
Adelia menghampiri Axel yang tertelungkup di atas tanah dengan memegangi perutnya dan wajah yang meringis kesakitan, hantaman yang di layangkan oleh preman itu begitu keras sehingga membuat mulutnya mengeluarkan darah.
''Axel...! bangun Xel," Adel menghampiri Axel dengan wajah cemas.
"Aku ti-dak A-pa Apa Del,'' ucap Axel mengusap darah di bibir dan mencoba untuk bangun.
''Bagaimana ini? uang ku semuanya ada tas itu, sekarang bagaiman kita pulang? tidak ada uang yang tersisa sedikitpun,'' ujar Adel dengan air mata yang memenuhi kelopak matanya.
''Maafkan aku, karena telah gagal mengambil kembali tas itu, padahal itu di dalamnya ada uang hasil jualan kita selama beberapa hari kemarin,'' Axel sudah dalam keadaan duduk.
''Bagaimana ini? hiks hiks hiks...''
Adel duduk di atas tanah dengan menangis sesenggukan, dia merasa sangat sedih, sekaligus kesal, karena hasil keringatnya selama menjual gorengan telah raib di bawa para penjambret.
Sialnya, Adel membawa semua uang yang ia punya, di rumah dia sama sekali sudah tidak punya tabungan ataupun uang simpanan, lalu bagaimana dia akan memulai kembali berjualan, semua uang modalnya sudah tidak ada sama sekali.
''Hiks... hiks... hiks...!" Adel menangis tersedu sedu.
"Sudah, kamu jangan terlalu bersedih, aku janji akan mencari pekerjaan, agar kita bisa mendapatkan modal untuk mu kembali berjualan," Axel menenangkan.
"Tapi bagaimana kita pulang sekarang? aku sudah tidak ada uang sama sekali, apa kita akan jalan kaki?" tanya Adel mengusap air mata di pipinya.
"Kita pikirkan itu nanti, sekarang kita pergi dulu dari sini."
Adel mengangguk dan membantu Axel berdiri, dan kemudian mereka pun berjalan dan pergi dari tempat itu.
_______------_______
Ibu Sarah menunggu dengan cemas di depan rumahnya, sudah sejak pagi Adel dan juga Axel pergi ke pasar, dan sampai matahari sudah hampir terbenam pun, mereka belum juga kembali.
Ibu pun mengambil ponsel dari saku bajunya, dan mencoba menelpon Adel, namun ponselnya nya sedang dalam keadaan tidak aktif.
"Duh, mereka kemana ya? sudah hampir Maghrib, apa mereka tidak apa-apa?" ucap ibu dengan suara pelan.
__ADS_1
Dan benar saja tidak lama kemudian Adzan pun berkumandang, ibu masuk ke dalam rumah dengan dalam perasaan cemas. Setelah menunaikan sholat Maghrib, Ibu kembali ke depan dan berjalan mondar mandir sambil melihat ke arah jalan, berharap Axel dan putrinya segera datang.
Beberapa saat kemudian, Axel dan putrinya datang dengan berjalan, wajah keduanya terlihat murung, dan mata Adel nampak sembab karena dia menangis sepanjang jalan.
Ibu pun langsung berlari menghampiri dengan perasaan lega, dan senyum tipis mengembang di kedua pipinya.
"Adel...! Axel...! kalian kemana saja? mengapa baru pulang? ibu sungguh cemas, seharian menunggu kalian di sini."
"Ibu...! hiks hiks hiks...!" Adel memeluk ibu, lalu kembali menangis sesenggukan.
''Kamu kenapa nak? apa yang terjadi?'' ibu merasa heran.
''Kita di jambret bu,'' ujar Axel dengan masih memegangi perutnya yang masih terasa nyeri.
''Apa...!" ibu terkejut dan membelalakan bola matanya.
"Iya, Bu. Jambret itu ngambil tas aku, dan di dalamnya ada uang hasil kita berjalan, semua uangku ada di dalam tas itu, bagaimana ini bu? kita gak punya lagi uang untuk modal jualan, hiks hiks hiks...'' ujar Adel melepaskan pelukannya dan menatap sang ibu.
