
Juna segera mengambil ponselnya saat pria itu tersadar dari lamunannya dan segera mengambil penerbangan tercepat menuju kota A. Percuma juga pria itu tinggal di kota C atau bahkan jika dia harus pergi ke dua kota yang di pesan oleh Maya. Karena pada dasarnya data diri wanita itu sendripun tidak diketahui olehnya
"Ohh sial.. Tidak ada petunjuk apapun.. Aku tidak mungkin menjelajahi seluruh kota yang ada di negara A hanya dengan selembar foto untuk mencarinya.. Ohh tuhan apa yang harus aku lakukan." Gumamnya sambil melihat foto yang ada di dalam pas foto surat lamaran kerja Maya.
Pria itu menyandarkan kepalanya di pinggiran kaca mobil. Ya Juna sedang menuju ke bandara kota C untuk pergi ke kota asalnya di kota A. Percuma juga jika dia masih tetap di kota itu dia tidak bisa melakukan apapun.
Pria itu mengabil foto itu dan memperbesarnya, "Siapa kau sebenarnya? Mengapa bahkan nama saja itu bukan nama milik mu." Gumamnya dan mengusap pas foto itu pilu.
"Tuan.. Kita sudah sampai." Ucap supir taksi online saat Juna masih tidak turun dari mobilnya.
Juna yang kaget dengan suara pria di depannya cepat tersadar dari lamunannya, "Ahh maaf pak.. Terima kasih banyak." Ujar Juna dan segera pergi keluar dari dalam mobil taksi itu.
Juna masuk ke dalam gate keberangkatan dalam kota dan melakukan check in dan menunggu di ruang tunggu penerbangan.
Sambil menunggu Juna membuka undangan elektronik dari Alice.
"Aihh ternyata gadis ini sudah menikah di kota X dan lusa adalah pesta pernikahan mereka.. Selamat untuknya." Ujar Juna sambil memberikan doa terbaik untuk gadis kecilnya itu.
"Lalu aku kapan bisa segera menyusul mereka.. Bahkan kini kau berada di mana saja aku tidak tahu.." Gumamnya lagi.
***
Sedangkan di sisi lain di perusahaan RJP.
Galih memandang diam surat undangan elektronik yang di kirimkan gadis itu kepadanya. Hatinya sudah ikhlas dan melepaskan gadis itu namun ini benar-benar terlalu cepat baginya. Pria itu hanya memandangi ponselnya lama.
"Hemm kamu bernar-benar sudah menikah sekarang.. Aku mendoakan yang terbaik untuk mu.. Berbahagialah selalu Al." Gumam Galih sambil tersenyum menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya.
Tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka dan memunculkan sosok Roy di balik pintu itu.
"Jun.. Kau tidak apa-apa?" Tanya Roy dengan wajah khawatirnya.
"Ada apa memangnya?" Tanya Galih balik dan duduk dengan tegak di kursi kerjanya.
"Emhh kau mendapat undangan dari Alice bukan." Tanya Roy lagi.
"He'em.." Gumam pria itu singkat.
"Kau tidak apa-apa? Emhh maksud ku saat ini Alice sudah menikah dan mereka lusa akan mengadakan pesta pernikahan." Jelas Roy lagi.
"Lalu ada hubungan apa dengan ku.. Maksud ku aku berbahagia untuknya mereka melakukannya dengan baik.. Dan aku mendoakan yang terbaik untuk pernikahan mereka." Ucap Galih tenang.
"Lalu bagaimana dengan perasaan mu? Maksud ku apa kau baik-baik saja? Haishh bagaimana sih! Aku memang tidak baik dalam hal lerasaan." Keluh Roy lagi kesal dan bingung.
"Hahaha.. Aku baik-baik saja Roy.. Aku berbahagia untuk mereka dan aku akan datang ke pesta mereka. Dan aku sudah merelakan Alice untuknya. Pria itu terlalu kuat, aku tidak sebanding dengannya. Kau tidak perlu melakuakan apapun, aku tahu maksud mu." Ujar Galih sambil tertawa bercanda.
