
-Galih PoV-
Sebelumnya aku pikir akan sedikit menyedihkan saat melihat cinta tak tergapai mu menikah dengan pria lain dan melihat senyum bahagianya menggembang namun bukan karena diri mu lah alasannya dia tersenyum.
Terlukakah? Sakitkah? Bencikah?
Ternyata tidak.. Saat melihatnya tersenyum penuh kebahagiaan aku baru menyadarinya ternyata dia bisa memberikan senyuman yang sangat indah ketika bersamanya. Sedangkan meski sering bersama ku senyumannya tidak pernah seindah senyumannya saat dia bersamanya.
Tidak rela kah? Tidak.. Tentu saja sudah aku relakan.. Perasaan tidak bisa di paksakan.. Jatuh cinta tidak bisa di rencanakan dan tidak bisa kita kendalikan. Kapan dan dengan siapa kita akan jatuh cintapun kita tidak akan mengetahuinya sebelum kita merasakannya sendiri.
Namun hal yang paling tepat adalah tahu kapan harus mengambil keputusan yang benar. Tahu kapan saatnya untuk mengejar dan berjuang ataupun tahu kapan saatnya untuk berhenti dan merelakan.
Saat memang tidak ada kesempatan bukankah lebih baik menyerah dan mencoba untuk menata hati kembali agar bisa memulihkan hati yang terluka dengan segera. Jika memang ada kesempatan atau tidak ada penghalang, tentu saja harus terus berjuang dan berusaha untuk mendapatkannya.
Seperti diri ku yang terus berusaha mendekatinya saat memang dia membutuhkan aku, aku selalu ada di sisinya menemaninya dan terus berusaha agar dia tahu bahwa aku berada di sana dan akan selalu disisinya. Namun saat aku mengetahui ada pria yang jauh lebih mencintainya dan dia juga masih mengharapkan pria itu, aku masih terus berusaha.. Namun saat kau menyadari bahwa kau tidak akan pernah bisa merebut posisi pria itu di hatinya dan terlebih lagi ada malaikat kecil yang membutuhkan mereka bersama, inilah waktu yang tepat untuk ku melepaskan dan merelahan mereka dengan mendoakan kebahagiaan untuk mereka berdua.
Sudah ku persiapkan hati ini untuk merelakan dengan sepenuh hati dan sepertinya keputusan ku itu benar. Dia sangat bahagia ketika pria itu berdiri tepat di sampingnya. Dan aku ikut berbahagia untuk mereka berdua.
Iri? Tentu saja iya.. Aku sedikit iri ketika pria itu berhasil menemukan tambatan hatinya meski banyak cobaan yang mereka lalui namun mereka masih bersama dan saling berpegangan tangan menghadapinya.
Aku iri karena aku juga berharap bisa menemukan belahan jiwa yang bisa berjalan bersama, menggenggam tangan menjalani semua lika liku serta krikil kerikil di dalam hidup ini.
Haih.. Pikiran ku jadi melow begini, apakah karena pengaruh wine di acara pernikahan membuatku jadi ikutan melow.
__ADS_1
Aku masih memperhatikan interaksi Anton dan Juga Alice.. Pria itu dengan setia menemani Alice dengan sabar menghampiri para tamunya bahkan memberikan perhatian-perhatian kecil kepada gadis itu.
Sungguh.. Ini keputusan yang paling tepat yang telah aku lakukan.. Aku terlalu fokus melihat interaksi sepasang pengantin baru sampai aku tidak menyadari kehadiran seseorang di samping ku.
"Jadi ini siapa?" Tanya Roy yang membuatku memalingkan wajah ku dari sepasang pengantin baru itu dan memandang wajah Roy dan kemudian berpaling ke wajah orang yang duduk di samping ku.
"Oh dia.. Dia adalah adik ku Naira." Jawab seseorang di samping ku yang ternyata adalah Juna.
Kapan anak ini tiba? Baru saja aku ingin menanyakan kapan dia sampai, namun aku malah kaget dan terpukau dengan kehadiran seorang gadis yang sedang berdiri tepat di belakang kursi Juna.
Tunggu! Aku merasa gadis ini tidaklah asing.. Apakah aku pernah bertemu dengannya? Jika ya.. Dimana ya? Dan siapakah dia? Mengapa aku begitu mudah lupa di saat seperti ini.. Aku yakin dia tidak ada di dalam daftar gadis para mantan-mantan ku ataupun dafrar gadis gadis penggemar ku.
