
Terdengar samar seorang wanita yang meminta tolong.
“Tolong… tolong… lepaskan aku.. siapapun tolong lepaskan aku.. tolong lepaskan aku dari sini.. tolong siapapun..” Suara teriak samar nan jauh disana.
Alice segera berdiri dan melihat keluar rumahnya. Dia masih mendengar suara samar dari lantainya berada saat ini dan suara itu seperti berada di ujung jalan ini.
Alice mengikuti pendengaranya dan sampai di rumah susun berNo 520. Letak rumah ini berada di pojok tidak banyak orang berlalu lalang di sini. Alice memberanikan diri mengetuk pintu rumah orang tersebut.
Tok tok tok
Tidak ada yang membuka pintu atau suara siapapun yang bergerak untuk mendekati pintu. Alice mengetuk pintu kembali
Tok tok tok
Akhirnya terdengar suara orang berjalan menuju arah pintu, dan tak lama suara kunci pintu terdengar dan pintupun terbuka.
“Ada apa?” Seorang pria memloloskan kepalanya di antara pintu dan bertanya dengan nada ketus.
“Ada suara wanita meminta tolong.” Ucap Alice cepat.
“Ahh itu istriku, kau tidak perlu khawatir. Dia baik-baik saja. Hanya saja penyakitnya sedang kambuh. Apakah kau orang baru?” Tanya pria itu.
“Ya saya penghuni baru di sini.” Jawab Alice.
“Ahh pantas saja. Maaf jika kau terganggu. Namun abaikan saja. Kadang penyakit istriku kambuh. Namun tidak terlalu sering kok. Kau sudah bisa pergi sekarang.” Ucap pria itu ketus.
“Aku tidak gila.. kalian yang gila.. lepaskan aku.. tolong lepaskan aku..” Ucap wanita di dalam sana dengan berteriak.
“Bisa kah kau pergi sekarang? Aku harus mengurus istriku.” Ucap pria itu makin kesal.
“Tidak.. Tunggu.. Biarkan aku melihatnya sebentar.” Tolak Alice dan ingin beranjak masuk kedalam rumah itu. Namun pria itu menghalangi jalannya dan pria itu maju ke depan Alice dan menutup pintu di belakangnya itu.
“Hei Nona, apa masalahmu? Aku sudah jelaskan istriku sedang sakit. Aku ingin mengurusnya. Dan kau pergilah dari sini.” Ucap pria itu dengan nada tinggi.
“Hoi broo santai.” Ucap seorang pria tiba-tiba datang mendekati mereka. Pria itu membawa sekantong plastik besar makanan, sepertinya pria itu telah berbelanja dari minimarket.
__ADS_1
“Ada apa Nona?” Ucap pria yang baru datang itu.
“Aku hanya ingin masuk dan memastikan wanita di dalam baik-baik saja.” Ucap Alice keras kepala.
“Aku dapat memastikan wanita itu adalah istrinya dan dia baik-baik saja, semua orang disini sudah tau itu. Atau kau bisa menanyakannya kepada bagian keamanan atau kepala Rukun Tetangga di sini jika kau ingin lebih jelasnya. Dan mereka pasti akan memberitahukannnya pada mu dengan rinci.” Ucap pria itu menjelaskan.
“Tapi aku ingin langsung melihatnya.” Ucap Alice keras kepala.
“Apkah kau polisi atau semacamnya? Jika kau ingin menerobos masuk kedalam properti milik orang lain, kau harus meminta izinnya. Jika orang itu tidak mengizinkannya itu adalah hak mereka. Jika kau benar-benar ingin menggeledahnya, kau harus membawa surat perintah. Jelaskah itu Nona?” Ucap pria itu dengan tersenyum sinis.
“Baiklah aku akan pergi dari sini.” Ucap Alice dengan kesal dan hanya mengepalkan tangannnya hingga memutih.
“Masuklah bro akau bawakan pesananmu, untuk apa kau malah ingin ribut dengan gadis kecil seperti itu.” Ucap pria yang membawa belanjaan tadi.
“Aku hanya terbawa emosi. Gadis kecil itu sangat menyebalkan.” Ucap pria yang menghalangi jalannya Alice tadi.
Alice tidak menuju rumahnya, gadis itu malah pergi menuju ruang keamanan rumah susun itu. Alice tidak mugkin hanya diam berpangku tangan saja hanya mendengarkan kedua pria itu berargumen.
“Pak saya penghuni rumah no 501. Bolehkah saya bertanya siapa penghuni rumah no 520?” Tanya Alice kepada kedua penjaga yang sedang duduk di pos mereka.
“Iya Pak, saya mendengar dengan jelas, seorang wanita meminta tolong dan ingin di bebaskan dari sana.” Ucap Alice menjelaskan.
“Ahh, Non tenang saja. Wanita itu memang istrinya, istrinya memiliki penyakit kejiwaan.” Ucap Petugas keamanan itu.
“Apakah kalian sudah memastikannya Pak?” Tanya Alice penasaran.
