JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Berpisah untuk kembali bersama


__ADS_3

"Anton jika kau ingin pergi ke kota X maka pergilah dan berhati-hati.. Kau tidak perlu memikirkan Alice di sini.. Kami akan bergantian menjaga Alice dengan baik.. Kau fokus saja dengan urusan mu di sana.. Lebih cepat kau selesaikan urusan mu lebih cepat kau kembali." Ucap Lidia saat mendengarkan penjelasan dari anak bungsunya yang memberitahukannya akan rencana kepergiannya ke kota X sore nanti.


"Benar kata ibu mu.. Alice akan baik-baik saja di sini.. Kami akan menjaganya." Ujar Bram menimpali perkataan Lidia istrinya.


"Baiklah Ayah Ibu.. Aku titip Alice di sini.. Aku akan segera menyelesaikan pekerjaan ku di sana agar aku bisa segera bersamanya lagi." Ucap Anton sambil menatap wajah Alice istrinya. Alice membalas tatapan penuh kasih sayang dari suaminya itu.


Tok tok tok pintu ruang perawatan Alice diketuk dari luar.


"Masuk.." Jawab Anton.


Tidak berapa lama pintu itu bergeser dan terbuka, memunculkan sosok pria tinggi tegap dengan wajah cerah dan tidak lama seorang wanita juga masuk mengikutinya dengan tangan yang saling berkaitan satu sama lain.


"Kak Juna.." Ucap Alice dan gadis itu tampak bahagia saat melihat siapa yang berada di belakang pria itu, "Kak Maya.." Lanjut Alice dengan senyum mengembang di wajahnya dari tempat tidurnya.


"Hai Al.. Bagaimana keadaan mu?" Tanya Laristha dan mendekati ranjang perawatan Alice.


"Sudah jauh lebih baik.. Namun seperti yang kau lihat, aku tidak diperbolehkan banyak bergerak." Ucap Alice sambil memperlihatkan sekelilingnya.


"Hemm lebih baik banyak istirahat dulu agar kau bisa secepatnya pulih." Ujar Laristha setuju, tapi wanita itu juga sangat tahu dan mengerti, seorang wanita seperti dirinya dan juga Alice yang bisanya banyak bergerak di luar dan aktif kesana kemari di lapangan, jika di suruh berdiam diri di kasur begitu saja pasti akan sangat menyebalkan.


"Duduk Kak Jun dan Kak Maya.." Ucap Alice mempersilahkan Juna dan Laristha duduk di kursi di samping kasurnya.


Anton berinisiatif bangkit dari kursinya dan membiarkan Laristha duduk di samping Alice. Sedangkan Juna memilih berdiri di samping kursi Laristha.


"Wahh sepertinya para anak muda ingin berbincang.. Ayo ayah kita ke bawah saja.. Ibu ingin membeli sesuatu di bawah." Ucap Lidia dan meminta suaminya Bram untuk menemaninya kebawah memberikan waktu untuk para anak muda itu berbicara dengan bebas.


"Nak kami di bawah.." Ucap Bram kepada Anton dan para rekannya itu.


"Baik Yah.." Jawab Anton dan mengangguk mengerti.


Lidia dan bram bangkit dari duduknya di sofa menuju pintu keluar ruang perawatan Alice. Terlihat Bram dengan gentleman membukakan pintu untuk dilalui oleh Lidia dahulu baru dirinya sendiri dan kemudian menutup pintu itu rapat.

__ADS_1


"Ayah sangat terlihat menjaga dan menghormati ibu.." Ucap Alice saat melihat kemesraan pasangan berbeda usia itu.


"Iyaa.. Kita juga akan seperti itu hingga nantinya sayang.. Aku akan selalu menjaga mu dan menghormati mu sebagai pasangan hidup ku, tidak akan berubah meski kita sudah menua nantinya." Ucap Anton yang berada di sebelah Alice dan mencium puncak kepala Alice.


"Ehemm.." Deheman dari Juna mengganggubkemesraan pengantin baru itu.


"Jika kalian iri, segeralah mengukuhkan hubungan kalian.." Ucap Anton datar kesal karena kemesraannya dengan istrinya di ganggu Juna.


"Iya deh paham yang masih pengantin baru.. Nanti kita juga akan nyusul kok.. Maka dari itu doain dong biar calon pengantin wanitanya mau dulu.." Ucap Juna dan melirik kearah Laristha yang berwajah datar berpura-pura tidak mendengar ucapan Juna.


"Kau sudah kembali Laristha.." Ucap Anton menyapa Laristha.


"Iya Tuan.." Jawab Laristha cepat.


"Sepertinya kau sudah tahu siapa aku.. Tidak perlu formal seperti itu.. Kau sudah banyak sekali membantu ku menjaganya selama ini, maafkan aku sebelumnya tidak memberitahukan identitas ku." Ujar Anton dan meminta maaf serta berterimakasih kepada wanita itu.


