JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Hukuman yang batal


__ADS_3

Satu jam kemudian Juna keluar dari kamar mandi dengan tubuhnya yang hanya menggunakan handuk kimono milik Maya.


Maya membelalakkan matanya saat melihat tampilan pria itu. Rambut yang masih basah, tangan yang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil dan sisa tetesan air di dada pria itu membuat pemandangan paginya Maya membuat semua orang iri.


Juna dengan santainya melangkah melewati ruang tamu tempat Maya duduk dan mengambil paperbag di atas kursi pantry bar.


Juna mengeluarkan isi paperbag itu dan meletakkannya di atas kursi. Disana terlihat setelan baju dan pakaian dalaman milik pria itu.


"Masih mau melihat kelanjutannya?" Tanya Juna jahil dan menaik turunkan alis matanya saat pria itu melihat Maya masih memperhatikan setiap gerak geriknya.


"Uhuk.. Siapa yang melihat mu!" Bantah Maya dan lebih memilih memalingkan wajahnya ke arah televisi yang baru saja dia nyalakan.


Juna tersenyum puas dan mulai memakai pakaiannya di sana.


"Kenapa tidak pakai di kamar mandi saja! Merusak pemandangan pagi ku saja." Ucap Maya saat pria itu telah selesai berpakaian dan duduk di samping wanita itu.


"Tapi bukankah kau menyukainya?" Ucap Juna menjahili Maya.


"Mana ada! Aku tidak suka sama sekali! Lagi pula aku tidak melihatnya." Bantah Maya ketus.


"Benarkah? Apa perlu aku buka lagi agar kau bisa melihatnya dan kita lihat apakah kau akan menyukainya atau tidak?" Ujar Juna sambil mencoba memegang kancing baju kemeja biru tangan pendeknya.


"Tidak! Jangan! Sudah hentikan itu." Ucap Maya cepat menyingkirkan tangan pria itu dari kancing bajunya.


"Kenapa? Bukankah tadi kau tidak melihatnya? Aku bisa memperlihatkannya secara langsung dan jelas." Ujar Juna jahil.


"Aku sudah melihatnya tadi! Tidak perlu kau perlihatkan lagi. Sudah puas kau!" Kesal Maya dan kembali menatap fokus ke layar televisi. Juna yang mendengar itu hanya terkekeh geli.


"Aku akan pergi beberapa waktu.. Nanti siang akan ada Bu Mae yang menemani mu.. Kau masih belum sepenuhnya sembuh, kau masih memerlukan seseorang untuk membantu merawat mu untuk semua pekerjaan rumah." Ucap Juna serius.


"Tapi.." Belum selesai Maya mengucapkan kalimatnya, Juna memotong ucapan wanita itu.


"Tidak ada penolakan. Aku tidak bisa meninggalkan mu sendirian, aku pasti akan mengkhawatirkan mu saat di sana. Jadi kumohon jangan menolak dan terima saja agar membuat ku tenang saat bekerja di sana." Jelas Juna lagi.


"Baiklah." Ujar Maya akhirnya.

__ADS_1


"Kalian semua akan pergi? Kapan?" Tanya Maya.


"Ya tim utama akan ikut pergi juga.. Siang ini penerbangannya." Jelas Juna lagi. Maya hanya memandang wajah pria di depannya itu.


"Istirahatlah yang baik.." Ucap Juna dan mengusap lembut rambut Maya.


"Kau berhati-hatilah di sana." Ujar Maya masih menatap wajah pria di depannya itu.


"Tentu saja." Jawabnya sambil tersenyum.


"Aku pasti akan merindukan mu."


Blush.. Wajah Maya seketika merona.


"Kau memiliki banyak kekasih di sana sini. Untuk apa merindukan ku." Ucap Maya menghilangkan malu dan gugupnya.


"Entahlah.. Semenjak aku mengenal mu aku tidak bisa memandang wanita lain. Kau seperti candu untuk ku. Misi kali ini mungkin tidak akan sebentar, aku juga tidak bisa menghubungi mu saat misi. Tapi maukah kamu mengirimkan foto mengenai aktifitas mu apa saja meski iyu hal remeh ke email ku?" Pinta Juna dengan wajah sendu.


"Untuk apa.. Tidak ada kerjaan.. Lebih baik kau fokus pada misi mu agar segera menyelesaikannya dan dengan cepat akan segera pulang." Ucap Maya datar.


