Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Benar-benar Berdamai


__ADS_3

''Kamu mau bawa aku kemana?'' tanya Leo duduk di mobil milik Alex.


''Tunggu dan lihat saja, aku akan membawamu ke suatu tempat, jangan bertanya dulu.''


''Awas saja kalau kamu benar-benar menculik aku? aku akan benar-benar membunuhmu sekarang juga..."


"Ha... ha... ha... aku benar-benar rindu mendengar ucapan itu keluar dari mulut'mu, Leo. Kata-kata 'bunuh' membuat darahku seolah berdesir dan bersemangat...''


''Dasar, pria gila, orang lain takut aku ancam seperti itu, kamu malah tertawa, apa kewarasan'mu tertinggal di negeri Adi daya sana, hah...?'' Leo menggeleng kepalanya.


''Sudah, jangan cerewet, mulutmu ngalahin mulut ema-ema komplek yang sedang bergosip.''


''Ha... ha... ha...'' Keduanya pun tertawa bersama.


Entah apa yang terjadi di antara dua orang pria yang sudah berusia setengah baya tersebut, apakah dendam di antara mereka sudah benar-benar tidak ada? tawa renyah yang keluar dari mulut mereka itu tulus'kah? atau hanya berpura-pura? Entahlah, hanya tuhan yang tahu, apa yang ada di dalam hati kedua orang tersebut.


Setelah menempuh perjalan hampir selama satu jam lamanya, akhirnya mobil itu pun berhenti di sebuah komplek pemakaman luas berwarna hijau membentang.


Leo yang turun dari dalam mobil nampak berkeliling menatap ke arah sekitar dengan kening yang di kerut'kan, merasa heran, dimana sebenarnya dia berada sekarang?


Alex berjalan menyusuri komplek pemakaman tersebut tanpa mengatakan sepatah katapun, di ikuti oleh Leo yang berjalan di belakangnya, sampai akhirnya kaki Alex berhenti di sebuah pusara bertuliskan Jimmy di batu nisannya .


Hati Leo tersentak menatap batu nisan bertuliskan nama orang yang dia bunuh lebih dari dua puluh tahun yang lalu.


''Aku baru akan benar-benar memaafkan'mu jika kamu sudah meminta maaf kepada adikku, tahukah kamu bahwa, mungkin saja adikku menunggu kedatangan'mu selama ini? datang untuk meminta maaf dan menyesali perbuatan'mu kepada dia.'' Ucap Alex menatap pusara seolah itu adalah wajah adiknya yang telah tiada.

__ADS_1


Leo terpana sekaligus terkesima, menatap batu nisan bertuliskan nama Jimmy, perasaan berkecamuk sulit untuk di ucapkan, hingga akhirnya dia duduk tepat di samping pusara.


Matanya terlihat berkaca-kaca, tangannya meraba gunungan tanah berselimut rumput berwarna hijau, menatap dengan tatapan sendu dan penuh dengan rasa penyesalan.


''Apa kabar, Jimmy? maaf karena baru mengunjungi'mu setelah sekian lama, aku sungguh menyesali, kakakmu membawaku kemari, memintaku untuk memohon maaf kepada'mu.''


''Jimmy, maafkan aku, sungguh... aku menyesali perbuatan'ku padamu, menghilangkan nyawa'mu seolah nyawa itu tidak ada harganya, aku sungguh menyesal, Jimmy... hiks... hiks... hiks...'' Leo menangis sesenggukan.


Alex yang menyaksikan hal itu merasa sedikit tersentuh, ternyata tidak salah dirinya membawa pria itu kemari, kini seluruh dendam yang selama ini menyelimuti dan menyiksa hati dan jiwanya telah sirna, diapun telah mengikhlaskan kepergian adik kesayangannya setelah sekian lama menanggung rasa sakit di hatinya.


Leo pun kini bangkit lalu berdiri tepat di hadapan Alex dengan mata yang masih terlihat berkaca-kaca.


''Alex, aku juga meminta maaf kepadamu, aku terlalu egois dulu dan tidak mengerti bagaimana perasaan'mu, aku hanya memikirkan perasaanku sendiri tanpa peduli dengan dirimu yang menanggung rasa sakit akan kehilangan adikmu, aku sungguh minta maaf. Maukah kau memaafkan aku dan bersedia bersahabat lagi dengan ku seperti dulu?'' Lirih Leo dengan tatapan mata yang terlihat tulus.


Alex mengangguk lalu memeluk sahabatnya tersebut, keduanya saling berpelukan layaknya sahabat yang telah lama memendam kerinduan.


''Aku sungguh senang mendengarnya.''


''O iya. Ucapan'ku kemarin hanya bercanda, gak usah di fikirkan, oke.'' Alex melepaskan pelukan.


''Ucapan yang mana?'' Leo mengerutkan keningnya.


''Ucapan'ku yang meminta'mu kembali melakukan tes DNA.''


''Oh, yang itu. Jika kau mau, aku bisa melakukannya lagi, gimana?''

__ADS_1


''Gak usah, aku juga sudah memiliki putri yang sangat aku sayangi sekarang.''


''Begitu...? apa kau menikah di Amerika?''


''Tidak, aku mengadopsinya, karena merasa kesepian tinggal sendirian di sana, aku memutuskan untuk mengangkat seorang putri, dan aku sangat menyayangi dia layaknya anak kandungku sendiri.'' Ucap Alex membayangkan sosok Amora, putri kesayangannya.


''Aku pikir kau sudah menikah, ternyata kau masih saja membujang dan menjadi perjaka tua.''


''Ha... ha... ha...! kurang ajar kamu,'' keduanya pun kembali tertawa, kali ini bahkan terdengar lebih renyah dan dengan perasaan lega, karena akhirnya keduanya bisa berdamai dan melupakan dendam yang selama ini menyiksa hati mereka.


''Jimmy, aku pulang dulu, kamu beristirahat yang tenang di sana, aku dan kakakmu sudah kembali bersahabat, aku janji akan kembali lagi, dan sering mengunjungi mu di sini, akan aku bawa serta seluruh keluargaku dan aku kenalkan padamu,'' Leo pamit, berucap seolah Jimmy yang sudah meninggal itu dapat mendengar.


''Kita, pulang sekarang,'' ajak Alex.


Keduanya pun berjalan secara beriringan, seraya senyum yang mengembang dari kedua sisi bibir Alex dan juga Leonardo. Ada rasa tidak percaya di dalam hati kecil seorang Leonardo, dia masih merasa ini adalah mimpi, bahwa dia akhirnya bisa berdamai dengan orang yang selama ini menjadi musuh bebuyutannya, sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


Keduanya pun larut dalam kebahagiaan, namun tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan keduanya dengan tatapan mata tajam, dia bahkan mengepalkan kedua tangannya, merasa geram.


'Ternyata dendam'mu begitu dangkal, Alex, aku pikir kau sungguh menyayangi adikmu, tapi ternyata dugaan'ku salah selama ini, kamu begitu mudahnya memaafkan orang yang telah menghabisi Jimmy, aku sudah lama menunggumu kembali untuk meneruskan pembalasan dendam kita, namun harapanku sia-sia, karena kau tidak pernah mencari'ku dan memilih memaafkan dia.'


'Baiklah, jika kau menyerah, aku sendiri yang akan membalaskan dendam adikmu, akan aku buat Lelaki sombong itu meregang nyawa, sama seperti saat dia merenggut nyawa Jimmy...' ( Batin Pria tersebut )


Kemudian pria itu pun pergi dan berlalu meninggalkan area pemakaman.


__________-------__________

__ADS_1


promosi



__ADS_2