JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Lamaran yang di tolak


__ADS_3

Alice dan Anton berhasil keluar dari Gudang tua tersebut dan berdiam di tempat yang aman. Semua anggota Black Phanter sudah berhasil menaklukan para mafia Gigi Naga dan mafia Elang Hitam yang di bawa oleh Fiktor yang berada di bagian sayap barat gedung tua itu.


"Semua sudah selesai di bereskan bagian barat tuan." Lapor Alex saat menemui Anton dan juga Paul di dalam mobil mereka.


"Bagus.. Bagaimana anggota kita?" Tanya Anton serius.


"Hanya 10 orang terluka ringan." Jawab Alex cepat.


"Apa harus membereskan bagian tempat lain tuan?" Tanya Alex lagi.


"Tuan.. Tim RJP akan segera kemari." Ucap Paul memperingati.


"Tidak perlu. Kita sudah menemukan Alice, selebihnya biar anggota RJP yang menyelesaikannya. Bawa tarik semua anggota The Black Phanter." Kata Anton memerintah Alex.


"Baik tuan." Jawab Alex cepat dan segera memerintahkan seluruh anak buah The Black Phanter untuk mundur melalui earpiece yang dia gunakan.


Beberapa menit kemudian mobil hitam berhenti tepat di depan mobil yang dinaiki Alice dan Anton untuk berdiam menanti kedatangan RJP.


Alice dan Anton turun dari mobil itu. Roy yang duluan melihat keberadaan Alice langsung berlari menghambur tubuh gadis itu.


"Alice.. Kau kenapa?" Tanya Roy yang sudah merangkul tubuh Alice dan melihat berapa bercak darah di wajah Alice dan lebam dan memar pada wajah gadis itu.


"Aku tidak apa kak.. Hanya luka ringan." Jawab Alice cepat untuk menenangkan pria itu.


"Apanya yang 'hanya', cepat masuk ke mobil medis!" Perintah Roy.


"Tapi kak.. Di dalam gedung masih ada mafia Gigi naga yang menyekap ku beserta mafia Elang Hitam yang sedang bertarung. Selain itu di dalam ada Belinda dan juga Fiktor." Jelas Alice lagi.


"Baiklah kau masuk saja ke mobil medis hal yang lainnya biar aku urus." Ucap Roy lagi.


"Tapi kak.." Belum selesai Alice menyelesaikan kalimatnya, Roy memotong ucapan Alice.


"Alice ini adalah perintah!" Ucap Roy tegas.


"Baik Pak!" Jawab Alice hormat dan segera berjalan menuju mobil medis di temani oleh Anton.


"Juna kerahkan semua anggota masuk dan sergap mereka semua." Perintah Roy kepada Juna dan Juna langsung mengangguk kengerti dan segera membawa pasukannya.


"Alice kau tidak apa-apa?" Tanya Galih yang datang menghampiri Alice di depan pintu mobil medis.


"Aku tidak apa-apa." Jawab Alice menenangkan Galih.


"Bisakah bicara di dalam sambil mengobatinya? Aku sangat khawatir keadaannya. Tadi aku tidak membawa peralatan medis untuk mengobati lukanya." Ucap Anton memotong pandangan kedua orang di hadapannya yang saling menatap dengan tatapan khawatir.


"Ahh masuklah Al.." Ujar Galih yang baru menyadarinya bahwa dirinya menghalangi Alice untuk mengobati lukanya.


Alice masuk kedalam mobil medis dan segera mendapatkan pertolongan dari doker Arjun serta dokter wanita yang ada di dalam mobil medis itu.


"Bagaimana kalian bisa langsung menemukannya?" Tanya Galih curiga kepada Anton.


"Hanya kebetulan." Jawab Anton acuh.


"Kebetulan? Negara X adalah negara besar dengan beberapa puluh kota besar dan ratusan kota kecil. Kau bisa menemukannya dengan tepat dan itu hanya kebetulan? Sungguh apakah kau pikir aku bisa mempercayai ucapan mu." Ujar Galih sinis.


"Bukankah hal terpenting adalah bisa segera menemukannya dan menyelamatkannya." Ucap Anton tidak kalah dingin.


