
Setelah berbincang dengan Tante Adelia, kini Ayu kembali meringkuk di atas tempat tidur, hatinya semakin diliputi rasa gelisah dan juga beribu tanda tanya.
Fikiran Ayu pun kini melayang entah kemana, dia menatap langit-langit kamar melayangkan tatapan kosong, hatinya terasa hampa, bahkan rasa haus di dalam tubuhnya tidak juga hilang.
Semakin dia mencoba menahan, maka, rasa itu semakin menyiksa jiwanya. Dia sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya, ingatan yang kini terhapus membuat Ayu merasa penasaran, dan berusaha sekuat tenaga untuk mengingat semua itu.
Akan tetapi, semakin dia berusaha keras untuk mengingat, kepalanya akan terasa semakin pusing, dan tenggorokannya terasa semakin kering dan haus yang berkepanjangan.
Ayu pun bangkit dan duduk di atas ranjang, kepalanya terasa akan meledak, keningnya pun dikerutkan sedemikian rupa menahan rasa sakit dan rasa haus yang seolah menyiksa, bahkan dadanya terasa sesak kini, dia pun meraih ponsel dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegangi kepala.
Ayu mencari nama Lucky di ponselnya, dengan tangan yang terasa gemetar sebenarnya, dan segera menekan tombol dial setelah dia berhasil menemukan nama kekasihnya itu.
Tut ... Tut ... Tut ...
Suara ponsel yang belum di angkat.
📞 ''Halo, sayang,'' terdengar suara Lucky dari dalam telpon.
📞 ''Ha-lo, Luck.''
📞''Kamu kenapa, Ayu? kenapa suara kamu terdengar berat sekali? apa kamu baik-baik aja?'' tanya Lucky merasa cemas.
📞 ''Aku gak tau, Luck. Da-da a-ku se-sak, ke-pa-la a-ku pun pu-sing. Aku me-ra-sa ha-us terus,'' jawab Ayu terbata-bata.
Lucky yang sebenarnya sedang sekolah, merasa panik seketika. Untung saja saat ini dirinya sudah masuk waktu istirahat, sehingga dia bisa leluasa berbicara dengan kekasihnya itu.
'Apa dia sedang kambuh lagi?' (Batin Lucky)
📞 ''Sayang, kamu tenang dulu. Aku pulang sekarang ya,'' pinta Lucky segera menutup telpon.
Lucky berlari keluar dari dalam kelas, namun, sebelumnya dia meminta izin terlebih dahulu kepada guru, agar tidak terjadi masalah nantinya.
Dengan tergesa-gesa, Lucky berlari ke arah parkiran dimana mobilnya berada, dia benar-benar khawatir kalau-kalau apa yang dia pikirkan benar adanya.
Jika saat ini Ayu sedang 'sakau' maka sudah pasti kekasihnya itu sedang membutuhkan dukungan darinya, dan Lucky sungguh tidak sabar ingin segera sampai di rumah.
Lucky perlahan keluar dari halaman sekolah lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga tidak membutuhkan waktu lama dia pun sampai di rumahnya.
Di dalam rumah.
__ADS_1
Lucky berlari menuju kamar Ayu, dia bahkan mengabaikan panggilan sang ibu yang bertanya padanya dengan tatapan heran, karena seharusnya putranya itu masih berada di sekolah.
''Dek ...? kenapa sudah pulang, bukankah seharusnya kamu masih di sekolah?'' tanya Adelia mengikuti dari arah belakang.
''Ayu dimana, Mom?'' tanya Lucky tanpa menoleh.
''Dia ada di kamarnya, tadi dia sudah makan dan minum obat, ada apa sebenarnya, Dek ...?''
Lucky tidak menjawab, dia langsung masuk ke dalam kamar Ayu, bahkan membuka pintu dengan sedikit kasar, membuat Adelia semakin merasa heran.
''Ayu ...?'' panggil Lucky menatap sekeliling kamar, merasa khawatir karena Ayu tidak ada di sana sama sekali.
Adelia yang berada yang ikut masuk ke dalam kamar juga merasa heran karena Ayu sama sekali tidak ada atas tempat tidur.
''AYU ...?'' Lucky semakin memasuki kamar.
