JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Menggali informasi


__ADS_3

"Emhhhh.." Alice terbangun dan mulai mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang ada di dalam ruangan yang redup dan lembab itu. Alice melihat sekelilingnya dan dia melihat gudang kayu tua dengan tumpukan kayu yang terbengkalai dengan debu yang tebal dan sarang laba-laba di mana-mana, belum lagi beberapa hewan yang berlarian kesana kemari karena terganggu oleh kehadirannya.


"Ehh di mana aku? aku di gudang? bukannya aku tadi di ruang pesta? ehh kenapa aku terikat seperti ini." Ucapnya baru menyadari tubuh dan tangannya terikat pada sebuah kursi kayu usang namun tampak masih kokoh itu. Dia juga masih mengenakan dress pesta beserta topeng yang masih menempel di wajahnya.


Seseorang tiba-tiba datang menghampiri dirinya yang sedang mencoba untuk melonggarkan ikatan tali itu.


"Kau tidak akan bisa meloloskan diri dari simpul ikatan tali yang aku buat." Ucap pria itu bangga sambil tersenyum sinis kepada Alice.


"Siapa kau? apa mau mu?" Tanya Alice menantang langsung ke arah mata pria itu.


"Aku hanya suruhan seseorang untuk membereskan mu." Ucap pria itu santai dan mulai mengambil kursi dan duduk berhadapan langsung dengan Alice yang duduk di sebrangnya.


"Siapa yang menyuruh mu?" Tanya Alice lagi mencoba mencari tahu kebenarannya mengapa dia di culik.


"Kau tidak perlu tahu.. kau akan mati, lalu untuk apa kau banyak tahu Nona." Ucap pria itu tersenyum sinis.


"Bukankah sudah sewajarnya jika aku tahu atas alasan apa yang membuat ku harus mati?" Ucap Alice lagi menantang pria itu.


"..." Pria itu hanya memperhatikan Alice dan memberikan smiriknya kepada gadis itu.


"Apakah ini ada hububgannya dengan Bos Besar?" Tanya Alice langsung menembak ke inti permasalahannya.


"Sepertinya kau banyak tahu juga untuk seorang yang akan segera mati." Ucap pria itu masih dengan senyuman sinisnya.


"Ahh.. apakah kau Bahar Angkasa.. mantan agen CIA?" Tebak Alice lagi menebak siapa pria itu dan baru menyadari wajahnya mirip dengan foto yang di berikan Galih saat rapat waktu itu. Seketika wajah pria itu tegang namun tidak berapa lama wajah pria itu kembali tenang.


"Kau bahkan tahu siapa aku." Ucap pria itu lagi dan mulai menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan melipat kakinya di atas pahanya sendiri.

__ADS_1


"Tentu saja.. aku seharusnya tahu bukan siapa yang akan menjadi dewa maut ku." Ucap Alice tenang dan mengikuti pria itu duduk tegak dan menyandarkan punggungnya dan menatap tegak lurus angkuh di hadapan pria itu.


"Woahh.. kau sungguh gadis yang menarik.." Ucap pria itu yang melihat Alice bahan tidak takut atau gentar kepadanya.


"Bolehkah aku tahu mengapa kau di keluarkan dari CIA dan malah menjadi kaki tangan bos besar?" Tanya Alice mulai mengintrogasinya.


"Itu bukan urusan mu anak muda.." Belum selesai pria itu bicara, Alice sudah memotong ucapan pria itu.


"Atau aku perbaiki pertanyaannya. Siapa sebenarnya Bos Besar dan mengapa mengincar ku dan beberapa wanita yang wajahnya mirip dengan ku?" Tanya Alice lagi. Mendengar hal itu Bahar mengerutkan keningnya tidak paham apa yang di ucapkan gadis kecil itu.


"Ahh.. dari raut wajah mu sepertinya kau tidak tahu alasan dia membunuh dan mengincar ku. Jadi kau hanya di jadikan senjatanya saja tanpa tahu apa penyebabnya." Ucap Alice menebak langsung pria itu.


"Jangan berbelit-belit apa yang kau tahu." Ucap pria itu lagi sudah mulai gusar dengan basa-basi ini.


