JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Penjaga tampan


__ADS_3

Alice muncul di apartemennya di temani oleh Anton.


"Alice.. kau tidak apa-apa?" Tanya Maya langsung menghambur ke hadapan gadis itu dan memeluk tubuh Alice.


"Aku tidak apa-apa." Ucap Alice cepat melihat Maya begitu khawatir kepadanya.


"Maafkan aku yang telah lalai menjaga mu." Ucap wanita itu lagi.


"Bukan salah mu." Ucap Alice lagi.


"Sepertinya kau membutuhkan waktu mu. Kalau begitu aku pamit dahulu." Ucap Anton.


"Terima kasih Anton." Ucap Alice dan memberikan senyuman manisnya mengiringi kepergian pria itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Maya yang tidak mengerti mengapa Alice malah bersama tunangannya.


"Aku akan menjelaskannya nanti. Aku harus menghubungi atasan ku dahulu. Bolehkah aku pinjam ponsel mu?" Tanya Alice kepada Maya.


"Tentu.." Ucap Maya dan masuk ke dalam kamar dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas dan kemudian menyerahkan ponsel itu kepada Alice.


Alice menekan beberapa angka menghubungi nomor Roy yang telah dia hapal. Dan muncullah ID BB, Alice tersenyum melihat Id yang di simpan Maya.


"Haloo.." Ucap pria di sebrang telepon itu datar.


"Ini aku kak.. aku telah kembali ke apartemen." Ucap Alice.


"Alice.. kau tidak apa-apa? bagaimana keadaan mu?" Ucap Roy yang jadi panik saat mendengar suara Alice.


"Aku tidak apa-apa kak." Ucap Alice menenangkan pria itu.


"Kami akan segera datang ke sana." Ucap Roy dan setelah itu mematikan panggilan telepon itu.


"Mereka akan kesini." Ucap Alice memberitahu kepada Maya.


Maya hanya sedikit mengerutkan dahinya sesaat kemudian bersikap seperti biasa lagi.


Tidak berapa lama terdengar bunyi bel apartemen mereka.


Ting tong


Maya bergegas membukakan pintu.


"Di mama Alice?" Tanya Roy yang baru saja muncul di hadapannya. Pria itu tampak sekali khawatir di susul oleh Galih yang kondisinya juga sama dengan Roy.

__ADS_1


"Alice ada di dalam." Ucap Maya dan membuka lebar pintu apartemennya.


Galih dan Roy segera berhamburan masuk kedalam apartement itu. Di sana dia baru melihat Juna yang berdiri di ambang pintu.


"Masuklah." Ucap Maya mempersilahkan Juna untuk masuk dan kemudian wanita itu hendak meninggalkan Juna yang masih diam berdiri di ambang pintu itu.


Namun langkah Maya terhenti saat dia baru menyadari tangannya di cekal oleh Juna dan dia jadi berdiam diri di depan pintu itu.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Juna dan memperhatihan wanita itu dari atas kepala hingga ujung kaki wanita itu.


"Tentu saja aku tidak apa-apa. Bukan aku yang di culik." Ucap Maya bingung dengan pertanyaan Juna.


"Syukurlah kau baik-baik saja." Ucap Juna dan kemudian masuk melewati tubuh Maya yang seketika mematung setelah mendengarkan ucapan Juna.


"Ada apa sih dengan orang itu, mengapa sikapnya jadi semakin aneh." Gumam Maya pelan. Namun kemudian dia juga berjalan masuk ke dalam apartemen itu.


"Alice kau tidak apa-apa?" Tanya Roy dan Galih bersamaan saat melihat Alice baru saja keluar dari kamarnya.


"Aku tidak apa-apa." Ucap Alice menenangkan semha orang.


"Wajah mu.." Ucap Galih menggantung.


"Tidak apa hanya sedikit lecet." Ucap Alice lagi.


"Aku di culik dan di sekap di sebuah gudang kayu yang terbengkalai. Aku bisa terlepas, namun sayangnya aku tidak bisa menangkap orang itu." Jelas Alice singkat.


"Kaua benar tidak apa-apa?" Tanya Galih lagi memastikan.


"Ya.. aku tidak apa-apa." Ucap Alice menenangkan mereka.


