
''Aku memang sudah bicara empat mata dengan dia, dan Om Alex pun sudah bersedia untuk membantu aku mendamaikan Papi dan Om Revan,'' ucap Lucky.
''Jadi benar 'kan kamu tahu hal ini dari Om Alex? aku sudah menyangka-nya.''
''Aku benar-benar bingung, bang,'' lirih Lucky mengusap kasar wajahnya.
''Kamu gak usah bingung, Abang akan membantu kamu, katamu Om Alex juga bersedia membantu kita, jadi, kamu gak usah khawatir, kamu fokus saja sama kesembuhan pacar kamu,'' El mengusap punggung adik bungsunya.
🍀🍀
Sementara itu, dia markasnya, Leo pun mengumpulkan seluruh anak buahnya, dia berdiri tepat di depan sekitar lebih dari 20 orang, berdiri dengan gagah dan penuh karisma dan tentunya dengan Ryan yang selalu setia menjadi tangan kanannya, berdiri tepat di sampingnya Leonardo, membuat seluruh anak buahnya menunduk penuh hormat.
''Dengar, mulai besok kita akan mulai bergerak, aku akan tugaskan beberapa orang dari kalian untuk mengintai markas si Revan, dan laporkan perkembangan-nya setiap hari kepadaku, mengerti ...'' Tegas Leo.
''Baik, Bos ...!'' jawab seluruh anak buahnya serempak.
Tidak lama kemudian, ponsel di saku celana Leo pun berdering, refleks Leo pun merogok saku celananya itu, dan meraih ponsel. Leo pun nampak menatap dengan tatapan heran, karena nomor yang tertera di layar ponsel sama sekali nomor yang tidak dia kenal.
📞 ''Halo ... Siapa ini?'' tanya Leo tegas.
📞 ''Halo Leonardo, ini aku. Apa kamu sudah lupa kepadaku, hah ...?''
📞 ''Revan ...'' suara Leo terdengar geram dengan tangan yang di kepalkan.
📞 ''Betul ... Apa kabar, Leonardo?''
📞 ''Sudah gak usah banyak basa-basi, katakan saja ada perlu apa menelpon aku?''
__ADS_1
📞 ''Serahkan menantu kamu padaku, karena aku masih punya urusan sama dia,'' tukas Revan.
📞 ''Ha ... ha ... ha ... Coba ambil dia kalau berani, kalau kamu benar-benar ingin mati di tanganku, kebetulan sekali, sudah lama aku gak ngebunuh orang, dan tanganku ini sudah gatal sekali rasanya.''
📞 ''Kamu pikir aku takut sama ancaman kamu, hah ...? katakan dimana dan kapan kita bisa bertemu, kita selesaikan urusan kita, aku pun sudah gak sabar untuk menghabisi nyawamu, Leo.''
📞 ''Oke ... Temui aku dua Minggu lagi di Dermaga, kamu masih ingat tempat itu 'kan? tempat dimana aku bertarung terakhir kalinya dengan si Alex?''
📞 ''Tentu saja aku ingat.''
📞 ''Syukurlah kalau kamu masih ingat, jangan lupa bawa sekalian anak buah mu, agar aku bisa menghabisi mereka sekaligus,'' tegas Leo penuh penekanan.
📞 ''Sombong sekali kamu, Leonardo. Baiklah ... Dua Minggu lagi kita bertemu di Dermaga jam 19.00. Oke ...?''
📞 ''Deal ...'' jawab Leo lalu menutup telpon.
''Kalian dengar, kita akan bertarung dua Minggu lagi, persiapkan diri kalian baik-baik, aku tidak ingin kalian terluka parah, mengerti ...?'' Tegas Leo kepada seluruh anak buahnya.
''Tapi, bos. Apa perlu kita mengintai kediaman Revan juga?'' tanya Ryan.
''Tentu saja, lakukan itu selama 24 jam, aku tidak ingin dia berbuat curang ataupun merencanakan sesuatu untuk menyakiti keluargaku,'' jawab Leo menoleh.
''Baik, bos ...'' jawab Ryan.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba saja Gabriel berjalan memasuki markas, dia datang ke sana khusus untuk menemui mertuanya. Leo menatap lurus ke arah Gabriel, mengerutkan keningnya seketika.
''Ada perlu apa kamu datang kemari menantu kesayanganku ...?'' tanya Leo berjalan menghampiri.
__ADS_1
''Maaf kalau kedatangan aku kemari mengganggu pembicaraan Papi,'' ucap Briel berdiri tepat di depan Leo.
''Gak apa-apa, lagipula Papi sudah selesai bicara dengan mereka semua. O iya ... kalian ... perkenalkan dia adalah menantu kesayangan aku, hormat'lah padanya sama seperti kalian hormat kepadaku,'' ucap Leo memperkenalkan.
'Wah beruntung sekali dia jadi menantu kesayangannya si bos ...' ( Salah satu anak buah )
Serempak mereka pun membungkuk memberi hormat kepada menantu dari bos-nya tersebut.
''Sekarang katakan, ada perlu apa kamu datang ke sini?''
''Izinkan aku ikut bertarung melawan si Revan,'' pinta Gabriel langsung ke intinya.
''Nggak, Briel. Papi gak mau kalau kamu sampai terluka, apalagi sampai kehilangan nyawa, gimana nasib istrimu dan cucu papi nantinya?'' tolak Leo merasa khawatir.
''Aku janji gak akan terluka apalagi kehilangan nyawa, aku menyimpan dendam yang mendalam kepada si Revan itu, aku mohon izin aku, Pap ...'' Gabriel terus memohon.
''Tapi, Gabriel ...?''
''Papi tau aku ini siapa 'kan? meskipun tidak ingin menyombongkan diri, tapi kemampuan aku di atas rata-rata, bahkan mungkin melebihi kemampuan mereka semua, jadi aku harap Papi memberi kesempatan padaku untuk ikut dalam misi ini, dan terutama aku juga ingin melindungi Papi, aku gak mau Papi sampai terluka.''
''Ha ... ha ... ha ...! Papi bukan anak kecil yang harus dilindungi, Briel. Apa kamu lupa siapa Papi? Papi adalah bos Mafia yang paling disegani di negeri ini, meskipun umur Papi sudah tidak muda lagi, tapi kemampuan Papi masih tetap sama, bukankah kamu juga pernah merasakan gimana hebatnya kemampuan beladiri Papi?'' ucap Leo diiringi tawa yang menggelar.
''Iya, aku tau, Pap. Papi memang Mafia paling kuat dan paling hebat di negeri ini.''
''Satu lagi jangan sampe lupa. Paling tampan ... Ingat itu ...''
''Baik, Pap ... aku akan ingat semua itu.'' Jawab Briel sedikit tersenyum.
__ADS_1
''Hmm ... Setelah dipikir-pikir, Papi memang memerlukan kamu dalam misi ini, sebagai mantan anak buahnya si Revan itu, tentu saja kamu memiliki banyak informasi tentang dia, baiklah ... Kamu boleh ikut, kamu akan menjadi tangan kiri Papi mulai sekarang, tapi ingat, kamu harus bisa jaga diri kamu dengan baik, jangan sampai putriku menjadi janda di usia muda, mengerti ...?''
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