Anton tidak suka dengan kedekatan antara Alice dan Galih. Anton sudah cemburu saat dia tidak bisa menjaga dan merawat Alice, dan hanya ada pria itu yang setia menemani kekasihnya. Dia cemburu.. Ya dia sangat cemburu.


"Wow aku tidak tahu ada masalah apa di antara kalian berdua, tapi bisakah tidak membuat kerusuhan di dalam wilayah ku." Kata dokter Arjun memutus kontak saling pandang dan saling melemparkan tatapan maupun perkataan sinis di antara kedua pria di depannya itu.


"Huft.. Maaf.. Bagaimana keadaan Alice?" Tanya Anton yang sudah kembali fokus.


"Tidak cukup baik, di seluruh tubuhnya memiliki memar dan lebam. Tulang rusuknya retak, organ dalamnya pun terluka. Tapi itu tidak akan membahayakan nyawanya karena sudah kita tangani. Dan beruntungnya kehamilannya baik-baik saja. Namun untuk memastikannya kau bisa langsung berkonsultasi dengan dokter kandungan." Jelas Arjun panjang lebar.


"Apa? Hamil? Siapa yang hamil?" Tanya Galih yang bingung dan masih belum sadar.

__ADS_1


"Menurutmu siapa pasien yang sedang aku tangani.. Tidak mungkin kau kan yang hamil." Kesal dokter Arjun.


"Tapi bagaimana bisa dia hamil?" Tanya Galih lagi heran.


"Bodoh! Dia memiliki tunangan tentu saja dia bisa hamil!" Jawab Arjun dan memukul kepala Galih karena kebodohan pria itu.


"Aku perlu melakukan sesuatu.. Kau jaga dia." Ucap Galih yang tampak kacau namun masih sempat meminta Anton untuk menjaga gadis itu.


"Tidak perlu kau suruh. Itu memang kewajiban ku." Ucap Anton yakin. Galih akan meninggalkan Anton dan dokter Arjun berdua.


Saat Galih akan membuka pintu untuk meninggalkan ruangan itu, Anton memanggil Galih dan menghentikan langkah pria itu.


"Galih.." Kata Anton.


"Ya.." Galih menghentikan langkahnya dan menoleh kepada Anton dengan hendle pintu yang masih dia pegang.


"Terima kasih karena selama ini kau sudah menemaninya dan menjaganya. Tapi sekarang aku tidak akan melepaskan dia lagi. Tidak akan ada kesempatan untuk mu menjaganya lagi." Ujar Anton yakin.


Galih yang mendengar hal itu tersenyum sinis, "Kita lihat saja. Jika kau berani meninggalkan dia, hal terakhir yang bisa kau dapatkan adalah ayah baru untuk anak mu." Ucap Galih tidak kalah serius dan membuka pintu kemudian menutup pintu itu lagi.


"Hah dasar pria itu! Berani sekali dia ingin merebut anak ku." Kesal Anton yang terbawa emosi.


"Ehem!" Dehem dokter Arjun yang membuat Anton sadar bahwa disana dia tidak sendirian.


"Maaf.." Ujar Anton merasa tidak enak hati.


"Sepertinya Alice sudah selesai mendapatkan perawatan dari dokter Jeni, kau bisa melihatnya disana." Ucap dokter Arjun saat melihat dokter Jeni menghampiri mereka.


"Alice sudah berganti pakaian dan aku sudah memberikan obat yang tidak berbahaya untuk janinnya. Saat ini dia sedang istirahat. Nanti untuk memastikan kembali keadaan kandungannya kalian bisa datang ke dokter kandungan." Ucap Jeni sopan.


"Baik.. Terima kasih dokter Jeni, terima kasih dokter Arjun." Ucap Anton dengan tulus dan kemudian bergegas jalan menuju sekat ruangan Alice yang berada di dalam mobil medis itu.


Mobil medis seperti sebuah kontainer besar yang di sulap sebagai klinik keliling, dengan di sekat beberapa ruangan perawatan dan alat-alat medis yang lumayan lengkap.


Anton duduk di kursi samping rangjang Alice. Gadis itu tampak tertidur lelap meski dengan wajah memar dan sobek di sudut bibirnya.


"Terima kasih sudah berjuang bertahan dan baik-baik saja. Maaf aku terlambat." Gumam Anton pelan sambil mengecup tangan gadis di dalam kedua genggaman tangannya itu.


