
Axel sedikit menitikkan air mata, karena mimpi yang baru saja dia dapatkan membuat ingatannya kembali dengan utuh.
Ibunya yang bernama Nyonya Liana, kekasihnya, Angelina, dan laki-laki yang bernama Alex Will yang merupakan musuh terbesarnya pun dia dapat mengingatnya dengan jelas, bahkan pekerjaannya sebagai seorang mafia pun dia telah mengingat sepenuhnya.
''Ibu...'' Axel memanggil ibu Sarah dengan tatapan sendu dan air mata yang terus meleleh membasahi pipinya.
Dia pun bangkit dan berdiri lalu memeluk ibu yang sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri.
''Kamu kenapa? Axel...?'' ibu bertanya dengan wajah yang terlihat heran.
Axel tidak menjawab. Dia hanya terus menangis sambil memeluk tubuh ibu. Mendekapnya dengan sangat erat, sambil menyesali tentang siapa dirinya yang sebenarnya dan hidup yang telah dia jalani selama ini.
Ibu tidak bertanya lagi, dia hanya mengelus punggung dan rambut Axel dengan penuh kasih sayang, membiarkan Axel melupakan kesedihan di dalam pelukannya, meskipun dia sendiri tidak tahu kesedihan apa yang sedang di rasakan oleh pria yang sebentar lagi akan segera menjadi menantunya tersebut.
Axel melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Ibu, pelupuk matanya terlihat penuh dengan air mata, dan raut wajahnya terlihat seperti menahan kesedihan.
Ibu pun kembali menatap wajah Axel dengan tatapan penuh kasih sayang, dia merasa sangat heran melihat raut wajah Axel yang tidak seperti biasanya. Ibu mengusap air mata Axel dengan jemarinya.
''Ibu tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan sehingga kamu menangis seperti ini, ibu hanya mau bilang, jika kamu menangis, wajah tampan mu akan hilang,'' ucap Ibu mencoba menghibur.
Axel tersenyum seketika. Calon mertuanya ini memang pandai menghibur dirinya, dengan hanya mengucapkan hal tersebut hatinya sudah merasa sedikit senang.
Axel pun bertekad akan berubah, dia akan mengubur masa lalunya, dan melupakan ingatan yang saat ini sudah tersusun sangat rapi di dalam otaknya.
Dia akan memulai hidup baru sebagai Axel, bukan sebagai Leonardo, yang merupakan seorang Mafia kejam, pekerjaan yang selama ini ia kerjakan, sebelum hilang ingatan.
''Bagaimana? apakah perasaan kamu sudah sedikit tenang?'' tanya ibu dengan masih menatap wajah Axel.
Axel mengangguk lalu tersenyum. Dia terlihat mengusap air mata yang membasahi pipinya dengan kedua tangannya.
''Sekarang kamu tidur lagi ya, lagipula ini masih malam,'' pinta ibu Kemudian.
Axel pun hanya mengangguk dengan senyum yang mengembang di kedua sisi bibir menyembunyikan kesedihan.
__ADS_1
Ibu melangkah keluar dari dalam kamar lalu menutup kembali pintu kamar dari arah luar. Sementara Axel kembali berbaring dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebalnya.
Dia seolah ingin bersembunyi di balik selimut, entah bersembunyi dari siapa, yang jelas mimpi yang baru saja dia dapatkan seolah nyata yang membuat dirinya benar-benar ketakutan.
Sejujurnya Axel berharap seharusnya ingatannya tidak pernah kembali sama sekali, dengan begitu tidak akan ada perasaan takut dan tersiksa, dia sungguh tidak menginginkan kehidupan lama nya kembali. Sekarang dia hanya ingin hidup tenang bersaman Adelia dan Ibu Sarah.
Untuk saat ini dia akan menyembunyikan prihal ingatannya yang telah kembali, dari Adel dan Ibu, dia takut mereka berdua tidak kan Sudi menerima dirinya apabila mereka tahu siapa dia yang sebenarnya.
"Mulai saat ini dan seterusnya Aku adalah Axel, bulan Leonardo, Laki-laki yang bernama Leonardo sudah mati."
Dia bergumam sendiri dari dalam selimut, mengucapkan hal itu selama berkali-kali hingga ia pun mulai terpejam dan kembali tertidur lelap.
Keesokan harinya.
