
Anton sudah siap dengan kaus lengan pendeknya dan celana jeansnya. Tiba-tiba seseorang pria menggunakan sneli berwarna putih masuk ke dalam kamar rawat inap itu.
“Wah Broo.. serius kau mau pualng sekarang?” Tanya Widi melihat pasien sekaligus temannya itu telah rapih di pagi hari buta itu.
“Hemm.. seseorang sedang mengurusnya. Aku akan keluar pagi ini dan langsung berangkat penerbangan pertama ke kota A.” Ucap Anton menjelaskan.
“Ahh begitu.. by the way aku tidak melihat Alice, dimana gadis itu?” Tanya Widi penasaran, pasalnya beberapa kali pria itu datang merawat Anton, Widi masih belum bertemu dan melihat gadis itu lagi.
“Hemm bukan urusan mu.” Ucap Anton ketus.
“Ahh apakah kalian sedang bertengkar?” Goda Widi lagi, sedangkan Anton menatap sinis pria di depannya itu.
“Ahh berarti ada kesempatan dong untuk ku mendekatinya. Aku akan mengambil cuti panjang ah mengunjungi dia di kota A.” Goda Widi lagi.
“Jangan macam-macam broo.. tidak akan ada kesempatan untuk mu. Jangan bermimpi.” Ucap Anton kesal dengan wajah yang terlihat marah.
“Hahaha.. sepertinya kau benar-benar telah jatuh cinta kepada gadis itu ya broo.. sampai-sampai aku bercandapun kau anggap serius.” Ucap Widi menggangkat kedua tangannya tanda menyerah bahwa dia hanya bercanda saja.
“Semua hal mengenai Alice, aku tidak akan pernah bercanda.” Ucap Anton serius.
“Baiklah-baiklah aku hanya berharap kalian rukun kembali agar hawa buruk di sekeliling mu itu hilang broo.” Ucap Widi melihat tampang kusut sahabatnya itu dan terkekeh geli.
Tok tok suara pintu di ketuk dari luar kamar rawat Anton.
“Masuk.” Ucap Anton.
“Tuan…” Alex tiba-tiba kaget dan terdiam saat menyadari bahwa di dalam kamar itu tidak hanya ada Anton seorang.
“Sudah siap? Kita berangkat sekarang.” Ucap Anton cepat, tanpa perlu mendengarkan penjelasan dari Alex. Alex hanya menganggukkan kepalanya.
“Broo aku pamit dahulu ya.” Anton menepuk bahu Widi dan berjalan melewati pria itu.
“Oke hati-hati broo.. Jangan lupa obatnya di minum dan periksa luka jahitannya.” Ucap Widi mengingatkan.
“Oke.. thanks broo..” Ucap Anton dan merangkul pria itu sambil menepuk punggungnya.
Widi mengantar kepergian Anton hingga keluar ruang perawatan pria itu. karena Widi akan pergi untuk melihat salah satu pasiennya yang lain.
__ADS_1
“Maaf Tuan saya tidak hati-hati tadi.” Ucap Alex saat berada di dalam mobil mereka.
“Ya tidak masalah. Lain kali hati-hati sebelum bicara lihat sekeliling mu.” Ucap Anton dingin.
“Baik Tuan.” Ucap Anton cepat dan mengemudikan mobilnya membelah jalan di pagi buta itu.
Pukul 06.00AM mereka sudah tiba di bandara kota B Negara B. Paul mendekati mobil milik Anton saat pria itu melihat kedatangan Anton dan Alex.
“Semua sudah siap tuan, mari langsung masuk saja.” Ucap Paul.
Paul mengajak Anton dan Alex menuju gate keberangkatan yang tertera di boarding pass tiket mereka dan masuk ke dalam pesawat.
Mereka mendarat di bandara kota A pukul 11.00AM. Anton, Paul dan Alex keluar dari pesawat. Alex berbelok untuk menuju pengambilan bagasi menggambil barang milik Anton. Sedangkan Paul dan Anton berjalan menuju pintu keluar. Mobil mereka sudah menunggu tepat di depan pintu kedatangan, sang supir segera keluar dari mobil dan berdiri di samping mobil itu.
“Bawa barang-barang gunakan mobil yang lain. Aku akan pergi membawa mobil sendiri.” Ucap Anton kepada Paul.
“Baik Tuan.” Ucap Paul.
Supir yang berdiri di samping mobil mengangguk memberikan hormat kepada Anton, kemudian bergeser membukakan pintu untuk Anton masuk dan kemudian menutup pintunya.
Anton mengenakan seat beltnya kemudian mengemudikan mobilnya meninggalkan bandara itu, dia bergegas menuju rumah Alice kekasih yang di rindukannya.
