
Lidia pergi diam-diam dari ruang rawat gadis itu seperti biasanya. Namun hari ini dia memutuskan akan kembali dahulu ke kota S untuk melihat kondisi Anton.
"Pak kita ke kota S." Ucap Lidia kepada supir. Supir menggangguk mengerti dan mengendarai mobil mereka menuju kota S membelah jalanan yang mulai memadati jalan raya itu.
Tidak terasa 4 jam sudah mereka lawati dan mereka sudah tiba di depan rumah sakit Healthy Centre.
"Pak.. pak Joko istirahat saja dahulu.. nanti jika kita akan pergi lagi, saya akan menghubungi bapak seperti biasa." Ucap Lidia.
"Baik Nyonya." Ucap pak Joko dan meninggalkan tempat itu.
Lidia masuk ke dalam ruang perawatan Anton.
"Nak.. bagaimana kondisi mu?" Tanya Lidia lagi saat anaknya baru saja berganti baju pasien rumah sakit dengan kemeja berwarna putih.
"Sudah baik Bu.. bahkan aku akan oulang hari ini." Ucap Anton tenang.
"Apakah kau sudah tidak apa-apa?" Tanya Lidia lagi.
"Iya Bu.. aku baik-baik saja. Aku akan langsung keluar dari rumah sakit dan ke asrama. Ibu tidak perlu mengantar ku." Ucap Anton lagi.
"Baiklah.. Ibu akan mengurus administrasi dahulu." Ucap Lidia dan beranjak pergi dari kamar ruang rawat Anton.
Lidia sudah keluar dari kift dan sampai lantai 2 tempat kasir rumah sakit untuk rawat inap, namun dia melupakan dompetnya di kamar pemuda itu.
"Astaga cerobohnya aku." Ucap Lidia menepuk pelan kepalanya dan menaiki eskalator naik menuju lantai 3 tempat Anton di rawat.
Wanita itu melihat Anton dari kejauhan membawa tas ranselnya akan memasuki lift untuk turun. Namun entah mengapa saat pintu lift itu akan tertutup, wajah pria itu terlihat sangat pucat. Dan tampak pria itu seperti ketakutan.
Kemudian pintu lift terbuka kembali dengan beberapa orang yang di dalam lift memengang tubuh Anton yang sudah tidak sadarkan diri.
"Ahh ada apa ini?" Tanya Lidia khawatir dan cemas.
"Tidak tahu Bu.. saat pintu lift mulai tertutup pria ini sangat pucat dan kemudian menjerit gelisah dan tidak lama tidak sadarkan diri. Aku berinisiatif membuka kembali pintu liftnya untuk membantunya keluar agar bisa mendapatkan perawatan." Ucap salah seorang pengguna lift itu.
"Terima kasih Pak.. dia anak saya.. maaf bisa tolong bantu saya ke menganggkatnya ke ruangan itu." Tunjuk Lidia yang ruangan Anton sebelumnya tidak berada jauh dari pintu lift itu.
"Tentu Bu.." Ucap pria itu dan membantu membawa Anton masuk kembali ke kamar ruang rawatnya.
__ADS_1
"Sus tolong panggilkan dokter Bagas." Ucap Lidia mulai panik.
"Baik Bu.. akan segera saya panggilkan." Ucap perawat itu dab segera pergi keluar ruangan untuk memanggilkan dokter Bagas.
"Terima kasih banyak ya Pak atas bantuannya." Ucap Lidia kepada bapak-bapak yang menolong Anton itu.
"Tidak apa-apa Bu.. sepertinya dia memiliki trauma terhadap ruangan sempit." Ucap pria itu lagi.
"Ha? apa? sebelumnya dia baik-baik saja pak. Dia tidak memiliki trauma terhadap ruangan tertutup." Ucap Lidia lagi.
"Ahh begitukah.. tapi itu aneh.. reaksinya sangat mirip dengan claustrophobia." Ucap pria itu.
"Apa mungkin sebelum ini dia mengalami kecelakaan?" Tanya pria itu lagi.
"He'em ya. " Ucap Lidia sedikit terkejut.
"Ahh maaf saya belum memperkenalkan diri. Saya Fahri dokter psikiater." Ucap pria itu lagi. Belum sempat Lidia merespon, Bagas sudah masuk ke dalam ruangan itu.
"Lidia apa yang terjadi kepada Anton? bukankah tadi dia baik-baik saja?" Tanya Bagas yang bingung dengan kondisi anak temannya itu.
