
Axela, perlahan dia mulai membuka mata, meski matanya masih terasa berat, namun dengan sekuat tenaga dia memaksakan diri menarik kelopak matanya, mengedipkan'nya secara perlahan, mata sayu'nya kini terlihat sembab dengan wajah putihnya semakin pucat layaknya mayat hidup.
''Aku dimana? kenapa aku sudah ada di sini? Bu...'' tanya Al setelah dia membuka mata secara sempurna.
Dia menatap ke sekeliling, yang ternyata sudah berada di ruangan tempat'nya di rawat, dengan sang ibu berdiri di samping ranjangnya.
''Sayang, kamu sudah bangun, nak? apa yang terjadi kenapa kamu bisa berada di sana?'' tanya sang ibu, mengusap kening putrinya.
''Siapa yang membawa aku ke sini, Bu?''
''Tadi, ada seorang pemuda yang membawamu kemari, katanya dia menemukan kamu pingsan si lorong depan.''
''Pemuda?'' Al membulatkan bola matanya.
''Iya...! ada apa dengan'mu, nak?cerita sama mommy, mommy merasa seperti'nya kamu telah mengalami sesuatu yang buruk, kan?''
''Mom...! coba mommy sebutkan ciri-ciri pemuda yang membawa aku kemari.''
Al mengabaikan pertanyaan ibunya.
''Pemuda itu memakai jaket tebal berwarna hitam, dan juga memakai topi, tubuhnya lumayan tinggi juga kekar, namun kulitnya tidak terlalu putih, emangnya kamu kenal sama pria itu?''
Al tersenyum tipis, dari ciri-ciri yang di sebut'kan oleh ibunya seperti'nya pemuda yang membawa dirinya adalah Gabriel.
''Al...?''
''Oh... iya, Bu. Aku gak kenal ko sama dia, mungkin dia cuma orang yang lewat saja,'' Al kini tersenyum dengan sedikit di paksakan.
'Aku semakin percaya denganmu, Gabriel, dan aku akan menunggumu di sini sampai kamu datang untuk memenuhi janji-janji yang telah kamu ucapkan," (batin Al bergumam)
Sebagai seorang gadis yang baru saja kehilangan kesuciannya, tentu saja kejiwaan gadis yang bernama Axela itu sedikit terguncang, apa lagi di usianya yang masih terbilang muda yaitu 17 tahun, andai saja tidak ada keluarga beserta saudara-saudaranya yang memberikan dukungan, mungkin saja dia telah mengakhiri hidupnya saat ini.
Dan saat ini, setelah dirinya bertemu dengan Gabriel, meski hanya sebentar, namun membuat hatinya sedikit tenang, karena pria itu sudah berjanji akan kembali dan bertanggung jawab atas semua yang telah dia lakukan, Al tidak ada pilihan lain lagi selain percaya dengan ucapan pria yang baru beberapa hari di kenalnya itu.
''Nak...? sayang...?" Sang ibu membuyarkan lamunannya.
''Oh... iya, mom... tadi mommy bilang apa?''
__ADS_1
Belum juga sang ibu menjawab, pintu kamar pun di ketuk dan dua orang masuk kedalam'nya.
Tok
Tok
Ceklek
''Lucky...?''
Al dan ibu memanggil nama Lucky secara bersamaan, dia cengengesan masuk ke dalam ruangan dan ternyata bersama Emillia yang berjalan di belakangnya.
Sontak Axela pun sedikit tersenyum sekaligus terkejut, karena wajah wanita yang bersama adiknya sekarang persis dengan wajah wanita yang waktu itu dia lihat di ponsel milik adiknya.
''Dek, dia...?'' Al membulatkan bola matanya.
''Perkenalkan, mom, kak, dia ibu Emillia, wali kelas aku, sekaligus kekasih aku,'' ucap Lucky masih dengan wajah yang sesekali cengengesan.
Emillia yang tidak tahu akan langsung di perkemahan sebagai kekasih, tentu saja terkejut mendengar ucapan Lucky, dia tersipu malu dan menunduk, setelah itu dia pun bersalaman dengan Ibu dari kekasihnya dan juga Axela, seraya menyebutkan namanya.
''Kamu cantik sekali, senang berkenalan dengan kamu,'' ucap sang ibu tersenyum menyambut uluran tangan Emillia.
''Aku, Axela... Kaka perempuannya Lucky...'' Al memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya.
Emil pun menerima uluran tangan dari calon Kaka ipar'nya tersebut, dengan saling melemparkan senyuman, keduanya pun berjabatan tangan.
''Hmm... ternyata kamu lebih cantik aslinya ya, aku sempat lihat kamu di ponsel Lucky...''
''Benarkah...?'' Emil tersipu malu.
Mereka pun saling bercengkrama, mengobrol dan saling mengenal satu sama lain, sepertinya Adelia sang ibu menerima dengan tangan terbuka kehadiran wanita yang bernama Emillia sebagai kekasih putra bungsunya.
Baginya, tidak masalah putra'nya tersebut berpacaran dengan siapapun asalkan mereka saling menyayangi dan saling menjaga, terutama, saling menjaga norma-norma agama dan tidak melewati batas dalam berpacaran.
Mereka pun larut dalam obrolan panjang, saling tertawa dan bercanda, sampai pada akhirnya Lucky meraih sebuah kotak berwarna merah muda yang tergeletak si atas meja, dia meraihnya dan hendak melihat isinya.
''Ini apa kak?'' tanya Lucky.
__ADS_1
''Jangan, ini punya Kaka, jangan di buka,'' Al meraihnya secara paksa.
Dia pun membuka kotak tersebut, dan terkejut saat mendapati kalung pemberian Gabriel sudah tidak ada di sana.
''Kotak ini isinya mana?'' tanya Al meraih kotak kecil dan bertanya dengan sedikit menaikan suaranya.
''Gak tau kak, aku baru aja mau buka.''
''Isinya kalung, ada inisial AL'nya, kamu ambil ya, dek?''
''Nggak, kak.''
''Itu yang kamu pakai apa?'' sang ibu menunjuk leher Axela yang ternyata kalung tersebut sudah melingkar di lehernya.
Al pun terkejut lalu meraba lehernya, lalu dia tersipu malu dengan senyum yang kini mengembang dari kedua sisi bibirnya.
''Kaka...! bikin kesal aja si?''
''Maaf, dek. Kaka lupa... he... he... he...!"
'Apakah kamu yang memasangkan kalung ini di leher aku, Briel?' ( Gumam Al dalam hatinya )
***
Sementara itu, Axel nampak sedang berada di depan pintu sebuah apartemen, dan tentu saja Apartemen milik Amora wanita yang sedang dekat dengan dirinya.
Dia hendak memijit bel, namun terlihat ragu-ragu, entah mengapa ada rasa berdebar di dalam hatinya, padahal ini bukan kali pertamanya berkunjung ke rumah seorang wanita.
El pun berjalan mondar-mandir di depan pintu, dengan raut wajah yang terlihat bingung, serta jantung yang sedikit berdebar.
Sampai pada akhirnya dia pun menghentikan gerakan langkahnya saat mendengar seorang Laki-laki berbicara kepada'nya.
''Sedang apa kamu di depan kediaman saya?''
El memutar badan dan mencari sumber suara.
_________----------_________
__ADS_1