Tok tok tok Anton mengetuk pintu rumah gadis itu. Tak berapa lama terdengar kunci pintu di buka dan heandel pintu bergerak dan memunculkan seorang pria dari balik pintu itu.
“Siapa?” Tanya pria itu bingung, namun sejurus kemudian dia baru menyadari pria di depannya itu.
“Ahh sepertinya kita pernah bertemu. Ahh aku ingat kau Antonius bukan.” Ucap pria itu lagi saat mengenali pria di depannya itu.
“Iya kita pernah bertemu, Galih. Emhh apakah Alice ada?” Tanya Anton tenang.
“Ada dia di dalam. Masuklah.” Ucap Galih mempersilahkan pria itu masuk.
“Siapa Gal?” Tanya Alice berteriak dari arah dapur. Gadis itu sedang menyiapkan untuk makan siang nanti. Galih tidak menjawab pertanyaan gadis itu.
“Duduklah. Aku akan memanggilkan Alice” Ucap Galih dan berjalan menuju dapur.
“Tamu untuk mu. Antonius.” Ucap Galih tiba-tiba muncul di belakang Alice.
__ADS_1
“Astaga kau mengagetkan ku. Apa? Siapa kata mu?” Tanya Alice tidak mempercayai pendengarannya.
“Antonius.” Jawab Galih mengulanginya lagi.
“Ohh.. Ahh baiklah.” Ucap Alice mencoba untuk tenang. Setelah mengatakan itu, Galih kembali menuju sofa dan duduk menemani Anton berbicara.
Alice membereskan alat masaknya dan kemudian menyiapkan air minum untuk mereka. Alice membawa nampan berisi tiga gelas minuman dan sepiring biscuit.
“Ahh kau sudah keluar dari rumah sakit? Kapan kau sampai?” Tanya Alice mencoba untuk tetap bersikap biasa dan tenang saat bersitatap dengan mata Anton.
"Hemm baru saja tiba. Widi memperbolehkan ku pulang.” Ucap Anton yang tak kalah tenang menjawab Alice.
“Ini minumannya silahkan di minum.” Ucap Alice sambil menyodorkan minuman di atas meja tepat di depan Anton duduk dan meletakkan biscuit serta menyodorkan gelas lain di depan Galih yang duduk di sofa itu juga.
“Bagaimana keadaan mu?” Tanya Anton kepada Alice.
“Aku baik. Bagaimana keadaan mu?” Tanya Alice balik bertanya kepada Anton.
“Cukup kesulitan, saat mengetahui kau pergi begitu saja.” Ucap Anton dengan tenang, Alice langsung memandang wajah pria itu saat pria itu mengucapkan kalimat itu. Diam hening suasananya terasa kaku dan aneh.
“Ahem.. sepertinya kalian memerlukan waktu untuk berbicara berdua. Aku akan keluar dahulu Al, bukankah kau bilang tidak ada kecap di dapur. Aku akan ke mini market dahulu.” Ucap Galih kemudian dan akan beranjak berdiri dari duduk ya.
“Tidak perlu Gal.. tidak ada yang perlu kami...” Ucap Alice melarang Galih untuk meninggalkan mereka berdua. Namun ucapannya langsung di potong oleh Anton.
“Terima kasih Galih, saya sedikit membutuhkan waktu untuk berbicara dengannya.” Ucap Anton tenang.
“Oke.. take your time broo.” Ucap Galih berdiri dari duduknya dan berjalan menuju keluar rumah, meninggalkan kedua orang itu sendirian. Anton beranjak dari duduknya dan pindah ke samping tempat duduknya Alice.
“Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi Anton.” Ucap Alice langsung saat Galih sudah benar-benar sudah tidak terlihat lagi. Alice mencoba berdiri dan akan pergi dari sana. Namun tangannya di tahan oleh Anton cepat dan pria itu menarik tangan Alice agar gadis itu duduk kembali.
“Alice.. maafkan untuk kejadian yang tidak mengenakkan waktu itu. Bisakah kau memberi ku kesempatan untuk menjelaskannya?” Pinta Anton memelas.
“Tidak ada yang perlu di jelaskan Anton. Semuanya sudah jelas. Ibumu tidak suka dengan hubungan kita, dan aku mundur. Sudah selesai tidak ada yang perlu kau jelaskan lagi.” Ucap Alice berbicara dengan tenang.
“Tunggu.. jadi kau meninggalkan aku karena ibu ku yang tidak menyetujui hubungan kita? Bukan karena aku yang telah berbohong?” Tanya Anton bingung.
“Berbohong? Apa maksud mu? Memang ada apa lagi?" Alice berbalik bertanya. Bingung dengan ucapan pria itu.
__ADS_1
Bersambung....