
Emillia diam sejenak, memikirkan ajakan Alex yang merupakan ayah dari Amora, sahabatnya. Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Emill pun menganggukkan kepalanya menerima ajakan pria yang dia panggil dengan sebutan Om itu.
Alex tersenyum senang, melihat wanita berwajah anggun itu menganggukkan kepala menerima ajakannya.
''Silahkan kamu duluan,'' pinta Alex merentangkan tangan seraya membuka lebar telapak-nya.
''Nggak, Om aja yang duluan.''
''No ... the first girl...'' ucap Alex tersenyum.
''Baiklah kalau begitu,'' jawab Emil berjalan di depan.
Alex pun mengikuti dari arah belakang, masih dengan tersenyum senang, dia menatap setiap langkah kaki Emill yang perlahan memasuki jalan setapak menuju hamparan sawah yang membentang hijau menyejukkan mata.
Angin sepoi-sepoi pun nampak menyapu rambut panjang terurai Emillia, udara segar pesawahan yang menyejukkan perlahan terasa oleh kedua orang itu, hingga membuat keduanya tersenyum merasa senang, dan kegundahan yang tadi sempat dirasakan oleh Emillia pun mendadak hilang.
Akhirnya, mereka hampir tiba di gubuk bambu yang terletak tepat di tengah-tengah sawah, gubuk penuh kenangan bagi Emillia, karena di tempat inilah dia benar-benar mengakhiri hubungannya dengan laki-laki bernama Lucky Pratama.
Saat Emill hendak menapaki pijakan terakhirnya sebelum dia benar-benar sampai di gubuk tersebut, tiba-tiba saja matanya dikejutkan dengan penampakan ular sawah berukuran jempol orang dewasa, sontak saja hal itu membuat Emillia menjerit lalu berbalik dan memeluk tubuh Alex yang berada tepat di belakangnya.
''Aaaa ...! Ular Om, ular ...!'' teriak Emill. Dia melingkarkan kedua tangannya di leher Alex, membuat Alex terkejut dan membulatkan bola matanya seketika.
''Mana, mana ularnya ...?'' tanya Alex gugup sebenarnya.
''Di sana, Om.'' Emill menunjukan satu jarinya ke arah ular yang perlahan menjauh memasuki hamparan padi dibawahnya.
''Oh itu, udah gak ada, Emil. Ularnya cuma lewat aja tadi,'' jawab Alex tersenyum sumringah.
''Benarkah ...?''
''Iya ...''
Emil perlahan melepaskan lingkaran tangannya, wajahnya tersipu malu. Diapun hendak melanjutkan langkahnya, namun, karena tanah yang licin, membuatnya hampir terjatuh, untung saja, dengan sigap tangan Alex segera meraih pinggang ramping Emil dan segera menariknya ke dalam pelukan Alex.
''Ups ...'' ucap Alex reflek.
Refleks, Emillia pun melingkarkan tangannya di leher Alex, hingga keduanya kini berada sangat dekat bahkan dengan tubuh yang tanpa jarak sedikitpun.
Sejenak, keduanya pun saling melayangkan tatapan. Alex, menatap wajah Emill dengan begitu lekat, hingga tidak ada sejengkal pun yang terlewatkan.
Sedangkan Emillia, dia pun menatap wajah Alex dengan mengerutkan kening, merasa heran karena laki-laki dewasa itu kini menatap lekat wajahnya membuat hati seorang Emillia gugup sebenarnya.
''Hati-hati, Emill. Untung tangan aku cepat meraih tubuhmu, kalau tidak kamu sudah tiduran di sana bersama ular yang tadi melintas di sini,'' ucap Alex, masih memegangi pinggang Emillia.
__ADS_1
''Maaf, Om. Tadi kaki aku keseleo,'' jawab Emil menundukkan kepalanya.
Keduanya pun perlahan melepaskan lingkaran tangan masing-masing, berdiri mematung, sebelum kembali melangkahkan kakinya, memasuki gubuk bambu.
''Wah, di sini segar sekali, ini pertama kalinya aku merasakan udara segar tanpa polusi sedikitpun,'' ucap Alex sesaat setelah dirinya duduk di kursi kayu di dalam gubuk.
''O ya ...? Apa Om baru pertama kali datang kemari?''
''Iya betul,'' jawab Alex singkat.
Emillia menganggukkan kepalanya.
''Hmm ... Bolehkah Om bertanya sesuatu sama kamu, Emillia ...?''
