
Suasana yang tenang nan mencekam menghantui ruangan kelas. Saat semua murid maupun bu Zahra memandang ke arah belakang kelas tempat Alice dan Namira duduk.
“Maaf Bu saya sedang menanyakan kepada Namira hal yang sedang ibu jelaskan, kebetulan pembahasan pelajaran saya di sekolah sebelumnya belum sampai di sana. Jadi saya meminjam buku dari Namira agar tidak tertinggal pengajaran dari ibu.” Ucap Alice berbohong.
“Ahh kalau begitu kau kah murid baru itu?” Tanya Bu Zahra.
“Iya Bu. Saya Laila murid baru dari kota A di negara A” Jawab Alice.
“Ahh baiklah kalau begitu. Ibu akan memafkan kesalahan kalian kali ini, jika ada lain kali Ibu tidak akan memafkan siapapun yang tidak memperhatikan pembahasan yang sedang ibu jelaskan. Jadi sampai sini sudah bisa mengikutikah Laila?” Tanya Bu Zahra.
“Sudah bisa mengikuti Bu.” Jawab Alice.
“Baiklah kalau begitu, ibu akan lanjutkan pembahasan kita. Dan ini adalah……..” Bu Zahira kembali menjelaskan pembahasan materinya.
‘Untunglah…’ Batin Alice dan Namira bersamaan. Semua muridpun kembali menghadap ke depan kelas dan kembali mendengarkan penjelasan materi yang di berikan.
Tong teng tong dua jam pelajaran bu Zahira sudah selesai saatnya untuk jam istirahat.
Alice mengedarkan pandangannya tidak menemukan Namira di sana, padahal Alice ingin agar Namira menemaninya makan siang.
“Laila, mau aku antar ke kantin? Kamu belum mengetahui tempat ini kan? Ayo aku akan mengajakmu berkeliling.” Ucap Diego menghampiri kursi Alice.
“Ah tidak perlu. Aku tidak mau merepotkan mu, aku sudah berkeliling sebelumnya.” Ucap Alice berbohong.
“Ahh begitukah. Lalu kau akan pergi kemana?” Taya Diego masih penasaran dengan Alice.
“Emhh, apakah kau melihat Namira?” Tanya Alice.
“Tidak, dia selalu menyendiri, mungkin dia ada di perpustakaan atau di taman belakang.” Ucap Diego sambil mengingat-ingat.
“Ah begitukah. Baiklah.” Ucap Alice dan bergegas pergi keluar dari kelas.
“Mau aku antar?” Tanya Diego lagi.
“Tidak perlu.” Ucap Alice menolak bantuan Diego.
Alice bergegas menyusuri setiap lorong sekolahannya itu, dia menyusuri setiap lantai dan memperhatikan setiap orang yang berlalu lalang, siapa tahu salah satu dari mereka adalah Namira.
Alice sampai di gedung perpustakaan, gedung kelas dan gedung perpustakaan merupakan gedung yang di pisahkan oleh lapangan sepak bola. Alice menghampiri seluruh lantai gedung perpustakaan, namun gadis itu masih belum menemukan keberadaan Namira.
Alice memutuskan pergi ke belakang gedung perpustakaan, ternyata gedung itu merupakan lapangan basket indoor. Alice mencoba masuk ke dalam ruang olahraga indoor itu dan memperhatikannya sesaat. Saat akan berbalik kembali keluar, gadis itu mendengar suara gaduh yang berasal dari dalam sana.
__ADS_1
“Hentikan… apa yang kalian lakukan.” Terdengar suara Namira yang berbicara kepada seseorang. Alice berjalan menyusuri lapangan basket itu menuju pusat suara berasal.
“Jauhi kak Juan atau kau akan mendapatkan akibatnya.” Ucap seorang gadis membalas ucapan Namira.
“Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan.” Suara Namira terdengar lagi.
“Jangan berpura-pura bodoh aku tahu kau adalah wanita yang munafik.” Ucap suara gadis lain yang terdengar oleh Alice.
“Dasar wanita ja*lang, kau selalu saja berpura-pura.” Ucap suara gadis lain lagi menimpali.
Brukk terdengar suara yang menubruk sesuatu.
Alice berlari cepat untuk menghampiri ruang ganti wanita yang merupakan asal dari suara-suara itu.
Alice mencoba membuka heandle pintu, namun pintu itu terkunci dari dalam.
“Tidakkkk hentikan, kalian… hentikan aku tidak melakukan apapun!” Teriak Namira dengan suara memelas dan terdengar suara gaduh lainnya.
Alice yang mendengar itu langsung mendobrak pintu dengan kakinya.
Brakkkkk pintu terbuka lebar dengan sekali tendangan. Semua orang yang berada di dalam sana terperanjat dengan sura gebrakan pintu itu.
Di dalam sana terlihat tiga orang gadis memegangi tubuh Namira yang meronta-ronta, sedangkan seorang gadis mencoba untuk melepaskan baju kemeja yang Namira kenakan, dan seorang gadis lagi sedang memegangi ponselnya untuk merekam semua tindakan teman-temannya itu kepada Namira.
“Apa yang kalian lakukan?” Tanya Alice dan mendekati Namira.
“Jangan ikut campur. Pergi sana!” Ucap gadis yang memegang ponsel untuk merekam. Dan menghadang jalan Alice untuk mendekati Namira.
