
Lidia menuntun Alice ke sebuah ruangan kamar di lantai atas. Kamar itu di dominasi oleh warna hitam dan putih. Suasana kamar sangat berantakan di atas sofa yang banyak berserakan berkas dan di atas kasur juga terdapat banyak berkas-berkas. Lidia kemudian menutup pintu itu rapat saat mereka berdua telah memasuki ruangan itu.
“Ini kamar Anton.” Ucap Lidia. Alice yang mendengar itu tidak mengerti mengapa dirinya di bawa ke dalam kamar itu.
“Selama dia tinggal di sini, dia mengerjakan semua berkas laporan itu, dia tidak tidur berhari-hari bahkan tidak mau makan, atau mandi. Dia hanya fokus mengerjakan semua laporan-laporan itu hanya untuk mengalihkan pikirannya terhadap dirimu.” Ucap Lidia.
“Dan setelah mendapatkan pesan dari mu, dia langsung bangkit mandi, makan dan tidur benar-benar seperti seorang bocah bukan. Aku baru menyadarinya, ternyata bocah yang dulu aku rawat menantinya tumbuh, kini dia menginginkan kehidupannya dan kebahagiannya sendiri. Sebegitu besar rasa cintanya terhadap mu, aku benar-benar bisa melihatnya sendiri.” Ucap Lidia lagi.
“Aku juga bisa melihat mu menderita sama sepertinya. Kau jauh terlihat lebih kurus, meski kau mencoba bersikap tenang di hadapan kami. Aku tahu di dalam hati mu kau juga sama gelisahnya dan kehilangan sama seperti dia.” Lanjut Lidia.
“Aku merestui hubungan kalian. Aku ingin melihat kalian berbahagia. Namun satu hal yang aku mohon kepada mu..” Ucap Lidia menjeda ucapannya.
“Apa Bibi?” Tanya Alice penasaran. Lidia mengambil kedua tangan Alice dan menggenggamnya dengan kedua tangannya.
“Selalu ingat ini.. dia sangat mencintai mu, begitu juga dengan mu. Ingat juga ucapan mu yang kau ucapkan di hadapan kami sebelumnya. Kau berani melangkah dan mengambil keputusan, aku tahu itu. Apapun yang akan terjadi kedepannya, selalu ingat bahwa dia sangat menyayangi dan mencintai mu. Terus berusahalah melangkah kedepan demi hubungan yang selama ini kalian buat. Meskipun berat, selalu ingat hari ini, hari dimana kalian terluka bersama dan bisa bangkit bersama.” Ucap Lidia akhirnya.
“Baik Tante, saya akan mengingat ini.” Ucap Alice yakin dan menggenggam erat tangan Lidia.
“Baiklah jika begitu, jangan panggil tante lagi bukan. Panggil Ibu.. dan besok aku akan menyiapkan pesta pertunangan kalian.. apakah kau keberatan?” Tanya Lidia meminta persetujuan Alice.
“Emhh apakah tidak terlalu cepat?” Tanya Alice bingung.
“Bagaimana mungkin terlalu cepat. Sebenarnya pesta pertunangan sudah di rencanakan saat pertama kali kedatangan mu kesini. Aku sudah menyiapkannya, namun kau tahu, aku agak sedikit ceroboh dan malah menghancurkan semuanya. Namun untunglah kalian sudah berbaikan dan untungnya juga aku belum membatalkan rencana itu kepada rekan-rekan ku. Pesanan dan yang lainnya pun belum aku batalkan. Semua sudah di siapkan. Hanya tinggal menunggu apakah mau melanjutkannya atau menundanya.” Tanya Lidia kepada Alice.
“Aku tidak masalah Bu.. kapan saja aku bersedia.” Ucap Alice tegas.
“Baguslah kalau begitu. Kau menginap saja malam ini, besok biar ibu panggilkan penata rias dan penata busana kesini. Kita hanya mengadakan acara pertunangan dengan kolega ayah dan untuk rekan-rekan kamu dan Anton di beritahu mendadak tidak masalahkan?” Tanya Lidia lagi.
“Iya tidak masalah Buu.. aku hanya akan mengundang rekan terdekat saja dan mungkin ibu panti, jika ibu tidak keberatan.” Ucap Alice.
“Tentu saja aku tidak mungkin keberatan. Kebetulan aku juga merindukan suster Salsa.” Ucap Lidia.
__ADS_1
“Baiklah, kita keluar yuk, para pria itu pasti tengah mengkhawatirkan kita yang pergi dengan waktu yang lama. Biarkan kamar Anton di bereskan oleh pelayan. Baunya agak tidak sedap.” Ucap Lidia sedikit terkekeh.
“Iya bu..” Ucap Alice dan mengikuti Alice keluar dari kamar Anton.
Lidia dan Alice menuruni tangga dan menuju ruang keluarga. Anton yang melihat kedatangan mereka langsung berdiri dan mendekati Alice.
