Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Menahan Rasa Lapar


__ADS_3

Ceklek


Axel perlahan membuka pintu kamar tempat dimana saudara kembarnya di rawat, serta Amora yang berjalan mengikuti dari arah belakang, dengan setia selalu menemani sahabat serta kekasihnya yang sedang dalam keadaan terpuruk.


Axel kemudian mengangkat tubuh Al naik ke atas ranjang, wajah Al yang terlihat pucat melayangkan tatapan kosong dengan wajah datar tanpa ekspresi apapun.


''Kaka, kenapa? kenapa wajah Kaka pucat sekali? bukannya tadi waktu keluar wajah Kaka sudah sedikit ceria, ya ...?'' tanya Lucky, merasa heran dengan perubahan raut wajah kakaknya.


''Ceritanya panjang, Dek. Nanti Abang ceritain, sekarang biarkan kakakmu istirahat, jangan banyak bertanya dulu,'' jawab El, mewakili saudaranya menjawab.


Lucky mengerutkan keningnya, semakin menatap lekat wajah sang Kaka, merasa kecewa karena keceriaan yang tadi tunjukan oleh Kaka perempuannya itu tidak bertahan lama.


''O iya, Dek. Di bawah ada Papi tuh?''


''Papi ...? Bukannya dia di kantor, ya?''


''Nggak, dia ada di sini sekarang. Di ruang ICU ...''


''Lho, ko di ruangan ICU?'' tanya Lucky semakin tidak mengerti.


''Udah jangan banyak tanya, kalian ke sana saja agar tahu semuanya,'' jawab El, menatap ke arah Lucky dan juga Emillia pacar sang adik.


''Oke, aku ke sana sekarang ...'' Lucky menggandeng pergelangan tangan kekasihnya lalu berjalan keluar dari dalam kamar.


Sepeninggal Lucky, kini tinggal mereka bertiga di dalam sana, Amora nampak berdiri tepat di samping Axel, mengusap punggung kekasihnya, yang terlihat begitu terpukul melihat keadaan saudara kembarnya.


Sementara itu, Al perlahan mulai memejamkan mata, sepertinya dia benar-benar kelelahan, sehingga dia pun langsung tertidur sesaat setelah tubuhnya berbaring dia atas ranjang.


Axel menatap nanar wajar kembarannya, raut kesedihan terlihat begitu jelas dari wajah tampan seorang Axel, cobaan bertubi-tubi menimpa kembarannya itu seolah membuat dirinya benar-benar terpukul, dia bahkan sudah beberapa hari ini tidak makan apapun, membuat Amora sang kekasih merasa khawatir.


''El ... Aku keluar dulu sebentar, ya? Aku mau beli makan, lapar banget nih,'' ucap Amora.


''Mau aku antar?''


''Gak usah, aku bisa pergi sendiri, kasian Al, kalau dia sampai di tinggalkan sendiri, aku pinjam mobil kamu aja.''


''Ya sudah, hati-hati di jalan ya,'' jawab El dengan ekspresi datar, lalu memberikan kunci mobil.


''Aku pergi sekarang, ya.''

__ADS_1


Axel menganggukkan kepalanya.


Kemudian dia pun kembali menatap wajah Axela, yang kini telah terpejam sempurna, seperti tertidur begitu lelapnya.


Setelah puas dalam memandangi wajah kembarannya, dia pun berjalan menuju kursi dengan langkah gontai dan perasaan tidak karuan.


Sebenarnya, perutnya saat ini terasa sangat lapar, namun, dia sama sekali tidak tahu harus memakan apa, karena selera makannya sudah benar-benar hilang, suara kecil pun terdengar dari perut datarnya, menandakan bahwa perutnya itu minta di isi oleh makanan.


Dia pun mengusap perutnya pelan, seraya menahan rasa lapar, dia mencoba untuk memejamkan mata, berharap perutnya itu akan berhenti berbunyi jika dirinya tertidur.


30 menit kemudian, Amora pun kembali dengan membawa empat bungkus nasi Padang, dia membuka pintu kamar dengan sedikit pelan karena tidak ini membangunkan Al yang sedang terlelap.


Wajah Amora nampak tersenyum kecil, saat melihat Axel sang kekasih, meringkuk di atas kursi dengan mata yang terpejam dan tangan yang memegangi perutnya.


'Kamu pasti lapar, kan?' (Gumam Amora di dalam hatinya)


Dia pun duduk di tepi kursi, tempat yang sama dimana Axel berbaring.