“Minggir.” Ucapnya kemudian Alice mendorong tubuh gadis itu, dengan sekali hentakan gadis itu jatuh tersungkur.
Wanita yang mencoba melep*askan pak*aian Namira mencoba maju untuk memberikan tamparan kepada Alice, namun Alice dengan cepat menangkap tangan itu di udara dan segera memutar tangan gadis itu ke belakang tubuhnya dan mendorong gadis itu hingga tersungkur.
Kemudian ketiga orang yang memegangi Namira melepaskan pegangannya kepada Namira dan beramai-ramai akan menyerang Alice. Alice menendang perut salah seorang gadis yang akan melayangkan tinjunya kepadanya, dan menampar salah seorang gadis yang lain hingga kedua gadis itu menabrak gadis yang lainnya sehingga ketiga gadis itu tersungkur kelantai dengan keras.
Kelima gadis itu bangun bersamaan dan akan mencoba menyerang Alice bersamaan, Keempat gadis itu akan menyerang Alice namun Alice dapat dengan cepat menghajar perut bahkan menendang kaki gadis-gadis itu dengan kuat atau bahkan memberi sedikit pukulan di wajah mereka sehingga mereka merasakan lebam di sekujur tubuh dan sedikit robek pada sudut bibir mereka.
Satu gadis yang mencoba menarik rambut Alice terdiam dan menarik lengannya kembali, batal menyerang Alice karena ngeri dengan wajah marah Alice dan melihat tindakan Alice kepada keempat rekan-rekannya itu. Gadis itu memundurkan langkahnya dan memberikan jalan Alice untuk mendekati Namira yang duduk bersimpuh sambil memegangi baju kemeja yang sudah koyak dan kancing yang berhamburan, sedangkan jaket yang tergeletak di lantai sudak terkoyak tidak layak pakai.
“Kamu tidak apa-apa Namira?” Tanya Alice khawatir, melihat Namira yang menunduk dan meneteskan air matanya.
“ Laila, aku takut…” Ucap gadis itu sambil memeluk Alice dan masih menangis dengan tersedu-sedu.
__ADS_1
“Semua sudah baik-baik saja, tenaglah.” Ucap Alice mengusap punggung Namira untuk menenangkan gadis itu.
Alice melihat para gadis yang tersungkur mulai bangkit berdiri. Alice membantu Namira untuk berdiri juga dan melepaskan jaketnya untuk di kenakan Namira.
“Tunggu sebentar.” Ucap Alice kepada Namira dan meninggalkan Namira untuk menghadap kepada kelima gadis itu.
“Masih ingin mencobanya lagi?” Tanya Alice ketus kepada kelima gadis itu.
“Ti ti tidak..” Ucap kelima gadis itu kompak.
“Serahkan ponselmu.” Ucap Alice kepada seorang gadis yang sebelumnya merekam pelec*ehan itu.
“Iiiini..” Ucap gadis itu menyerahkan ponselnya kepada Alice dengan takut-takut.
Alice membuka ponsel itu dan menghapus semua data yang ada di dalam ponsel itu kemudian gadis itu melempar ponsel itu ke lantai dan menginjak ponsel itu hingga berhamburan keseluruh ruangan.
“Ingat ini peringatan pertama dan terakhir. Jika kalian melakukan lagi kepada Namira ataupun gadis lainnya, tidak hanya wajah dan perut kalian yang akan mendapatkan balasannya. Bahkan mungkin kalian akan aku masukkan ke dalam penjara agar kalian bisa menikmati kebahagiaan bersama dengan orang-orang sama kelakuannya dengan kalian.” Ucap Alice dengan sinis.
Kelima gadis yang berdiri di sana merinding ngeri membayangkan kemungkinan itu.
“Tidak akan.. tidak akan pernah lagi.” Ucap mereka kompak.
“Sudah kalian pergi. Untuk ponsel mu, datang ke kelas 3.1 temui aku di sana. Aku akan mengganti ponselmu yang rusak, sepulang sekolah aku akan menggantinya.” Ucap Alice kepada gadis yang dia rusak ponselnya.
“Ti ti ti..tidak perlu.” Ucap gadis itu takut-takut.
“Aku berhutang satu ponsel padamu. Temui aku sepulang sekolah.” Ucap Alice tegas.
“Baiklah.” Ucap gadis itu sambil menundukkan wajahnya.
Teng tong teng tong suara bel tanda jam istirahat sudah habis.
“Sudah kalian pergi, untuk apa masih di sini. Kalian tidak dengar bel sudah berbunyi. Ohya kalian kalau perutmu dan wajahmu sakit pergilah ke UKS.” Ucap Alice kepada kelima gadis itu.
“Baik..” Ucap mereka kompak dan pergi meninggalkan ruangan ganti wanita itu.
Alice kembali menghampiri Namira dan membantu gadis itu merapihkan pakaian dan rambutnya yang sudah berantakan.
“Terima kasih Laila.” Ucap Namira tulus.
“Tidak masalah.” Ucap Alice cepat.
__ADS_1
“Huft baru hari pertama saja sudah bertengkar dengan anak-anak remaja. Hadehhh.” Keluh Alice dengan suara lirih.
Bersambung....