
15menit kemudian mereka sampai di penthouse yang mereka tempati.
"Al, Galih kalian baru saja tiba? Makan malam sudah siap ayo makan bersama." Ujar Roy saat melihat kedatangan Alice dan Galih menuju ruang keluarga.
"Ahh iya Kak.. Aku akan menyimpan ini dahulu." Ucap Alice pada tas belanjaan yang di pegang Galih.
"Tidak perlu.. Biar aku yang rapihkan.. Kau bersihkan diri mu saja." Ucap Galih dan menjauhkan tas belanja yang dia pegang dari jangkauan Alice.
"Ahh.. Baiklah kalau begitu.. Aku akan membersihkan diri ku dahulu." Ucap Alice kemudian pergi ke menuju kamarnya.
"Kalian habis dari mana?" Tanya Roy yang penasaran dengan tas belanja yang di bawa Galih. Roy mengikuti pria itu hingga ke pantry.
"Belanja snack buat Alice, sekalian aku juga lupa membawa pencuci wajah ku." Jawab Galih dan mulai mengeluarkan dan merapihkan ditempatnya masing-masing kedalam lemari atau lemari es.
"Ohhh padahal di dalam lemari itu sudah banyak isinya." Tunjuk Roy pada lemari di atas kepala Galih.
"Benarkah? Ya sudahlah buat stok saja." Ucap Galih pasrah. Bagaimanapun belanjaannya sudah mereka beli.
"Aku ke meja makan duluan." Ucap Roy dan berjalan meninggalkan Galih yang masih menyimpan berbagai makanan-makanannya sendirian.
Saat pria itu merapihkan barang belanjaannya dia sedikit syok dengan kotak yang berwana pink dengan tulisan pregnancy (kehamilan) dan emesis (mual). Pria itu penasaran dengan kotak yang ada di tangannya dan membacanya.
"Untuk ibu hamil yang mengalami mual muntah pada trimester pertama." Gumam Galih.
"Apakah Alice salah mengambilnya? Haihh dasar gadis itu. Dia pasti tidak sadar mengambil ini." Ucap Galih dan meletakkan kotak itu di atas meja di samping ketel listrik.
Setelah merasa pekerjaannya sudah selesai, Galih dengan santainya berjalan menuju meja makan yang sudah ada Juna dan Roy duduk bersebrangan disana dengan berbagai menu makanan diatas meja makan. Galih memilih duduk di kursi di samping Juna dan mereka berbincang dan bercanda sambil menunggu Alice.
Tidak berapa lama Alice turun dengan pakaian santainya kaus longgar dan celana bahan pendek setengah paha.
"Maaf lama." Ucap Gadis itu dan duduk di samping Roy.
"Tidak masalah.. Sudah cepat makan." Ucap Roy dan kemudian mereka semua memulai makan dengam sesekali berbicara di sela makan mereka.
__ADS_1
Setelah selesai makan Alice pergi ke pantry dan melihat kotak susu yang berada di sampong ketel listrik. Dengan sigap Alice menaruh air di dalam ketel itu dari keran dan kemudian menghubungkannya ke kontak listrik.
Alice menunggu beberapa saat, kemudian gadis itu mengambil sebuah gelas dan menuangkan beberapa sendok susu bubuk berwana ping pucat dengan wangi harum dan mais itu ke dalam gelas. Setelah air mendidih, Alice menuangkan setengah air panas dan setengah air suhu normal agar tidak terlalu panas. Setelahnya Alice mengaduknya sebentar dan mulai mencicipinya.
"Emhh enak.. Rasanya tidak buruk." Gumam Alice dan menghabiskan segelas penuh susunya.
Alice membuka beberapa pintu lemari dan menemukan sebuah toples kaca berukuran sedang berbentuk kotak.
"Emhh sepertinya ini cukup." Gumam Alice dan mengeluarkan bungkus plastik itu dan memasukkannya kedalam toples kedap udara dan menyimpannya di sudut meja dapur, kemudian Alice membuang kardus kotaknya ketempat sampah.
Alice berjalan menghampiri ketiga pria yang sedang asik menonton sebuah acara bola. Gadis itu duduk di samping Galih dan mengikuti menonton pertandingan yang sedang berlangsung.
"Hoam... Setelah kenyang aku jadi mengantuk.." Bisikmya pelan dan lambat laut gadis itu bersender kepada bahu Galih dan tidur terlelap.
"Ehh Alice tidur itu.. Pindahkan dia ke kamar sana." Ujar Roy saat menolehkan kepalanya ke arah samping kirinya di mana Alice tertidur di bahu Galih.
"Ahh astaga saking fokusnya aku melihat pertandingan aku tidak merasakan dia tidur di bahu ku." Jawab Galih merasa bersalah.
