JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Sembunyi


__ADS_3

Matahari pagi yang hangat menyentuh sisi wajah kanan Rara yang masih terlelap, seketika ia mengerjap-ngerjapkan matanya ia merasa bingung berada di mana, pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah kaca tinggi dan lebar yang memperlihatkan pemandangan gedung-gedung tinggi dan hiruk-pikuk jalanan pagi yang ramai dari atas sana. Belum lagi dia merasakan perutnya tertindih sesuatu, kemudian gadis itu menggangkat benda itu ternyata adalah sebuah lengan.


“Astaga….” Ucapnya terkejut saat melihat sebuah tangan yang melingkari pinggangnya.


“Emhhh berisik sekali, aku masih mengantuk.” Gumam pria itu dan berbalik memunggungi gadis itu, tanpa mengetahui apa yang terjadi.


“Siapa kau?” Tanya gadis itu bingung melihat pria itu sepertinya tidak mengenakan pakaian. Dan gadis itu baru menyadarinya dirinya sendiri tampak kacau dengan tubuh polos tanpa benang sehelaipun menempel pada tubuhnya.


“Astaga apa yang terjadi.” Ucap gadis itu frustasi, karena dia tidak mengingat dengan jelas. Gadis itu mencoba beranjak dari kasur.


“Awhh.” Keluhnya pelan.


“Astaga apa yang aku lakukan?” Ucapnya pelan sambil menutup mulutnya dan dia mulai bergerak memunguti pakaian dalam dan dress yang dia gunakan semalam. Gadis itu perlahan-lahan mengambil barang-barangnya dan pergi meninggalkan tempat itu dengan tertatih-tatih.


Setelah keluar dari hotel itu, gadis itu menghentikan sebuah taksi.


“Mau kemana Non?” Tanya supir taksi.


“Asrama bina bangsa Pak.” Ucap gadis itu dengan mata yang mulai menggenang oleh air mata.


“Anda baik-baik saja Non?” Tanya supir itu.


“Ya saya baik-baik saja Pak.” Ucap gadis itu, karena dia tidak yakin apa yang harus dia katakan terlebih lagi dia tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi padanya.


"Sudah sampai Non.” Ucap supir itu menyadarkan gadis itu dari lamunannya.


“Terima kasih Pak.” Ucap gadis itu dan memberikan biaya taksi dan segera pergi masuk ke dalam asrama.


Dia harus mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, dia akan menanyakannya pada Intan sahabatnya. Dia membuka pintu kamar asrama dan melihat Intan tidur di kasurnya dengan tenang. Pandangan matanya mulai mengabur akibat air mata yang mulai berkumpul.


“Intan, katakana pada ku apa yang sebenarnya terjadi?” Ucap Rara tanpa basa-basi dengan air mata yang tiba-tiba meleleh di pipinya.


“Emhhh apa sih pagi-pagi udah ribut aja.” Ucap gadis itu yang masih bergelung dengan selimutnya.


“Intan, apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa ada di sini sedangkan aku tidak bersama mu?” Ucap Rara masih dengan air mata menghiasi wajahnya yang sedih, dan kecewa.


“Apa sih Ra, aku masih ngantuk.” Ucap Intan dan menutupi kepalanya dengan selimut.


“Intan! Jawab aku apa yang sebenarnya terjadi. Aku tiba-tiba bangun di atas kasur dengan seorang pria. Intan jelaskan kepadaku sekarang juga!” Ucap Rara dengan marah dan menarik selimut yang di gunakan Intan menutupi kepalanya.


“Apalagi yang perlu aku jelaskan sih Ra, kau bangun di pagi hari dengan seorang pria di atas kasur sudah pasti kalian menghabiskan malam yang panjangkan? Apalagi yang perlu aku jelaskan?” Ucap Intan kesal.


“Intan! Kau tau apa yang aku maksudkan, kau mengenalku sejak kita masuk ke universitas ini, kau tahu betul aku bagaimana. Mana mungkin aku akan menyerahkan diri ku kepada orang asing.” Jelas Rara histeris.


“Sudahlah Ra, hal itu bukan hal yang tabu lagi di jaman sekarang. Kau seharusnya bersyukur aku mendapatkan ini. ini untuk mu.” Ucap Intan dan memberikan cek 200juta atas nama Rara sendiri.


“Apa maksud semua ini Tan. Jelaskan!” Ucap Rara masih dengan linangan air mata di pipinya.


“Baiklah aku jelaskan. Astaga rebut sekali sih masih pagi juga.” Keluh Intan. Rara hanya menyipitkan matanya jengah.