Anton kemudian melihat kearah perut Alice dan melepaskan satu tangannya untuk mengelus perut bagian bawah gadis itu.


"Terima kasih sudah berjuang dan kuat di dalam sana. Baik-baiklah tumbuh di dalam sana. Kedepannya ayah yang akan menjaga dan merawat mu bersama ibu. Jangan membuatnya kesusahan ya sayang." Ujar Anton sambil mengelus lembut perut bagian bawah Alice.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan kalian lagi.. Apapun yang akan terjadi kedepannya, apapun yang akan kita hadapi, kita akan hadapi bersama." Ucap Anton yakin.


Anton mengecup bagian perut bawah Alice yang tertutup selimut dan kemudian kembali mengecup tangan gadis yang masih terlelap itu.


"Kita harus segera meresmikan hubungan kita, agar aku bisa melindungi kalian sepenuhnya. Aku berharap kau masih mau menerima ku untuk menjaga mu dan calon bayi kita." Gumam Anton dan kemudian merebahkan kepalanya di samping ranjang Alice.


Dua hari ini dia tidak cukup istirahat di tambah semalaman terjaga dan kini semuanya sudah selesai dan gadis yang dia rindukan ada di sisinya. Kini Anton bisa tidur dengan nyenyak meski dengan posisi membungkuk dan menggenggam tangan gadis yang dia cintai.


***


"Bos kita sudah menagkap semuanya. Beberapa mafia yang terluka parah sudah mendapatkan perawatan di mobil medis no 2 dan 3. Sedangkan yang luka ringan sudah di masukkan ke dalam mobil polisi." Ucap seorang anggota RJP melapor kepada Juna.


"Bagus.. Bagaimana dengan Fiktor dan Belinda?" Tanya Roy yang memotong pembicaraan.


"Fiktor mengalami dua luka tembak di bahu dan perutnya. Sedangkan Belinda mengalami luka tembak di kakinya." Jelas anggota RJP yang merupakan kapten regu tim dua.


"Baik.. Setelah mereka mendapatkan perawatan segera bawa ke rumah sakit kepolisian untuk melakukan introgasi." Ucap Roy lagi.


"Siap Pak." Ucap kepala tim regu dua itu dan kemudian pergi meninggalkan Roy dan Juna yang masih sibuk mengatur sesuatu.


"Kau lihat dimana Galih?" Tanya Roy yang kebingungan tidak melihat pria itu.


"Sepertinya dia di dalam mobil kita." Ucap Juna yang sebelumnya melihat Galih sedang melamun di dalam mobil.

__ADS_1


"Baiklah urusan kita disini sudah selesai lebih baik kita segera pergi dari sini. Dan suruh tegu 3 untuk mengamankan lokasi." Ucap Roy lagi.


"Baik siap pak." Ucap Juna dan pergi mencari ketua regu tim3. Sedangkan Roy menuju mobil mereka berada.


"Apa yang kau lakukan disini sendirian Galih?" Tanya Roy heran melihat Galih duduk di samping kursi kemudi dengan wajah melamun.


"Aku hanya ingin menenangkan diri sebentar. Ada apa?" Tanya Galih lagi.


"Cari bukti penculikan dan pencobaan pembunuhan Alice. Ohya bagaimana dengan bukti di perusahaan sudah sampai mana?" Tanya Roy lagi.


"Baik aku akan lakukan. Untuk masalah itu, aku sudah mendapatkan semua buktinya. Aku akan membahasnya saat rapat nanti." Jawab Galih yang kembali bersemangat.


"Baiklah aku tahu kau bisa. Sebantar lagi kita akan pergi dari sini, siapkan seluruh materi dan buktinya." Ucap Roy lagi.


"Baik." Ucap Galih singkat.


****


Alice membuka matanya perlahan dan mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam indra penglihatannya.


"Alice.. Kau sudah sadar?" Tanya Anton masih dengan menggenggam tangan gadis itu.


"Ya.. Apa yang terjadi? Ini dimana?" Tanya Alice yang kebingungan mengapa dia ada di ruang perawatan mewah dengan lampu kristal di dalam ruangan itu. Bukankah sebelumnya dia ada di dalam mobil medis.