"Aku akan pergi dengan mu.." Ujar Roy lagi.
"Ha apa? Tidak tidak mau.. aku masih lurus.." Ujar Galih bercanda.
Plak.. Kepala Galih langsung mendapatkan pukulan dari Roy.
"Dasar bodoh bukan itu maksud ku.. Aku juga masih normal.. Kau membuat ku jadi kesal saja." Gerutu Roy kesal.
"Haha aku mengerti.. Iya kita bisa pergi bersama jika kau tidak mau pergi dengan salah satu wanita dalam perjodohan mu." Ujar Galih sambil tertawa.
__ADS_1
"Aihh itulah sebabnya aku akan pergi dengan mu.. Aku tidak mau jika harus pergi dengan wanita yang tidak ku kenal." Keluh Roy lagi.
"Mangkanya kasih mereka kesempatan biar kau bisa kenal. Bagaimana bisa mengenal mu jika kau saja langsung menghempaskan mereka." Ujar Galih tenang.
"Sttt bawel.. Aku masih ingin fokus ke kerjaan ku saja.. Wanita terlalu merepotkan. Sudah ahh aku akan kembali ke ruang kerja ku jika kau memang baik-baik saja.." Ucap Roy dan kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kerja Galih.
"Haishh pak tua satu itu.. Terlalu gila kerja dan lupa dengan apapun jika sudah kerja.. Maka dari itu, aku mengerti bagaimana perasaan kedua orang tuanya yang selalau saja setiap minggu menggenalkannya dengan banyak anak gadis rekan kerja mereka.." Gumam Galih sambil menggelengkan kepalanya.
Mengingat mengenai gadis, dia jadi teringat dengan gadis kecil yang dia temui di cafe waktu itu. Kesalah pahaman akibat perbutannya sendiri hingga hampir saja melukai gadis itu.
"Haishh.. Apa yang aku lakukan mengapa aku malah memikirkan gadis yang tidak aku kenal itu." Kata Galih membawanya kembali ke realita dan memilih kembali berkutat dengan pekerjaannya.
***
Alice dan Anton tiba di bandara kota A. Mereka keluar dari pintu kedatangan internasional, Bram dan Lidia berdiri di luar pintu dengan wajah ceria.
"Ibu.. Ayah.. Mengapa kalian yang menjemput kami? Seharusnya biarkan saja kami pulang sendiri naik taksi." Ucap Alice segan kepada ibu dan ayah mertuanya yang berinisiatif langsung menjemput mereka berdua di bandara.
"Bagaimana mungkin Ibu akan membiarkan menantu Ibu pulang sendiri oleh taksi. Padahal Ayah dan Ibu mertuanya masih sehat dan kuat. Lagi pula Ibu ingin menyapanya." Ucap Lidia sambil mengusap lembut perut Alice yang masih terlihat datar.
"Terima kasih Ayah Ibu.. Maaf jadi merepotkan kalian." Ucap Alice lagi sambil memeluk ibu mertuanya.
"Tidak ada yang merepotkan Nak.. Itulah fungsinya ada keluarga, kamu bagian keluarga kami sekarang.. Jika membutuhkan sesuatu jangan ragu-ragu bilang kepada ibu dan ayah ya." Ucap Bram hangat.
"Baik Ayah.." Alice tersenyum bahagia.
"Baiklah ayo kita masuk ke dalam mobil.. Kau pasti sudah laparkan.. Di rumah ibu sudah membuatkan cream sup, ibu harap kau menyukainya. Ohya kau tidak terlalu laparkan sekarang? Jika lapar sekali kita bisa berhenti di restoran saja. Jika lapar tidak boleh di tahan kadian janinnya." Kata Lidia lagi mengingatkan.
"Iya Bu.. Tidak terlalu lapar kok, tadi dapat cemilan di pesawat. Malahan cemilan Anton aku yang makan." Ucap Alice lagi sambil masuk ke dalam mobil.
Anton duduk di kursi depan bersama seorang supir sedangkan Alice, Lidia dan Bram duduk di kursi belakang.