Matanya kini tertuju pada pintu kamar mandi yang saat ini ditutup rapat, suara air shower pun terdengar dari dalam sana, dengan tergesa-gesa Lucky berjalan ke arah pintu dan mengetuknya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara pintu yang di ketuk.
Yang ditanya tidak menjawab ...
''Ayu ...''
Tok Tok Tok ...
Beberapa kali Lucky memanggil nama Ayu, tapi masih belum mendapatkan jawaban. Semakin panik, Lucky nekat membuka pintu secara paksa.
Ceklek ...
Pintu kamar mandi pun di buka, Lucky terkejut seketika mendapati Ayu kini sedang duduk dengan memeluk lututnya di bawah guyuran air shower, wajahnya terlihat pucat dan gemetar, giginya bahkan saling beradu sehingga menimbulkan bunyi gemeletukkan.
Lucky benar-benar panik, dia segera berlari, mematikan air shower dan segera memeluk tubuh Ayu yang saat ini basah kuyup, dan juga menggigil.
Adelia yang juga berada di sana segera mengambilkan handuk tebal untuk menutupi tubuh Ayu dan juga Lucky.
''Ayu, sayang. Kamu kenapa, heuh ...'' lirih Lucky memeluk erat, tidak perduli dengan seragam sekolah yang dia kenakan kini ikut basah.
__ADS_1
''Lu-cky ... To-long ...'' lirih Ayu dengan suara lemah.
''Iya, sayang. Aku di sini ...''
Lucky membenamkan wajah kekasihnya itu di dada miliknya.
Perasaan Lucky sungguh merasa hancur, dua kali dia harus menyaksikan sang kekasih dalam keadaan seperti ini. Dia pikir dengan hilangnya separuh ingatan Ayu, akan membuat dia melupakan rasa candunya akan barang haram itu, namun, nyatanya, meskipun kekasihnya itu melupakan dirinya yang merupakan seorang pecandu, tapi jiwanya di dalam sana tetap saja tidak melupakan hal itu.
Sesuatu yang dia khawatirkan benar-benar terjadi, saat ini, Ayu, sang kekasih benar-benar dalam keadaan 'sakau'
''Dek, balut tubuh Ayu dengan handuk, kasian dia pasti kedinginan,'' pinta Adelia, menyerahkan handuk yang tadi dia ambil.
''Baik, Mom. Tapi apa tidak sebaiknya pakaian Ayu langsung di ganti saja.''
''Lebih baik begitu, ya sudah kamu keluar dulu, biar Mommy yang gantiin pakaian Ayu,'' pinta Adelia menatap khawatir wajah Ayu.
''Baik, Mom.''
Lucky hendak mengurai pelukan, namun, tangan Ayu mendekap erat dan melingkar sempurna di punggung dirinya, membuat Lucky menghentikan gerakannya seketika.
''Sayang, kamu ganti baju dulu ya, baju kamu basah semua.''
Ayu mendongakkan kepalanya, menatap wajah Lucky dengan tatapan sayu dan mata memerah serta lingkaran hitam di bawah matanya yang semakin terlihat jelas.
''Jangan tinggalin aku, Luck ...!'' lirih Ayu menggigil.
''Iya, sayang. Aku gak akan meninggalkan kamu, ko. Aku akan menunggu di luar, Mommy akan mengganti kamu ganti baju, ya ...?''
Ayu hanya terdiam, tatapan matanya semakin sayu, menatap dengan tatapan iba.
''Ayu, sayang. Mari Tante bantu kamu ganti baju, Lucky gak akan kemana-mana ko, dia hanya akan menunggu di luar,'' pinta Adelia menghampiri dan berjongkok tepat di depan Ayu dan juga Lucky.
Ayu pun akhirnya mengangguk lemah.
Perlahan Lucky mulai mengurai pelukan dengan perasaan berat, dan Ayu pun melepaskan lingkaran tangannya, dengan mata yang menatap sendu wajah kekasihnya itu.
''Aku tunggu di luar ya, sayang ...'' ucap Lucky meletakkan telapak tangannya di kedua sisi pipi tirus Ayu, menatapnya sayu.
Ayu pun mengangguk lemas, lalu benar-benar melepaskan tangannya, dan menatap tubuh Lucky yang perlahan keluar dari dalam kamar mandi, dan Lucky, matanya nampak menatap lekat wajah Ayu, sebelum dia benar-benar menutup pintu.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