"Kita ada di rumah sakit Kasih Ibu.. Kau dalam pengaruh obat dan kelelahan. Aku membawa mu kesini untuk memeriksa kesehatan mu secara menyeluruh beserta keadaan anak kita." Ucap Anton lembut sambil mengusap-usap tangan Alice.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Alice khawatir.


"Dokter Maria bilang semuanya baik-baik saja. Kau hanya kelelahan dan butuh banyak istirahat." Jawab Anton cepat.


"Syukurlah..." Ucap Alice sambil mengusap perut bagian bawahnya pelan.


"Maaf aku tidak ada di samping mu saat kau membutuhkan ku." Ujar Anton merasa menyesal.


"Bukankah kau menghindari ku karena kau tidak ingin terlibat dengan Fiktor dan Belinda? Itu bukan salah mu. Kau sudah benar melakukan itu, lalu kenapa kau repot-repot menolong ku?" Tanya Alice bingung.


"Apa kau kira aku mengusir mu karena tidak ingin terlibat dengan Fiktor dan Belinda?" Anton berbalik bertanya.


"Bukankah seperti itu?" Tanya Alice yang malah semakin bingung.


"Tidak bukan itu.. Aku hanya ingin kau istirahat dan pulang selain itu. Saat pertama kali aku membuka mata, semua ingatan ku kembali. Bahkan kejadian saat kecelakaan itu muncul di hadapan ku, seperti baru saja terjadi. Membuat ku sedikit ketakutan dan dihantui rasa bersalah yang besar. Aku melakukan perawatan terapi fisik sekalian dengan mental. Aku mencoba memaafkan diriku dan mencoba untuk berjalan maju. Bukan untuk meninggalkan mu." Jelas Anton panjang lebar sambil menyentuh pipi Alice yang sudah tidak bengkak namun warna keunguan muncul di pipi gadis itu.


"Apakah saat ini kau menderita saat melihat ku?" Tanya Alice dengan air mata yang mulai berkumpul di pelupuk matanya.


"Tidak.. Aku sudah melakukan kesalahan sebelumnya dengan meninggalkan mu sendirian. Kini aku tidak akan meninggalkan mu lagi. Aku akan bersama mu jika kau tidak keberatan dengan kehadiran ku." Ucap Anton menggenggam tangan Alice hangat.


"Bodoh! Mana mungkin aku keberatan dengan kehadiran mu. Aku membutuhkan mu." Ucap Alice dan air mata itu lolos dari pelupuk matanya membasahi kedua pipinya yang memar.


"Terima kasih.." Ucap Anton bahagia dan memeluk tubuh Alice, "Terima kasih karena sudah mau menerima pria bodoh seperti ku." Ucap Anton sambil mengelus lembut rambut gadis itu.


"Kau memang bodoh." Ucap Alice jujur.


"Ya.. Aku memang terlalu bodoh, tapi terdengar langsung dari mulut mu terasa menyakitkan." Kekeh Anton dan merasa ucapannya sanggat menggelikan.


"Alice.." Ucap Anton menggantung.


"Ya.." Tanya Alice heran.


"Kau tahu aku sangat bahagia kau memiliki dia." Ucap Anton dan mengelus perut bawah Alice, "Jadi maukah kau menikah dengan ku agar aku bisa merawat dan menjaga kalian dengan penuh. Aku tidak bisa jika berjauhan dari kalian berdua lagi." Lanjut Anton serius dengan tubuh masih memeluk Alice dan tangan yang satunya menyentuh perut Alice.


"Ishh aku menolak.. Kau memang bodoh! Masa kau melamar orang di rumah sakit dengan wajah babak belur seperti ini. Tidak aku menolak lamaran kedua mu!" Ucap Alice kesal dan mendorong tuh Anton yang memeluk tubuhnya.


"Ahh.. Jangan.. Jangan begitu.. Maaf aku terlalu terbawa suasana hingga lupa kalau wanita itu memperhatikan detail-detail hal kecil. Aduhh jangan menolakku.. Aku minta maaf.. Aku pasti akan melakukannya lagi dengan baik nanti." Ucap Anton cepat khawatir Alice akan berubah pikiran dan benar-benar menolak dirinya.


"Tau ah.. Pergi kau dari sini.. Dasar pria bodoh." Ketus Alice dan kembali merebahkan tubuhnya meringkuk kedalam selimut dengan senyum menggembang di bibirnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2