Drrt drrtt drrtt.. Ponsel Juna bergetar, pria itu membuka ponselnya dan melihat notifikasi pesan di sana. Pesan itu dari Alice.


✉ "Kak boleh tidak aku minta di buatkan teh jahe dan papermint. Perutku sedikit tidak enak." Isi pesan yang di kirimkan oleh Alice. Juna memandang ponselnya dengan mengerutkan keningnya dalam.


"Kenapa ada apa?" Tanya Maya heran.


"Alice minta di buatkan sesuatu." Jawab Juna santai.


"Lalu mengapa muka mu berubah seperti itu?" Tanya Maya heran.


"Entahlah hanya sedikit heran.. Alice tidak menyukai herbal-herbal seperti ini. Bahkan saat sakitpun dia juga tidak mau meminumnya. Namun akhir-akhir ini memang dia sedikit aneh dan berbeda dari biasanya. Belum lagi moodnya yang naik turun benar-benar merupakan pemandangan baru." Ucap Juna sambil terkekeh geli mengingat kejadian pertengakaran kecil mereka dengan Alice dan Galih saat di kota X.


"Apakah perubahannya kearah yang baik?" Tanya Maya.


"Heem.. Dia jauh lebih seperti manusia hidup dengan berbagai emosi dan makannya yang sangat banyak dan sangat mudah lapar.. Belum lagi dia menghindari alkohol dan makanan junk food padahal itu yang dia sukai, tapi itu perubahan yang bagus untuk kesahatannya." Jelas Juna saat mengingat kehidupan beberapa hari di kota X.

__ADS_1


Maya yang mendengar itu hanya mengerutkan keningnya dalam.. Enatah mengapa dia malah memikirkan sesuatu kemungkinan lain.


"Ada apa" Tanya Juna heran.


"Tidak ada." Ucapnya cepat.


"Ada apa? Katakan pada ku, jangan menutupinya atau aku akan memberikan mu hukuman." Ucap Juna mulai mengancam Maya.


"Ah.. Tidak sungguh." Bantah Maya, namun Juna segera mendekat kearah Maya dan akan menyerang wanita itu lagi.


Ting tong.. Bel apartemen Maya terdengar, Juna yang tadinya akan menghukum Maya membatalkan gerakannya dan malah jadi mengecup pelipis wanita itu cepat.


"Kau terselamatkan oleh orang yang datang." Ucap Juna namun kesal di wajah pria itu masih terlihat. Maya yang meihat itu hanya terkekeh pelan.


"Syukurlah.. Lagian itu hanya kecurigaan ku saja, belum tentu benar. Untuk apa aku memberitahukannya kepada mu." Gumam Maya yang melihat tubuh pria itu pergi mendekati pintu untuk melihat siapa yang bertamu.


Ceklek.. Pintu terbuka dari dalam terlihat Bu Mae berdiri di depan pintu.


"Masuk Bu Mae." Ucap Juna sopan. Bagaimanapun wanita tua itu adalah orang yang pernah mengasuhnya saat dia masih kecil.


Tidak lama muncul sosok Bu Mae dan di susul Yoga dari balik pintu. Hingga Juna membelalakan matanya saat melihat sosok di belakang Yoga yang telah masuk ke dalam rumah dan menjewer kupingnya cukup keras.


"Bagus ya.. Bukan mampir dulu ke rumah, malah mau pergi lagi." Ucap suara itu kesal.


"Ahh.. Bu.. Ibu.. Maaf aku tidak sempat kerumah dan malah sekarang aku harus pergi keluar kota lagi." Jelas Juna dengan ringisan karena telinganya terasa sakit.


Maya yang melihat itu sedikit mengerutkan keningya dan meringis membayangkan rasa sakitnya berada di telinganya.


Bu Mae dan Yoga hanya terkekeh geli melihat Juna yang di jewer oleh Nesrine.


"Emhh.. Tante maaf, itu semua salah saya. Juna merawat saya dan jadi tidak bisa pulang ke rumah tante." Ucap Maya merasa bersalah.


"Hehe.. Kamu terlalu serius nak.. Tidak perlu membela anak ini, dia memang salah." Ucap Nesrine dan kemudian melepaskan jari jemarinya di telinga Juna.


"Emhh.." Maya bingung dengan ucapan Nesrine.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2