Ehh tunggu dulu.. Aku baru ingat! Bukankah ini adalah gadis yang waktu itu? Gadis yang ada di bar pada waktu itu. Coba aku lihat lagi.. Ya.. Meski kini pakaiannya menggunakan dress berwarna peach dengan model kerah halter dan dengan make up flawles malah menambah kesan cantik dan fresh di wajahnya. Berbeda dengan waktu di bar saat itu, dia mengenakan dress merah terang yang dia kenakan dan itu terlalu mencolok di mata ku dan dia mwnggunakan makeup yang sedikit lebih tebal meski tidak berlebihan namun tetap enak di pandang. Namun saat ini hanya ada satu kata yang bisa mendeskripsikan dia saat ini.
"Kau berbicara sesuatu?" Tanya Juna yang sepertinya mendengar sesuatu dari bibir ku.
Aku terkesiap dan langsung sadar akan situasi saat ini, "Ah.. Emhh tidak.. Aku hanya merasa tidak asing melihat gadis di belakang mu. Sepertinya aku pernah melihatnya. Namun aku masih mengingat ingat dimana ya aku pernah bertemu dengannya." Ucap ku mencoba berkelit agar tidak terlalu terlihat melamun saat memandangi dengan lekat wajah Naira.
"Ha serius? Kapan dimana? Dia biasanya tidak di sini.. Kau bisa bertemu dimana dengannya?" Cecar Juna lagi penasaran dengan pertemuan antara aku dan adiknya itu.
"Ehem.. Sepertinya kita tidak pernah bertemu tuan.. Saya baru datang ke kota ini beberapa hari yang lalu dan saya selalu di rumah.. Mungkin hanya mirip saja dengan saya.. Maklum wajah saya sedikit pasaran." Ucap Naira cepat dan segera menolak prasangka dari ku, mungkin agar aku tidak banyak berbicara macam-macam di hadapan abangya atau pertemuan itu adalah sesuatu hal yang akan membuatnya di marahi oleh Juna? Entahlah.. Akupun jadi penasaran dan ingin menggodanya.
"Ahh benarkah.. Mungkin saja.. Tapi.." Ucap ku berjeda.. Sengaja ingin melihat bagaimana reaksinya.
__ADS_1
Dan benar saja rona wajah cantiknya tiba-tiba terlihat sedikit pucat. Namun raut wajahnya masih mencoba tenang dan datar.
"Tapi mungkin saja aku hanya salah mengenali seseorang." Lanjut ku sambil menyunggingkan senyuman licik ku dan sedikit mengejek gadis itu.
Ternyata benar, pertemuan ku dengannya sepertinya sangat membuatnya takut jika ketahuan oleh Juna.. Ini sedikit menarik.
Sepertinya gadis itu tahu bahwa dia telah berbohong tidak mengenali ku dan malah ingin berpura-pura baru melihat ku. Menarik.. Sangat menarik.
"Ehem.. Abang Jun.. Aku tadi tidak sengaja bertemu dengan teman.. Aku pergi ke meja sana saja ya." Ucap Naira cepat mungkin karena gadis itu tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini, yang bisa saja berubah ke arah yang berbahaya untuknya.
"Ahh benarkah itu? Kebetulan sekali.. Ya sudah kalau begitu kau pergilah." Jawab Juna memberikan izin untuk adiknya pergi ke kursi yang lain.
Dengan cepat Naira pergi meninggalkan meja tempat Abangnya, aku dan juga Roy berada. Benarkah dia memiliki teman yang kita kenal? Kemana dia pergi?.
Entah mengapa itu sedikit membuatku penasaran dan aku mengikuti gerak geriknya melalui ekor mataku.
Tunggu! Bukankah itu keluarga Sinta.. Bagaimana bisa dia kenal dengan Viki? Viki baru lulus sekolah Menengah Atas. Bukankah dia kuliah bukan daerah sini? Ahh.. Apakah mungkin dia hanya menghindari ku? Dan duduk asal saja?.
Aku jadi penasaran sebenarnya ada apa ini?.
Namun entah mengapa aku tidak suka dengan situasi pemandangan saat ini.
Bersambung....
__ADS_1