''Kamu gak usah sedih, sayang. Rezeky itu sudah ada yang ngatur, ibu yakin, uang yang hilang itu akan tergantikan, jika kita ikhlas,'' ibu menenangkan.
''Sudah, itu bisa kita bicarakan lagi nanti, sekarang kalian masuk dan istirahat, kalian pasti lelah, kan?''
Adel dan Axel mengangguk, lalu mereka bertiga berjalan dan masuk ke dalam rumah.
Keesokan harinya.
Pagi ini tidak seperti biasanya, ibu dan Adel yang biasanya sibuk menyiapkan adonan untuk membuat gorengan kini tak lagi di lakukan, karena sudah tidak memiliki modal untuk membeli bahan.
Uang mereka sudah benar benar habis tak bersisa, karena musibah yang menimpanya di pasar. Para pembeli yang datang ke rumahnya pun terpaksa kembali dengan perasaan kecewa, karena gorengan yang hendak mereka beli, tidak tersedia.
''Bu...!'' Axel menghampiri dan duduk di samping sang ibu.
Ibu menoleh dan sedikit tersenyum. wajahnya terlihat sedih, seperti sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
''Ibu sedang memikirkan apa?'' tanya Axel.
''Tidak, nak. Ibu tidak sedang memikirkan apa-apa ko,'' jawab ibu berbohong.
''Ibu bohong, terlihat jelas dari raut wajah ibu, bahwa ibu sedang memikirkan sesuatu. Apa ibu memikirkan kejadian kemarin?''
Ibu hanya tersenyum tipis.
''Maaf, Bu. Karena aku gagal melindungi tas milik Adel, seharusnya aku yang membawa tas itu,'' Axel menyalahkan diri sendiri.
''Tidak ko nak, jangan menyalahkan diri sendiri, memang sudah jalannya harus seperti ini.''
Axel tersenyum kembali menatap wajah sang ibu. Tak lama kemudian Adel datang dan duduk di samping ibu, dengan memasang wajah sedih. Ia menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu. Ibu pun mengusap rambut putrinya dengan lembut.
''Sudah, jangan sedih lagi, nanti ibu akan mencoba mencari pinjaman untuk modal kita berjualan.''
Adel hanya mengangguk.
''Ibu tahu tidak, sebenarnya kemarin aku berhasil melawan 7 penjambret itu sendirian, mereka semua dapat aku kalahkan dengan mudah, seperti ini...''
Axel berdiri dan memperagakan keahliannya berkelahi, dengan meninjukan tangan, dan melayangkan kakinya ke udara, sambil sedikit bercanda, mencoba menghibur ibu dan juga Adelia.
Usahanya tak sia-sia, karena dia melihat adel dan juga Ibu tersenyum menatap dirinya, merasa terhibur. Axel terus melakukan aksinya, mempraktekan sewaktu dia berkelahi dengan para penjambret itu.
''Aku jadi benar-benar penasaran siapa aku sebenarnya? mengapa aku sangat pandai berkelahi?'' Axel kembali duduk.
''Aku juga penasaran. Apa mungkin tebakanku yang terakhir itu benar, bahwa kamu adalah seorang mafia? aku pernah menonton film tenang mafia, dan biasanya mereka pandai sekali berkelahi seperti kamu, tapi sayangnya mereka jahat, tidak segan melukai bahkan membunuh orang yang tidak dia suka,'' Adel mengerucutkan bibirnya.
''Akh, gak mungkin, mafia itu jahat dan kejam, sedangkan aku, aku baik hati dan juga penyayang, mana mungkin aku seorang mafia?membunuh seekor semut saja aku tak tega, ha... ha... ha...!'' Axel tertawa.
''Lalu, sebenarnya apa pekerjaanmu? mengapa kamu sangat pandai berkelahi?''
''Sudahlah, jangan membahas masa lalu dan siapa aku yang sebenarnya, karena aku sama sekali tidak tertarik mengetahuinya, aku sudah senang hidup sebagai Axel dan tinggal dengan ibu dan juga kamu,'' ucap Axel menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu, sama seperti yang di lakukan Adel.
__ADS_1
Ibu pun mengelus kepala Adel dan juga Axel yang saat ini sedang bersandar di bahunya. Mengusapnya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.
____________-----------____________