45menit perjalanan mobil mereka dari bandara menuju mansion Hadi Jaya yang sedikit terhambat karena ramainya kondisi jalanan saat mobil-mobil yang mungkin keluar untuk makan siang dan bertepatan dengan anak sekolah dasar yang pulang sekolah.
"Ayo nak hati-hati.." Ucap Lidia saat Alice hendak keluar dari mobil.
Alice tersenyum bahagia melihat ibu mertuanya yang sangat perhatian dengan hal-hal remeh dan tidak hanya itu, bahkan suaminya sudah bersedia berdiri di samping pintu mobil dan siap membantu Alice keluar dengan mengulurkan tangannya.
"Kau terlalu berlebihan.. Kehamilan ku masih kecil, aku bisa semuanya sendiri." Bisik Alice pelan, namun tangannya meraih tangan Anton yang terjulur dan menggenggam tangan itu hangat.
"Tidak masalah, kau bisa sendiri atau tidak aku akan tetap melakukannya. Kau permata hati ku." Balas Anton berbisik kemudian mencuri ciuman pada pipi gadis itu.
Wajah Alice seketika memerah bagaikan tomat.
"Ah ya.. Ibu lupa memberitahumu di dalam rumah sedang ramai, kakak ipar dan kakak mu ada di rumah beserta semua keponakan mu. Mungkin rumah akan ramai, semoga kamu ga keberatan ya Al." Ujar Lidia sambil berjalan beriringan masuk kedalam mansion itu.
"Tentu tidak mungkin keberatan Ibu.. Aku juga merindukan kakak ipar dan keponakan-keponakan kecil ku." Jawab Alice ceria.
Baru saja mereka akan melewati ruang tamu, tiba-tiba ada seorang anak kecil berlari dan hendak menabrak perut Alice. Untunglah anak kecil itu segera mengerem dengan baik dan refleks Alice yang baik langsung menangkap kedua bahu anak itu sehingga anak kecil itu tidak terjatuh ataupun tidak jadi menabrak tubuhnya.
"Astaga!" Pekik semua orang yang ada di ruangan itu yang terkaget saat melihat kejadian yang cepat itu.
"Axiciela! Bagaimana bisa kamu berlarian nak! Bagaimana jika sampai menabrak aunty Adel." Ucap Sisilia sang ibu menegur anak perempuannya yang hampir saja menabrak perut Alice dengan kepalanya jika saja bocah itu tidak cepat mengerem dan Alice dengan sigap menangkap bahu anak itu agar tidak terjatuh.
"Maaf momi.. Ciela terlalu asik bermain.. Aunty Adel maukan memaafkan Ciela?" Tanya gadis mungil itu sepertinya anak kecil ini berusia 6 atau 7tahun.
__ADS_1
"Tidak apa cantik.. Toh auty tidak apa-apa. Lain kali Ciela hati-hati ya agar Ciela tidak terluka." Ucap Alice lagi mengingatkan sambil mengusap lembut rambut bocah kecil itu.
"Ya tentu aunty Adel." Ucap Ciela sambil tersenyum kembali.
"Sudah sudah.. Aleandro bawa adik-adik mu Aurelia, Ciela dan Aluxa bermain di kamar bermain dan tolong di jaga ya nak.. Kamu kan yang paling besar." Ucap Amanda lembut.
"Baik bunda.. Adek ayoo main ikut abang." Ucap Andro dan mulai mengajak adik dan kedua adik sepupunya bermain di ruangan lain beserta baby sitternya.
"Alice.. ehem.. Adel kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Sisilia khawatir.
"Aku tidak apa-apa kak.. Ohya kakak bisa panggil Alice juga gak apa-apa kok. Keduanya tetap nama ku." Ucap Alice sambil mencairkan suasana yang sedikit tegang.
"Aihh kamu ini.. Baguslah kalau kamu gak apa-apa." Ucap Sisil lagi.
"Sudah duduk dulu di sofa, berdiri terus tidak bagus nanti bisa membuat kaki mu bengkak." Ucap Amanda mengingatkan dan membawa Alice duduk di sofa ruang keluarga.