“Tentu saja sudah kami pastikan. Mereka sudah tinggal selama 3bulan di sini. Awalnya tetangganya sama seperti Non, takut bahwa pria-pria itu adalah orang jahat yang menculik wanita atau bagaimana. Dia melaporkan kepada kepala rukun tetangga dan membawa keamanan, bahkan membawa salah seorang psikiater yang tinggal di lingkungan ini. Kemudian pada suatu malam saat gadis itu berteriak, kami menggerebeknya tiba-tiba. Pria itu menjelaskan bahwa mereka sepasang suami istri sedangkan pria yang satunya lagi adalah adiknya wanita itu. Nama suaminya adalah Bima nama istrinya adalah Anya, dan adik laki-laki wanita itu bernama Banyu. Mereka membuktikannya dengan menunjukkan surat nikah, foto-foto pernikahan, bahkan surat sakit sang wanita yang di lihat jelas oleh psikiater itu. Dan mereka semua melihat wanita yang di foto dan wanita yang sedang terikat kedua tangannya di atas kepala ranjang adalah orang yang sama.” Jelas salah satu petugas keamanan itu.
“Tapi bukankah itu membahayakan bahkan bisa melukai wanita itu jika di ikat seperti itu? Lalu untuk apa mereka mengikatnya?” Tanya Alice.
“Tidak, Psikiater itu sudah memastikannya dengan jelas. Bahwa ikatan itu tidak akan menyakiti wanita itu Karena menggunakan bahannya yang lembut. Sedangkan alasannya, suaminya berkata kadang istrinya jika sedang kambuh, akan melukai dirinya sendiri. Mangkanya dia akan mengikat istrinya itu selama beberapa waktu dan itu akan membuat istrinya marah-marah serta berteriak-teriak karena menolak hal itu. Bahkan sampai berteriak saya di culik untuk meminta kebebasannya. Jadi ya mendingan di abaikan saja Non teriak-teriakannya.” Ucap petugas keamanan itu.
“Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit gangguan jiwa saja pak?” Tanya Alice.
“Katanya suaminya tidak tega. Lagi pula kambuhnya jarang kok. Paling dalam sebulan 2 kali kambuhnya.” Ucap penjaga keamanan itu.
__ADS_1
“Tapi bulan ini dalam kurang dari satu bulan sudah 8 kali kambuh. Ini yang ke 9 kalinya.” Ucap salah satu petugas keamanan yang dari tadi diam saja mendengarkan mereka berbicara.
“Sudahlah Nona, tidak perlu kau cemaskan. Istirahat saja. Jika itu mengganggumu, gunakan saja earpad saat kau akan tidur. Abaikan saja suara itu.” Ucap petugas keamanan yang tadi menjelaskan panjang lebar kepadanya.
“Baiklah Pak, terima kasih banyak. Saya permisi dahulu.” Ucap Alice dan meninggalkan tempat itu dan menuju rumahnya.
‘Entah mengapa aku memiliki perasaan yang ganjal dengan hal ini. aku harus menyelidikinya lagi dengan benar agar tidak terjadi kesalahan apapun.’ Ucap Alice dalam hati. Gadis itu kembali ke rumahnya dan mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Alice terbangun ketika mendengar suara pintu terbuka.
“Astaga.. Jam berapa ini.” Alice melihat nakas di samping tempat tidurnya. Kini jam weaker itu menunjukkan jam 11.00 PM. Alice keluar dari kamarnya dan melihat Maya baru saja akan memasuki kamarnya.
“Monic apakah aku membangunkan mu?” Tanya Maya khawatir.
“Tidak, aku terbangun karena lapar. Kau pergi membersihkan diri saja Angel. Jangan khawatirkan aku.” Ucap Alice dan pergi ke dapur untuk membuat makan malamnya sendiri.
“Baiklah.” Ucap Maya dan gadis itu pun pergi masuk kedalam kamarnya sendiri.
Maya keluar dari dalam kamarnya, segar setelah mandi dan berganti pakaian. Alice baru saja membersihkan piringnya dan wajan yang tadi dia gunakan untuk memasak.
“Kau sudah makan Angel?" Tanya Alice.
"Aku sudah makan tadi di kerjaan." Ucap Maya.
"Kau mau kemana Monic?” Tanya Maya saat gadis itu melihat Alice mengenakan mantelnya dan akan pergi dari sana.
“Aku akan pergi keluar sebentar mencari angin. Aku tidak mengantuk, kau tidurlah.” Ucap Alice.
“Aku akan menemanimu.” Ucap Maya.
“Tidak perlu, kau pasti lelah setelah bekerja seharian. Aku terlalu banyak tidur tadi, jadi tidak bisa tidur sekarang. Kau istirahat saja. Aku kan bawa kuncinya, jadi aku tidak akan mengganggu istirahat mu saat aku pulang nanti.” Jelas Alice.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan tidur dulu Monic.” Ucap Maya dan bergegas masuk ke dalam kamarnya lagi.
Bersambung....
__ADS_1