"Siapa yang menculik mu? apakah anak buah Bos Besar? ataukah Bahar?" Tanya Roy menyelidik.


"Bisakah kalian memberiku waktu.. aku pasti akan menjelaskannya kepada kalian." Ucap Alice serius.


"Baiklah jika begitu.. aku tahu kau pasti memiliki pemikiran mu sendiri. Tapi apapun itu, jangan membuat diri mu celaka." Ucap Roy dan percaya kepada Alice. Akice menganggukkan kepalanya yakin.


"Baiklah jika begitu. aku akan pergi. Jika kau sudah siap menceritakannya katakan kepada ku." Ucap Roy dan pergi meninggalkan apartemen itu.


"Jika kau butuh sesuatu hubungi saja aku." Ucap Galih dan kemudian mengikuti Roy segera pergi dari apartemen itu.


Juna masih enggan untuk pergi dari sana.


"Kau tidak pergi?" Tanya Maya bingung, pria itu sepertinya tidak ingin meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Aku masih mau di sini. Aku baru saja tiba." Ucap Juna acuh tak acuh.


Alice hanya menggelengkan kepalanya melihat interaksi keduanya dan memilih masuk ke dalam kamarnya dan mengganti pakaiannya dengan kaus putih pendek yang memperlihatkan bahunya dan mengenakan celana jeans hitam.


"Kau mau kemana?" Tanya Juna mengerutkan keningnya.


"Keluar sebentar." Ucap Alice acuh dan segera pergi meninggalkan Maya dan Juna di apartemen mereka.


"Kau tidak mengejarnya atau mengantarnya?" Tanya Maya bingung. Juna masih saja duduk santai di sofanya dan hanya mengambil ponsel di saku celananya.


"Alice baru saja keluar. Sepertinya dia mau pergi. Jagalah dia." Ucap Juna santai dan kemudian mematikan ponselnya.


"Sudah ada penjaga tampannya sekarang." Ucap Juna lagi santai.


"Lalu mengapa kau masih di sini? sekarang kau juga bisa pergi dari sini." Ucap Maya ketus.


"Aku juga sedang menjaga mu tentu saja." Ucap pria itu acuh. "Agrhh aku lapar belum makan siang. Adakah sesuatu yang bisa aku makan?" Tanya Juna lagi.


"Ishh menyebalkan." Ucap Maya dan malah meninggalkan pria itu sendirian di sofa dan dia masuk ke dalam kamarnya.


"Aihh kejamnya." Ucap Juna dan mengambil ponselnya lagi dan memesan makanan dari ponselnya sendiri.


Sedangkan di sisi lain..


Alice memasuki sebuah taksi dan memberitahukan kepada supir untuk mengantarnya menuju Pure Bar sesuai dengan ucapan pria itu. Tanpa di ketahui Alice, Galih mengikutinya sesuai dari informasi yang di berikan oleh Juna.


"Aku tidak akan membiarkan mu dalam bahaya lagi Alice." Ucap Galih dan masih mengikuti taksi yang di naiki gadis itu.


"Pure Bar?" Gumam Galih bingung dengan pemberhentian Alice ini. Galih segera memarkirkan mobilnya dan segera masuk mengikuti gadia itu.


Alice masuk dan melihat sekelilingnya dan di sana lumayan sepi, karena ini masih siang hari, gadis itu mendekati seorang pelayan dan menanyakan sesuatu.


"Ruang 201 di mana?" Tanyanya penasaran.


"Mari ikuti saya Nona." Ucap Pelayan itu dan menunjukkan jalan melewati beberapa lorong menuju ruangan yang di tuju.


"Di sini Nona." Ucap pelayan itu dan Alice bisa melihat angka 201 yang di tempel di pintu itu.


"Terima kasih." Ucap Alice dan menyerahkan beberapa lembar uangnya kepada pelayan itu.


Alice mulai menekan hendle pintu itu dan mendorong pintu itu. Dia bisa melihat seorang pria yang sebelumnya dia temui di gudang itu sedang duduk dengan wajah tegangnya.


"Ahh ternyata kau tidak lari.. aku pikir kau akan melarikan diri mu." Ucap Alice ketus dan masuk kedalam ruangan itu.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2