
Alice masih tampak kesal dengan keputusan pulang hari ini, namun dia tidak bisa berbuat apapun dengan keputusan dari Juna.
"Aih.. Kenapa aku harus sekesal ini? Biasanya jika terjadi sesuatu yang tidak sesuai keinginan ku, aku tidak akan seemosi ini." Ucap Alice yang entah mengapa tidak bisa mengendalikan perasaannya.
"Aihh.. Benar-benar kesal!" Ucapnya dan melemparkan bantal ke lantai.
Tok tok tok.
Ketukan pintu terdengar dari luar, Alice dengan enggan bergerak mendekati pintu, membuka kunci kamarnya dan memutar handle pintu. Muncul sosok Juna yang sudah rapih dari balik pintu itu.
"Masih marah?" Tanya Juna dan masuk ke dalam kamar gadis itu.
"Ya.." Ucap Alice masih cemberut.
"Aku tahu keinginan mu, tapi kamu juga tahukan maksud ku melakukan ini?" Tanya Juna sambil menatap wajah Alice.
Alice mengangguk mengerti maksud dari pria itu, namun entah mengapa hatinya masih belum ingin menerimanya.
"Emhh bagaimana untuk permintaan maaf aku akan membelikan dua ice cream cone?" Ucap Juna sambil menaik turunkan alisnya.
"Deal!" Ucap Alice cepat.
"Okey kalau begitu. Penerbangan kita siang ini, kau bersiap-siaplah.. Barang-barang mu nanti akan di urus Galih." Ucap Juna yang menunjuk ke arah pintu dan tiba-tiba muncullah sosok Galih dari balik pintu. Pria itu juga sudah mandi dan rapih.
"Baiklah aku akan membersihkan diri dahulu." Ucap Alice dan mendapat anggukkan dari kedua pria itu.
Alice membersihkan dirinya dan merapihkan barang yang bisa dia rapihkan sendiri. Dia sudah siap dengan dress selututnya yang berwarna hijau muda.
"Kau sudah siap?" Tanya Galih yang tiba-tiba muncul di balik pintu kamar Alice.
"Hemm.. Maaf merepotkan mu." Ucap Alice.
"Tidak masalah.. Kau bisa mentraktir ku ice cream nanti." Ucap Galih Menggoda.
__ADS_1
"Oke nanti aku akan memberikan mu satu ice cream untuk membayar jasa mu merapihkan pakaian ku." Ucap Alice tidak mau kalah.
Setelah mengepak semua barang-barang milik Alice, Galih kembali memeriksa seluruh ruangan dan melihat apakah ada barang-barang yang tertinggal.
"Oke semua sudah selesai." Ucap Galih setelah memastikan semuanya tidak ada yang tertinggal.
Galih, Juna dan Alice berjalan keluar membawa koper dan meninggalkan hotel itu menuju bandara. Perjalanan misi kali ini benar-benar singkat dan tanpa ada kontak senjata apapun. Mereka benar hanya mencari untuk informasi semata. Bukan tanpa sebab Roy dan Juna melakukan itu.
Melihat beberapa staf di tim intinya terluka, dia tidak ingin mengambil resiko yang dapat membahayakan nyawa di tim mereka. Perjalaan dari negara X menuju negara A juga berjalan tenang, penerbangan udara selama dua jam dan nanti akan di lanjutkan dengan perjalanan darat satu jam dari bandara menuju kantor pusat RJP.
"Entah mengapa aku malah merasa ini tidak seperti melakukan misi.." Ucap Alice yang sedikit jenuh dengan ketenangan ini.
"Hentikan keluhan mu.." Ucap Galih menimpali.
"Tidak ada yang perlu aku laporkan aku akan langsung pergi ke rumah sakit. Aku titip koper ku ya.." Ucap Alice mengambil tas tangannya dan berjalan keluar dari bandara kedatangan internasional.
"Hai Al.. Tunggu, aku akan pergi bersama mu!" Ucap Juna cepat.
