
Anton memarkirkan mobilnya di ruangan khusus. Kemudian dia berjalan menuju pintu lebar dan besar, dia mengeluarkan passcardnya sama seperti waktu pertama kali mereka bertemu. Pintu itu terbuka lebar ternyata pintu itu adalah sebuah lift berukuran super besar dan luas. Empat kali lebih luas dari pada lift biasa, mungkin bisa masuk 5 mobil sekaligus kedalam lift ini. Alice terbengong melihat semuanya selain itu yang biasanya dinding lift berupa baja atau kaca, ini malah berupa aquarium kaca raksasa yang mengelilinginya.
“Woahhh Kau sebenarnya siapa Anton?” Ucap gadis itu saat tiba tepat di lantai pria itu tinggal. Belum sempat Anton menjawab pertanyaan Alice, pintu lift sudah terbuka. Disana menampakkan bahwa mereka sudah masuk di dalam rumah, lebih tepatnya mereka tidak terlalu jauh dari halaman belakang berupa kolam renang pribadi milik pria itu. Gadis itu hanya menganga melihat semuanya.
“Ayo..” Ucap pria itu dan pria itu langsung melenggang jalan menuju ke arah ruang makan.
“Astaga,, siapa sebenarnya pria itu.”
“Masuklah.” Teriaknya dari dalam. Alice segera mengikutinya dan duduk di meja makan itu. Makanan sudah tersedia di atas meja. Namun Alice tidak melihat Bu Maya atau para pelayan yang lainnya.
“Anton siapa kau sebenarnya?” Tanya Alice tanpa basa-basi.
“Aku pemilik gedung ini. jadi wajarkan jika aku merenofasi semua ini sedemikian rupa untuk memudahkan dan memberi kenyamanan untuk ku tinggal.” Ucap pria itu lugas.
“Ahh ternyata begitu, pantas saja.” Ucap Alice mengerti.
“Anton ada sesuatu hal yang ingin aku katakan padamu.” Ucap Alice serius.
“Nanti saja, sekarang makanlah dahulu, aku tahu kamu pasti sudah lapar.” Ucap Anton dan memulai makan siang mereka dengan tenang.
“Anton…” Ucap Alice, saat mereka telah menyelesaikan makan siangnya dan sedang berbicara di sofa di ruang keluarga.
“Katakanlah Ara.” Ucap Anton.
“Terima kasih karena kamu sudah menyayangi ku dan mencintaku Anton. Namun aku tidak bisa menerima mu.” Ucap gadis itu lugas, Anton memiringkan kepalanya dan memperhatikan gadis itu serius.
“Mengapa?” Tanya pria itu akhirnya.
“Kamu berhak mendapatkan wanita lain yang jauh lebih baik dari ku, yang lebih pantas untuk berdiri di sampingmu untuk mendampingimu.” Ungkap gadis itu.
“Mengapa kau merasa tidak pantas?”
“Aku hanya gadis biasa Anton, aku tidak memiliki status sosial yang tinggi ataupun pendidikan yang tinggi sepertimu yang bisa berdiri mendampingimu. Dan lagipula selain itu banyak hal yang tidak bisa aku beritahukan kepadamu.” Jelas gadis itu.
“Aku tidak masalah dengan hal itu. Aku juga menyembunyikan banyak hal dari orang lain, terutama dengan orang tua ku. Jika demikian, mengapa kita berdua tidak pelan-pelan mencoba untuk saling membuka diri, aku hanya menginginkannya dengan mu Alice, tidak dengan orang lain.” Ucap pria itu menolak keinginan gadis itu.
“Kau bisa dalam bahaya jika terus bersama ku Anton.” Ucap gadis itu akhirnya.
“Aku akan selalu baik-baik saja begitu juga dengan mu Ara, aku bisa menjaga diriku sendiri percayalah padaku. Ku mohon izinkan aku dan dirimu untuk memulai ini.” Ucap pria itu memohon sambil menggenggam kedua tangan Alice.