"Tuan tidak perlu berterima kasih.. Itu semua sudah tugas saya menjaga Nyonya Alice.." Jawab Laristha dan menolak permintaan terima kasih dari bosnya itu.


"Sudah.. Sudah.. Jangan lagi membicarakan luka mu.. Aku tahu luka itu masih membekas.. Namun aku yakin kau bisa menyembuhkannya sepenuhnya karena ada dia si samping mu." Ujar Anton dan menatap tepat kearah Juna yang berdiri di samping Laristha.


Laristha yang mendengar bahwa tuannya mengetahui semua itu membuat wajahnya seketika berubah menjadi merah merona karena malu.


"Aku berharap kau bisa mengambil keputusan apapun yang membuat mu bahagia.. Hidup hanya sekali bukan.. Raihlah apa yang membuat mu bahagia kejar dan berusahalah dengan baik." Ucap Anton lagi.


"Iya baik Tuan.." Jawab Laristha sopan.


"Ohya maaf untuk beberapa waktu kedepan aku akan merepotkan mu untuk menemani dan menjaga Alice. Kau tidak perlu khawatir.. Aku juga menempatkan beberapa pengawal bayangan untuk kalian berjaga-jaga." Jelas Anton lagi melihat kearah Laristha dan juga Alice istrinya.


"Tidak perlu sampai seperti itu.. Kita pasti bisa menjaga diri kita sendiri." Ucap Alice menolak pengawal bayangan yang di maksud Anton.


"Tidak.. Aku tidak tenang jika membiarkan kalian tanpa pengawalan.. Tenang saja mereka tidak akan muncul dan mengganggu kalian. Mereka akan tetap diam di kegelapan kecuali ada sesuatu yang harus mereka lakukan. Tapi aku berharap mereka akan selalu ada di dalam bayangan saja. karena aku tidak ingin terjadi apa-apa kepada kalian berdua." Jelas Anton lagi dan sekilas Juna mengangguk menyetujui keputusan pria itu.

__ADS_1


Bagaimanapun nantinya mereka akan fokus dengan pekerjaan mereka di kota X. Tidak mungkinkan jika fokus mereka terpecah karena mereka khawatir terhadap orang yang mereka cintai karena berada jauh dari sisi mereka. Maka dari itu keduanya setuju untuk melakukan perlindungan maksimal untuk keduanya.


"Baiklah jika itu sudah keputusan mu.. Aku hanya bisa menerimanya saja bukan.." Ucap Alice yang akhirnya hanya bisa mengalah.


"Istri pintar.." Puji Anton dan mengusap lembut puncak kepala Alice.


"Baiklah ini sudah waktunya kita berangkat.. Ayo Jun.. Kau sudah siap bukan?" Tanya Anton memastikan kepada pria di seberangnya itu.


"Tentu, aku sudah siap.." Jawab Juna tegas.


"Baiklah aku akan mengantar ke bandara.." Ucap Alice dan Laristha bersamaan.


"Tidak perlu.. Kalian berdua beristirahat saja di sini.. Kami akan pergi sekarang.. Beberapa staf RJP dan juga beberapa anggota The Black Panther juga ada di bawah.. Kalian tidak perlu menemani kami." Ujar Anton dan meminta Alice dan Laristha diam saja di ruangan itu.


"Baiklah jika begitu.. Hati-hati di jalan, lekas pulang." Ucap Alice dan memeluk suaminya erat. Anton memberikan ciuman manis dan lembutnya kepada Alice.


Sedangkan di sisi lain, Juna yang sudah beranjak ke depan pintu untuk keluar, di temani Laristha yang mengikutinya di belakang tubuh pria itu.


"Aku pergi sekarang.. Jaga diri mu, jangan mencoba untuk kabur lagi dari ku.. Aku akan segera pulang secepatnya." Ucap Juna dan langsung memeluk dan mencium kening Laristha.


Beberapa saat kemudian Juna melepaskan pelukannya di tubuh Laristha. Lariatha merasa kehilangan kehangatan dari pelukan pria itu.


"Ya.. Kau hati-hati di sana." Ucap Larista dan kembali memeluk tubuh Juna erat, "Aku menunggu mu kembali.." Lanjut Laristha dan menarik tubuh Juna agar menunduk dan dengan cepat mencium bibir pria itu lembut.


"Ehem.. Ayo kita berangkat.. Kita tidak sedang pergi berperang kok.. Kita akan segera menyelesaikan pekerjaan kita, lalu segera pulang." Ujar Anton menggoda pasangan baru itu.


Juna yang mendengar itu hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedangkan Laristha yang mendengar itu tersipu malu.


Juna dan Antonpun segera meninggalkan ruang perawatan Alice meninggalkan Alice dan juga Laristha di ruang perawatan gadis itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2