“Baiklah. Beberapa minggu lalu saat kau dan aku mendapat praktik yang sama di IGD, kau ingat ada seorang pria yang pingsan karena kelelahan dan dehidrasi (kekurangan cairan) yang di bawa oleh segerombol orang berpakaian hitam layaknya mafia-mafia di film-film sana. Nah setelah kita membantu menangani pria itu, salah seorang keluarga pria itu menghampiriku dan mengatakan bahwa dia mengingnkan mu. Dia akan memberikan harga yang mahal untuk satu malam, apalagi jika kau masih suci. Dan aku menyetujuinya.” Jelas gadis itu.


“Apa kau gila Intan? Kau menggunakan aku untuk mendapatkan uang? Apakah kau sudah tidak waras? Kenapa kau tidak jual saja dirimu sendiri?” Kesal Rara.


“Aku juga ingin melakukannya jika aku memang masih suci.” Ucap Intan kesal.


“Lalu kenapa kau malah menggunkan ku, tak bisa kah kita bekerja saja untuk mendapatkan uang yang baik?” kesal Rara.


“Aku terpaksa untuk biaya kuliah dan biaya hidup kita, dan kita memerlukan biaya yang banyak untuk itu. Lagi pula kau pun baru saja kehilangan ayah mu kan. Kau tidak memiliki siapa-siapa lagi untuk menanggung biaya hidup dan kuliahmu. Bukankah ini lebih baik?” Ucap Intan tanpa mengetahui situasi yang sebenarnya terjadi.


“Astaga Tan, teganya kamu menjualku dan keadaan keluargaku sebagai alasan mu. Kau ambil ini, aku tidak membutuhkannya.” Ucap Rara melemparkan cek tersebut dengan air matanya yang mengalir deras dan segera pergi dari sana.


“Maaf Ra, aku terpaksa melakukannya.” Ucap Intan sambil menitikan air matanya juga.


Setelah kejadian tersebut hubungan persahabatan Intan dan Rara menjadi menjauh. Intan yang merasa bersalah namun tidak dapat mengungkapkan alasan yang sesungguhnya. Dan Rara yang tidak mengerti jalan pikiran sahabatnya itu jadi enggan untuk bercengkrama seperti biasanya. Rara sibuk kuliah sambil bekerja seperti biasa untuk memenuhi kebutuhannya dan biaya kuliahnya meski sebenarnya keluarganya sangat mampu untuk membiayainya. Dan dia memiliki banyak uang tabungan di rekening lain kedua orang tuanya dan rekening miliknya sendiri.


Flash back off..


Dua bulan kemudian saat masuk semester 5 Rara masuk ke dalamruang kelas dengan wajah yang pucat.


“Ra kau baik-baik saja?” Tanya salah satu teman seangkatannya yang duduk di sebelahnya.


“Ahh, iya Man agak kurang enak badan nih.” Ucap Rara.

__ADS_1


“Kamu terlihat pucat Ra, lebih baik istirahat saja.” Ucap Manda mengingatkan.


“Gak apa-apa, mungkin karena kelelahan kurang tidur aja.” Ucapnya tidak menghiraukan ucapan Manda.


Materi pelajaranpun di mulai 10 menit kemudian Rara tidak bisa menahan rasa pusingnya dan pingsan di kursi duduknya.


Brughh…


“Rara,, astaga Rara..” Ucap Manda yang melihat Rara pingsan di kursiya dengan kepala yang bersanda pada meja. Semua orang yang ada di sana khawatir dengan keadaan Rara.


“Boy tolong bawa Rara ke ruang kesehatan.” Ucap Manda pada Boy salah satu perawat pria di angkatannya. Pria itu membantu memindahkan tubuh Rara ke ruang kesehatan.


“Apa yang terjadi?” Tanya dokter di sana yang melihat tubuh Rara dalam gendongan Boy.


“Gak tau Dok, sepertinya kelelahan. Dari tadi sih wajahnya udah kelihatan pucat, udah di suruh istirahat tapi Rara gak menghiraukan dan tiba-tiba pingsan.” Jelas Manda.


“Apa yang terjadi?” Tanya Intan yang mendengar rebut-ribut di samping tempat tidur yang dia tempati dan dia mendengar nama Rara di sebut-sebut.


“Rara..” Ucapnya.


“Apa yang terjadi Dok?” Lanjutnya khawatir.


“Boy kamu bisa meninggalkan ruangan, biar saya periksa Rara terlebih dahulu.” Ucap dokter itu kepada Boy. Boy meninggalkan ruang kesehatan kemudian.


Dokter memeriksa kondisi Rara, mulai dari tekanan darah, nadi, detak jantung dan pernafasan, pupil mata dan meraba pada bagian perut Rara.


