JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Penolong tak terduga


__ADS_3

Dorrrr...


Dorrrr...


“Ahhh..” Jerit Ana sambil menutup mulutnya saat terkejut melihat pist*ol di condongkan kearah Alice dan tak berapa lama terdengar bunyi letusan dari selongsong itu sesaat pistol itu di acungkan dan menekan tuasnya serta memuntahkan timah panas itu yang menyebabkan suara menggema di penjuru lorong itu.


“Tidakk..” Teriak Maya bersamaan dengan bunyi letusan itu.


“Argghhh…”


“Argghhh…”


Jeritan suara kesakitan yang menyayat hati orang yang mendengarnya bersamaan dengan luruhnya tubuh bagaikan tersedot gravitasi bumi membuatnya bertumpu kepada lututnya di hadapan semua orang yang sedang berdiri di sana. Ana dan Maya yang menutup mulutnya refleks karena terkejut.


Tak lama terlihat sebuah rembesan darah pada bagian paha kiri dari balik celana jeans berwarna ice blue dan rembesan darah pada kemeja berwarna biru langit di bagian bahu kanan mengakibatkan senapan pistol itu yang ada di dalam genggaman tangan kanannya jatuh berdebum ke arah lantai.


“Wah wah wah.. berani sekali kau mengancungkan pistol di hadapan ku.” Ucap suara baritone dari arah belakang Alice dan kedua gadis itu.


Ketiga gadis itu refleks menengok ke arah belakang dan melihat tiga orang pria berpakaian jas serba hitam dengan bertubuh tegap. Seorang di antaranya yang berjalan di depan kedua pria lainnya, terlihat menurunkan tangannya yang memegang pistol dan kemudian berjalan melewati ketiga gadis itu sambil memberikan senyuman sekilas kepada Alice. Dan kemudian mendekati Banyu yang sedang berlutut, kemudian mendekatkan bibirnya di depan telinga Banyu dan membisikkan sesuatu.


“Kau… seharusnya izin dulu jika ingin bermain-main dengan wanita yang sedang di incar oleh bos ku.. Karena kau sudah lancang, kau nikmati saja kebahagiaan di dalam sel nantinya.” Bisik pria itu kemudian memberikan senyum jahatnya dan menepuk bahu yang tidak terkena tembakkan itu. Lalu meninggalkan Banyu yang kesakitan dan para gadis yang kebingunggan dengan begitu saja.


“Apa yang terjadi? Mereka bukan komplotannya?” Tanya Ana dan Maya bersamaan dan Alice hanya mengerutkan dahinya, gadis itu bisa mendengar ucapan dari pria itu tadi dan dia yakin dia pernah melihat pria itu di suatu tempat.


‘Aku ingat.. dia adalah salah satu pria anak buah ‘K’ yang waktu itu menjemputnya di pulau itu.  Lalu sedang apa pria itu di sini? Aku berharap dia tidak ada hubungannya dengan kasus kali ini.’ Batin Alice.


“Angel amankan senjata, bereskan dan bawa pria itu juga.” Perintah Alice kepada Maya.

__ADS_1


Maya segera mendekati Banyu dan mengambil senjata api itu, kemudian merobek gaun dress panjangnya dan mengikatkannya pada paha kiri pria itu untuk menghentikan perdarahannya sejenak dan melakukan hal yang sama untuk membalut dan mengikat luka di bahu kanan pria itu.


Setelah melakukan pertolongan pertama untuk menghentikan perdarahan, Maya mencondongkan pistolnya kearah pelipis pria itu.


“Cepat jalan, atau aku akan mengeluarkan isi dari kep*alamu ini.” Ucap Maya ketus.


Banyu tidak memiliki pilihan lain selain mencoba berdiri dan menyeret tubuhnya mengikuti keinginan gadis itu, pasalnya kaki kiri dan bahu di kanannya terasa nyeri, pedih, dan ngilu malah pada bagian kakinya dia sudah mulai merasakan mati rasa.


Mereka semua berjalan menyusuri lorong itu dan tak berapa lama terdengar suara puluhan langkah kaki yang terdengar dari arah yang akan mereka lewati.


“Berikan pistolnya.” Bisik Alice kepada Maya sambil sedikit mundur dan menadahkan tangannya yang berada di belakangnya dan Maya memberikan pistolnya kepada Alice.


