Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Menunggu


__ADS_3

Satu jam sebelumnya.


Gabriel, dengan membawa sebuah kotak berwarna merah muda, dia masuk ke dalam Rumah Sakit, berjalan menuju ruangan dimana Axela berada, dia berniat untuk memberikan barang-barang gadis itu yang sempat tertinggal di rumahnya.


Briel pun hendak menemui gadis tersebut untuk terakhir kalinya, sebelum diri'nya menerima tugas besar yang akan dia terima dari atasannya, tugas itu pun akan dia jadikan tugas terakhir, sebelum dia memenuhi janjinya untuk bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Axela.


Pemuda tersebut berdiri di depan pintu kamar, dia pun hendak masuk ke dalamnya, namun langkah'nya terhenti seketika, saat mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka, di lihatnya wajah Axela yang sedang melamun, sendiri dengan berurai air mata.


Sungguh hati Briel bagai teriris melihat gadis yang dicintainya seperti terpuruk akibat perbuatannya, dia pun hanya bisa terus menatap gadis itu dengan tatapan pilu, tanpa berani menghampiri ataupun meminta maaf kepada gadis yang bernama Axela tersebut.


'Maafkan aku, Al. Aku sungguh pengecut...' ( batin Gabriel )


Akhirnya dia memutuskan untuk mengurungkan niatnya, dirinya pun memutar badan lalu berjalan meninggalkan pintu kamar, namun sebelumnya dia menitipkan terlebih dahulu kotak yang dibawa'nya, kepada seorang perawat yang sedang melintas di hadapannya.


'Aku janji akan memenuhi janjiku, tapi tidak sekarang, tunggu aku, Al...' (Batin Briel)


Dia pun berjalan meninggalkan ruangan tersebut.


***


Ceklek


Axela membuka pintu kamar, berjalan sempoyongan dengan tangan yang menyusuri tembok rumah sakit, matanya nampak menatap sekeliling berharap bahwa Pria yang bernama Gabriel masih ada di sana.


Langkah Al terlihat gontai, dengan wajah yang sedikit di kerut'kan menahan rasa pusing, namun dia tidak menyerah, dia tetap berjalan mencari sosok Gabriel.


Dirinya bahkan bersembunyi saat dua orang perawat hendak melintas di hadapannya, entah apa yang merasuki jiwanya, sampai Axela mengabaikan keadaan tubuhnya masih belum sehat benar demi mencari sosok pria yang bernama Gabriel.


Apakah ini karena cinta? Ataukah karena pria itu telah merenggut kesuciannya? atau ada hal lain yang membuat Axela berbuat sesuatu di luar jati dirinya? Akh... hanya Tuhan yang tahu, apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis berusia 17 tahun ini.


Setelah bersusah payah, akhirnya Al pun sampai di lorong menuju area luar Rumah Sakit, dan di sana dia melihat sosok seorang pria yang sedang berjalan, memakai jaket tebal berwarna hitam, dan bertopi dengan warna senada.

__ADS_1


Meski tidak merasa yakin, dia pun memberanikan diri untuk memanggil pria tersebut. Dengan suara sedikit berteriak namun terdengar lirih di telinga.


''Gabriel...?''


Pemuda itu menghentikan langkahnya, dia berbalik dan mencari sumber suara, dan benar saja, pria tersebut adalah Gabriel yang akan pergi meninggalkan Rumah Sakit.


''Axela...'' jawabnya pelan, seraya membalik badan dan menghampiri Al.


Dengan setengahnya berlari Briel menghampiri dan segera memeluk gadis itu setelah sampai di hadapannya.


''Sedang apa kamu di sini? kamu belum sembuh,'' lirih Briel di dalam pelukan.


''Kamu jahat sekali? aku telah salah menilai kamu sebagai orang baik, ternyata kamu hanya pria jahat yang tidak bertanggung jawab... hiks hiks hiks...!'' Gumam Al memukul punggung Briel dengan kedua tangannya.


''Maafkan aku, aku memang bukan pria baik-baik, aku tidak pantas bersanding denganmu, Al, maafkan aku juga karena telah menyakiti hatimu dan menghancurkan masa depanmu.''


Al menggelengkan kepalanya, dia melepaskan pelukan Gabriel, lalu menatap wajahnya dengan tatapan mata sayu dan raut wajah yang terlihat kuyu, air matanya terus membasahi pipi tirus'nya.


''Axela, terima kasih karena sudah mau percaya dengan aku, tunggu aku sebentar lagi, aku akan segera datang menemui'mu setelah menyelesaikan tugas terakhir'ku, ya.''


''Sampai saat itu tiba, jangan pernah mencari aku, karena aku sendiri yang akan menghampiri'mu, jangan terlalu memikirkan aku karena itu hanya akan membuat hatimu terluka, jalani harimu seperti biasanya, tetaplah ceria dan anggap aku tidak pernah ada, aku tidak ingin membuatmu tersiksa apabila kamu terus memikirkan aku, lupakan aku sejenak sampai aku datang padamu, ya. Aku mohon...!''


Ucap Gabriel, seraya mengusap buliran air mata dan merapikan rambut Axela yang terlihat sedikit berantakan namun tetap terlihat cantik di matanya.


''Mana mungkin aku bisa melakukan itu? bagaimana caranya agar aku bisa melupakan kamu, hah...?'' Al sedikit menaikkan suaranya.


Tidak tahu harus berkata apa lagi, Briel hanya bisa memeluk tubuh Al dengan perasaan pilu, mendekapnya erat dan membiarkan Gadis itu menangis didalam pelukannya.


''Aku mencintai'mu, Al. Sungguh...'' lirih Briel.


Al menganggukan kepalanya, dengan suara tangis yang masih terdengar.

__ADS_1


''Aku harus pergi sekarang, Al. Maafkan aku...!''


Briel perlahan melepaskan pelukan Axela dan berjalan mundur, dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, menatap wajah gadis yang di cintai'nya yang terlihat masih berurai air mata dengan raut wajah kesedihan terpancar dari aura wajahnya.


''Gabriel... hiks hiks hiks...!'' lirih Axela.


''Maafkan aku...!''


Pemuda itu pun berbalik lalu hendak melangkah.


''Tunggu...!''


Briel menghentikan langkah kakinya.


''Aku akan menunggumu sampai kamu datang padaku, aku juga akan mengikuti keinginanmu untuk tidak terlalu memikirkan'mu, tapi aku mohon jangan biarkan aku menunggu terlalu lama, ya...! Aku juga mencintaimu, Gabriel...!'' Axela berucap dengan suara yang sedikit bergetar, menahan kesedihan.


Briel hanya terdiam, dia bahkan tidak menoleh ataupun membalikan badan, setelah mendengar semua itu, dia kembali meneruskan langkahnya, berjalan menjauh meninggalkan gadis cantik yang kini sedang menangisi kepergian'nya.


Sementara Al, dia terus menatap punggung pria yang di cintai nya kini, menatap dengan tatapan pilu sampai punggung kekar itu benar-benar menjauh dan tidak terlihat lagi.


Setelah itu...


Bruk...


Axela pun ambruk tidak sadarkan diri, tubuhnya terkulai lemas di atas lantai Rumah Sakit yang dingin berwarna putih, matanya terpejam sempurna dengan buliran air mata yang masih membasahi ujung kelopak matanya.


______-----_______


Promosi


__ADS_1


__ADS_2