Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Pulang


__ADS_3

''Lucky kemana, El ...? perasaan Nenek gak ngeliat dia dari tadi?'' tanya Nenek, masuk ke dalam kamar Axel.


''O ya ...? bukannya dia ada di luar?'' Axel bangkit lalu duduk bersila di atas ranjang.


''Nggak ada tuh, dari tadi Nenek cari dia di luar gak ada, Nenek pikir dia tidur.''


''Kalau begitu aku cari dia, palingan lagi nongkrong di sawah, dia 'kan emang suka nongkrong di sana ...'' jawab El turun dari atas ranjang lalu keluar dari dalam kamar yang langsung diikuti oleh sang Nenek.


Baru saja El hendak melangkah dari dalam rumah untuk mencari adik bungsunya itu, namun, Axel mengurungkan niatnya dan berhenti di depan pintu saat melihat Lucky berjalan memasuki halaman, dengan menggendong Emillia di punggungnya.


''Kalian dari mana aja? Nenek cemas cariin kamu, Dek?'' tanya El.


''Kami habis nyari udara segar,'' jawab Lucky datar lalu menurunkan tubuh Emillia pelan.


''Nah, Emil kenapa? ko di gendong segala? so sweet banget si, apa kalian sudah baikan?'' ledek El terkekeh.


''Apaan si, Abang, siapa yang balikan?''


''Terus itu apaan, pake gendong-gendong segala?''


''Kaki dia sakit, makannya aku gendong, Abang ...!''


''Begitu ...?'' El masih merasa tidak percaya karena kedua orang itu terlihat begitu mesra.


''Kunci mobil mana, Bang? aku mau pulang,'' pinta Lucky secara tiba-tiba membuat El terkejut.


''Pulang ...? pulang kemana?''


''Ke kota 'lah, kemana lagi?'' jawab Lucky berjalan masuk ke dalam rumah yang langsung di susul oleh sang kakak.


''Dek, maksud kamu apa? kita 'kan baru sampai, masa mau pulang lagi? kamu bercanda, 'kan?''


''Nggak, Abang. Aku serius, kalau Abang sama Kak Amora masih mau di sini ya silahkan, Minggu depan aku jemput lagi kemari,'' jawab Lucky membenahi pakaiannya.


''LUCKY ...! Dengerin Abang, ada apa? kenapa kamu tiba-tiba ingin pulang, bukannya kamu yang ngajak Abang ke sini, jangan bikin Abang kesal, ya ...!'' teriak El membuat Lucky menghentikan gerakan tangannya.


Lucky duduk di tepi ranjang, lalu dia mengusap wajah menggunakan telapak tangannya dengan sedikit kasar, setelah itu dia menunduk lesu, memainkan ujung kuku jari telunjuknya.

__ADS_1


''Dengarkan Kaka, kamu boleh pulang, tapi nanti, tunggu sebentar lagi, kamu istirahat dulu, gak baik berkendara dalam keadaan letih, apalagi kamu sedang ada masalah, lebih baik kamu tenangkan dulu pikiran kamu, ya. Tunggu besok pagi, baru kamu boleh pulang, oke ...?''


Lucky mengangguk akhirnya.


''Apa kalian bertengkar lagi?'' tanya El memberanikan diri bertanya.


Lucky menggelangkan kepalanya, masih menunduk.


''Lalu ...?''


''Kami benar-benar putus ...'' Lucky dengan suara datar.


''Kamu serius? tapi Abang lihat kalian seperti'nya baik-baik saja, malah kamu gendong dia segala, mesra lagi ...''


''Kami memang putus secara baik-baik, tapi meskipun begitu rasanya sama saja, tetap sakit, itu sebabnya aku ingin segera pulang, karena berada di sini akan membuat hati aku semakin terasa sakit,'' lirih Lucky menoleh menatap wajah sang kakak, menatap dengan tatapan iba, dengan mata yang memerah.


''Iya, Abang ngerti perasaan kamu, Dek. Meskipun Abang belum pernah merasakan sakitnya patah hati, tapi Abang tahu bagaimana rasanya. Ya sudah, kamu istirahat dulu, besok pagi kamu boleh pulang, Oke ...?''


Lucky mengangguk.


''Abang keluar dulu, ya.''


🌹🌹


Keesokan harinya.


Emillia nampak keluar dari dalam kamarnya, dia menatap ke arah kamar dimana Lucky berada, hanya ingin mengetahui apakah mantan kekasihnya itu masih berada di sana atau tidak.