“Sayang..” belum selesai Anton akan menanyakan sesuatu kepada Alice, Lidia sudah memotong ucapan Anton.
“Ibu memiliki berita untuk mu dan Ayah. Alice dan ibu sudah memutuskannya.” Ucap Lidia. Anton yang mendengar itu mulai khawatir lagi dan memandang kearah gadisnya itu.
“Memutuskan mengenai apa?” Tanya Anton langsung.
“Ibu dan Alice sudah memutuskan besok malam adalah acara pertunangan mu dan Alice. Bagaimana apa kau setuju?” Tanya Lidia kepada anton anak bungsunya. Anton yang mendengar itu langsung menjawab dengan cepat.
“Tentu saja aku setuju.” Ucap Anton. Bram yang melihat itu juga menganggukkan kepalanya.
“Baiklah sudah di putuskan. Besok malam kita akan mengadakan pesta pertunangan di hotel Del Luna. Ibu akan mengabari lagi rekan-rekan kerja ibu dan ayah serta mengabarinya kepada kakak-kakak mu.” Ucap Lidia.
“Ibu.. terima kasih banyak.” Ucap Anton dan memeluk tubuh ibunya itu dengan erat.
“Baik bu.. tentu saja.. aku sangat menyayanginya aku pasti akan selalu membuatnya bahagia.” Ucap Anton dan menarik kekasihnya itu untuk ikut di peluk olehnya dan juga memeluk ibunya.
“Sudah, kalian berdua habiskanlah waktu bersama. Anton, suruh pelayan membereskan kamar di sebrang kamar mu. Alice akan menginap malam ini. Kalian hubungi rekan-rekan yang ingin kalian undang. Acaranya sedikit mendadak, jika mereka tidak bisa datang, ibu harap kalian tidak akan kecewa.” Ucap Lidia.
“Iya Bu.. aku hanya mengundang beberapa orang saja.” Ucap Anton akhirnya. “Bagaimana dengan mu sayang?” Lanjut Anton.
“Sama, tidak banyak yang akan aku undang.” Ucap Alice.
“Baiklah kalian hubungi mereka sekarang. Ibu dan ayah akan ke atas untuk menyiapkan semuanya.” Ucap Lidia dan Bram mengekori istrinya menuju lantai atas ruang kerjanya.
“Sayang.. kamu serius mau melakukannya mendadak tidak masalah bagi mu?” Tanya Anton lagi saat mereka hanya tinggal berdua di ruangan itu.
__ADS_1
“Iya tidak masalah.” Ucap Alice yakin.
“Terus, jadi benarkah kau akan menginap disini?” Tanya Anton lagi memastikan.
“He’em.. kenapa? Kau tidak senang aku akan menginap di sini?” Tanya Alice mulai cemberut.
“Bukan begitu maksudnya.. masalahnya berarti aku tidak bisa dong bermanja-manjaan berdua saja dengan mu.” Keluh Anton sendu.
“Maksud mu?” Tanya Alice bingung dengan ucapan kekasihnya, “Bukankah kau malah bisa bertemu lama dengan ku, jika aku berada di sini.” Lanjut Alice.
“Iya aku tahu itu.. tapi berarti kita tidak bisa melanjutkan acara kita yang terputus saat di rumah mu dong.” Ucap Anton akhirnya.
“Astaga Anton.. aku baru tahu ternyata kau mesum ya.” Ucap Alice kesal sambil mencubit perut kekasihnya itu.
“Auu.. sakit..” Anton yang merasakan cubitan di perutnya meringis dan mendorong lengan kekasihnya itu dan menggantinya dengan memeluk erat Alice.
“Terima kasih sudah mau memaafkan dan menerima ku.. sungguh aku sangat bersyukur, apalagi kau menyetujui lamaran kita meski mendadak. Dan terimakasih juga karena telah melamarku.” Ucap Anton menggoda Alice.
“Hemm aku adalah wanita gentle.” Ucap Alice dan memeluk tubuh Anton erat.
“Aku mencintai mu Alice.” Ucap Anton sambil mengecup kening gadis itu.
“Aku juga mencintaimu Anton.” Ucap Alice dan memandang wajah kekasihnya itu.
“Selalu di sisi ku ya, jangan pernah tinggalkan aku. Aku tak akan bisa jika tanpa mu.” Ucap Anton sambil mengelus pipi Alice.
“Jika kau menyebalkan dan melakukan trick trick aneh, aku tidak menjamin itu.” Ucap Alice sambil tersenyum menggoda Anton.
“Tidak akan, aku berjanji kepada mu.” Ucap Anton yakin dan mulai memegang dagu Alice dan mengecup bibir mungil itu. Kemudian mereka berciuman hangat melepaskan semua kegundahan di hati mereka. Alice melepaskan ciuman mereka.
“Aku mencintaimu…”
__ADS_1
“Aku juga sangat mencintai mu…”
Bersambung...