“Dok bagaimana keadaannya?” Tanya Intan cemas, karena dokter hanya diam saja.


“Intan, kamu teman dekatnya kan?” Tanya dokter Maya.


“Iya dok. Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Intan benar-benar bingung.


“Manda.. kamu sudah boleh pergi, Rara hanya kelelahan.” Ucap dokter Maya, dan Manda meninggalkan ruangan itu.


“Dok, sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Manda benar-benar bingung.


“Rara hamil, saat ini mungkin sekitar 2 atau 3 bulan.” Ucap dokter itu. Manda langsung menutup mulutnya. Matanya berair, ini semua adalah salahnya mungkin yang terjadi hari ini adalah kesalahannya waktu itu. Karena dia yakin Rara pasti tidak akan mungkin melakukannya dengan pria lain.


“emhh kenapa aku ada disini?” tanyanya bingung.


“Kamu pingsan saat kelas tadi, lalu di bawa kesini.” Ucap dokter Maya.


“Ahh terima kasih Dok. Saya sudah lebih baik, saya akan pergi dulu.” Ucap Rara dan akan segera bangkit dari tidurnya.


“Ra, ada yang harus kamu tau. Saat ini kamu sedang hamil 2 atau 3bulan. Kamu harus lebih memperhatikan kondisi janinmu.” Ucap dokter Maya yang membuat Rara seketika membelalakan matanya.


“Apa maksud doter?” Tanya Rara bingung.


“Kapan terakhir kali kamu haid Ra?” Tanya dokter Maya. Rara kanya menutup mulutnya tidak percaya bahwa dia lupa sudah 2bulan ini tidak datang haid, dia pikir itu karena dia terlalu lelah dan banyak pikiran.


“Astaga bagaimana ini.” Ucap Rara bingung.


“Bagai manapun semuanya sudah terjadi Ra, pikirkanlah baik-baik kesehatan kalian berdua. Dan datanglah ke dokter kandungan untuk lebih memastikannya.” Ucap dokter maya kemudian meninggalkan ruangan itu.


“Apa yang harus aku lakukan?” Tanya Rara kepada dirinya sendiri dengan air mata yang membasahi wajah cantiknya.


“Ra… ma’afkan aku, ini pasti karena kejadian waktu itukan?” Ucap Intan. Awalnya Rara tidak menyadari kehadiran Intan disana.


“Ma’afkan aku Ra..” Ucap Intan lagi sambil memeluk tubuh Rara yang bergetar karena tangisannnya.


“Bagaimana ini Tan? Apa yang harus aku lakukan?” Tanya Rara bingung.


“Apapun yang terjadi aku akan selalu mendampingimu Ra. Kamu yang kuat ya hadapi semua ini.” ucap intan menguatkan Rara.


Beberapa hari kemudian, kehamilan Rara mulai tersebar di kalangan kampus, banyak orang yang mencibir dan merendahkan Rara.


“Ish, wajah dan penampilannya seperti gadis baik-baik. Nyatanya sama saja dengan wanita yang mangkal di pinggir jalan saat malam hari.” Ucap salah satu mahasiswi saat Rara melewatinya.


“Jangan dengarkan mereka Ra, aku yang paling tau kamu.” Ucap Intan membela dan menenangkan Rara.


Rara dan Intan masuk dan mulai kelasnya. Mereka serius dalam belajar dan memperhatikan segala hal yang di jelaskan oleh dosen di depan sana.


“Ra, kamu di panggil dekan.” Ucap dosen yang mengajar tadi saat kelas selesai. Semua siswa yang masih ada di sana langsung bisik-bisik berkelompok.

__ADS_1


“Pasti masalah dia hamil. Mungkin dia akan di keluarkan Karena hamil di luar nikah dan memalukan nama kampus ini.” Ucap salah satu mahasiswi di tingkatnya.


“Astaga tidak bisakah kalian diam saja jika memang kalian tidak tau apapun. Toh kalian tidak akan di anggap bisu meski kalian tidak berbicara.” Ucap Intan kesal dan menarik Rara pergi dari sana menuju ruang dekan.


“Ra, maaf saya tau kamu anak yang pintar dan rajin, namun banyak mahasiswi maupun orang tua yang komplen masalah ini. mungkin karena mereka tahu bahwa kamu belum menikah namun sudah hamil dan takut malah memberikan efek buruk bagi anak mereka.” Ucap Dekan Rino.


“Bagaimana kalau saya berikan kamu cuti untuk sementara atau kamu ingin saya berikan surat pindah ke kampus lain? Agar memudahkan kamu beradaptasi disana jika kamu ingin.” Ucap dekan memberi solusi.