''Tanya apa? bilang aja.''
''Eu ... Apa kamu gak ingin menikah? Om lihat kamu sudah berada di usia yang pas untuk menikah,'' tanya Alex membuat Emill terkejut, karena tiba-tiba mendapatkan pertanyaan seperti itu.
''Ko Om nanya kayak gitu?''
''Maaf kalau Om gak sopan, kamu gak perlu jawab kalau kamu memang keberatan.''
''Nggak, Om. Gak apa-apa ko, eu ... Sebenarnya aku baru saja putus dari seseorang,'' ucap Emil menunduk.
''Lucky ...?''
''Ya tau 'lah.''
''Apa Om Leo yang memberi tahu Om?''
''Tidak, bukan dia. Om tau sendiri aja.''
''Oh begitu, aku jadi malu. Om pasti menertawakan aku 'kan? karena aku berpacaran dengan remaja, padahal umurku sudah dewasa.''
''Siapa bilang, apa aku terlihat sedang tertawa sekarang?''
Emill menoleh menatap wajah Alex, lalu dia pun tersenyum.
''Iya, Om gak ketawa sama sekali,'' jawab Emillia.
''Cinta itu tidak bisa memilih kepada siapa dia harus dilabuh'kan, dan kadang cinta datang begitu saja tanpa dia harus di undang, seperti yang sedang terjadi pada Om saat ini,'' ucap Alex keceplosan.
''Emang Om lagi jatuh cinta?'' tanya Emill belum menyadari bahwa dialah wanita yang dimaksud oleh Alex.
__ADS_1
''Hah ... Apa ...? Eu ... Sepertinya iya. Om memang sudah tua, dan Om belum pernah menikah sama sekali. Dalam hidup Om, hanya pernah 2 kali merasakan jatuh cinta, dulu sekali, dan saat ini,'' jawab Alex.
''Om belum pernah menikah?''
Alex menggelangkan kepalanya.
''Di usia Om yang sudah tua ini? Eu ... Maaf, maksud aku, Om sudah dewasa sekali, masa belum menikah?'' tanya Emillia mengerut kening.
''Betul ... Aneh bukan ...? Banyak wanita yang sudah Om temui, Om juga punya banyak kenalan wanita, tapi tidak mudah untuk Om jatuh cinta, bagi Om jatuh cinta itu bukan hanya tentang perasaan suka semata, tapi tentang rasa tulus yang dapat menggetarkan hati, seperti yang sedang Om rasakan saat ini,'' jelas Alex, membuat Emillia terkesima.
''Wah ... Beruntung sekali wanita yang dicintai oleh Om, aku jadi penasaran, siapa wanita beruntung itu?''
''Kamu, Emillia ...?'' jawab Alex, membuat Emillia terkejut seketika, dan menghentikan suara tawanya.
''Apa ...?''
''Ha ... ha ... ha ...! Maaf kalau ucapan Om mengagetkan kamu, Emillia. Tapi memang itulah kenyataannya,'' ucap Alex kemudian.
''Nggak, aku malah gak ngerti maksud dari ucapan Om itu. Eu ... Maksud Om Alex. Om menyukai aku, gitu ...?''
Alex mengangguk, menatap wajah Emillia yang terlihat begitu cantik dengan rambutnya yang tersapu angin.
''Akh ... Aku gak percaya, kita jarang ketemu, ngobrol aja baru sekarang, Om bercanda 'kan?'' tanya Emil tersenyum hambar.
''Iya, 'kan. Kamu aja aneh, apalagi Om.''
Keheningan pun tercipta seketika.
Emillia mendadak gugup. Sedangkan Alex, hatinya terasa akan meledak, karena entah darimana dia mendapatkan keberanian seperti itu, dengan lantangnya menyatakan rasa sukanya kepada gadis bernama Emillia tersebut.
''Jadi gimana? apa kamu menerima pernyataan cinta Om yang tiba-tiba ini?''
''Apa aku perlu menjawabnya?''
''Tentu saja.''
''Sekarang juga ...?''
Alex menganggukkan kepalanya.
''Hmmm ...''
Emillia menarik napas panjang lalu menghembuskan-nya secara perlahan.
__ADS_1
''Aku gak suka menunggu. Menunggu bagi Om hanya akan membuang-buang waktu, jawab saja, Om akan menerima apapun jawaban yang kamu berikan.''
____________------------______________