
“Namanya Bintang Puspita usianya sekitar 24 tahun kurasa.” Jelas pria bartender itu.
“Ahh begitu.. Semoga berhasil dengan mu Awan.” Ucap Alice sambil mengacungkan gelasnya.
“Hahaha aku hanya seorang buruh di sini Monic, aku tidak terlalu banyak berharap.” Ucap pria itu sambil tertawa.
“Kau jangan menyerah dulu Bung. Aku tahu, kau memiliki pesona tersendiri.” Ucap Alice membesarkan hati pria itu.
“Kau teman yang menyenangkan Monic.” Ucap pria itu memuji gadis di depannya itu.
“Terima kasih. Kau juga teman yang menyenangkan Awan.” Tutup Alice.
Alice mengambil ponselnya dan menulis pesan kepada Galih.
‘Selidiki gadis berusia 24 tahun dengan nama Bintang Puspita baru berpindah sekitar 3bulan yang lalu ke rumah susun Ibiza di kota N. Dan pria bernama Bima yang memiliki istri bernama Anya yang mengidap gangguan psikis dan adiknya bernama Banyu.’ Isi pesan itu.
Kemudian gadis itu memasukkan ponselnya kembali kedalam tasnya dan kembali memperhatikan keadaan sekitar di lantai itu. Dia terpaku terhadap sekelomopok orang yang baru saja melewatinya di ruangan itu dan mereka menuju ke sebuah sofa yang terdapat seorang pria di sana sedang meminum minuman beralkohol. Salah satu ketua dari kelompok yang baru saja tiba itu berbicara pada seorang pria yang sedang duduk di sofa di ujung ruangan itu, beberapa penjaganya juga ada di belakang pria yang sedang duduk itu. Alice menyadarinya kelompok pria yang baru saja melewatinya adalah kelompok dari The Black Phanther.
“Mereka siapa?” Tanya Alice kepada bartender itu, menunjuk dengan dagunya ke arah pria yang sedang duduk meminum minumannya itu.
“Ahh mereka, mereka tamu vvip club ini. Dari pakaian yang mereka kenakan, sepertinya mereka tamu acara party di roftop.” Ucap bartender itu menjelaskan.
“Ahh, sayang sekali aku tidak bisa ikut. Sepertinya di sana sangat menarik.” Ucap Alice pura-pura menyedihkan.
“Astaga, kau ingin kesana Monic?” Tanya bartender itu kasihan.
“Hemm tentu saja, siapa yang tidak ingin melihat acara pesta yang mewah dan meriah dengan pemandangan seluruh isi kota yang indah pada malam hari dari atas sana.” Ucap Alice kesal.
__ADS_1
“Ini, kau bawa ini. Orang yang boleh keluar masuk sana hanya orang yang menggunkan ini.” Ucap pria bartender itu. Menyerahkan sebuah topeng berwarna silver, di samping ujung topeng itu terdapat sebuah barcode yang menempel pada topeng itu.
“Kau dapat ini dari mana Awan?” Tanya gadis itu penasaran dan mengambil topeng itu.
“Sebenarnya aku di suruh menjadi salah satu bartender di atas sana, namun karena rekan kerja ku ingin memperpanjang jam kerjanya, sepertinya aku tidak membutuhkan akses masuk lagi. Dan kau terlihat lebih membutuhkannnya Monic.” Jelas pria itu sambil tertawa.
“Ahh kau sangat baik hati sekali Awan. Kau adalah teman terbaikku di kota ini. Terima kasih Awan” Ucap gadis itu tulus dan meletakkan topeng itu di atas meja bar.
“Ya tak perlu sungkan antara teman bukan. Ohya kau hanya perlu menunjukan barcode ini saat kau akan masuk roftop.” Ucap pria itu lagi sambil menunjukkan sisi barcode yang ada di topeng itu yang tergeletak di atas meja bar.
“Ohh Awan… sungguh terima kasih banyak. Aku pergi dahulu ya. lain kali aku pasti akan mentraktirmu minuman.” Ucap gadis itu terburu-buru.
Gadis itu mengambil topengnya dan tas yang ada di atas meja bar, karena dia melihat sekelompok pria itu akan segera pergi dari sana.
Dengan refleks Alice mengikuti mereka dari jarak jauh, untuk menghindari perseteruan secara langsung dengan mereka. Alice melihat dengan jelas pria bertopeng itu dan sekumpulan orang-orang yang mengikutinya, dua orang di antaranya Alice mengenalinya saat penjemputan pria bertopeng itu di vila tak berpenghuni.
“Sial aku kehilangan mereka.” Ucap gadis itu kesal dan meremas topeng di tanggannya. Gadis itu kehilangan jejak mereka saat melewati persimpangan sebuah lorong yang menuju lantai 8 dan lorong lainnya, ada sebuah lift juga disana. Dan gadis itu memilih melewati lorong dekat toilet pria dan tiba-tiba tangannya di cekal oleh seseorang.
