter beserta beberapa perawat.


Dokter langsung meminta Alice sedikit bergeser, dan pria itu melihat monitor yang memperlihatkan kondisi tubuh Anton. Dokter dengan segera memerintahkan tindakan selanjutnya untuk melepaskan Alat bantu lainnya dan memberikan ponsel Alice kepada gadis itu. Alice mematikan ponselnya dan melihat semua tindakan dokter itu.


"Mohon tenang ya dokter Anton, saya tahu ini sedikit tidak nyaman, saya akan segera melepaskan semua alat bantu ini. Jika mengerti kedipkan matanya." Ucap dokter itu dan Anton mengedipkan matanya perlahan.


Dokter segera memerintahkan perawat melepaskan selang makan dan juga selang oksigen di hidung dan mulut Anton. Setelah melepaskan beberapa alat yang tidak perlu, dokter juga memberikan resep baru untuk Anton dan juga memberikan intruksi jika tidak ada keluhan bisa segera di pindahkan ke ruang kamar perawatan president suite.


"Syukurlan anda sudah sadar.. Saya bahagia melihat perkembangan anda.. Saya pamit dahulu, jika tidak ada masalah nanti anda akan di pindahkan di ruangan lain." Jelas dokter itu dan Anton mengedipkan matanya mengerti.


"Anton.. Syukurlah.. Syukurlah Anton.." Ucap Alice berkali-kali sambil menggenggam tangan pria itu dan menciuminya berkali-kali dengan air mata yang tidak lepas mengalir di wajahnya.


"Mm ma maa maaf.." Suara Anton terdengar terbata dan pelan namun Alice masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Jangan bicara dulu.. Dokter bilang mungkin kau akan kesulitan bicara karena tenggorokan mu kering. Nanti juga akan terbiasa." Jelas Alice dan pria itu mengangguk pelan. Anton lambat laun mulai memejamkan matanya namun pria itu tampak tidak rela untuk sekedar tidur dan kembali membuka paksa matanya.

__ADS_1


"Istirahatlah.. Jangan di pakasakan.. Aku akan tetap berada di sini bersama mu." Ucap Alice sebagai pengantar tidur pria itu yang akhirnya memejamkan matanya tanpa menolak, karena telah mendengar sesuatu yang membuatnya tenang.


Alice kembali mencium tangan pria itu dan kemudian mencium pelipisnya, "Aku akan keluar sebentar untuk menghubungi ayah dan ibu." Bisiknya pelan dan kemudian keluar dari ruang perawatan pria itu.


Alice mencari kontak di ponselnya dan segera menghubungi Lidia.


📞 "Ibu..." Sapa Alice saat panggilan baru saja tersambung.


📞 "Alice.. Ada apa nak?" Tanya suara di sebrang sana.


📞 "Bu.. Anton bu.." Alice yang belum menyelesaikan bicaranya, langsung di potong bicaranya oleh Lidia.


📞 "Ada apa dengan Anton? Anton tidak apa-apa kan? Alice?" Tanya Lidia lagi dengan panik.


📞 "Tenang ibu.. Ibu tenang dahulu.. Anton tidak apa-apa, syukurlah dia sudah siuman tadi bu.." Jelas Alice dan menenangkan Lidia.


Wanita di sebrang telepon mengucap syukur berkali-kali, "Kami akan segera kesana." Ucap Lidia di akhir panggilan.


Dia berulang-ulang kali ingin rasanya membangunkan Anton, karena dia sedikit tidak percaya dengan keajaiban ini. Namun diurungkan niatnya karena pria itu masih membutuhkan istirahat yang banyak untuk proses penyembuhannya.


Beberaapa orang perawat datang dan memeriksakan bebebrapa hal, "Kita akan pindahkan sekarang ya nona Alice." Izin para perawat itu dan Alice menganggukkan kepalanya.


Beberapa perawat mulai membantu mengangkat tubuh Anton dan memindahkannya ke brankar dan membantu mendorongnya, pria itu masih tenang tertidur. Ada sedikit ke khawatiran di dada Alice apakah benar tadi pria itu sudah bangun.


Mereka masuk ke dalam ruang kamar presidential suite, di ruangan itu sudah ada Lidia dan Bram.


"Nak.." Ucap Lidia mendekati Alice yang berdiri tidak jauh dari brankar yang di dorong perawat menuju kasur pasien.

__ADS_1


Alice dan Lidia serta bahar memperhatikan Anton di pindahkan dari brankar dorong ke bed pasien lalu memasangkan tabung infus ke tiang infus yang berada di samping bed.


Lidia merangkul Alice, "Terima kasih karena telah membangunkannya." Ucap Lidia pelan.


Alice memandang wajah Lidia, "Apakah dia benar bangun bu? Aku tidak sedang bermimpi kan? Tapi dari tadi dia tampak tidur, ada sedikit ketakutan yang aku rasakan." Bisik Alice tidak kalah pelan.


Sepertinya Alice masih belum mempercayai penglihatannya dan ketakutan pria itu terlelap dan enggan membuka matanya terus menghatuinya.


"Dia sudah sadar nak, dia hanya terpengaruh obat dari dokter untuk membuatnya beristirahat. Setelah pengaruh obat hilang dia akan kembali membuka matanya. Tenanglah nak." Ucap Bram menenangkan Alice.


Lidia mengusap-usap lengan Alice menenangkan gadis itu, dan Bram mengusap puncak kepala Alice, "Semua sudah baik-baik saja." Ucap mereka berdua membuat sedikit ketenangan di hati gadis itu.


Setelah perawat selesai merapihkan Anton, mereka izin pamit untuk menyelesaikan pekerjaan mereka yang lain.


"Kamu sudah makan nak?" Tanya Lidia saat mereka mendudukan bokongnya di sofa.


"Belum bu.. Tadi pagi aku terburu-buru ke sini."


"Dasar ceroboh.. Bagaimana bisa kamu mau menjaga Anton, jika kamu sendiri tidak memperhatikan kesehatan." Keluh Lidia.


Wanita itu mengambil sebuah termos di atas meja dan menggesernya kedepannya dan kemudian membukanya. Bau harum yang kuat dari masakan itu memenuhi ruangan kamar.


"Makanlah.. Ibu tahu kamu baru saja pulang dari pekerjaan mu di luar kota, dan ini bisa membuat mu segar." Ucap Lidia sambil menyerahkan mangkuk nasi dan sup ayam kepada Alice.


Alice menggambil mangkuk itu, " Terima kasih ibu.." Ucapnya dan kemudian mulai memakan makanannya.


"Makanlah yang banyak, kau pasti sangat menderita beberapa hari ini." Lidia mengusap lembut rambut Alice.

__ADS_1


"Sudahlah.. Dia sedang makan.. Jangan mengganggunya." Ucap Bram sambil mengusap lengan Lidia.


Bersambung....


__ADS_2