Meskipun pernikahan akan di adakan satu Minggu lagi, rumah ibu belum menunjukan kesibukan yang biasanya terlihat dari rumah yang akan menggelar hajatan.
Adel masih melakukan pekerjaan rumah seperti biasanya, mencuci, menyapu bahkan membereskan rumah, tidak ada perlakuan khusus untuk calon pengantin yang akan segera sah menjadi istri dari Laki-laki yang ia namai Axel.
Axel menghampiri hendak menawarkan diri menggantikan pekerjaan yang sedang dia kerjakan. Axel berdiri di samping calon istrinya.
''Mau aku bantuin?'' Axel menawarkan diri.
''Nggak usah, cuma sedikit ko," jawab Adel dengan tanpa menoleh sama sekali, dia tetap menunduk meraih satu persatu piring yang berada di hadapannya.
"Ya sudah kalau begitu," Axel pergi begitu saja.
"Ciih... dasar, gak niat bantuin, hanya basa-basi saja,'' Adel menggerutu sendiri.
Selesai mencuci piring, dia pun berjalan keluar menuju teras rumah, di sana sudah nampak Axel duduk sendiri menatap dengan pandangan kosong ke arah depan, wajahnya terlihat datar namun seperti sedang banyak pikiran.
Adel menghampiri Axel dan duduk di sebelahnya. Dia menatap dari arah samping wajah tampan calon suaminya tersebut.
''Lagi mikirin apa?'' tanya Adel.
__ADS_1
Axel yang tidak menyadari kedatangan calon istrinya tersebut, merasa kaget seketika membuyarkan lamunannya, ia menoleh ke arah Adel lalu tersenyum datar.
''Aku perhatikan, sepertinya hari ini kamu lebih banyak diam dan melamun? apakah ada yang sedang mengganggu pikiran mu? ataukah kau bermimpi buruk lagi?'' tanya Adel yang merasa heran melihat perubahan sikap Axel yang tidak ceria seperti biasanya.
''Nggak ko, aku hanya sedang sedikit malas saja,'' Axel menjawab dengan menatap jauh ke depan.
''Apa kamu sedang memikirkan rencana pernikahan kita? jika kamu keberatan, acaranya bisa di batalkan ko,'' Adel kembali bertanya.
''Apa...? tidak ko, kata siapa aku merasa keberatan dengan rencana pernikahan? justru sebaliknya, aku sangat senang dan sudah tidak sabar untuk segera menikahimu,'' jawab Axel yang merubah raut wajahnya seketika, yang semula datar kini terlihat tersenyum bahagia.
''Bohong...?'' jawab Adel merasa tidak percaya.
Dia sangat yakin jika Laki-laki tampan yang sebentar lagi akan menjadi suaminya ini, sedang menyembunyikan sesuatu darinya, hal itu dapat dia lihat dari perubahan raut wajah Axel yang dengan cepat berubah seketika.
''Apa ada yang kamu sembunyikan dari aku?'' tanya Adelia memandang wajah Axel dengan tatapan tajam.
''Tidak, calon istriku sayang, mana berani aku menyembunyikan sesuatu darimu,'' Axel menjawab dengan mencubit kecil pipi Adelia mencoba berbohong.
''Awas saja ya jika kamu berani menyembunyikan sesuatu dari aku, nih, nanti aku kasih bogem mentah buat kamu,'' Adel mengepalkan tangannya lalu merapatkannya ke arah perut datar Axel.
''Iya... iya.. sayang,'' Axel tersenyum, lalu ia meraih lengan Adel dan menggenggam erat jemarinya, diapun mengangkat kepalan tangannya dan mengecup punggung lengan calon istrinya dengan pelan dan penuh kasih sayang.
_____-----_____
Satu Minggu Kemudian
Akhirnya hari itu pun tiba, hari dimana Axel dan Adel akan menikah, pernikahan pun di adakan secara sederhana, tanpa tenda biru dan tanpa riasan pengantin.
Karena acara pernikahan di adakan secara mendadak maka yang hadir pun hanya orang-orang terdekat, menyaksikan Axel mengucapkan ijab kabul dengan sangat lancar tanpa satu hambatan apapun.
Namun acara pernikahan pun mendadak riuh, karena tiba-tiba saja datang beberapa orang preman berpakaian serba hitam dengan kaca mata pun berwarna hitam.
_____________----------______________
__ADS_1