“Anton…/ Alice… Apa yang kau lakukan disini?” Tanya mereka pada waktu yang bersamaan.
“Aku sedang ada seminar di kota ini, dan sahabatku saat kuliah mengundangku ke partynya. Aku tidak enak jika tidak ikut. Lalu apa yang kau lakukan disini Alice?” Alice mengabaikan pertanyaan Anton dan dia mulai mencurigai sesuatu. Entah mengapa semuanya seperti sangat kebetulan dan membuat hatinya tidak tenang.
“Berdiri tegak dan diam jangan bergerak!” Ucap gadis itu ketus.
"Alice sayang ada apa?" Ucap Anton bingung.
Gadis itu mengambil topeng yang ada di tangannya dan mulai memasangkan topeng itu pada wajah Anton kekasihnya itu. Alice memperhatikan wajah pria itu dengan seksama saat topeng itu telah terpasang di wajah kekasihnya itu. Potongan wajahnya, perawakan tubuh mereka memang sangat mirip. Alice membungkam mulutnya lalu bergumam.
__ADS_1
“Tidak mungkin.. Iitu itu tidak mungkin kau bukan..” Ucap Alice bergumam masih dengan menutup mulutnya.
“Pasti bukan kau bukan.” Ucap Alice masih meracau tidak jelas.
“Alice sayang, apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?” Tanya Anton bingung dengan sikap Alice kekasihnya itu.
Belum sempat Alice berbicara untuk menjelaskan semua luapan emosinya, tak jauh dari sana Alice dapat melihat pria bertopeng yang di ikuti oleh beberapa orang lainnya di belakangnya. Mereka memasuki lift tak jauh dari tempat mereka berdiri. Alice sempat melihat dengan jelas meski sekilas, bahwa “K” masuk kedalam lift itu dan di ikuti orang yang pernah dia lihat saat di vila itu.
“Alice sayang, ada apa? Apakah kau sakit? Alice? Kau membuatku khawatir.” Tanya pria di depannya itu khawatir dengan tinggah laku gadis di depannya itu.
“Ahh maaf sepertinya aku hanya salah paham. Maafkan aku Anton, aku hanya mengira kau sebagai orang lain.” Ucap gadis itu tidak enak hati karena sudah salah paham kepada pria di depannya itu.
“Maksudmu, kau mengira ku dengan pria lain saat aku ada didepan mu sayang?” Ucap Anton dengan nada kesal.
“Kau tahu aku tidak suka kau dekat dengan pria lain, dan sekarang aku ada didepan mu dan kamu malah memikirkan pria lain. Kau sedang mencoba membuatku marah sayang ku… Alice?” Lanjut pria itu.
“Maafkan aku, bukan begitu maksudku. Bisakah kita mengakhiri perdebatan ini. Aku sungguh minta maaf sayang, aku sungguh tidak bermaksud.” Ucap gadis itu memelas.
“Baiklah aku akan memaafkanmu jika kau mau menciumku. Kau tahu aku sangat merindukanmu, dan aku sangat beruntung bisa bertemu dengan mu disini. Namun kau malah memikirkan pria lain, itu sangat membuatku jengkel Alice sayang.. Kau…” Belum selesai pria itu berbicara, Alice mengecup, meraup bibir pria itu untuk membungkam ucapan yang akan pria itu ucapkan.
Anton tersenyum, kemudian berbicara “Bukan begitu cara ciuman yang baik sayang.” Ucap pria itu menggoda kekasihnya.
Dan Anton memegang tengkuk Alice dan mendekatkan bibir mereka lagi, Anton mengecup beberapa kali bibir gadis itu, kemudian ******* bibir gadis itu. Alice mengikuti tempo pria itu, lambat laun kemudian pria itu mencoba untuk membuka bibir gadis yang di cintainya itu. Alice membuka bibirnya dan merasakan sesuatu mas*uk kedalam rong*ga mulut*nya. Lid*ah mereka menari saling menji*lat dan menar*ik serta mengabsen satu-persatu gigi pada pasangan mereka. Hingga mereka benar-benar merasakan mem*anas dan nafas mereka membu*ru. Alice mendorong tubuh Anton dan melepaskan cium*an mereka karena kehabisan nafas.
“Kau harus belajar mengambil nafas yang baik sayang. Agar kau tidak hipoksia saat kita berci*uman lebih pa*nas nantinya.” Ucap pria itu bercanda.
Hipoksia adalah kekurangan oksigen dalam sel dan jaringan tubuh, sehingga fungsi normalnya mengalami gangguan. Hipoksia merupakan kondisi berbahaya karena dapat mengganggu fungsi otak, hati, dan organ lainnya.
__ADS_1
“Kau menyebalkan Anton.” Kesal gadis itu dengan pipi yang merah dan nafas yang masih membu*ru.
Bersambung....