"Bukankah bos besar selalu mengincar wanita dengan wajah yang mirip dengan diri ku. Bahkan saat aku berada di negara B, namun orangnya terlalu bodoh sehingga bisa melepaskan ku berkali-kali." Ucap Alice bangga kepada dirinya sendiri untuk memancing emosi Bahar.


"Kau hanya di gunakan sebagai alat pemuas ambisinya tanpa tahu apapun. Benar-benar menyedihkan." Ucap Alice lagi mencoba memancing emosi pria itu.


"Hehh!! kau mencoba membuat ku menaruh curiga dengan bos besar, sayang sekali kau tidak berhasil.. lagi pula meskipun Bos Besar ada motif lain di balik itu, aku bahkan memiliki motif sendiri juga mengapa aku menculik mu dan masih membiarkan mu hidup hingga saat ini." Ucap Bahar dan kembali tenang.


"Apa maksud mu?" Ucap Alice sedikit khawatir.


"Pria yang bersama mu tadi.. bukankah dia pacar mu?" Tanya Bahar mulai mengepalkan kedua tangannya. Entah mengapa saat membayangkan pria itu emosinya langsung memuncak.


"Apakah kau musuhnya?" Tanya Alice mulai khawatir kemana arah pembicaraan mereka dan mengenai siapa yang mereka bicarakan.


"Tentu saja.. dia telah membunuh orang yang sangat penting bagi ku.. bagaimana mungkin dia bukanlah musuh terbesar ku." Ucap pria itu dengan tatapan dingin yang ingin membunuh seseorang itu.

__ADS_1


"Aku masih membiarkan mu hidup karena aku ingin memancing pria itu agar datang kemari." Ucap pria itu lagi dan tersenyum sinis.


"Apa maksudmu?" Ucap Alice yang mulai khawatir kemana arah pembicaraan ini.


Bahar mengambil ponselnya dan memperlihatkan sebuah nomor di hadapan Alice.


"Bukankah ini nomer telepon pria mu?" Ucap Bahar sambil tersenyum sinis.


"Jangan mencoba kau melibatkannya." Ucap Alice sinis kepada pria itu.


"Sayangnya aku memang memiliki urusan dengannya." Ucap pria itu dan akan menghubungi nomer Anton, namun Alice yang sudah berhasil memutuskan tali ikatannya, segera melepaskan seluruh ikatan itu dan menerjang ke arah Bahar.


Gadis itu menendang ponsel yang akan di letakkan di telinganya Bahar, karena tidak siap, pria itu kehilangan keseimbangannya memegang ponsel itu sehingga terpeas dari genggamannya dan jatuh membentur lantai dengan keras dan mati seketika.


"Urusan mu dengan ku." Ucap Alice garang dan siap dengan kuda-kudanya.


"Woah.. kau ingin melawan ku Nona? sepertinya kau benar-benar mencari mati." Ucap Bahar dan mulai menyerang mendekati Alice.


Alice dan Bahar saling menyerang menendang dan menangkis pukulan dengan sengit kemudian meninju bahkan memiting jika ada kesempatan, dan mematahkan pitingan itu. Dan bahkan melakukan salto di atas tubuh pria itu untuk menghindari pukulan darinya. Mereka benar-benar melakukan gerakan-gerakan cepat bagaikan sedang berduet dalam Krav Maga.


"Kau lumayan juga gadis kecil." Puji Bahar yang menemukan lawan yang sengit baginya. Padahal selama ini dia selalu bisa mematahkan dan mengalahkan lawannya dengan cepat.


Bahkan tidak hanya itu, Alice juga menggunakan jurus Muay Thainya. Pria itu juga bisa mengimbangi kecepatan dan kelincahan dari Alice. Namun bagaimanapun juga jam terbang pria itu sudah sangat tinggi melampaui Alice dan pria itu juga pernah terjun langsung ke medan perang sehingga di saat Alice lengah, pria itu berhasil memukul wajah Alice sedikit yang menyebabkan topeng yang menempel di wajah Alice terbuka dan terlepas. Sehingga memperlihatkan wajah cantik Alice.


Pria itu kemudian tertegun dan membelalakan matanya kaget. Bahkan pria itu mematung dan ini kesempatan Alice untuk memukul wajah pria itu dengan tinjunya sekuat tenaga dan menendang perut pria itu dengan lututnya hingga pria itu tersungkur kelantai.


"Amelia Putri..." Ucap Bahar memandangi wajah Alice sambil batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2