“Tidak bisa Anton, kamu terlalu jauh untuk ku gapai.” Ucap gadis itu sambil menepis genggamannya.
“Maka kau tidak perlu khawatir, aku yang akan menjangkaumu dan mendekatimu, kau hanya perlu untuk memberikan kita kesempatan Ara.” Ucap pria itu.
“Anton, banyak hal yang aku harus selesaikan selain drama percintaan ini.” Ucap Alice akhirnya.
__ADS_1
“Maka kita berdua akan menyelesaikan hal itu bersama.” Ucap Anton yakin.
“Kau sungguh keras kepala Anton.” Ucap Alice ketus.
“Terima kasih Atas pujiannya sayang.” Ucap Anton tersenyum dan mulai menggenggam kembali tangan gadis itu.
“Aku belum menerimamu.” Ucap Alice protes.
“Kau sudah menerima ku sayang. Aku bisa melihatnya jelas di matamu.” Ucap pria itu menggoda.
“Kemarilah..” Ucap pria itu sambil menarik Alice kedalam pelukannya.
“Terima kasih kau sudah memberikan kesempatan untuk kita berdua. Aku pasti akan selalu membuatmu bahagia. Aku tidak akan pernah mengecewakanmu.” Ucap Anton dan mengecup kening gadis itu. Alice hanya terharu mendengar pengakuan dari pria itu, bagaimanapun dia sesungguhnya memang menyukai pria itu.
Setelah saling mengungkapkan apa yang mereka rasakan dan menjadikan mereka pasangan, Alice dan Anton banyak berbicara perlahan mengenai diri mereka masing-masing. Awalnya Anton yang memulai menceritakan mengenai siapa dirinya itu.
“Baiklah aku memberitahumu aku adalah Antonius Hadi Jaya. Aku tidak ingin kau sampai tidak tahu siapa nama lengkap kekasihmu sendiri.” Gurau pria itu sambil tertawa.
“Emhh nama lengkapmu sepertinya tidak asing di telinga ku.” Ucap gadis itu.
“Hemm mungkin saja, siapa tau.” Ucap pria itu sambil tersenyum simpul.
“Tunggu jangan bilang Hadi Jaya pemilik Panti Asuhan Cahaya Hati?” Tanya gadis itu.
“Aku tinggal dan besar di panti itu, bahkan aku di sekolahkan di salah satu sekolah milik mereka.” Ucap gadis itu keceplosan.
“Benarkah itu Ara?” Ucap Anton terkejut.
“Baiklah aku akan ceritakan semuanya padamu. Namaku adalah Alice Anatasya, itu nama yang di berikan ibu kepala panti padaku. Nama Ara adalah nama toko bunga ku, namun orang-orang disana lebih mengenal nama ku dengan panggilan Ara, jadi aku terbiasa di panggil Ara.” Ucap gadis itu sedikit berbohong.
“Ahh ternyata begitu.”
“Apakah kau menyesal sekarang Anton?” Tanya Alice.
“Menyesal mengapa?” Tanya anton bingung dengan pertanyaan Alice.
“Aku bukan siapa-siapa. Aku malah adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan milik keluargamu. Bahkan aku di besarkan dan bersekolah di salah satu sekolah swasta milik keluarga kalian.” Ucap gadis itu sendu.
“Tidak, aku tidak pernah merasa menyesal atau apapun itu. Aku malah bersyukur ternyata jodoh ku tidak jauh-jauh ya.” Ucapnya tersenyum sambil mencuil hidung gadis yang sedang murung itu.
“Aku serius Anton.” Ucap gadis itu kesal.
“Aku juga serius Alice Anatasya. Aku mencintaimu dan aku menginginkan mu untuk menjadi pendamping ku hingga aku menutup mata nanti.” Ucap pria itu serius.
“Kau terlalu konyol Anton, kita baru mulai. Belum tentu juga keluarga mu akan setuju dengan semua ini.” Ucap gadis itu.
