
Bruk ...
Lucky hampir saja ambruk, untungnya tangan Leo segera meraih kedua bahu putra bungsunya sesaat setelah dia sampai di sana. Tubuh Lucky terasa lemas seketika, kelopaknya pun mulai penuh dengan buliran air mata yang siap untuk di turunkan seketika.
''Tidak hanya itu saja, sepertinya pasien sempat mendapatkan kekerasan pisik, saya menemukan luka di ujung bibir pasien, sebuah sobekan bekas pukulan keras,'' ucap Dokter, membuat Lucky semakin terasa lemas.
Dokter tersebut hendak meneruskan ucapannya, namun, Alex yang juga ada di sana segera menghentikan.
''Maaf, Dokter. Bisakah kita bicara di tempat lain, ada sesuatu juga yang ingin saya bicarakan sama Dokter,'' ucap Alex.
''Baiklah, kita bicara di ruangan saya saja.''
Alex dan Dokter itupun segera berjalan meninggalkan Leo dan putra bungsunya.
Sepeninggal dua orang itu, kini tubuh Lucky benar-benar ambruk, tangan Leo tidak mampu lagi menopang tubuh kekar putra bungsunya.
''Apa yang akan terjadi dengan Ayu, Pap? apa dia akan benar-benar mati?" rengek Lucky, menatap wajah sang ayah dengan tatapan nanar.
"Nggak, dia akan selamat, mungkin saat ini Ayu hanya sedang beristirahat, Papi yakin dia akan segera bangun lagi. Kamu ingat, Kakak ipar-mu sempat koma seperti Ayu? tapi akhirnya dia pun bisa bangun dan sehat seperti sekarang, begitupun dengan pacarmu itu, sayang ..." Leo berusaha menenangkan.
"Benarkah ...?"
"Tentu saja, yang penting sekarang, kamu harus bisa jaga kondisi kamu, jaga kesehatan kamu, agar kamu bisa menemani dia sampai dia bangun nanti."
"Baik, Pap. Aku akan menjaga kesehatan aku, aku janji. Aku akan kuat, seperti yang pernah Papi katakan kemarin, sebagai seorang laki-laki aku gak boleh cengeng," lirih Lucky, ucapannya berbanding terbalik dengan apa yang terlihat di matanya.
Ucapannya seolah mengatakan bahwa dia kuat, namun, air matanya terus berjatuhan membahasi wajah tampannya, membuat Leo benar-benar terenyuh dan memeluk tubuh putra kesayangannya itu.
''Sabar, Dek. Papi akan selalu di sini menemani kamu, sayang. Papi janji gak akan membiarkan kamu melewati ini semua sendiri, kamu ingat, ada Mommy juga, kedua kakakmu pun akan selalu memberimu dukungan, jadi kamu jangan merasa sendirian dalam menghadapi semua ini, kami semua akan selalu ada untukmu, putraku ...'' lirih Leo mengusap lembut punggung putranya tersebut.
''Iya, Pap. Makasih ...'' jawab Lucky di dalam pelukan sang ayah.
Leo membantu Lucky untuk bangkit, keduanya pun berdiri secara bersamaan dengan tangan Leo masih berada di kedua pundak lebar Lucky, takut kalau putranya tersebut akan kembali ambruk.
🍀🍀
Sementara itu, di kediaman Leo. Adelia sang ibu dan juga Axela masih belum mendapatkan kabar dari Leonardo dan kedua putranya. Adel nampak terlihat cemas, begitupun dengan Al yang saat ini mengusap perutnya lembut, merasa khawatir.
''Al, apa tidak sebaiknya kamu telpon Papi kamu, tanyakan padanya, bagaimana keadaan mereka di sana? apakah mereka berhasil membawa Ayu? kalau iya, kenapa mereka belum juga kembali? Mommy benar-benar cemas,'' pinta Adel.
''Baik, Mom ... Aku akan menelpon Papi.''
__ADS_1
Axela menatap layar ponsel yang memang sudah sedari tadi berada di dalam genggamannya, menekan tombol dial untuk menelpon sang ayah.
Tut ... Tut ... Tut ...
Suara telpon yang belum dia angkat.
📞 ''Halo, Pap.''
📞 ''Iya halo, sayang. Kalian pasti cemas ya? Maaf karena Papi belum sempat menghubungi kalian.''
