
''Del... bangun, Adelia...'' Leo menggoyangkan tubuh istrinya yang sedang tertidur namun mengernyitkan keningnya seraya terus berteriak di dalam tidurnya, keningnya tampak berkeringat dan sekujur tubuhnya terasa sangat dingin.
''ADELIA...'' Leo berteriak memanggil nama sang istri dan sontak saja istrinya tersebut membuka mata seketika.
Dia membulatkan bola matanya seketika menatap langit-langit ruang tamunya, memandang kosong dengan napas yang tersengal-sengal.
Kemudian dia menoleh ke arah suaminya yang saat ini berjongkok di samping kursi tempat dirinya berbaring. Dia memeluk sang suami dengan mata yang sedikit berkaca-kaca dan jantung yang masih terasa berdebar.
''Kamu kenapa? Apa kamu bermimpi buruk?'' tanya Leo mengelus rambut sang istri.
Adelia mengangguk, lalu melepaskan pelukannya, dia pun mengusap air mata yang membasahi pelupuk matanya karena mimpi yang baru saja di alaminya terasa nyata.
''Kamu bermimpi apa, sampai seperti ini?''
''Aku bermimpi tewas di tembak, tubuhku di ikat di sebuah kursi dan di kelilingi oleh Laki-laki berpakaian jas hitam, lalu-- hiks... hiks... hiks...'' Adel tak kuasa meneruskan ucapannya, dia memegangi dada kiri, merasakan seolah peluru yang menembus dirinya di dalam mimpi benar-benar membuat dadanya terasa sakit.
Leo terkesima, dia menatap wajah istri tercintanya, perasaan Leo seolah terbawa suasana, namun dia berusaha setenang mungkin, mencoba menenangkan sang istri meski sebenarnya hatinya pun gelisah.
''Sudah nggak usah terlalu di fikirkan, hanya mimpi saja ko, lagian nggak baik sore-sore tidur, jadinya mimpi buruk kan?'' Leo mencoba menenangkan.
Adel hanya terdiam, dirinya menunduk lalu kembali menatap sang suami.
''Tadinya aku mau nungguin kamu pulang ngantor di luar sambil menghirup udara segar, tapi nggak nyaman jika terus di perhatiin oleh penjaga yang ada di luar itu. Lagian kenapa sih rumah kita mendadak di jaga seperti itu? sampai kebawa mimpi kan?'' Adel mengerucutkan bibirnya.
''Nggak apa-apa, sekarang lagi musim rampok, aku khawatir jika kamu sendiri di rumah, makannya aku berinisiatif untuk memperkerjakan penjaga, biar aku merasa tenang,'' jawab Leo membuat alasan.
''Benar itu alasannya? bukan karena yang lainnya?'' tanya Adelia melayangkan tatapan tajam.
''Iya, sayang...! cerewet..." mencubit kecil pipi sang istri.
''Kamu sudah makan?'' tanya Adelia setelah perasaan sudah sedikit tenang.
Leo menggelengkan kepalanya.
''Ya, sudah, aku akan meminta bibi menyiapkan makan malam untuk kita, kamu bersih-bersih dulu sana,'' Adel hendak berdiri.
''Tunggu, Adelia sayang. Apa perasaan mu sudah tenang sekarang?''
__ADS_1
Adelia mengangguk.
''Sungguh...?''
Adelia pun kembali mengangguk.
''Mimpi yang tadi tidak usah terlalu dipikirkan, aku yakin itu hanya bunga tidur saja,'' Leo menggenggam jemari sang istri.
''Entahlah, mimpi itu terasa sangat nyata,'' Adelia kembali meraba dada kirinya.
''Lain kali jangan tidur terlalu sore, kata ibu gak baik jika tidur di sore hari, pamali katanya...''
''Baiklah, cepat bersihkan badan kamu, aku tunggu di meja makan ya,'' ucap Adelia, lalu bangkit dan berdiri, keduanya pun berjalan beriringan.
_____----_____
Keesokan harinya.
Ibu Sarah, ibunda Adelia nampak sedang membereskan sisa daganganya, setelah putri kesayangan mengikuti suaminya ke kota, ibu pun memutuskan untuk kembali berjualan gorengan dengan modal seadanya, selain untuk mendapatkan penghasilan dia melakukan hal tersebut agar mempunyai kesibukan.
Mengingat sekarang dia hanya tinggal sendiri, dia pun tidak ingin menghabiskan waktunya dengan hanya berdiam diri dan memikirkan sang putri.