''El, bangun ... Makan dulu, yu. Aku bawakan makanan kesukaan kamu, nih,'' Amora menggoyangkan tubuh kekasihnya.


El pun membuka mata pelan.


''Gak usah, aku gak lapar,'' jawab El datar.


Mendengar suara berisik yang berasal dari perut Axel pun membuat Amora tersenyum, lalu menarik tangan kekasihnya itu untuk duduk, meski dengan sedikit paksaan.


''Sudah jangan bohong, aku tahu kamu belum makan, lihat nih, aku bawa nasi Padang, lengkap dengan rendang dan teman-temannya,'' Amora membuka satu bungkus dan meletakkannya di atas meja membuat Axel merasa tergiur sebenarnya.


''Tapi, Ra. Aku lagi gak berselera makan,'' rengek El sedikit menolak.


''Axel, kekasihku, cintaku, tampannya aku, dengerin ya, kamu itu harus punya tenaga yang banyak untuk menjaga dan menemani Axela, kalau kamu tidak makan, nanti badan kamu lemas, jatuh sakit, gimana mau ngejaga saudara kamu, kalau kamu tidak bisa menjaga tubuh kamu sendiri?'' ucap Amora panjang lebar.


Mendengar ucapan kekasihnya, Axel pun akhirnya memperbaiki posisi duduknya, dia kini duduk tepat di depan meja, menatap makanan yang terlihat menggiurkan, dan akhirnya dia pun mengulurkan tangannya hendak meraih nasi Padang tersebut.


''Hus, nanti dulu.'' Amora menepis tangan kekasihnya.


''Ada apa lagi, sayang? tadi katanya aku di suruh makan?'' El menoleh sedikit kesal.


''Cuci tangan dulu, El. Tadi kamu sudah dari ruangan ICU, kan?''

__ADS_1


''O iya, aku lupa. Makasih ya, sayang. Udah ngingetin aku, sekarang aku cuci tangan dulu deh,'' jawab El tersenyum, lalu melangkah menuju wastafel dan mencuci tangannya menggunakan sabun, hingga tangannya itu benar-benar bersih sekarang.


Setelah itu, dia pun kembali duduk di samping sang kekasih, dan mulai memakan nasi Padang yang merupakan makanan kegemaran dirinya. Axel pun makan dengan begitu lahapnya, suapan pertama yang dia masukan ke dalam mulut benar-benar membangunkan selera makannya seketika.


''Enak, kan?'' tanya Amora tersenyum, menatap wajah kekasihnya.


Axel pun hanya mengangguk, karena mulutnya sedang penuh dengan makanan.


''Pelan-pelan, nanti kamu tersedak, lho.''


Axel hanya mengangguk pelan, seraya tersenyum.


🌹🌹


Adelia sedang berbaring di dalam kamarnya, malam ini dia hanya sediri di rumahnya, karena putra-putrinya sedang berada di Rumah Sakit, begitupun dengan sang suami yang masih belum pulang juga sampai saat ini.


Dia pun mencoba memejamkan mata, meski terasa begitu sulit untuk dirinya terlelap, otak dan pikirannya terus tertuju pada sang putri yang saat ini sedang menghadapi masalah besar.


Adel semakin merapatkan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya, berharap jika dia melakukan itu, tubuhnya akan terasa lebih hangat dan perlahan akan mulai terlelap, namun, harapannya ternyata sia-sia, karena berusaha sekuat apapun, matanya seolah menolak untuk terlelap.


Akhirnya dia pun meraih ponsel yang dia letakan secara sembarangan di atas tempat tidur, menatap layarnya lalu menelpon sang suami memintanya untuk segera pulang sekarang juga.


Tut


Tut


Tut


Suara telepon yang belum di angka.


📞"Halo, sayang. Kamu dimana?'' tanya Adelia sesaat setelah suaminya itu mengangkat telpon


📞''Aku sedang di jalan, sayang. Sebentar lagi juga pulang.''


📞''Ya sudah, aku tunggu di rumah ya, entah mengapa perasaan aku tidak enak hanya sendirian di rumah.''


📞''Baik, sayang.''


Adelia hendak menutup telpon, namun dia mengurungkan niatnya saat dia mendengar suara seperti ledakan yang dia dengar dari dalam telpon, membuatnya terkejut seketika, dan berteriak memanggil nama suaminya, namun, sambungan telpon pun terputus seketika itu juga.

__ADS_1


______________------------______________


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Reader, terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2