"Hai Gas.." Ucap dokter Fahri.
"Ya.. aku tadi satu lift dengan anak muda itu. Sepertinya dia memiliki trauma sendiri, dari pengamatan ku mungkin dia mengalami claustrophobia. Namun aku tidak bisa memastikannya aku harus memeriksanya jika kalian ingin memastikannya." Ucap Fahri lagi menjelaskan pengamatannya.
"Astaga.." Ucap Lidia sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Lalu apa yang harus saya lakukan dok?" Tanya Lidia lagi tangannya gemetar karena takut dan khawatir terhadap anak bungsunya.
"Kita lihat perkembangannya. Saya akan bekerja sama dengan dokter Bagas untuk melihat perkembangannya." Ucap dokter Fahri menenangkan Lidia.
"Baik dokter.. saya percayakan perawatan anak saya kepada anda." Ucap Lidia masih dengan berurai air mata.
"Bukankah seharusnya kamu ceritakan ini kepada Bram suami mu?" Tanya Bagas saat dokter Fahri sudah meninggalkan ruangan itu.
"Tidak.. aku yang akan merawat anak ku.. Bram terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Aku tidak ingin membebaninya dengan masalah lain." Ucap Lidia keras kepala.
"Haihh.. kau sangat keras kepala.. seharusnya kau membicarakan ini dengan suami mu. Agar masalah mu lebih terasa ringan.. Jangan memikulnya sendirian." Saran Bagas.
__ADS_1
"Terima kasih atas nasihat mu. Tapi aku akan tetap melakukan semuanya sendiri." Ucap Lidia keras kepala.
"Haihh.. ya sudahlah.. lakukan apapun mau mu. Jika membutuhkan bantuan ku kau katakan saja." Ucap Bagas dan meninggalka. Lidia sendirian di ruang perawatan Anton.
"Nak.. yang kuatlah.. kau pasti akan segera sembuh seperti sedia kala." Ucap Lidia dan mengusap lembut rambut anak bungsunya itu.
***
Keesokan harinya.
"Emhh Bu.. aku akan pulang sekarang." Ucap Anton sambil mengemas barangnya dan memakai tas ransel di punggungnya.
"Tapi Nak.." Belum selesai Lidia akan membantah keinginan anaknya, Bagas sudah masuk dengan Fahri.
"Kau sudah boleh pulang." Ucap Bagas dan di angguki oleh Fahri.
"Tapi bukankah kalian bilang.." Ucap Lidia tapi tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Bu aku pulang dahulu.. tolong bantu urus administrasi." Ucap Anton dan segera meninggalkan ruang perawatan itu.
"Bukankah kalian bilang Anton masih memerlukan perawatan? tapi kenapa kalian malah membiarkannya pulang?" Tanya Lidia mulai khawatir.
"Dia tidak ingin memberitahukan kita mengenai kondisi mentalnya sendiri. Jika kita paksa, itu malah akan berakibat buruk baginya. Kita lihat saja perkembangannya dari jauh. Yang pasti selalu suport dia dan memantaunya." Ucap Fahri yang menjawab pertanyaan Lidia.
"Baiklah.." Ucap Lidia akhirnya.
"Bagas bukankah Widi satu fakultas dengan Anton?" Tanya Lidia lagi.
"Iya.. mereka bahkan satu angkatan." Ucap Bagas.
"Bagas, tolong suruh Widi memantau perkembangan anak itu, aku tahu dia mungkin tertutup dengan semua orang, tapi aku yakin jika dengan Widi sahabat kecilnya, dia pasti akan memberitahunya." Ucap Lidia lagi.
"Tentu.. aku akan katakan pada Widi untuk membantu Anton dan memantau perkembangan anak itu." Ucap Bagas yakin.
"Terima kasih." Ucap Lidia masih dengan sudut mata yang mulai meneteskan air mata haru.
"Tidak perlu berterima kasih.. Anton anak kalian, dia juga sudah aku anggap anak ku sendiri. Jangan membebani diri mu sendiri. Bahkan kau belum lama menyelesaikan oprasi. Jangan terlalu sters dan membuat diri mu drop." Ucap Bagas menenangkan dan mengkhawatirkan kondisi fisik Lidia.
__ADS_1
"Tentu.. aku akan baik-baik saja." Ucap Lidia menenagkan sahabat suaminya itu.
Bersambung....