Alice mencondongkan pistolnya ke arah depan dengan tangan kanan dan tangan kiri menjadi tumpuannya dan berposisi siaga untuk berjaga-jaga jika ternyata yang muncul adalah segerombolan musuh.


Mereka berjalan lebih berhati-hati dan tak lama terlihatlah segerombolan petugas bersenjata lengkap dan mengenakan baju oprasi RJP dan Alice langsung menurunkan senjatanya dan berjalan tegap begitu juga dengan ketua anggota penyergapan itu, dia menurunkan senjatanya dan memberikan isyarat kepada anak buahnya yang berada di belakang untuk menurunkan senjatanya dan segera mendekati Alice.


“Maaf Bu.. kami terlambat. Saya Iqbal kapten tim penyergapan hari ini.” Ucap ketua regu penyergapan itu.


“Bawa dia.” Ucap kapten regu itu menyuruh anak buahnya untuk menangani Banyu yang sudah tidak sadaran diri.


Kedua petugas mendekati Maya, Maya memberikan tubuh Banyu yang kehilangan kesadarannya kepada kedua petugas itu. Banyu di ambil alih oleh kedua petugas dan mereka menyeret keluar tubuh Banyu dari sana untuk memberikan pertolongan segera terhadap lukanya itu.


“Di dalam ruang 20,22 dan 28 ada tiga tersangka yang terlibat dalam sindikat ini, mereka telah di lumpuhkan. Bawa mereka dan introgasi mereka. Dan bawa gadis ini ke tempat yang lebih aman.” Ucap Alice kepada kapten itu.


“Laksanakan.” Ucap kapten pria itu kepada Alice.


“Tim E masuk ke kamar 20 bawa tersangka dan periksa semua barang yang bisa di jadikan bukti. Tim F masuk dan periksa kamar 22, Tim G periksa kamar 28. Tim C lindungi saksi.” Ucap kapten itu.

__ADS_1


“Siap laksanakan.” Ucap semua tim yang ada di sana.


“Mari Nona ikut kami.” Ucap seorang pria mengajak Ana pergi dari sana. Ana melihat kearah Alice untuk meminta persetujuannya, dan Alice menganggukkan kepalanya dan Ana pun mengikuti kelima petugas itu dengan tenang.


“Bagaimana situasi di bawah?” Tanya Alice.


“Semua sudah di amankan, tadi ada sedikit bentrokkan dengan gank dari black mouse yang bekerja sama dengan black jack, sedangkan bantuan dari pusat masih dalam perjalanan, untunglah ada bantuan entah dari mana dan kita bisa menyelesaikan kedua gank itu tanpa harus kehilangan seorangpun personil maupun luka dari tim kita.” Jelas kapten itu kepada Alice.


“Baguslah.. Lalu bagaimana dengan tempat penyekapan para gadis itu?” Tanya Alice.


“Semua sudah di amankan, semua gadis sudah di bawa ke tempat perawatan baik secara medis maupun secara psikis, semuanya tidak ada kendala Bu.” Lanjutnya.


“Baiklah bereskan semuanya di sini, aku akan segera pergi ke markas pusat.” Ucap Alice.


“Baik Bu.” Ucap kapten itu.


Alice pergi dari sana dan di ikuti oleh Maya, mereka pergi dari tempat itu dan masuk kedalam sebuah mobil yang membawa mereka pergi menuju kantor pusat.


“Aku penasaran jangan-jangan tiga pria tadi yang membantu penyergapan kita tadi Bu.” Ucap Maya.


“Entahlah, mungkin saja. Namun yang membuat ku khawatir adalah alasan mengapa mereka ikut membantu kita.” Ucap Alice.


“Mungkinkah untuk kekuasaan lahan Bu.” Ucap Maya.


“Aku berharap hanya itu tujuan mereka.” Ucap Alice namun hatinya masih sedikit ragu.


“Bukankah yang lebih membingungkan mengapa Bos Besar menginginkan nyawa anda, sedangkan identitas anda belum di ketahui oleh mereka.” Ucap maya.

__ADS_1


“Entahlah, itu juga masalah yang aku bingungkan. Mereka hanya memperkerjakan para wanita itu, namun kenapa mereka ingin melenyapkan aku, padahal jika mereka memang sudah mengetahui identitasku sebagai anggota RJP, seharusnya mereka juga telah mengetahui identitas mu.” Ucap Alice bingung dengan kenyataan ini.


Bersambung....


__ADS_2