"Al, Anton selamat ya kalian sudah menjadi pasangan suami istri.. Semoga kalian bisa menjadi keluarga yang harmonis baik dalam situasi suka maupun duka sampai maut memisahkan kalian.." Doa Amanda tulus.
"Iya kak terima kasih atas doanya." Ucap Alice terharu.
Kemudian keluarga yang lainnyapun mengucapkan selamat kepada pasangan baru itu meski peresmian pesta pernikahannya akan diadakan lusa.
"Ohya kami sudah mempersiapkan semuanya.. Kurang lebihnya sama seperti yang kita rencanakan sebelumnya hanya bedanya kita mengadakan acara ini lebih privat dan tamunya juga tidak terlalu banyak. Tidak masalah kan Al?" Tanya Amanda lagi.
Alice mengangguk, "Tentu kak.. Memang seperti itu saja mau ku."
"Benar kata Alice kak, lagi pula Alice saat ini sedang hamil muda aku tidak ingin dia terlalu kelelahan hanya untuk formalitas seperti itu saja. Yang pentingkan kita mengadakan acara untuk keluarga tersekat saja." Ucap Anton menyetujui pendapat Alice.
"Ya sudah kalau begitu bicaranya di lanjut lagi nanti.. Sekarang sudah siang ayoo kita pindah ke meja makan dan melanjutkan bicara di sana." Ucap Lidia mengingatkan bahwa makan siang sudah tersedia di meja makan.
"Baik ibu.." Ucap semuanya bersamaan dan mengikuti Lidia masuk menuju ruang makan.
Anton dengan setia mengekor Alice di belakangnya. Gadisnitu tampak ceria di apit oleh Amanda dan Sisilia kakak iparnya.
"Ciee.. Akhirnya bisa juga mendapatkan wanita yang kau inginkan setelah banyak sekali perjuangan yang harus kau lewati." Ucap Alious sambil menepuk bahu adik bungsunya.
"Hemm iya bang.. Aku sangat bersyukur sekali." Ucapnya sambil tersenyum namun matanya tidak pernah lepas dari sosok Alice.
"Jika begitu lindungi dan hargailah dia.. Kau mendapatkannya tidak dengan cara yang mudah, maka perlakukanlah dia dengan sangat baik." Ucap Axel yang kini berada di sisi lainnya.
"Tentu bang.. Aku akan memperlakukannya dengan sangat baik." Ucap Anton yakin.
"Sudah yuk makan.. Aku juga sudah lapar.. Habis ini aku harus membantu menyuapi Aluxa." Ucap Axel dan dengan cepat mencari tempat duduk di samping istrinya.
"Mbak Sani tolong panggilkan anak-anak ya." Ucap Alious meminta salah satu pelayan untuk memanggilkan anak-anak mereka.
"Baik tuan muda." Ucap Sani hormat.
Tidak berapa lama anak-anak datang dan duduk di samping orang tua mereka. Anton dan Alice bahagia bisa berkumpul semua pada acara makan siang itu. Beberpa ucapan syukur tidak lepas dari mulut merkeka saat mereka masih bisa berkumpul dengan keluarga besar mereka yang mereka kasihi itu.
Hiruk pikuk dari celotehan kecil mereka dan dentingan dari sendok maupun garpu membuat suasana ruang makan itu terasa sangat menyenangkan dan sangat ramai. Sungguh suasana seperti ini tidak bisa digantikan oleh apapun. Kebersamaan yang sederhana namun akan selalu sangat dirindukan jika sedang berada jauh dari mereka.
Alice sangat beruntung bisa benar-benar bergabung dan menjadi bagian dari keluarga besar Hadi Jaya. Bukan karena nama mereka yang tersohor di seluruh kota namun karena kehangatan dan cinta kasih yang di berikan dari kelyarga ini. Baik dari kedua orang tua Anton maupun dari saudara dan saudari iparnya.
Sungguh tidak ada yang bisa menggantikan kebahagiaan dan kehangatan yang saat ini sangat membuat hati Alice tenang dan merasa dicintai.
__ADS_1
Bersambung....