Saat dirinya sedang lekat menatap pintu kamar tersebut, tiba-tiba saja pintu itu pun terbuka dan Axel keluar dari dalam kamar, membuat Emil gugup dan hendak berbalik untuk menghindar.


''Tunggu, Bu Emil,'' cegah Axel membuat Emil menghentikan langkahnya seketika dan kembali berbalik.


''Kamu pasti mencari Lucky?'' tanya El.


''Eu ... Saya hanya ingin tahu apakah dia masih ada di sini, atau sudah pulang ke kota ...?'' jawab Emil dengan nada suara yang terdengar terbata-bata.


''Dia sudah pulang ...''

__ADS_1


Deg ...


Ada rasa sesak yang terselip di dalam hati seorang Emill, rasa yang seharusnya tidak boleh mengusik hatinya, karena memang ini yang dia inginkan dari awal, berpisah secara baik-baik dengan remaja bernama Lucky tersebut, dan rasanya sungguh di luar dugaan, tidak segampang membalikkan telapak tangan, dan tidak semudah mengucapkan kata perpisahan, tetap saja rasa sakit itu mengoyak relung hatinya.


Setelah mendapatkan jawaban itu, Emil pun hanya tersenyum getir, kemudian dia pun berbalik dan meninggalkannya Axel yang masih dalam keadaan berdiri di depan pintu.


Sungguh El merasa iba, mengingat kisah cinta sang Adik dengan wanita yang lebih dewasa 10 tahun dari adiknya tersebut, andai saja Emillia seumuran dengan Lucky, dia yakin bahwa perpisahan yang menyakitkan itu tidak perlu terjadi, dan sang adik tidak perlu merasakan patah hati yang mendalam.


''Hmmm ...'' El pun menarik napas panjang lalu menghembuskan-nya secara perlahan, setelah itu di kembali masuk ke dalam kamar.


🌹🌹


Lucky masih dalam perjalanan, sudah hampir lima jam semenjak dia berangkat dari rumah sang Nenek, dan tinggal satu jam lagi dia akan segera sampai ke kota dimana tempat tinggalnya berada.


Dia nampak memutar music keras di dalam mobilnya untuk menemani perjalanan panjangnya, alunan music melow pun terdengar dengan bibir yang sedikit komat-kamit mengikuti alunan lagu yang dia putar.


Sebisa mungkin dia mencoba melupakan rasa sakit yang sedang dia rasakan, ingin segera sampai di rumah agar dia bisa segera meluapkan seluruh kesedihannya di pangkuan sang ibu.


Lucky pun nampak mengecilkan volume music yang di putarnya saat dia mendengar suara ponsel berdering tanda sebuah panggung telpon, dia pun nampak menatap layar ponsel lalu mengangkat telepon.


📞 ''Halo, ini siapa?''


📞 ''Luck, ini aku? pacar kamu.''


📞 ''Pacar ...? eu ... Tunggu ... Maksudnya, kamu Ayu?''


📞 ''Iya. Bisakah kamu datang ke rumah aku, aku sedang membutuhkan bantuan kamu, please ... tolong aku Luck ...'' Ayu terdengar mengiba dengan suara yang terdengar berat.


📞 ''Sorry, aku gak bisa, aku lagi di jalan ...''


📞 ''Kalau kamu gak datang, aku bisa mati, uhuk ... uhuk ... uhuk ...'' jawab Ayu membuat Lucky terkejut.


📞 ''Ayu ...? Ada apa sama kamu, Oke ... Aku ke sana, kirimkan aku alamat rumah kamu, tunggu aku satu jam lagi, oke ...''


Tut ... Tut ... Tut ...


Sambungan telpon pun terputus, Lucky segera menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak lama kemudian ponselnya pun kembali berbunyi tanda sebuah pesan masuk, dan pesan itu dikirim dari Ayu yang mengirimkan alamat rumah dimana tempat tinggalnya berada.

__ADS_1


Satu jam kemudian, akhirnya Lucky pun sampai di alamat yang dimaksudkan, tidak terlalu sulit menemukan alamat tempat tinggal Ayu, karena tempat tinggalnya berada di perumahan elit, membuat Lucky bisa langsung menemukan alamat itu sesaat setelah di sampai di kompleks perumahan itu.


______________-------------____________


__ADS_2