"Gal.. Aku titip barang-barang nanti akan ada staf yang menunggu mu di depan. Aku akan pergi kerumah sakit memastikan keamanan Alice. Setelahnya aku akan segera melapor kepada Roy langsung." Ucap Juna terburu-buru dan dengan cepat lari mengejar Alice yang sedang berjalan menuju salah satu taksi.
"Alice dan Juna semakin lama semakin aneh.. Semoga Roy tidak marah akan hal itu." Ucap Galih dan melihat salah satu staf yang berdiri di luar pintu kedatangan internasional yang menggunakan pakaian bertuliskan RJP di bagian dadanya.
"Pak.. Saya tadi melihat bu Alice dan pak Juna pergi menggunakan taksi.." Lapor staf itu bingung. Bukankah mereka seharunya menaiki mobil ini bersama.
"Sudah abaikan saja mereka.." Ucap Galih dan memasukkan satu persatu koper kedalam bagasi mobil di bantu seorang staf itu.
"Sudah.. Ayo cepat kita ke pusat." Ucapnya dan segera masuk ke dalam mobil duduk di depan di samping pengemudi.
"Baik Pak.." Ucap staf itu dan segera melajukan mobilnya membelah jalan keluar dari kawasan bandara.
****
"Kenapa kak Juna mengikuti ku?" Tanya Alice bingung saat pria itu mengikutinya masuk ke dalam sebuah taksi.
__ADS_1
"Melindungi mu." Jawab Juna santai.
"Bukan karena ingin segera menemui kak Maya?" Tebak Alice yang mengenai sasarannya.
"Ehem.. Itu salah satunya juga." Ucap Galih dan pria itu jadi canggung. Alice yang mendengar itu jadi terseyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
45 menit sudah berlalu dan mereka kini masuk ke dalam pelataran rumah sakit. Alice segera bergegas menuju ruang ICU sedangkan Juna memilih langsung ke ruangan Maya.
Alice berjalan memasuki ruang ganti untuk menggunakan baju khusus untuk masuk ke dalam ruangan Anton. Gadis itu bertemu dengan lerawat yang menjaga Anton.
"Sore nona Alice.. Baru kelihatan." Ucap Perawat itu memyapa Alice.
"Iya sus.. Saya masuk dahulu ya." Ucap Alice dan segera masuk ke dalam ruang kamar pria itu.
Alice melihat pria itu masih terbaring tertidur di sana, wajahnya nampak tirus, beberapa selang dan peralatan lainnya terpasang di tubuhnya.
Alice mendekati ranjang pria itu, "Aku sudah kembali.." Ucapnya sambil menggenggam tangan pria itu lembut.
"Merindukan ku?" Tanya Alice namun tidak ada respon apapun dari pria itu.
"Kau tahu, misi kali ini tidak sedikit seru, kami hanya mencari informasi mengenai Fiktor dan Belinda."
Tet tet tet. Monitor detak jangung bergerak lebih cepat dari sebelumnya.
"Apakah kau menghkawatirkan aku?" Tanya Alice yang membuat monitor kembali cepat.
"Jika kau khawatir segeralah bangun jangan tidur berlama-lama di sini!" Ucap Alice kesal namun tidak ada jawaban dan monitor detak jantung kembali normal.
"Kau benar-benar membuat ku kesal! Kenapa kau masih senang dengan dunia mimpi mu jika kau di sana masih saja menecemaskan ku! Aku pergi!" Ucap gadis itu kesal dan keluar dari ruang kamar Anton.
Gadis itu tidak kuasa berjalan lagi dan bersandar di tembok di samping pintu masuk ruangan Anton. Gadis itu bergetar tidak kuasa menahan nyeri di dadanya, air matanya turun dan tubuhnya meluruh kelantai.
"Hiks.. Hiks.. Kenapa kau begitu kejam membalasku seperti ini?" Alice menangis dengan suara tertahan dengan telapak tangannya dan dada yang terasa menyesakkan.
__ADS_1
Dua orang perawat yang melihat itu dari kejauhan saling bertatapan dan saling merasakan kasihan kepada gadis cantik itu, namun mereka berdua tidak dapat berbuat banyak.
Beraambung....