__ADS_1
“Alice, keluarga ku pasti akan setuju dengan kita. Kau gadis yang cantik dan baik hati, mereka pasti akan menyukaimu.” Ucap pria itu.
“Tapi kau harus berjanji satu hal padaku Anton. Jika ternyata mereka tidak merestui kita, kau akan menyerah Anton.” Ucap Alice keras kepala.
"Astaga, kau ini benar-benar keras kepala Alice. Itu tidak akan pernah terjadi. Kedua kakak ku juga menikah dengan wanita yang mereka pilih sendiri, dan mereka bahagia menjalankan kehidupan mereka. Kedua orang tuaku tidak akan mencampuri urusan itu Alice.” Kesal Anton.
“Aku tidak mau tau Anton. Kau harus berjanji padaku dahulu.” Ucap gadis itu tetap pada pendiriannya.
“Astaga, baiklah sayang aku akan menurutimu. Astaga… adakah pasangan yang lain seperti kita, baru saja jadian beberapa menit yang lalu dan kita malah sudah membahas masalah putus. Aku berharap ini tidak akan menjadi kutukan.” Gerutu Anton.
“Aku hanya ingin semuanya jelas Anton. Aku tidak ingin menjadi bebanmu nantinya.”Ucap gadis itu.
“Ya ya ya baiklah. Hentikan pembicaraan kita soal itu. Bolehkah aku memelukmu sayang? Aku sungguh merindukanmu.” Ucap Anton kembali merentangkan tangannya. Alice mendekatkan dirinya dan menyandarkan wajahnya di dalam dada bidang pria itu.
"Ah ya aku melupakan sesuatu.. Tunggu sebentar." Ucap Anton dan pergi meninggalkan Alice di ruang tamu.
Beberapa saat kemudian Anton datang dengan senyum yang mengembang dan membawa sebuah kotak kecil berwarna hitam beludru di tangannya.
"Entah mengapa saat aku melewati sebuah toko, aku merasa ini akan cocok untukmu. Bukalah." Ucap Anton memberikan kotak beludru hitam itu.
"Apa ini?" Tanya Alice bingung.
"Bukalah agar kau tahu apa isinya." Ucap Anton cepat.
Alice membuka kotak beludru berwarna hitam itu. Disana terdapat dua buah cincin dengan desain simple, dengan permata berwarna biru kecil di tengahnya.
"Apa ini?" Tanya Alice tambah bingung.
"kamu kan sekarang sudah jadi pasangan ku, jadi kamu pakai satu, aku akan pakai satu juga." Ucap pria itu tersenyum senang.
"Apakah kau sudah memprediksi ini?" Tanya Alice penasaran.
"Tentu saja tidak. Tadinya kalau kau menolakku, aku tetap akan memberikannya satu kepadamu dan satunya lagi aku akan diam-diam memakainya sebagai kalung. Lihat aku sudah punya rantainya." Ucapnya dengan senyum mengembang dan memperlihatkan sebuah rantai kalung berwarna silver.
"Bukankah aku menolakmu?" Ucap Alice pura-pura kesal.
"Ya kau menolak ku di bibir namun di hatimu kau menerimaku sayang." Ucapnya jahil. Kemudian mengambil cincin yang berukuran lebih kecil dari dalam kotak beludru hitam itu dan memakaikannya ke jari manis tangan kanan Alice. Lalu Anton mengambil cincin yang berukuran besar dan menyerahkannya kepada Alice.
"Pakaikan dong sayang." Ucapnya manja dan mendekatkan jari tangan kanannya kepada Alice.
"Dasar Manja." Ucapnya pura-pura kesal lalu tersenyum kemudian.
“Terimakasih sayang. Aku sungguh mencintaimu Alice, jangan pernah berpikiran untuk menjauhi ku apalagi meninggalkan ku.” Ucap pria itu sambil mengecup puncak kepala gadis itu. Membuat Alice merasa tenang sekaligus takut akan masa depannya nanti.
Bersambung....
__ADS_1