"Biar aku yang menggendongnya ke kamarnya." Ucap Juna dan bangkit dari duduknya.
Juna berjalan di depan dan di ikuti oleh Galih yang menggendong Alice. Juna membukakan pintu kamar Alice dan menarik selimut menjauh kearah tengah, kemudian Galih meletakkan tubuh Alice di tengah ranjang. Dengan sigap Juna menyalakan pendingin udara sedangkan Galih menyelimuti gadis itu.
"Sepertinya dia benar-benar lelah." Bisik Juna dan Galih mengangguk setuju.
Sebelum meninggalkan gadis itu, Juna menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu utama kamar kemudian menutup pintu kamar Alice rapat.
"Apa dia terbangun?" Tanya Roy saat melihat kedatangan kedua sahabatnya.
"Tidak.. Dia masih tidur dengan nyenyak." Jawab Juna santai dan duduk di sebelah kiri Roy, sedangkan Galih duduk di sebalah kanan Roy.
"Bagaimana rencana besok?" Tanya Galih khawatir.
"Kita sudah menaruh beberapa penjaga di dalam penthose bahkan di dalam hotel. Kau tidak perlu cemas. Aku juga sudah membawa beberapa mobil anti peluru, dan senjata untuk kita untuk melindungi diri." Jelas Juna membuat Galih dan Roy sedikit merasa tenang.
__ADS_1
"Kita hanya akan mengikuti Alice besokkan? Aku berharap besok tidak akan terjadi apapun." Ujar Galih.
"Kau tenang saja, saat ini kita tidak dalam keadaan bahaya. Saat berbahaya nanti adalah saat dimana mereka telah yakin bahwa Alice adalah Adeliana dan merupakan penghalang bagi mereka. Di saat itulah kita harus benar-benar memaksimalkan pertahanan, karena mereka pasti akan langsung menargetkan Alice." Jelas Juna lagi.
"Baiklah kita akan mebgikuti saran dari mu." Ujar Roy dan menepuk bahu Juna. Dia tahu kerja Juna sudah sangat maksimal untuk misi kali ini.
****
Anton masuk ke dalam ruangannya di bantu oleh seorang perawat yang mendorongnya dari kursi roda. Pria itu baru saja melakukan pengobatan fisioterapi untuk memperbaiki gangguan fungsi alat gerak/fungsi tubuh yang terganggu yang kemudian diikuti dengan proses/metode terapi gerak dan atau dengan peralatan.
"Tuan.." Sambut Paul yang sudah berada di dalam ruangan itu.
Paul membantu memapah Anton untuk duduk diatas ranjangnya. Perawat itu kembali meletakkan tabung cairan infus di tiang samping tempat tidur Anton dan kemudian pamit oergi untuk melakukan pekerjaannya yang lain.
Bagaimana dengan pencarian informasi mu?" Tanya Anton langsung tanpa basa-basi.
"Nona Alice penerbangan tadi siang pukul 11.45 AM menuju ke kota X di negara X." Ucap Paul hati-hati.
"Apa? Bagaimana bisa dia pergi ke kota itu lagi? Bahkan dirinya saja masib belum pulih." Ucap Anton yang mulai cemas.
"Apa misi dia kali ini?" Tanya Anton mulai tidak tenang.
"Sepertinya mereka merencanakan untuk mengembalikan nama Alice dan masuk ke dalam perusahan milik keluarga baskoro." Jelas Paul lagi, yang mana membuat Anton benar-benar jadi tidak tenang.
"Astaga bagaimana ini.. Jika Fiktor atau Lidia benar-benar tahu Alice adalah Adeliana, bisa langsung di pastikan Alice akan dalam bahaya!" Ucap Anton khawatir.
"Tuan tenang saja.. Selain nona Alice yang pergi, dia di temani oleh Roy yang merupakan pemilik sekaligus direktur utama RJP, Galih yang merupakan IT hebat RJP dan Juna tim keamaan utama tingkat 1 RJP." Jelas Paul untuk membuatnya tenang.
"Aku masih belum bisa tenang Paul.. Apalagi aku tifak bisa kesana untuk melindunginya." Ucap Anton frustasi.
"Tuan.. Saat ini tuan lebih penting memikirkan bagaimana dengan kondisi kesehatan tuan, agar tuan bisa dengan cepat kembali untuk melindungi nona Alice. Untuk saat ini izinkan saya yang akan membantu menjaga nona Alice dari jauh." Saran Paul.
"Ahh benar juga ide mu.. Bukankah kata mu Alice ingin mengambil kembali identitasnya? Jika begitu kau langsung terbang ke kota X dan bantu dia mendapatkan kembali haknya, bantu dan lindungi dia." Perintah Anton tegas.
__ADS_1
"Baik tuan." Jawab Paul penuh hormat.
Bersambung....