“Terima kasih pak Rio, akan saya pikirkan.” Ucap gadis itu dan pergi dari sana.


“Bagaimana Ra? Apa katanya?” Tanya Intan Khawatir.


“Tan jadikan antar aku control pertama, aku masih agak takut.” Ucap Rara, mengabaikan pertanyaan Intan tadi.


“Baiklah kalau kamu tidak ingin membahasnya. Yuk kita berangkat sekarang saja.” Ucap Intan dan mereka pergi menuju RSIA yang dulu tempatnya praktik.


“Dokter Amarta.” Ucap Rara.


“Ahh hai Ra, praktik di sini lagi?” Tanya dokter itu.


“Saya mau periksa Dok.” Ucap gadis itu.


“Baiklah ada yang bisa saya bantu Ra, kamu terlihat serius sekali.” Ucap dokter itu.


“Dok saya hamil, untuk HPHTnya (Hari Pertama Haid Terakhir) sepertinya saya lupa.” Ucap gadis itu.


“Ahh begitu. Kira-kira bulan apa yang terakhir kamu ingat?” Tanya dokter Amarta.


“Sepertinya 2bulan lalu dok.” Ucap gadis itu.


“Baiklah, ayo kita periksa lewat USG (Ultra Sonografi) ya.” Ucap dokter Amarta.


Rara naik ke brankar dengan perlahan dan merebahkan dirinya. Intan yang membantunya menaikkan baju atasan Rara dan menurunkan sedikit rok yang di kenakan Rara. Intan juga membantu Rara memberikan gell pada bagian perut bawah Rara.


“Kita mulai ya..” Ucap dokter itu dan meletakkan batang USG pada gel dan melebarkannya ke setip sisi perut bawah Rara.


“Ra lihat, selamat ya kamu memiliki bayi kembar Ra. Saat ini usia kandungannya sekitar 12minggu, sebentar lagi akan memasuki trimester kedua, saya harap kamu lebih banyak mengkonsumsi vitamin dan makanan yang bergizi, karena ada dua nyawa yang berkembang pada tubuhmu Ra.” Ucap dokter Amarta.


Rara meneteskan air matanya, tidak menyangka dia diberikan sekaligus 2 bayi di dalam rahimnya ini. Intan juga tidak kalah terharu.


“Lalu apa rencana mu Ra?” Tanya Dokter Amarta.


“Rara tidak tau dok, semua begitu tiba-tiba dan Rara juga tidak punya siapa-siapa lagi untuk mendiskusikan semua ini.” Ucap Rara.


“Bolehkah saya memberikan saran Ra?” Tanya Dokter Amarta.


“Tentu Dok.” Ucap Rara.


“Bagaimana jika kamu pindah saja ke negara Z. Saya memiliki rumah sederhana disana selain itu di samping rumah saya juga tinggal om dan tante saya. Mereka juga seorang dokter mereka bisa membantu merawat dan mengawasi kamu, selain itu kamu bisa melanjutkan kuliah mu disana atau kamu juga bisa cuti dahulu.” Jelas dokter Amarta.


“Baik dokter akan saya pikirkan.” Ucap Rara. Intan mengikuti Rara menuju Asrama.


“Ra, apa yang sebenarnyaterjadi tadi di ruang dekan?” Tanya Intan.


“Pak Roi memberikan aku pilihan antara mengambil cuti atau pindah kuliah.” Ucap Rara akhirnya.


“Lalu kamu maunya gimana?” Tanya Intan penasaran.


“Sepertinya aku akan pergi ke negara Z seperti yang dokter Amarta katakan. Aku akan mulai hidup baru disana.” Ucap Rara.


“Aku akan ikut juga, aku akan mengurus surat pindah kita berdua.” Ucap Intan.


“Kamu gak perlu melakukan hal itu Tan, aku bisa pergi sendiri. Kamu gak usah susah payah melakukan semua ini Tan.” Ucap Rara.


“Aku akan tetep mengikutimu ke negara Z meskipun kamu tidak setuju Ra. Bagaimanapun aku adalah mami angkat mereka.” Ucap Intan.


Rara hanya diam dan menuruti saja kemaun sahabatnya itu untuk mengikutinya pindah ke negara Z yang merupakan sebuah negara bebas. Mereka tidak akan memperdulikan seorang anak apakah memiliki seorang ayah atau tidak. Selain itu pendidikan kesehatan di negara itu memang jauh lebih berkembang di bandingkan dengan negaranya sendri.


Selain semua itu bukankah dia harus menyembunyikannya dari kedua orang tuanya.


Bersambung....


*Kisahnya lengkapnya Naira nanti ada sendiri ya guys..

__ADS_1


__ADS_2