''Selamat pagi, Bu. Apakah benar, ini kediaman Ibu Sarah, orang tua dari Nyonya Adelia?'' tanya pria tersebut, berdiri lalu berbicara dengan nada sopan.
''I-iya betul, kamu siapa?'' tanya ibu kemudian berdiri dan memandang pria tersebut dengan tatapan heran.
''Perkenalkan, Bu. Nama saya Ryan, saya di utus oleh Bos Leonardo untuk menjemput ibu Sarah ke kota,'' jelas Ryan sedikit membungkukkan tubuhnya.
''Leonardo?'' Ibu termenung sejenak, mengingat nama Leonardo yang serasa masih asing di telinga'nya.
''Oh... maksudnya Axel...?'' ibu tersenyum.
Ryan termangu, justru kali ini dia yang termenung mendengar nama Axel, meski tidak mengerti, akhirnya Ryan hanya manggut-manggut sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.
''Silahkan duduk dulu, nak. Sebentar ya, ibu ambilkan dulu minum, kamu pasti cape setelah menempuh perjalanan jauh,'' ibu mempersilahkan Ryan duduk, lalu ibu pun masuk ke dalam. Tak lama kemudian ibu pun kembali dengan membawa secangkir teh hangat yang terlihat masih mengeluarkan asap.
''Di minum dulu, nak Ryan,'' ucap ibu meletakan cangkir teh dia lantai.
__ADS_1
''Terima kasih, Bu,'' Ryan meraih cangkir dan menyeruput'nya perlahan.
''Tadi kamu bilang, di utus oleh Axel untuk menjemput ibu? memangnya ada hal apa ya? ibu sampai di jemput segala?''
''Kalau itu saya kurang tau, Bu. Saya hanya di beri alamat ibu dan di perintahkan untuk menjemput ibu kesini. Mungkin karena Nyonya Adelia merindukan ibu,'' jawab Ryan, menatap wajah sayu nan lembut ibu Sarah.
Ibu manggut-manggut, sepertinya sang putri sudah sudah hidup bahagia, dan serba berkecukupan, buktinya dia sekarang di panggil Nyonya, apakah Axel itu berasal dari keluarga kaya, batinnya berucap.
''Ya sudah, nak Ryan tunggu disini sebentar ya, ibu mau siap-siap dulu, nggak akan lama ko,'' pinta ibu.
''Baik, Bu.''
Ryan memandang wajah ibu Sarah, meski wajahnya sudah sedikit berkeriput, namun masih ada sisa-sisa kecantikan yang terpancar dari raut wajah ibu Sarah, meski usianya sudah tidak muda lagi, namun aura keanggunan itu seolah tetap tersirat dari setiap garis wajahnya.
Tidak heran jika Bosnya menyuruh dirinya jauh-jauh dari kota untuk menjemput ibu Sarah. Dia pun memandang ke sekeliling halaman dan rumah ibu sarah yang terlihat sangat sederhana.
Dia tidak menyangka jika ternyata sang Bos yang merupakan Bos mafia sekaligus CEO perusahaan, dan termasuk orang terkaya, pernah tinggal di rumah sederhana seperti itu.
Tidak lama kemudian ibu pun kembali keluar, bepakaian rapih serta membawa satu tas berisi pakaian.
''Kita berangkat sekarang, atau nak Ryan mau istirahat dulu?'' tanya ibu lemah lembut.
''Sekarang saja Bu, lebih cepat lebih baik,' jawab Ryan lalu berdiri.
''Ya, sudah. Sebentar nya, ibu mau mengunci pintu dulu.''
Di perjalanan ibu tampak melihat-lihat mobil yang sedang di naikkinya, dia berfikir apakah menantunya tersebut benar-benar orang kaya sampai memiliki mobil mewah seperti itu.
Dia tersenyum kecil merasa bahagia, memikirkan bahwa sekarang putrinya pasti sudah hidup serba berkecukupan dan tidak perlu lagi banting tulang untuk mencari uang seperti dahulu yang sering dia lakukan.
Saat hati sang ibu sedang merasakan kebahagian, tiba-tiba saja terdengar suara benturan dan Ryan pun membanting stir seketika, Kemudian...
Bruk...
*****
Selamat pagi Reader, kali ini Author akan merekomendasikan Novel yang bagus untuk kalian, ceritanya di jamin seru dan enak untuk di baca menemani waktu luang kalian semuanya.
__ADS_1
*****