📞 ''Mommy cemas sekali, Pap. Kenapa kalian belum juga pulang, padahal hari sudah malam? semuanya baik-baik saja 'kan?''
📞''Semuanya baik-baik aja, sayang. Dan misi pun berhasil di selesaikan, hanya saja ada sedikit masalah.''
📞 ''Masalah ...? apa maksud Papi? kalian tidak terluka 'kan? suamiku juga baik-baik aja 'kan?'' tanya Al cemas.
📞 ''Kamu tenang dulu, sayang. Kami semua sedang ada si Rumah Sakit, tapi bukan suamimu yang terluka, melainkan Ayu, dia ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri, dan sekarang dalam keadaan koma.''
📞 '' Ya ampun, Papi serius?''
📞 ''Iya, sayang. Bilangin sama Mommy, kalau semuanya baik-baik saja, jadi dia gak perlu khawatir, dan malam ini Papi mungkin gak akan pulang, karena Papi akan menemani adikmu di Rumah Sakit, kamu dan Mommy gak usah nungguin Papi, oke ...?''
📞 ''Tapi suami aku pasti pulang 'kan?''
📞 ''Baik, Pap. Papi hati-hati di sana.''
Axel menutup telpon.
''Gimana Al? apakah semuanya baik-baik saja?'' tanya Adelia.
''Semuanya baik-baik saja, Mom. Hanya saja Ayu harus segera di larikan ke Rumah Sakit, dia dalam keadaan koma sekarang.''
''Ya tuhan kasian sekali anak itu, semoga dia segara bangun dan sehat kembali, besok Mommy akan menjenguk dia ke Rumah Sakit.''
''Baik, Mom. Terus satu lagi, kata Papi, malam ini dia gak pulang, Papi akan menemani Lucky di Rumah Sakit.''
''Ya sudah gak apa-apa, kamu temenanin Mommy tidur ya, perasaan Mommy gak enak ...'' pinta Adelia, bangkit dari duduknya.
''Iya, Mom. Kita tidur sekarang, kasian Mommy pasti lelah.''
Adel mengangguk lalu berjalan beriringan bersama putrinya tersebut.
__ADS_1
🍀🍀
Sementara itu, dikediamannya Revan, dia nampak sedang berdiri di depan anak buahnya yang kini sedang meringis kesakitan akibat kalah bertarung melawan Gabriel dan kawan-kawan, mereka telah siap menerima kemarahan bos mereka yang saat ini telah menatap dengan tatapan tajam.
''Bodoh kalian semua, BODOH ... Melawan tiga orang aja gak bisa,'' gerutu Revan.
''Ma-maafkan ka-mi, bos.''
''Maaf ... Maaf ... Apa maaf kalian bisa membalikkan keadaan, hah ...?''
Semua yang ada di sana pun menundukkan kepalanya.
''Apa kalian tau kemana mereka membawa putriku, hah ...?''
''Ti-tidak, bos.''
''Bodoh, to*ol, kalau kalian gak tau cepat cari tau, gimana sih? percuma aku bayar kalian mahal-mahal kalau kalian gak becus, mau aku bunuh kalian, hah ...?'' teriak Revan, geram.
''Tidak, Bos. Ampun ... Kami benar-benar minta maaf dan kami akan segera mencari tau keberadaan Non Ayu ...''
''Nggak usah, aku tau dimana dia sekarang, mereka pasti membawanya ke rumah si bren*sek itu.''
''Apa yang akan kita lakukan sekarang, bos?''
''Apa lagi? tentu saja kita harus ke sana sekarang juga, aku harus membawa Ayu pulang lagi ke rumah, aku sama sekali gak Sudi, kalau harus membiarkan putriku itu berada di sana.''
''Kapan kita akan ke sana, bos?''
''Sekarang juga, bodoh. Cepat hubungi yang lainnya, kita berangkat satu jam lagi,'' titah Revan yang langsung di jawab dengan anggukan oleh semua yang ada di sana.
''Bos, apa kita harus membawa senjata api juga?'' tanya Topan.
''Bawa saja, untuk berjaga-jaga, tapi jangan di gunakan sembarangan, apalagi sampai melukai putriku.''
''Baik, bos. Aku akan segera memberitahukan kepada yang lainnya.''
Topan pun sedikit membungkukkan badannya, lalu berbalik meninggalkan Revan, begitupun dengan anak yang lainnya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Hai Reader, hari ini Othor baru launching novel baru, jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak kalian ya ...
__ADS_1