
Amora memejamkan matanya, malam ini sepertinya akan menjadi malam yang panjang untuk dirinya, karena malam ini merupakan malam pertamanya bersama Axel, laki-laki yang telah mengikat kuat hubungan asmara yang telah terjalin selama tiga tahun lamanya itu dengan tali pernikahan yang suci.
Selama tiga tahun ini dia dan pemuda tampan bernama Axel itu berhasil melewati waktu yang panjang tanpa melakukan sesuatu yang biasanya dilakukan oleh pasangan kekasih di luaran sana.
Berkat didikan tegas dari sang ayah, dan berkat kegigihan keduanya dalam menahan ha*rat yang sebenarnya menggebu setiap kali mereka bertemu, keduanya berhasil menjaga batasan dalam berpacaran.
Malam ini, di saat keduanya sudah sah menjadi suami-istri kini, dan status mereka sudah halal untuk melakukan hubungan yang semula terlarang dan sudah mereka tahan begitu lama, akhirnya bersiap untuk benar-benar memuntahkan h*srat yang selama ini telah mereka pendam.
Amora pun meremas kuat kain sprei berwarna putih yang menjadi alas tubuh mereka, bibirnya nampak di gigit keras, dengan sekujur tubuh yang terasa merinding hebat, sesuatu di dalam jiwanya seolah mendidih, ga*rah di dalam tubuhnya pun benar-benar naik kepermukaan dan sesuatu di dalam jiwanya terasa berontak meminta sesuatu yang lebih yang akan membuatnya melayang.
Sampai akhirnya sesuatu di dalam sana benar-benar robek tak bersisa, perlahan Amora pun mulai meneteskan air mata, dia memang tau bahwa rasakan akan sakit, tapi di sama sekali tidak menyangka kalau akan sesakit ini dan seperih ini.
Axel yang masih berada di atas raga istrinya masih terkulai lemas dan belum menyadari kalau istrinya saat ini sedang dalam keadaan menangis menahan rasa nyeri. Baru setelah dia mengangkat kepalanya, wajah Axel nampak terkejut seketika mendapati sang istri kini berurai air mata.
''Sayang, kamu kenapa? apa rasanya sakit sekali?'' Axel panik seketika.
''Sakit, seharusnya kamu berhenti dulu saat aku bilang sakit, tadi.'' Rengek Amora.
''Maaf, sayang. Aku hilang kendali tadi, aku benar-benar minta maaf.'' Jawab Axel.
''Ya udah turun, berat tau ...''
''Ya udah iya, aku turun. Maaf ya, aku pikir hanya sakit biasa, dan aku pikir kamu gak bakalan nangis kayak gini.''
Perlahan Axel pun mulai menurunkan raga kekarnya, perlahan tapi pasti sampai sesuatu yang tadi menghujam di dalam sana perlahan ikut keluar secara hati-hati tidak ingin membuat istrinya semakin kesakitan.
Amora pun merapatkan kedua kakinya, mencoba menyesuaikan rasa di bawah sana yang seperti ada sesuatu yang berbeda, membuat miliknya terasa menganga.
Axel pun meraih selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya, dia pun mengecup kening sang istri lembut dan penuh kasih sayang.
''Kita tidur yu, badan aku lelah banget,'' lirih Axel melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
Amora mengangguk datar.
__ADS_1
''Muka kamu ko gitu? apa sakit banget?"
Amora mengangguk lagi.
"Hmm ... tapi aku pernah denger kalau kita udah terbiasa melakukannya, nanti lama-lama, rasa sakitnya akan hilang lho."
"Kata siapa? emangnya kamu pernah ngelakuin itu?"
"Ha ... ha ... ha ... Ngaco kamu, ya gak pernah 'lah, aku kata 'kan tadi 'katanya' bukan berarti aku pernah melakukannya,'' jawab El tersenyum renyah.
''Hmmm ... O ya ...?''
''Mau coba lagi?''
''Nanti aja, tadi katanya kamu lelah?''
''Iya juga si, badan aku linu semua, pegal-pegal lagi, rasanya ingin cepat tidur dan istirahat.''
''Ya udah kita tidur dulu deh.''
''Itu lagi apa?''
''Yang kayak tadi.''
Amora mengangguk pasrah, sebenarnya dirinya pun masih penasaran karena dia baru bisa merasakan rasa sakit dan belum merasakan sama sekali nikmatnya malam pertama seperti yang di bicarakan banyak orang.
Tapi nanti, setelah beristirahat dan tidur sejenak dia akan mencobanya lagi, mencoba sesuatu yang konon katanya akan membawa jiwa kita melayang.
Keduanya pun terlelap seketika, masih dalam keadaan yang sama, sama-sama polos dan sama-sama merasa kelelahan setelah seharian menggelar acara pernikahan.
❤❤
Amora men*esah panjang, saat pelepasannya berhasil dia dapatkan, apa yang membuat hatinya penasaran pun akhirnya terjawab'kan.
__ADS_1
Memang benar, rasanya bagai melayang ke udara, rasanya bagai di bawa terbang ke awang-awang, dan rasa nyeri yang semula dia rasakan berangsur hilang tergantikan dengan sebuah *******, sesuatu yang dibicarakan oleh orang-orang di luaran sana memanglah benar, surga dunia yang sebenarnya ya ... ini ... Apa yang baru saja dia capai bersama sang suami.
''Gimana? apa masih sakit?'' tanya Axel dengan napas yang terengah-engah.
''Nggak, gak sakit sama sekali, sayang. Rasanya ****** banget.'' Jawab Amora dengan dada yang terlihat naik turun.
''Syukurlah, aku seneng dengernya.''
''Ya udah turun,'' rengek Amora.
''Kamu ini, nanti dulu kek, bentar lagi.''
''Ish ... kamu, berat ...''
''Hmm ... ya udah iya-iya deh.''
Mau tidak mau Axel pun turun meskipun miliknya masih masih betah berada di dalam sana, terasa begitu hangat dan memabukkan membuatnya melayang, dan tentu saja ketagihan.
''Akh ... Makasih, sayang. Aku bahagia sekali,'' lirih Axel mengecup kening istrinya.
''Hmm ... tubuhku lelah banget.''
''Kita tidur lagi, habis tidur ... Kita lanjutin lagi, ya.''
''Kan udah dua kali.''
''Ya ... apa salahnya, kita 'kan pengantin baru,'' jawab El melingkarkan tangannya di perut Amora.
''Hmm ... Iya-iya deh, kita istirahat dulu tapi,'' jawab Amora pasrah.
Axel mengangguk seraya memejamkan mata, keduanya pun terlelap seketika masih dalam keadaan yang sama, dan perasaan yang sama, yaitu bahagia menjadi sepasang suami-istri.
Sampai akhirnya pagi pun menjelang, suara kokok ayam membangunkan setiap insan yang masih terlelap, sinar matahari yang perlahan naik ke permukaan menggeser gelapnya malam, diiringi sang raja siang yang perlahan menunjukkan keahliannya menerangi alam.
__ADS_1
Sepasang suami-istri itu pun masih terlelap masih di dalam selimut yang sama, dan Kamar yang sama. Mengabaikan suara kokok ayam jantan dan mengabaikan sinar matahari yang perlahan naik kepermukaan, dengan cahayanya yang kini mulai menerangi alam semesta raya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